EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 192


__ADS_3

...


 


 


 


Bayu menggeleng dan berdecak pelan dengan senyuman kecil masih ia tunjukkan.


Aku melangkah, mengikis jarak di antara kami, lalu perhatianku tersita saat melihat foto-foto yang tergantung di sana adalah foto kami dari kecil sampai sekarang dalam moment tertentu.


Tiba-tiba saja aku teringat masa-masa kami dulu, saat kecil di tempat les, saat kami mulai menjalin hubungan sebagai kekasih di masa SMA. Lalu saat beberapa bulan terakhir.


“Kamu masih punya foto-foto ini?” Tanyaku takjub karena ada foto masa kecil kami yang tergantung di sana.


Bayu berdehem pelan, mengikutiku melihatnya dan menjawab. “Sebenarnya, aku minta dari Dessy. Untunglah dia punya foto-foto kita.”


Aku mengangguk mengingat Dessy adalah sepupu Bayu. Kami bertiga jadi teman sepermainan dulu. Mengingat masa-masa itu, aku jadi merindukan temanku itu. Sudah lama tidak melihatnya.


Lalu mataku beralih pada toples kecil yang di tutup oleh keras coklat yang di bolongi kecil untuk udara masuk, tergantung di setiap foto. Sesuatu yang terang di sana ternyata adalah kunang-kunang.


 


“Kamu menangkap kunang-kunang ini?” Tanyaku takjub untuk kedua kalinya.


“Lalu kita sekarang di mana? Aku tidak ingat pernah ke sini.” Tanyaku melihat ke sekeliling, ini jelas-jelas taman belakang di sebuah rumah.


Aku yang masih mengangumi foto-foto kami sadar kalau tidak terdengar jawaban Bayu sejak tadi.


Lelaki ini berdiri diam di belakangku, maka aku berbalik, mendapatinya sedang diam menatapku. Tatapannya terlihat serius kali ini yang membuat jantungku semakin berdetak cepat.


 


Aku sangat gugup.


 


Untuk lima detik berikutnya kami hanya diam saling tatap, hingga Bayu menghela napas pelan dan berkata. “Jadi—kamu sudah mengerti fotonya?”


“Ya, itu foto-foto kita dari dulu sampai sekarang.”


“Apa kau bisa melihat sesuatu yang beda dari foto-foto itu?” Refleks aku berbalik lagi untuk memperhatikan foto-foto itu. Mataku bergerak cepat, tidak sabar untuk melihat kejutan apa yang di maksud Bayu.


Entah karena aku yang terlalu tergesa-gesa mencari atau memang Bayu sedang menjahiliku, tapi aku tidak melihat ada yang aneh dengan foto-foto itu.


“Baiklah. Tidak apa-apa kalau kamu tidak melihatnya. Itu memang ide yang konyol.” Gumam Bayu terdengar pasrah.


 


Aku kembali berbalik menghadapnya, tepat setelahnya tiba-tiba Bayu mengeluarkan kotak kecil beludru berwarna biru tua dari saku celananya, lalu kakinya bergerak dan dalam sekejap dia sudah berlutut di hadapanku.


 


Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kaget tentu saja!


 


 


 

__ADS_1


Dia mau melamarku? Lagi?!


 


Tangannya bergerak membuka kotak itu, ada yang berkilau indah dari dalam sana.


“Maaf, dekorasi ini agak klise.” Katanya, berdehem sebentar sebelum melanjutkan.


“Natasha, mulai hari ini dan seterusnya, aku berharap untuk menggandeng tanganmu. Kamu mengatakan kalau aku melindungi kamu, tapi aku hanya ingin selalu melindungi kamu seperti ini sepanjang hidupku.” Ada jeda yang membuat jantungku seolah naik ke tenggorokkan.


“Natasha, aku ingin selalu berada di sisimu, memegang tanganmu, menjadi tua bersama.” Sekarang aku merasakan mataku memanas, nadanya lembut dan serius.


“Natasha, mungkin aku terlihat tidak serius saat melamarmu pagi itu, kamu begitu istimewa bagiku, aku seharusnya memberikan lamaran yang tidak pernah terlupakan. Di dalam hatiku, aku selalu menganggapmu serius dan penting, jadi—” Bayu menjeda ucapannya, aku tersenyum kecil melihatnya tampak gugup.


 


 


“Natasha Icha Danendra,  apa kamu mau menikah denganku?”


Jantungku berdetak sangat cepat hingga telingaku sendiri bisa mendengarnya, keringat membasahi telapak tanganku dan aku hampir tidak tahu bagaimana caranya bernapas. Seumur hidupku tidak pernah merasakan berada di situasi seperti ini.


Alunan lembut cover lagu milik Christina Perri masih terdengar di antara kami, hembusan angin menerpa tubuh kami dan menggoyangkan dahan pohon, foto-foto, serta balon di sekeliling kami.


Waktu seolah berhenti, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Suasana serius seperti ini tiba-tiba mengingatkanku sesuatu.


 


 


“Sebelum itu, aku ingin menanyakan 3 hal padamu.”


“Kamu benar menyukaiku?”


“Aku mencintaimu.”


 


Aku tersenyum lebar mendegar jawabannya.


 


 


“Kamu tahu kan bagaimana kondisi keluargaku, aku memiliki dua ayah, tiga ibu dan 2 saudara angkat.” Sesaat, Bayu memutar matanya berpikir sejenak.


“Tiga ibu—”


“Ibu angkatku, ibu kandungku dan bibi Rose, dia yang membawaku les di tempat les yang sama denganmu dulu, hingga kita bisa bertemu. Dia sudah aku anggap ibu ku.” Kataku mengingatkan.


“Tidak apa, kalau kau menikah denganku berarti kau akan punya tiga ayah, empat ibu dan 3 saudara.” Kami berdua saling melempat tawa.


“Dan yang terakhir, aku tidak berencana setelah menikah mengundurkan diri dari pekerjaanku.”


“Oke. Yang penting kamu senang.” Jawabnya.


Aku tidak bisa berhenti untuk tersenyum, meski wajahku terasa panas tapi aku tidak ingin terinterupsi dengan moment ini.


Kakiku melangkah lebih dekat padanya, kedua tanganku memegang kedua tangannya yang sejak tadi memegangi kotak beludru itu.


Bayu masih berlutut di hadapanku, kepalanya mendongak saat aku sudah ada di depannya sangat dekat. Aku sedikit menunduk dan sebuah kecupan mendarat di keningnya.

__ADS_1


“Aku mau.” Jawabku tersenyum lebar.


Lelaki ini balas tersenyum padaku, dia kemudian mengeluarkan berlian kecil yang berkilau di sana, menjatuhkan kotaknya dan segera bangkit berdiri.


Aku baru sadar kalau itu adalah sebuah kalung perak.


Bayu segera memakaikan nya di leherku. “Kau sudah memberiku cincin sebelumnya.”


“Aku senang menghabiskan uangku hanya untukmu.” Katanya terdengar menggelitik.


Lalu tangannya menyentuh kedua pipiku, Bayu sedikit menunduk ketika wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Kami berdua saling bertukar senyum bahagia, semilir angin malam menerpa tubuh kami dan sebuah kecupan lembut mendarat di keningku, di lanjutkan dengan dia memelukku sangat erat. Kedua tangannya membungkusku dalam kehangatan.


 


 


.


..



 


“Woahhh… Aku menemukannya!”


“Pada awalnya, aku juga agak terkejut. Benny memang bisa seteliti itu.”


Saat ini, kami berdua sedang duduk di bawah pohon dengan banyak foto dan toples berisi kunang-kunang yang sudah di lepas dari dahan di sekitar tempat kami duduk.


Bayu mengatakan kalau tadi sebenarnya dia bermaksud agar aku memperhatikan lebih jelas foto yang tergantung. Pada awalnya aku tidak mengerti, tapi setelah Bayu memberitahuku kalau di setiap foto yang kami ambil dari kecil sampai sekarang, ada beberapa huruf yang terfoto entah dari background atau dari gambar di baju yang jika di satukan akan tergabung menjadi kata Merry Me.


 


 


“Kamu pikir ini kebetulan? Atau memang sudah takdir?” Tanyaku menggodanya.


“Hmm.. aku lebih suka menyebutnya takdir?” Aku tidak bisa menahan tawaku melihat bagaimana Bayu menjawabnya dengan senyum kecil.


“Tapi itu terdengar klise. Sepertinya ini hanya kebetulan.”


“Tidak tidak! Ayo jawab lagi ini adalah takdir.” Kataku merajuk padanya.


Bayu menggeleng. “Hanya kebetulan.”


Aku tahu dia sedang menggodaku. “Katakan takdir!”


“Hahaha. Hanya kebetulan.”


“Takdir!” Aku mulai membiarkan kepalaku mengusap-usap lengannya, mengingatkanku pada kucing.


 


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2