
...
“Aku penasaran, gosip apa yang kalian dengar tentang cucu tetua Jeremy? Maksudku, di dalam militer—“
“Ehh—kau tertarik dengannya?” Putri tersenyum menggodaku.
Aku terkekeh pelan, sekarang aku tidak bisa mengatakan padanya kalau aku mengenal cucu tetua. Aku tidak dalam posisi itu. Namaku di sini terdaftar sebagai Putri Nataremy.
“Yap! Aku jadi tertarik mendengarnya.” Jawabku tidak bisa menyembunyikan senyum lebarku.
Putri tertawa puas lalu dia berdehem pelan sebelum menjawab. “Aku akan mengatakan padamu sebuah rahasia, berjanjilah untuk tidak mengatakannya!”
“Aku janji!” Kataku semangat.
Putri mengangguk puas. “Meskipun ini gosip yang beredar tapi ini berita besar! Kau tahu berita di TV akhir-akhir ini, mengenai banyaknya pejabat pemerintah dan pengusaha yang sedang di selidiki oleh jaksa karena kasus tertentu? Di balik semua itu, orang yang melaporkannya adalah cucu tetua. Itu akibat mereka menyinggungnya.”
“Begitukah?” Aku semakin penasaran, mengabaikan bubur yang mulai mendingin.
“Selama ini di kemiliteran, tidak banyak yang tahu cucu tetua karena orang itu selalu menerima tugas dan jarang hadir di acara-acara tertentu. Tapi, kemarin para atasan di pusingkan dengan kasus yang sedang di tangani cucu tetua. Kasus besar yang selama lima tahun sulit di pecahkan sekarang sudah ada titik terang karena kasus itu di serangkan pada tim Phonex. Mereka juga bilang cucu tetua adalah anggota termuda tim itu. Orang-orang jadi penasaran dan menaruh perhatian padanya.”
“Apa sosoknya semesterius itu?” Tanyaku lagi.
“Dari dulu cucu tetua di kenal sebagai orang yang dingin dan tidak suka memperlihatkan pengaruh kakeknya atau tentang kehebatannya di kemiliteran. Tapi kemarin, laporan itu membuat imaje nya berubah, orang-orang di kemiliteran menganggap dia bergerak menunjukkan kehebatan dirinya.” Ada sorot kagum dari pandangan mata Putri.
“Ohh jadi begitu.” Aku bergumam mengangguk, sedikit mengerti bagaimana sosok lelaki itu di lingkungan kerjanya.
“Jadi, bagaimana orangnya tadi?” Putri menatapku penuh binar.
Aku tersenyum kecil dan terdiam memikirkannya. “Well, Aku baru sadar tidak melihat wajah senyumnya—“
“Kau mengenalnya?!”
“T—tid.. Huh, maksudku aku tahu dia.” Aku bingung harus menjawab apa.
Kalau di pikirkan lagi, aku memang belum melihat lagi senyumnya semenjak aku tidak ada di sampingnya. Wajahnya selalu menampilkan ekspresi serius dan dingin.
“Kau—“
“Stop!” Aku mengangkat tangan, menghentikan ucapannya.
“Lebih baik kau ambil sarapan dulu.”
__ADS_1
Putri Larasati melirik ke belakang, di dalam vila orang-orang masih mengantri. “Benar! Aku ke dalam dulu.”
Aku tersenyum kecil menatap punggung Putri yang berjalan dengan ringan masuk ke vila. Saat aku hendak menyuapkan satu sendok penuh bubur ke dalam mulutku, namun terhenti oleh kehadiran dokter Stefan yang sudah berdiri di sampingku.
“Ohh dok!” Aku menyapanya agak kaget. Dokter Stefan tersenyum lalu duduk di hadapanku, tempat Putri tadi.
Seperti biasanya, tangan kanannya membawa kotak obat dan menyimpannya di atas meja. Melihat penampilannya sekarang, rambut dan pakaiannya sudah rapih. Aku juga samar-samar mencium wangi aftershave darinya.
Tidak menyangka akan melihat dokter Stefan memakai celana skinny hitam di padukan dengan kaos putih dan kemeja coklat yang seluruh kancingnya di biarkan terbuka.
“Dok, kau mau memeriksa ku lagi?” Aku berbisik, sebenarnya malu karena sekarang aku menjadi pusat perhatian wanita-wanita di sekelilingku.
Dokter Stefan terkekeh sembari mulai membuka kotak obatnya. “Oh, itu bubur yang aku minta mereka untuk di buatkan ya? Sepertinya mereka terlambat memberikannya.”
Aku mengerutkan kening tidak mengerti. “Terlambat? Memang seharusnya kapan, dok?”
“Aku minta mereka segera membuatkannya pagi tadi setelah memeriksamu.”
“Justru ini bubur ke dua pagi ini—“ Tangan dokter Stefan tiba-tiba menarik mangkuk bubur dan ia dekatkan ke hidungnya.
“Kau sudah memakannya?” Tanya pria ini menatapku serius.
“Hanya sedikit, seujung sendok.” Sekarang, aku merasa ada hal bahaya yang mengintaiku. Apa aku di racuni lagi?
Aku mengerjap tidak percaya, bahkan di tempat seperti ini pun ada yang mengincarku??
“Benar kau hanya makan sedikit?”
Aku mengangguk dan meraih sendok dan menunjukkan seberapa banyak aku memakannya. Pria di hadapanku ini menghela napas pelan lega. “Syukurlah kamu belum banyak memakannya.”
“A—apa suapan tadi berpengaruh, dok?”
“Tidak akan karena dosis obat dalam buburnya sedikit.” Sekarang aku yang menghela napas lega.
“Aku akan ke dalam, memeriksa makanan lainnya dan perhatikan pelayan yang tadi memberikan bubur ini padamu.” Aku mengangguk sembari memperhatikan pria berambut coklat madu itu bangkit dan berbalik masuk ke pintu vila.
Mataku dengan cepat mencari sosok pelayan tadi di sekitar halaman vila, tapi sejauh mata memandang aku tidak menemukannya. Haruskah aku mencarinya ke dalam?
Namun lamunanku buyar merasakan seseorang berdiri di belakangku. Aku menoleh dan agak terkejut mendapati pria menyebalkan itu.
__ADS_1
Benny.
Dia berdiri menunduk menatapku dengan ponsel yang menempel di telinga kirinya.
Rambutnya tidak serapih saat terakhir aku melihatnya, celana jins biru dan hodie hitamnya membuatnya terlihat lebih muda dari yang aku ingat.
“Mengerti! Aku akan membawanya sekarang.” Benny memutuskan sambungannya sembari matanya tidak lepas menatapku. Ekspresi dingin dan mengintimidasi seperti biasa.
“Aku datang mencari dokter Stefan tapi baru saja Bayu menelponku untuk membawamu ke pos depan. Kita akan menangkap orang yang memberimu obat tidur di sana.” Aku segera berdiri menghadapnya.
“Secepat itu??”
“Ya! Aku ingatkan lagi, anak itu memang cepat dan hebat dalam merencanakan. Kita ke sana juga untuk menghindari keributan di sini. Sekarang lebih baik ikut aku.” Benny berbalik, berjalan meninggalkan vila tanpa mendengar jawabanku.
Meskipun sikapnya dingin dan tidak bersahabat, aku tetap melangkah mengikutinya di belakang. Aku sadar, semua wanita di halaman memperhatikanku dan mereka berbisik-bisik.
Aku masih berjalan di belakangnya ketika kami memasuki jalan setepak di dalam hutan, jalan yang aku ingat kemarin malam menuju ke area pos dan gerbang. Di sini sangat sepi dan hanya terdengar suara kicauan burung di kejauhan.
Terhalang oleh pepohonan, aku melihat dua orang wanita berpakaian pelayan sedang mengobrol dan berjalan ke arah kami. Salah satu wajahnya langsung aku kenali.
“Itu dia! Salah satu dari mereka yang memberikan aku buburnya!” Gumamku menghentikan langkah kaki. Perasaan takut dan tidak percaya mengusaiku dengan cepat.
Benny melirikku sekilas dan berpaling memperhatikan dua wanita yang belum menyadari kehadiran kami di kejauhan.
Aku tersentak sadar saat tubuhku seolah melayang, Pria ini tiba-tiba mengangkatku, meletakkan tangan kanannya di bawah lututku dan tangan lainnya melingkari punggungku.
“Apa yang kau—“
“Sstt… Pejamkan matamu, pura-pura tidur!” Suaranya sangat dekat dengan telingaku.
Aku mendongak, menatapnya dari bawah dengan ekspresi protes tapi pria ini justru mengangkatku lebih tinggi untuk membenarkan posisi gendongannya, sekarang kepalaku sejajar dengan bahunya.
“Cepat! Jangan banyak protes! Kamu ini berat!” Itu dia, ucapan tajamnya lagi. Tanpa perasaan!
Aku akhirnya memejamkan mata dan membiarkan kepalaku bersandar terkulai lemas di bahunya,
__ADS_1
...