EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 130


__ADS_3

...


 


Sekarang aku sudah ada di ruang lain di samping gym, di sini ruangannya luas dan dinding arah barat semua adalah kaca, lalu ada matras di mana-mana seperti ruang latihan menari.


“Baiklah, Pertama kami akan menunjukkan latihan melakukan tangkisan dan pukulan.” Kata Bayu saat dia dan Demian sudah berdiri saling berhadapan di atas matras.


Aku diam memperhatikan mereka, mulai tertarik.


“Kaki, lutut, tangan, siku dan kepala adalah senjata yang bisa di gunakan.” Bayu melirikku sekilas. Aku bergumam menanggapinya.


“Isi kepala juga penting. Kening dan bagian belakang kepala saat berbenturan dengan area sensitif si penyerang bisa membuatnya berkunang-kunang.” Demian menambahkan. Aku mengangguk lagi.


“Juga….” Bayu menunjuk titik-titik kelemahan yang lain seperti lengan bawah, punggung kaki, punggung, bahu, leher dan juga ************.


Lalu Bayu menjelaskan gerakan yang dia tunjukkan untuk membela diri saat Demian memerankan serangan. Keduanya bergerak dalam gerak lambat untuk mendemonstrasikan secara jelas apa saja yang mereka lakukan. Kemudian mereka bergerak cepat setelah menjelaskannya tadi.


Demian menjadi penyerang sedangkan Bayu jadi korban penyerangan. Gerakan mereka yang bergerak rapih dan penuh tenaga layaknya pemain laga professional membuatku semakin merasa tak berdaya.


“Tujuannya di sini bukan untuk memukuli si penyerang, tapi memberi waktu untuk kabur.” Kata Bayu di sela-sela tangkisannya.


Lalu lelaki itu menyuruhku berpasangan dengan Demian untuk berlatih tangkisan dan pertahanan dengan pergelagan tangan.


“Jangan alihkan tatapan dari penyerangmu.” Bayu mengingatkan sembari berjalan mengitari kami.


Aku terkejut saat menyadari Bayu benar. Demian nyaris memukulku untuk kedua kalinya karena aku sangat terkejut karena bisa menahan usaha pertamanya. Meski pria ini menyerangku tidak dengan tenaga, tapi kecepatan tangan dan kepalan tangannya membuatku tetap terkejut.


Bayu mengangguk. “Bagus.”


Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya, lalu aku dan Demian bertukar peran sebagai penyerang dan korban.


“Tambahkan sedikit tenaga lagi dalam seranganmu. Dia bisa menahannya.” Saran Bayu selanjutnya padaku.


Sesi latihan yang di bantu Demian berlangsung seru selama lima belas menit. Sesekali Demian juga memberi saran padaku atau memuji pukulanku.


Setelah itu, Demian pamit pulang dan membiarkan kami sendiri yang melanjutkan latihan. Bayu berjanji akan mentraktir temannya itu nanti karena telah membantu latihanku sebelum Demian menghilang di balik pintu.


“Jadi, kapan kita mulai berlatih menendang?” Tanyaku.

__ADS_1


Bayu justru menggeleng. “Kita akan berlatih nanti.”


“Kenapa?” Aku bertanya protes.


“Kenapa?” Bayu balik bertanya.


“Aku sempat melihat tendanganmu waktu ada penjahat di rumahku malam itu. Kau bias menunjukkan lagi, aku ingin mencoba menirunya.”


“Sayang, sebelum berlatih menyerang, kau harus tahu dulu bertahan.” Katanya menurunkan nada suaranya selembut mungkin.


“Tapi, bukannya pertahanan terbaik itu adalah menyerang?” Bayu justru tertawa kecil mendengarnya.


“Kita akan berlatih nanti untuk menendang. Sekarang, sebelum kita mengakhiri sesi latihan hari ini, aku ingin menunjukkan pertahanan di bawah.” Bayu menarik ku, mengajakku untuk berlutut di atas martas.


“Berbaringlah. Menelungkup.” Katanya.


Aku mengerutkan kening untuk menyembunyikan kegugupanku. “Mayoritas lelaki tidak pernah berlatih bela diri atau semacamnya, dan bahkan lelaki yang belajar bela diri tidak akan menduga apa yang akan kaulakukan. Ingat! Kuncinya melepaskan diri.”


Aku mengangguk dan sudah menelengkup dengan Bayu di samping kananku.


“Jika kau berada dalam posisi ini –seseorang membuatmu jatuh menelengkup, kau harus melakukan gerakan secara otomatis, tanpa menghabiskan waktu atau energi berusaha menghantamnya dengan keras. Gerakkan pertama kelihatan kontraproduktif karena tidak membutuhkan ancang-ancang, tapi itu yang penting, kau yang harus


“Bagus, sekarang dengan lengan lainnya, kau memberi dirimu sendiri ancang-ancang dan menghilangkan keseimbangannya yang sudah goyah. Telapak tangan memenmpel ke tanah, siku naik. Dorong ke bawah dan bergulinglah ke samping, merobohkannya.” Aku mengikuti intruksinya, mudah dilakukan karena tidak ada beban di atasku.


“Sekarang, bisakah kita mencobanya? Aku akan mendorong pundakmu ke bawah dan menggunakan beban tubuhku untuk menahanmu di sana.”


“Hah?”


“Katakan saja jika ada masalah dan aku akan melepaskanmu, oke?”


Aku mengangguk dan kembali memposisikan menelengkup di atas matras dengan Bayu berhati-hati berbaring di atasku, napasnya terasa di telingaku.


“Lengan lurus, telapak tangan menempel di tanah, dorong keras dan bergulinglah ke samping.” Aku menuruti petunjuknya dan dia roboh.


“Sempurna, ayo lakukan lagi.” Pujinya.


Kami mengulangi gerakkan yang sama lagi, lagi dan lagi, dan semakin lama Bayu semakin kuat dan sulit dirobohkan.


 

__ADS_1


 


“Arrgghhh.. Cape! Kau semakin berat!” Aku berbaring menelungkup sembari memejamkan mata sebentar setelah yang terakhir ini aku tidak berhasil merobohkannya.


Bayu yang sudah berlutut di sampingku berdecak. “Gerakkan yang terakhir itu tidak akan berguna, sayangku! Meskipun itu respons alamiah terhadap sesuatu yang tak kauinginkan di atas tubuhmu, satu-satunya cara yang pasti untuk melepaskan seorang lelaki dalam posisi ini adalah berguling ke samping.”


“Apa?” Aku pura-pura bodoh sembari bangkit duduk menghadapnya.


“Yang tadi, kau mendorongku dengan pinggulmu, berusaha berdiri. Itu tidak akan berhasil. Aku terlalu kuat untuk kaugerakkan dengan mendorong ke atas.”


“Aaahh begitu… Baik! Ayo coba lagi, kau jangan ragu-ragu menahanku.” Kataku kembali menelungkup, semangatku tiba-tiba membara jika memikirkan untuk mengalahkan Bayu.


Akhirnya kami mencoba lagi dengan lebih nyata daripada sebelumnya, Bayu menekanku, ini lebih berat dari yang terakhir.


Lenganku terulur ke luar, tetapi aku kesulitan membebaskan tanganku sebagai ancang-ancang, akhirnya aku menukar lenganku dan menempelkan telapak tangan satunya ke matras sekuat mungkin untuk mendorong Bayu hingga berguling, menjatuhkannya ke samping.


Lelaki ini tertawa. “Kau menukar sikumu!”


Aku ikut tertawa melihat wajah puas Bayu ketika kami berbaring bersama. “Ini bagian saat kau harus bangkit dan berlari secepat mungkin.”


“tapi bukannya dia akan mengejarku?”


“Bisa saja, tapi kebanyakan lelaki tidak menginginkan mangsa yang sulit dikejar. Hanya segelintir yang akan mengejarmu, jika kau kabur sambil berteriak.” Jawabnya, kami berbaring dengan jarak setengah meter, tidak ada yang bergerak untuk duduk.


“Tapi kenapa tiba-tiba kau mengajariku gerakkan yang ini?” Aku bertanya, menoleh heran padanya.


Bayu ikut menoleh menatapku. “Ketika kamu tiba-tiba di serang dan di jatuhkan dari belakang, pertahanan ini sangat berguna, bukan?”


“Benar.”


Bayu mengerjap, terdiam sesaat kemudian dia segera bangkit duduk. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya. Menatap wajahnya dari samping. Keringat membuat wajahnya berkilau, hidungnya yang mancung, aslisnya, bulu matanya, bibirnya bahkan poni rambutnya yang jatuh di atas alisnya tidak luput dari penglihatanku. Meski wajahnya terlihat dari samping seperti ini, tapi Bayu memang tampan dan menarik.


Tiba-tiba dia menoleh, menatapku hingga wajahnya sangat dekat denganku. Aku mengerjap gugup dan refleks agak bergeser mundur.


“Bagaimanapun, aku tidak bisa selalu menjagamu. Jadi, aku akan mengajarkan pertahanan dari arah serangan mana pun.” Jawabnya terdengar sangat yakin dan serius.


“Lalu, bagaimana dengan pertahanan dari serangan cinta? Jantungku rasanya terus berdetak kencang.”


 

__ADS_1


...


__ADS_2