EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 153


__ADS_3

...


 


 


 


 


Dadaku rasanya sesak, tenggorokkan ku juga sakit karena menahan tangisan ini. Pelupuk mataku sudah penuh dengan air mata.


Bayu menatapku, menyadari perubahan wajahku.


“Icha? Apa jahitan ini terasa sakit? Apa suntikan kebas lidocaine ini tidak membuat bahumu mati rasa? Biar aku panggil dokter Stefan—“


“Bukan itu. Bukan apa-apa!” Aku memotongnya, tidak ingin dia pergi.


“Kau bilang bukan apa-apa dengan wajah seperti itu?”


“Bayu… Kamu enggak melakukan kesalahan. Jadi, kamu enggak harus merasa bertanggung jawab untuk setiap luka-luka yang aku dapat. Ini milikku. Ini lukaku. Ini adalah jalan yang aku tempuh.” Aku sudah menangis lagi sekarang, bukan karena perih lukanya tapi karena hatiku ikut sedih melihat Bayu yang diam menyalahkan


dirinya sendiri seperti ini.


“Aku yang memilih jalan ini, jadi kumohon Bayu, jangan bersedih.” Pipiku semakin basah, mataku sudah bengkak.


Bayu tampak kaget mendengar ucapanku, untuk beberapa detik berikutnya Bayu terdiam menatapku, menjeda tangannya yang sedang menjahit lukaku.


“Yang kau katakan sangat tak masuk akal. Kau sangat penting bagiku.” Nada suaranya serius, Bayu melanjutkan jahitannya ada lukaku dalam diam.


Kami berdua tidak lagi mengeluarkan suara apapun sampai Bayu menyelesaikan jahitannya, memotong benangnya, lalu menempelkan perban dan plester untuk menutup luka ku.


“Sesaat tadi aku berpikir, mungkin kalau kau tidak bersamaku, kau tidak akan mengalami hal seperti ini, kau tidak akan terluka, kau tidak akan ketakutan, kau akan bahagia menjadi wanita normal lainnya. Keluargaku dan khususnya aku selalu menghadapi orang-orang berbahaya setiap hari, aku pikir aku mungkin tidak sanggup lagi kalau nanti kau akan mengalami hal yang lebih mengerikan dari ini.” Bayu menyentuh pipiku, menghapus jejak air mata di sana.


“Tapi itulah mengapa yang harus ku lakukan adalah bukan menutup mata dan menghindar, tapi buka mata dan ambil alih semuanya. Jadi maafkan aku yang egois, aku ingin kau ada di hidupku, mari menjadi kuat bersama, benar, Natasha?”


Aku tersenyum senang, setetes air mata bahagia menetes di sudut bibirku. Tidak pernah aku merasakan bahagia dan lega seperti ini sebelumnya.


“Bersama?”

__ADS_1


“Bersama.”


“Mulai dari sekarang?”


“Tentu saja!” Jawab Bayu lembut.


Tangan kananku terangkat, menangkup pipinya, menatap matanya penuh perhatian dan kasih sayang, kemudian jariku turun membersihkan sisa-sisa minyak dan darah yang masih ada di sudut bibirnya.


“Sekarang, tolong suntikkan obat yang di berikan dokter Stefan untukmu.” Kataku berbisik.


Bayu tersenyum dan mengangguk, dia kemudian meraih kapas alkohol dan menyuntikan obat itu pada tangan kirinya.


Setelah cairan itu masuk ke tubuhnya, Bayu meraih jasnya, hendak memakaikannya padauk tapi gerakkannya terhenti sebentar hanya untuk menghapus keringat yang masih tersisa di leher dan wajahku dengan tangannya.


Dia membantuku memasukkan tangan kananku pada lengan jas tapi tidak dengan tangan kiriku karena dia tidak ingin aku merasa kesakitan lagi.


Jasnya yang kebesaran untukku bisa di kancing sepenuhnya untuk menutup bajuku yang sobek berantakkan, tapi sebelum melakukannya Bayu berbalik mengambil kapas beralkohol dan suntikan lain.


“Ini pereda sakit, sebentar lagi efek suntikan mati rasanya hilang, kau pasti merasakan sakit sehabis lukamu di jahit.”


“Ini akan menjadi luka seumur hidupku. Kau tidak keberatan ‘kan memiliki wanita yang punya bekas luka?”


Bayu meletakkan suntikan kosong di sampingku, dia kemudian menatapku sepenuhnya dan tersenyum menenangkan. “Terima kasih sudah mau ikut bertarung denganku tadi.”


“Tidak! Aku yang harusnya berterima kasih padamu karena telah datang menyelamatkanku tepat waktu.” Jawabku menggeleng.


“Aku janji tidak akan melepaskan orang-orang di balik semua ini. Mereka akan membayarnya. Dan aku satu hal lagi.”


Bayu tiba-tiba menarik lepas jasnya yang tersampir di bahu kiriku ini, kemudian tanpa aba-aba dia mencium lukaku yang terbungkus perban dan plester.


“Setelah kita menikah, aku akan memberikan ciuman di luka ini sebelum tidur dan saat bangun tidur nanti. Bagaimana pun luka ini juga bagian dari diriku, kau sudah menyelamatkanku dua kali hari ini dengan tendanganmu itu.”


Aku terkekeh dengan pipi yang mulai bersemu merah mendengar ucapannya. Lalu aku menarik tengkuk lehernya dan mendaratkan kecupan di kening dan kedua pipinya.


“Kalau begitu kita impas, kau hari ini datang menyelamatkanku dua kali juga.”


“Akan impas kalau kamu menciumku lagi.” Katanya menunjuk pipinya.


Aku tertawa kecil dan sekali lagi menariknya mendekat, melingkarkan tangan kananku di bahunya dan mecium kedua pipinya, sengaja menekan bibirku di pipinya lebih lama.

__ADS_1


Bayu tertawa geli mendapat ciuman itu dan ia juga membungkusku dengan pelukan hangatnya, membawaku masuk ke dalam dadanya hingga tidak ada jarak lagi di antara kami.


“Baiklah, kita harus hentikan ini. Ingat, bunda sedang menunggu di luar.” Kataku mendorongnya menjauh.


Lelaki ini tersenyum lebar padaku tapi dia tidak membantah dan kembali mengancingkan jasnya di tubuhku. Hanya tangan kananku yang masuk ke lengan jasnya sedangkan lengan jas kirinya kosong, berharap tangan kiriku bisa bergerak sembuh dengan cepat.


“Tunggu sebentar, aku akan mengambil sepatumu dan kita akan berangkat ke rumah sakit.” Pamitnya berbalik, masih perhatian dengan heels ku yang hilang sebelah.


Aku mengangguk dan memandangi punggungnya yang perlahan menjauh, lalu dia membuka pintu dapur yang langsung di sambut oleh wajah khawatir Bunda di depan pintu.


Untuk sesaat, keduanya diam di depan pintu, aku duga Bayu menjelaskan dengan singkat pada Bunda sebelum wanita paruh baya itu melangkah masuk mendekatiku.


“Astaga! Bunda masih belum percaya semuanya terjadi begitu cepat. Bagaimana dengan keadaanmu? Bayu beneran jahit luka kamu?” Bunda berjalan cepat menghampiriku yang masih duduk di atas meja counter. Kedua tangannya tarangkat ingin memelukku tapi dia urungkan setelah melihat tangan kiriku yang tersembunyi di


balik jas.


“Iya, dia menjahitnya bun.” Kataku berusaha tersenyum menenangkan tapi nyatanya aku sadar hanya bisa menunjukkan senyuman lemahku.


Tangan hangat bunda terangkat, mengusap pipiku. “Kamu terlihat pucat sekali.”


Ada ke khawatiran di sorot matanya yang sekilas sering aku lihat di sorot mata Bayu.


Kepalaku semakin pusing, aku menunduk memejamkan mata agar bunda tidak melihat jelas ekspresi wajahku, tapi nyatanya bunda menyadarinya dan dengan hati-hati memelukku, berusaha menghindari menyentuh bahu ku yang terluka.


“Bunda dan ayah tidak akan memaafkan orang-orang yang ada di balik semua ini. Jadi, Icha beristirahatlah, tidak perlu mengkhawatirkan apapun.” Bisikkan tenang bunda seolah menyihirku lebih tenang.


Aku balas memeluknya dengan tangan kananku yang lemah terangkat. Lalu kami melepaskan pelukan tepat saat hujan mulai turun.


“Kamu sangat lemah. Bunda akan menyuruh Bayu untuk membawamu berbaring ke kamar.” Tanpa mendengar jawabanku, bunda sudah berjalan cepat keluar dapur, meninggalkanku sendirian.


 


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2