EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 190


__ADS_3

 


 


 


 


“Selamat sore, sir!” Sapa Zac dengan suara lugas.


“Kerja bagus. Kau pasti banyak menderita karena menjaga anak ini.” Bayu mengangguk sembari melirik Alisya.


“Tidak. Suatu kehormatan bagiku untuk bisa membantu.”


“Jangan berbicara seperti itu, dan jangan terlalu formal.” Bayu menggeleng, menolak sikap Zac yang terlihat kaku sekarang.


“Apa terjadi sesuatu? Aku dengar dari bunda ada yang mengikuti Alisya?” Tanya Bayu terlihat sedang mengalihkan topik pembicaraan.


“Yaa. Aku sudah minta pusat untuk mengeceknya. Belum ada jawaban.”


“Apa kau punya fotonya? Bisa aku lihat?”


“Yaa. Aku punya.”


Zac menyerahkan ponselnya setelah ia mengotak atiknya sebentar, menunjukkan sebuah foto pada Bayu. Foto yang terlihat samar memakai topi. Meski kualitas gambar nya agak buram tapi entah mengapa bagiku terasa familiar.


“Ada videonya?” Tanyaku.


Zac mengangguk dan Bayu yang menggeser layar itu untuk menampilkan video singkat seorang pria berjalan di belakang Alisya dengan sembunyi-sembunyi.


Ketika Alisya berhenti melangkah, pria yang ada di video juga berhenti dan berusaha terlihat alami dan membaur.


 


 


“Caranya menguntit seperti ini, aku pernah melihatnya.” Gumamku yang langsung di sambut antusias Alisya dan Zac.


Bayu melirikku sekilas dan kembali memutar video itu. Dia mengerutkan kening sebentar lalu sebuah hembusan napas panjang terdengar.


 


“Ini pria yang sebelumnya menguntit professor Bora.”


“Ohhh! Benar!” Aku memekik senang karena Bayu menjawab kebingunganku.


“Jadi bagaimana menurutmu?” Tanyaku lagi, penasaran dengan tindakannya.


“Sejak awal aku sudah menduga orang ini bukan sekedar dari perusahaan hiburan yang ingin merekrut model. Ada yang dia inginkan dari professor Bora dan Alisya. Atau dia sedang memberikan umpan pada kita untuk berpikir seperti itu dengan rencana lain di belakangnya. Aku akan mengabari yang lain. Kau lebih baik mandi dulu!” Bayu mengusirku.


Aku menggeleng dan lelaki ini memberikan tatapan bertahan yang menunjukkan kekuasaannya, dia ingin aku menuruti perkataannya hanya dengan tatapan itu.


“Tidak!!”


“Ayo, akan aku mandikan.”


“TIDAK!!”


“BUNDAAAA!! KA BAYU MES---”


“Selalu mengadu pada bunda! Anak manja!”


“Terserah! Yang jelas, Alisya sudah mendapat bukti kalau kak Bayu itu mesum!”

__ADS_1


“Pikiran kotormu itu yang perlu di cuci bersih!”


“Berhenti berdebat! Aku bisa sendiri!” Kataku kesal, melirik Bayu dan melayangkan tatapan membunuh.


Tanpa menunggu jawabannya, aku segera melangkah cepat meninggalkan ketiga orang ini.


 


 


***


 


 


Aku menatap wajahku di depan cermin, meski hanya berendam dengan air hangat, pakaian yang masih aku pakai tetap sama. Celana skinny hitam dengan atasan kaos turtleneck lengan panjang hitam di padukan dengan sweater kebesaran berwarna coklat.


Sebelum mandi tadi, tiba-tiba aku teringat dengan dokter Cilia. Aku berjanji akan cek up. Sore ini aku berencana akan ke rumah sakit dan setelah mengirim pesan singkat padanya, wanita cantik itu menungguku datang.


Sentuhan terakhir liptint yang di padukan dengan lipstick menyempurnakan penampilanku. Aku kemudian keluar dari kamar mandi dan menemukan Alisya sedang berbaring di atas tempat tidur, memainkan ponselnya.


“Alisya, kak Icha sudah selesai mandi. Ayo cepetan kamu juga.” Kataku memecah keheningan. Kamarnya yang rapih dengan warna feminim ini benar-benar cocok dengan Alisya.


“Ka Icha mau pergi?” Tanya nya langsung saat matanya menemukanku. Dia bangkit duduk dan berjalan mendekatiku.


“Yaa.. Ada janji.”


“Tapi—apa urusannya sangat penting? Lama?” Melihat dari reaksi Alisya, aku merasa ada yang sedang dia sembunyikan.


“Hmm…” Aku mengerutkan kening, menebak-nebak ekspresi wajahnya ini.


“Ahh ya udah cepetan minta antar kak Bayu!” Tiba-tiba Alisya mendorongku, dia sedang menghindar agar aku tidak bertanya lebih lanjut padanya.


Aku hanya mengangguk dan segera mencari Bayu untuk mengantarku sekalian aku akan mengenalkannya pada dokter Cilia.


 


.



 


“Bagus! Syukurlah! Aku ikut senang dengan hasilnya.” Untuk ketiga kalinya dokter Cilia mengatakan hal yang sama sejak satu menit yang lalu.


Hasil tes yang dia berikan padaku sepertinya sangat memuaskan, jarang sekali aku melihat wanita ini tersenyum lebar seperti sekarang.


“Aku tidak pernah menyangka kemajuan kesembuhanmu bisa secepat ini. Aku senang sekali!”


“Terima kasih dok.”


“Jadi kapan kamu akan mengenalkannya padaku?” Tanya dokter Cilia dengan senyum jahil sembari bersandar di punggung kursi.


Aku terkekeh pelan dan menjawab. “Dia akan datang menjemputku, sekalian aku akan mengenalkannya padamu.”


Ingatan ku kembali pada Alisya lebih dari sejam yang lalu, setelah dia mendorongku keluar dari kamar, aku mencari Bayu di bawah tapi bunda mengatakan kalau lelaki itu bersama Zac baru saja keluar sepuluh menit yang lalu. Bunda tidak tahu apa yang mereka lakukan jadi akhirnya aku meminta izin untuk meminjam motor.


Setelah sampai di rumah sakit dengan motor, Bayu menelpon dan akan menjemputku sebagai gantinya, tidak lupa aku mengingatkannya untuk membawa helm sendiri karena aku hanya membawa 1 untuk diriku sendiri.


 


 

__ADS_1


 


 


“Bahagia itu sederhana. Hanya saja terkadang orang menginginkan alasan bahagia yang rumit.” Ujar dokter Cilia dengan pandangan melamun.


Kami sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga aku merasakan tangannya yang lembut menggenggam tangan kiriku.


“Apa ini cincin dari nya?”


Untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku. Aku mengangguk menjawab pertanyaanya.


 


“Dia sudah melamarku.”


 


“Benarkah??! Selamat!! Aku benar-benar ikut bahagia mendengarnya.” Aku tesenyum dan mengangguk.


Lalu obrolan kami terhenti saat suara ketukan pintu terdengar.


 


“Dok, ada yang mencari nona Icha.” Mendengar perkataan suster di ambang pintu membuat kedua sudut bibirku terangkat otomatis.


“Biarkan Masuk.”


Detik berikutnya, wanita di ambang pintu itu mundur memunculkan sosok tinggi dan tampan Bayu Christ Jeremy di ambang pintu. Senyuman kecilnya muncul begitu matanya menemukanku.


Aku tidak tahu apa yang sebelumnya dia lakukan, tapi pakaiannya rapih sekali. Celana jins hitam di padukan dengan jas coklat tua dan kaos polos hitam.


 


“Halo.” Sapa dokter Cilia berdiri menyambut lelaki ini.


“Senang bertemu denganmu, dokter Cilia. Saya Bayu.”


“Senang berkenalan. Ayo duduk!” Ajak dokter Cilia terdengar antusias.


Mataku yang sejak tadi memperhatikannya tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Apa dia sengaja memilih warna coklat dan hitam mengingat baju yang aku pakai juga warna itu?


Lamunanku buyar merasakan tangannya yang besar mengusap puncak kepalaku sesaat sebelum dia ikut duduk di sampingku.


 


“Aku sudah sering mendengar Icha menceritakan tentangmu.”


“Benarkah? Dia tidak menceritakan sesuatu yang aneh tentangku ‘kan, dok?”


“Hahaha. Tidak tidak! Tapi aku sangat senang, terima kasih sudah menemani Icha di waktu sulitnya.”


“Aku tidak selalu berada di sampingnya ketika dia kesulitan, tapi perlahan di masa depannya, aku ingin ada di sampingnya dalam suka maupun duka.” Pipiku terasa panas mendengar ucapannya.


Dokter Cilia sempat melirikku dengan senyuman menggoda.


“Maaf dok, aku baru bisa datang ke sini. Terima kasih sudah merawat Icha.”


“Itu sudah kewajibanku. Icha sudah aku anggap sebagai temanku.”


Selanjutnya, aku hanya memperhatikan mereka mengobrol, tidak ingin menyela di antaranya. Dokter Cilia menjelaskan tentang kondisiku sekarang, menjelaskan tentang semuanya selama ini. Tentang bagaimana traumaku muncul, kesakitan apa yang aku rasakan.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2