
...
Luka jahit di bahu kiriku terasa sedikit perih dan kebas, aku baru tahu kalau ternyata hanya berjalan perlahan saja rasanya lumayan perih.
“Oh? Kenapa keluar kamar, nona Icha?” Itu pertanyaan suster Rini ketika aku sudah ada di depannya.
Hanya ada suster Rini dan satu suster lainnya yang berjaga di meja ini. Hampir semua suster di sini sudah mengenalku sering keluar masuk rumah sakit, mereka juga tahu kalau dokter yang selalu menanganiku di sini adalah dokter Stefan.
Aku tersenyum lebar pada dua wanita ini. “Boleh aku meminta bantuan?”
“Ada apa?” Tanya keduanya serempak.
“Malam ini aku tidak bisa tidur, apa kalian punya masker? Maksudku, agar aku bias lebih tenang dan tertidur. Kalau tidak punya, bisa kalian tunjukkan di mana aku bisa beli? Apa apotik di sini menjualnya?”
Sesaat, kedua suster ini saling pandang sebelum suster Rini menjawab. “Aku tidak punya, tapi apotek di bawah menjualnya.”
“Oh benarkah? Baiklah, aku akan ke bawah kalau begitu, terima kasih.” Kataku undur diri namun suster yang ada di samping suster Rini langsung berdiri menahan langkahku.
“Nona Icha tunggu saja di sini, biar aku yang membelinya ke bawah. Nona harus istirahat agar cepat sembuh.” Aku bisa melihat name tag yang di pakai wanita ini.
“Benarkah? Terima kasih, maaf merepotkan, suster Lia.” Aku mengangguk pelan merasa sangat terbantu.
Suster Lia pamit pada suster Rini lalu ia keluar dari meja podium dan berjalan menghampiriku.
“Sebentar sus, aku ambil dulu uangnya—“
“Biar uangnya dari aku dulu, nona tunggu saja di kamar.” Sela suster Lia sembari melangkah menjauhiku.
“Suster, tolong beli 2 bungkus.” Wanita yang memakain pakaian rapih itu mengangguk padaku dan segera berjalan menjauh mendekati pintu utama lantai ini yang di jaga oleh dua petugas keamanan di depan.
“Oh, Icha? Kenapa kamu ada di luar?” Itu suara dokter Stefan, berasal dari pintu tangga darurat di depan meja podium ini.
Refleks aku menoleh melihat pria berambut coklat madu ini sedang menutup pintu di belakangnya dengan kaki.
“Selamat malam, dok.” Suster Rini menyapa. Dokter Stefan mengangguk sekilas padanya lalu kembali menatapku dan melangkah mendekat.
__ADS_1
“Suster Lia membantuku membeli masker wajah di apotik bawah.”
“Makser?” Tanyanya mengerutkan kening tidak mengerti.
Aku mengangguk, dia pasti bertanya-tanya kenapa malam-malam begini aku keluar untuk meminta masker wajah.
“Dok, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Kataku mengalihkan pembicaraan, setelah melihatnya seperti ini aku langsung mengingat, memang ingin mengobrolkan tentang penawar racun itu padanya. Belum ada timing yang pas hari itu.
“Ingin tanya apa? Ayo aku antar ke kamar.” Dokter Stefan membantuku menarik tiang infus dan kami berjalan perlahan menjauhi suster Rini menuju kamar inapku.
“Aku belum sempat menanyakan tentang penawar racun itu. Jadi sekarang tubuhku sudah baik-baik saja ‘kan dok? Penawar racun itu bekerja sangat baik ya?”
Sesaat dokter Stefan menatapku dan dia kembali menatap ke depan. “Racunnya memang sudah hilang, tapi kamu masih dalam masa penyembuhan. Racun itu sangat langka di jaman sekarang jadi kasusmu spesial karena tidak ada data pembanding yang nyata. Syukurlah penawar yang di bawa Bayu itu ampuh jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Aku mengangguk dan tersenyum lega.
“Tapi tetap saja, aku masih tidak tahu ada apa denganmu ini. Apa hobimu terkena racun?” Nada suara dokter Stefan terdengar kesal sekarang.
Aku meliriknya yang dia juga sedang menatapku. “Dan hari ini kamu terkena racun lain! Untung saja Bayu sudah pernah menghadapi racun ini jadi dia tahu apa yang harus di lakukan dengan cepat. Hasil tes darahnya juga racun itu sudah keluar dari tubuhmu, sekarang tubuhmu harus ekstra dalam penyembuhan karena telah 3 kali kamu keracunan!”
Aku terkekeh pelan mendengar omelan pria ini.
“Pertama kita bertemu, kamu datang di bawa oleh Bayu dengan keadaan sudah parah karena keracunan, yang kedua juga Bayu memintaku meneliti penawar racun sebelum di berikan padamu, lalu sekarang racun ke tiga aku harus beberapa kali melakukan tes padamu untuk memastikan racunnya sudah di hilangkan oleh Bayu.”
Kalau di pikir-pikir lagi, kehadiran Bayu dan racun seperti menjadi dua kutub magnet yang saling tarik menarik. Aku terkena racun yang berhubungan dengan Bayu namun dia juga yang menyelamatkanku.
“Tolong berhenti terkena racun lagi! Aku khawatir tubuhmu tidak akan sanggup lagi jika harus menerima yang ke 4.”
“Aku akan hati-hati.” Jawabku saat kami sudah di depan pintu kamarku.
“Ngomong-ngomong dok, besok aku izin untuk keluar rumah sakit. Besok hari senin jadi aku harus kembali kerja.” Dokter Stefan langsung melipat kedua tangannya di atas perut dan menatapku serius.
“Tidak! Kau belum boleh keluar rumah sakit. Lukanya bahkan belum kering. Kau harus melakukan tes darah lagi nanti lalu ketika ada luka jahit, biasanya mereka akan mengalami demam dan pembengkakan.” Aku seolah baru menyadarinya, yang di katakan dokter Stefan benar, pasti ada efek samping seperti itu.
“Tidak apa dok, toh aku juga bekerja di dalam ruangan, duduk di depan komputer. Aku janji tidak akan berlebihan.”
“Apa Bayu setuju?”
“Tidak. Lagi pula aku tidak perlu persetujuannya ‘kan?”
“Kau harus mendapat persetujuannya!”
__ADS_1
“Tapi dia bukan keluargaku!”
“Dia calon suamimu dan selama ini dia yang terdaftar sebagai wali setiap kali kamu masuk ke rumah sakit!” Wajahku tiba-tiba memerah.
Dokter Stefan mengingatkanku tentang lamarannya, tentang pembicaraan kami dengan kakek dan tentang rencananya menikahiku dua minggu lagi.
Ya ampun! Aku tidak menyangka apa benar kami akan menikah secepat ini?!
Tiba-tiba aku merasakan telapak tangan dokter Stefan yang hangat menyentuh keningku yang tertutup sebagian rambut. “Apa kamu sudah mulai demam? Wajahmu memerah!”
“Ti—tidak dok! Baiklah, terima kasih! Po—koknya besok Bayu juga akan menyetujui kepulanganku.” Aku cepat-cepat berbalik dan tidak sadar kalau lukanya terasa perih karena gerakkan yang tiba-tiba.
Dokter Stefan dengan cepat membukakan pintu kamar untukku, hendak mengantarku ke dalam tapi aku melarangnya dan sekali lagi pamit untuk beristirahat.
Pintu sudah tertutup dan aku melangkah perlahan menuju tempat tidur, sekarang posisi tidur sudah terlentang dan hembusan napasnya yang teratur menandakan dia benar-benar tidur pulas.
“—bilang melindungimu.” Itu suara gumaman Bayu.
Dia berbicara dalam tidur tepat saat aku hendak naik, duduk di sisinya.
“Tidak usah kerja. aku akan memanjakanmu.” Gumaman nya semakin jelas. Aku terkekeh pelan lalu segera naik ke atas tempat tidur dan duduk di sampingnya.
Mencubit pelan pipinya dengan gemas. “Apa perdebatan tadi di lanjutkan di dalam mimpi, huh?”
Bayu terusik sebentar dengan keningnya mengkerut. Aku segera melepaskan cubitan pipinya dan mengusap kerutan keningnya sampai kerutan itu menghilang dan Bayu kembali tenang.
Apa dia begitu mengkhawatirkanku sampai terbawa mimpi?
Apapun yang ada dalam mimpinya, semoga bisa membuat tidur lelaki ini lebih nyenyak.
Aku mendekatinya dan mengecup singkat keningnya. “Malam ini tidurlah lebih nyenyak karena aku akan ada di sampingmu.”
__ADS_1
...