
...
“Makasih udah antar aku belanja. Sana pulang! Sampai jumpa!”
“Eh Eh!! Ko pamitnya biasa banget?” Aku menghentikan gerakkan tanganku yang hendak membuka pintu gerbang, berbalik menatapnya tidak mengerti.
Bayu mendengus kesal, bibirnya melengkung ke bawah dan kedua alisnya mengkerut. Posisinya yang masih duduk di atas motor trialnya tidak membuatku berniat mendekatinya. Kami berdua sama-sama diam di tempat masing-masing.
“Engga di tawarin masuk dulu?”
“Mau ngapain?”
“Kamu engga berpikir macam-macam ‘kan?” Bayu menatapku sembari kedua matanya menyipit curiga. Aku tertawa kecil, lalu melangkah mendekatinya dan berdiri di sampingnya.
“Bercanda. Hehehe. Tunggu di sini, aku mau simpan dulu ini dan kita keluar lagi.”
Bayu tersenyum senang sembari mengangguk. Aku cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan meletakkan belanjaan di meja dapur. Kemudian melangkah cepat menuju pintu keluar, sebelum aku benar-benar keluar, aku sempat menyalakan lampu ruangan yang aku lewati.
Tapi langkahku terhenti saat aku mendengar suara barang jatuh dari ruang kerja yang dulu di pakai oleh bibi Rose. Ruangan itu jarang sekali aku pakai, Karena penasaran aku melangkah cepat menuju pintu.
Dengan cepat aku membuka kenop pintu yang terasa dingin di telapak tanganku dan seperti biasanya, ruangan ini gelap, tidak ada siapapun.
Sembari mencari saklar lampu, aku melangkah masuk bermaksud memastikan jendela masih dalam keadaan terkunci karena takut-takut ada pencuri yang masuk lewat jendela.
BRUUKK!!
Tubuhku terasa di dorong keras dari belakang oleh seseorang hingga aku merasakan bahu kananku seperti mati rasa karena terantuk sesuatu yang keras. Ruangan yang masih gelap tidak bisa membuatku melihat siapa yang mendorongku.
“Siapa kamu?!” Itu suara laki-laki. Aku hanya bisa melihat bayangannya berdiri di hadapanku.
Aku belum mampu menjawab, aku masih meringis kesakitan dengan kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Dorongannya keras sekali.
“Sedang apa kamu ada di rumahku?!” Aku membentakkanya kesal.
__ADS_1
“Icha?” Tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi lebih halus. Seolah dia mengenalku. Meskipun masih terasa berdenyut sakit, aku melompat cepat berdiri lalu segera menyalakan saklar lampu yang sudah tak jauh dari jangkauanku.
Begitu ruangan ini terang, aku bisa melihat dengan jelas seorang pria paruh baya dengan pakaian rapihnya telah berdiri mematung tidak jauh di hadapanku. Rambutnya yang sebagian berubah warna menjadi putih, sorot matanya tampak kagum menatapku.
Untuk sesaat aku tidak mengenalinya tapi melihat dari raut wajahnya aku mulai mengingatnya.
“Ayah??” Nada suaraku yang kaget dan tidak percaya menatap lelaki ini. Sudah hampir dua puluh tahun aku tidak bertemu dengannya.
Aku tidak pernah tahu bagaimana perubahan wajahnya. Dan secara mengejutkan Ayah berdiri di hadapanku seperti ini.
“Sedang apa ayah ada di sini?”
“Ya ampun putri ayah sudah dewasa dan cantik.” Ayah berjalan terharu mendekatiku sembari merentangkan kedua tangannya bermaksud memelukku.
Aku yang masih shock dan tidak percaya hanya diam mematung di tempat, sesaat merasakan suhu hangat tubuh ayah. Wangi parfumnya terasa asing bagiku.
“Ayah sangat rindu padamu. Tidak menyangka kau sudah dewasa, terakhir ayah melihatmu kau masih setinggi ini.” Ayah memainkan gesture tangannya untuk mengukur seberapa tingginya aku dulu.
Entah aku harus bereaksi seperti apa, aku senang bertemu dengan ayah tapi aku juga merasakan penyesalan yang tiba-tiba menghantam keras, mengingat bagaimana terakhir kali aku melihat ayah. Sorot marah, kecewa itu masih tergambar jelas di ingatanku.
Ayah yang melepaskan tanganku untuk pergi dari rumah, yang menyerukan nada kecewa tertuju padaku, ketika aku hanya anak kecil berusia lima tahun. Bahkan aku tidak yakin apa benar dia adalah ayah yang selama hampir dua puluh tahun aku rindukan?
Belum sempat ayah menjawab, tiba-tiba Bayu sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang khawatir. Begitu dia melihatku dan ayah, ekspresi itu berganti lebih tenang.
“Siapa dia? Pacarmu?”
“Jika aku jawab dia adalah suamiku, apa ayah akan terkejut?” Aku menjawab cepat sebelum Bayu menjawabnya.
Tiba-tiba emosi kecewa tidak bisa lagi aku tahan. Aku sudah dewasa, pikiranku akan berputar memikirkan berbagai macam alasan yang akan ayah katakan padaku.
Ketika dia kembali setelah hampir dua puluh tahun tidak pernah menemuiku, ketika aku hampir melupakan wajahnya, ketika aku tidak mengharapkan kehadirannya, apalagi ketika dia datang ke rumahku tanpa memberitahuku.
Entah mengapa aku sudah menebak apa yang akan ayah katakan. Mungkin alasan yang sama dengan ibu membenciku maka dari itu ayah kembali berdiri di hadapanku.
Oh ralat! Ayah ketahuan ada di rumahku.
__ADS_1
“Suami? Kau sudah menikah? Kapan? Mengapa kau tidak mengundang ayah?” Ayah berubah protektif, aku bisa merasakan nada bicara dan tatapannya tampak palsu.
Tiba-tiba ayah berjalan menghampiri Bayu dan menarik lengan lelaki itu menuju sofa ruang tamu. Aku yang melihatnya hanya bisa menghela napas dalam, sebenarnya aku masih tidak ingin bertemu dengannya. Pantaskah aku merasakan perasaan ini?
“Kau suami Icha? Siapa namamu? Kamu kerja dimana? Apa yang kamu janjikan pada putriku ketika kalian menikah?”
“Oh Halo Om, maaf baru memperkenalkan diri. Saya Bayu. Saya bu—“
“Katakan mau ayah apa?” Aku bertanya langsung padanya, menatap Ayah yang sudah duduk di sofa bersama Bayu. Sembari menampilkan wajah tanpa ekspresi menatapnya tajam.
“Apa yang kau katakan? Apa seorang ayah tidak boleh mengunjungi putrinya? Kelihatannya kau sendirian tinggal di sini, bagaimana jika kau ikut ayah pulang ke rumah?”
“Rumah? Sejak kapan ayah menawariku rumah?”
“Nak, putri ayah! Apa kamu tidak merindukan ayah? Kita sudah lama tidak bertemu.” Ayah sudah berdiri menghampiriku tapi aku melangkah mundur enggan berdekatan dengannya.
Aku ingin menangis sekarang, perasaanku mengatakan semuanya terasa palsu sekarang. Apa yang selama ini aku dambakan, perhatian ayah, kasih sayangnya?
Tiba-tiba ponsel yang sejak tadi ada di saku celanaku bergetar pertanda ada panggilan masuk, saat aku sudah melihat nama yang tertera di layar, aku menghembuskan napas pelan sebelum menjawab.
“Halo, ada apa bu?”
“Kau ada di mana? Apa kau bertemu ayahmu?”
“Hmm.. Dia datang ke rumah.”
“Icha, ibu akan segera datang ke sana. Tenang saja kau jangan takut.”
Aku tersenyum kecil, suara panik ibu di sebrang sana terasa hangat. Setelah aku bergumam pelan,sambungan terputus.
Membayangkan ibu dengan panik berlari mencari kendaraan umum untuk sampai ke sini membuatku senang. Sudah lama sekali ibu tidak sepanik dan seperhatian seperti ini.
“Ibumu akan datang?” Aku mengangguk menjawab pertanyaan ayah, melihat bagaimana perubahan ekpresinya dengan cepat menjadi lebih serius.
Aku memang tidak bisa berbohong jika aku sangat merindukan ayah, tapi perasaan ini seolah sudah lama terabaikan hingga terasa usang.
“Bagaimana ayah bisa masuk ke rumah ini?”
“Ibumu yang memberitahuku.”
...
__ADS_1