
...
Selesai memakai jaket denim biru dongker dan melihat tampilanku sekali lagi di depan cermin, aku sudah siap berangkat. Arloji perak yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan pukul delapan pagi. Kakiku sudah melangkah menuju ambang pintu saat aku melihat Bayu muncul di sana.
“Sudah siap?” Aku mengangguk saat sudah sampai di hadapannya di ambang pintu.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik.” Aku menjawab yakin. Meskipun demam, tapi pagi ini aku sedang dalam mode bersemangat. Lelaki ini langsung memelukku dan mencium sisi kepalaku beberapa kali sebelum melepaskan pelukannya.
Meskipun dia tidak mengatakannya tapi aku bisa merasakan dari pelukannya, lelaki dia mengkhawatirkanku.
“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Akhirnya aku tidak bisa menahan pertanyaan yang sejak tadi sudah ada di ujung lidah ku.
“Kamu mimisan, tentu saja membuatku khawatir, kita harus segera berangkat ke rumah sakit pusat. Tim dokter sudah melakukan pemeriksaan pada penawarnya dan itu bisa di gunakan.”
Entah mengapa aku melihat ada hal lain yang masih di sembunyikan. Tapi karena tidak ingin bertanya lebih lanjut akhirnya aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil padanya.
Lalu Bayu menutup pintu kamarku dan tangan kanannya menggenggam tanganku, menarikku untuk mengikutinya keluar dari rumah.
Kami berdua melangkah keluar dari gerbang dan seperti biasa, tidak jauh dari depan rumahku ada tukang sayuran yang di penuhi oleh ibu-ibu atau pembantu komplek. Seperti yang aku duga, mereka semua memperhatikanku terang-terangan.
Dokter Stefan dan Jack yang sudah siap segera masuk ke dalam mobil. Lalu Rama membuka pintu mobil untukku yang di balas olehku dengan senyum lebar terima kasih.
Noval sedang mengatakan sesuatu pada Bayu, tidak lama Bayu itu juga ikut bergabung masuk ke dalam mobil di jok belakang bersamaku.
Aku tidak melihat Vincent dan Mika, mungkin mereka melakukan sesuatu yang di perintahkan Bayu.
“Bersiaplah!” Seru Bayu dari jendela mobil yang terbuka pada kedua anggota tim nya saat mobil melaju pelan melewati mereka.
__ADS_1
Rama dan Noval menjawab dengan gesture hormat dan mobil yang di kendarai Jack melaju meninggalkan rumahku. “Di jalan utama menuju pusat kota pagi ini akan macet.”
“Itu akan bagus, kita bisa mengelabui mereka.” Bayu menjawab pernyataan Jack.
Aku meliriknya bingung tapi tidak ingin bertanya. “Tenang saja, semua akan baik-baik saja.”
Bayu tersenyum sangat manis menyadari aku menatapnya, tangannya terangkat dan mengusap puncak kepalaku seperti biasanya. Sekarang aku yakin kalau Bayu sedang merencakan sesuatu. Perjalanan menuju rumah sakit yang aku bayangkan tidak benar-benar seperti yang di bayangkan.
Untuk lima menit selanjutnya, suasana di dalam mobil sangat hening tidak ada yang mencoba menemukan topik pembicaraan, yang kami dengar jelas hanya suara mesin mobil dan suara klakson mobil di kejauhan.
Karena terlalu sunyi, aku mencoba menyibukkan dengan ponsel untuk mencari kabar terbaru tentang pekerjaan dan kuliahku. Aku sudah menduga kalau pekerjaanku akan terancam, mungkin saja sudah ada gantinya di sana karena aku sudah hamper dua minggu mengambil izin.
“Snoopy di sini, bagaimana keadaannya Carlie?” Suara Jack tiba-tiba terdengar di tengah keheningan. Refleks kami semua menatapnya yang sedang mengemudi.
Ada jeda sebelum matanya melirik kaca spion. “Oke. Target terlihat.”
Aku refleks menoleh ke belakang. Banyak mobil di belakang karena kami sekarang ada di tengah jalan raya. Aku tidak mengerti target yang di maksud Jack.
“Kondisi rumah sakit bagaimana?” Tanya Bayu, aku meliriknya dan dia sudah memakai headset kecil bening dengan kabel spiral yang menyambung dari telinga hingga ke dalam bajunya. Padahal beberapa detik yang lalu aku tidak melihatnya memakai itu.
“Lima menit sebelum waktu benturan.” Itu Jack yang memperingatkan sembari dia melirik pada Bayu dari kaca spion.
“Ingat, waktunya tiga jam. Kami akan mengalihkan perhatian mereka selama mungkin.” Dokter Stefan yang duduk di jok samping kemudi berbalik menatap Bayu sangat serius. Suasana seketika berubah tegang.
“Aku mengerti. Lalu bagaimana denganmu dok? Sudah lama kau tidak menghadapi situasi seperti ini.”
“Jangan mengkhawatirkanku, aku sudah lama menunggu kesempatan seperti ini.” Ada senyum kecil menyeramkan yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dokter Stefan membuka dashboard di hadapannya lalu mengeluarkan dua buah pistol hitam dan merangkai semua bagian yang terlepas dengan cepat.
Aku kaget dan tidak percaya melihat betapa cepat tangan dokter Stefan menyelesaikannya. Bunyi klik klik saling bersahutan saat pria itu melakukannya. Entah apa yang lucu, tapi ketiga pria ini justru tertawa.
“Ini milikmu.” Dokter Stefan menyerahkan salah satu pistol itu pada Jack dan pria yang sedang menyetir itu menerimanya dan menyimpannya di dekat persneling mobil.
__ADS_1
Lalu Bayu mengeluarkan ponselnya dan aku bisa melihat dengan jelas dia mematikannya. “Sayang, bisa kau matikan ponselmu?”
Aku menatapnya dengan kening berkerut tapi tidak membantah dan mematikan ponselku. Memasukkannya ke dalam tas kecil selendang dan mengeluarkan ponsel yang lain lalu mematikannya juga. Aku punya 2 ponsel khusus terpisah antara ponsel pribadi dan ponsel kerja yang aku miliki.
Setelah memenuhi permintaan Bayu, aku mendongak dan mendapati ketiga pria ini sedang menatapku. Mobil yang sedang kami kendarai berhenti di lampu merah. “Sudah. Kenapa?”
“Mematikannya tanpa bertanya? Bagaimana kalau kami menculikmu? Lalu menjual organ mu dan melempar tubuh mu ke laut—“
“Apa kau merasakan sakit, cha?” Dokter Stefan menghentikan ucapan Jack. Aku terkekeh pelan mendengarnya/.
“Aku baik.” Jawabku untuk pertanyaan yang sama beberapa kali di pagi ini.
“Dua menit menuju benturan!” Itu suara Jack menginterupsi.
Bayu dan dokter Stefan melirik arloji mereka masing-masing. Seolah sedang menyamakan waktu. Karena penasaran aku juga melihat arlojiku yang sekarang menunjukkan pukul delapan lewat tiga belas menit.
“Satu menit!” Jack berseru ketika mobil yang di kendarainya melaju karena lampu sudah berubah hijau. Apa mobil ini akan menabrak sesuatu atau apa??
Melihat suasana jalanan tampak normal dan baik-baik saja. “10, 9, 8—“
Jack yang menghitung mundur membuat jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Suasana pagi ini berubah mencekam di sekitarku.
“5, 4, 3—“ Aku merasa sebelah tangan Bayu menarikku kepelukannya. Dia menyembunyikan kepalaku di dada bidangnya sangat erat dan sebelah tangannya yang lain mencengkram jok depan.
Tubuhku seolah sangat kaku dan aku tidak sempat bereaksi tepat waktu saat aku merasakan tabrakan dari bagian depan lalu di susul bagian belakang tiga kali. Jantungku berdetak cepat dan napasku berubah lebih cepat menyadari ini tabrakan beruntun.
Apa sebenarnya yang terjadi?!!
“Ayo keluar!” Bayu berbisik dan melepaskan pelukannya. Dia menggenggam tanganku lalu membuka pintu mobil di
sampingnya.
__ADS_1
...