EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 321


__ADS_3

...


 


 


 


“Apanya yang menjijikan? Kau muntah?” Dia justru melangkah masuk dan berdiri di belakangku. Tangan besarnya menyentuh punggungku, mengusapnya perlahan dan hal itu membuatku agak tenang.


“Oh!” Lelaki ini memekik pelan, meraih telapak tangan kiriku, “tanganmu berdarah.”


“Berda—huuff.” sekali lagi aku memuntahkan isi perutku mendengar kata darah.


“Aku akan memanggil dokter, tapi sebelum itu, ayo kembali ke tempat tidurmu. Aku takut, kau muntah seperti ini karena gegar otak.” Katanya.


Cepat-cepat aku berkumur dan membasuh mulut, lalu segera berbalik menghadapnya sembari mengangkat tangan kiriku.


Bayu benar, punggung tanganku berdarah, mungkin karena jarum infus tadi?


Sebelum aku berpikir jauh, tanganku bergetar, adegan darah yang tergenang di lantai lagi-lagi membuat perutku mulas. Cairan dalam perutku kembali naik, tapi entah mengapa aku lemas sekali dan tidak bertenaga.


Lalu aku merasakan telapak tangan Bayu menyentuh pipiku, dia mengangkat kepalaku untuk menatapnya, sorot yang lelaki ini berikan penuh rasa khawatir dan lembut, lensa matanya tampak berkaca-kaca dan sepertinya aku bisa melihat genangan air mata di sana.


“Jangan lihat lagi.” Katanya saat aku akan menunduk untuk melihat tangan kiriku, “apa kejadian tadi membuat mu takut? Kau mengingat darah dan suara tembakan?”


Aku tidak bisa menahan diri lagi, akhirnya aku mengangguk dan mulai menangis di hadapannya, “a—aku takut... hic... da—darah itu ada di sana. Ba—baunya...”


“Sssttt...” Dia memelukku sangat erat, “ini salahku, aku tidak bisa melindungimu dengan benar. Kau ada bersamaku, tapi aku tidak menyangka mereka akan dengan nekad akan membawamu pergi di tempat umum. Saat itu dia sudah mengeluarkan senjata dan dalam mode siap, aku tidak bisa tepat waktu meraihmu, jadi pilihan yang cepat adalah aku harus menembaknya, meski untuk sesaat aku takut salah sasaran dan justru mengenaimu.”


Suaranya bergetar, dia terisak kecil dan aku bisa merasakan getaran kecil di tubuhnya. Lalu sesuatu menetes mengenai rambutku dan aku tahu itu air matanya.


Aku agak mendorongnya untuk keluar dari dekapannya, lalu mendongak menatap wajahnya dengan tenggorokan sakit karena menahan tangis, aku mencoba untuk tidak menangis di depannya.


“Itu bukan salahmu! Aku yang terlalu ceroboh karena menuruti permintaan penguntit itu! Kalau aku langsung pulang, Dika, Lucy dan kau tidak akan terlibat!”


Bayu menggeleng, dia menangkup kedua pipiku dan mendekatkan wajahnya padaku. Bibirnya menyentuh bibirku, menciumku dalam dan lembut, memainkan lidahnya dengan hati-hati, menghisap bibir bawahku, seolah ciuman ini ingin membuat ke khawatirannya tadi hilang.

__ADS_1


“Kau tahu...” Dia menunduk, masih menempelkan kening dan hidungnya padaku saat dia melepaskan ciuman kami, “rasanya aku hampir gila melihatmu di tengah kerusuhan tadi dan seseorang membekap mu dari belakang. Saat itu aku ingin membunuh siapapun yang menyentuhmu. Aku ingin marah pada hal-hal kecil sekalipun.” dia mengusap bibirku dengan jari tangannya.


“Mengantarmu ke rumah sakit, aku tidak berani bicara denganmu, aku tidak mau melampiaskan amarahku padamu. Aku pikir kau akan aman di tempat ramai, jadi aku berusaha fokus pada laporan-laporan yang masuk untuk menenangkan pikiranku, tapi nyatanya lagi-lagi aku salah, aku terlambat satu langkah, melihat pria itu sudah mengeluarkan pistolnya dan—dan aku hampir kehilanganmu.“ aku melihat bagaimana air mata yang sudah tertahan di pelupuk matanya tidak bisa terbendung lagi dan perlahan meleleh membasahi pipinya.


Sosoknya yang gagah saat menolongku tadi, sosoknya yang selalu tersenyum jahil menggodaku dan sosoknya yang tampak rapuh dan patah hati di hadapanku ini, semua itu hanya untukku.


Aku tidak bisa menahan lagi dan segera berjinjit untuk memeluk lehernya, membawa kepalanya untuk aku dekap dan menepuk-nepuk punggungnya sembari berkata, “tidak apa-apa. Kau bisa menangis, aku akan menemanimu dan memberikan pelukanku padamu sebanyak mungkin.”


 


 


.


..


...


“Aku kaget sekali! 2 kali??! Bagaimana bisa? Kau tidak menjaganya? Apa seperti ini kemampuanmu sebagai seorang kapten?? Jawab kakek!! BAYU CRIST JEREMY!!”


“Nak, ayah kan sudah bilang saat kita bertemu, kau harus hati-hati, kita sadar kalau akhir-akhir ini Icha sedang di awasi. Kau harus lebih ekstra menjaganya.”


“Iya, lagipula Icha juga terlalu ceroboh untuk hal ini. Keputusan Bayu memakai senjata, itu tidak salah. Bagaimana keadaanmu sekarang, Cha?”


Aku mengerjap mendengar pertanyaan ayah yang di tujukan padaku. Seperti yang di rencanakan malam ini, kakek Jeremy, kakek Alvaro, ayah Rasha dan ayah Evano, mereka semua sedang berkumpul di satu ruangan, melakukan sambungan video call bersamaku dan Bayu.


“Aku sudah baik-baik saja, yah. Tapi kami masih menunggu hasil tes.” Jawabku sembari melirik Bayu.


Lelaki ini sedang duduk di sisi tempat tidurku, kami sama-sama menghadap ke laptop milik salah satu suster, tapi Bayu masih terlihat cemberut dan sedih, dia seolah menerima jika harus di marahi kakek dan ayah.


“Icha hampir celaka! Dia di lempar keras oleh penjahat itu ‘kan?? Lihat apa yang kau lakukan, Bayu!!”


“Kakek, jangan menyalahkan Bayu. Ini juga salah Icha—“


“Tidak! Cucuku yang tidak waspada.” kakek Jeremy menggeleng padaku, “HEI BAYU!! Lihat kakek kalau sedang di marahi!!”


“Iya aku tahu kek! Bayu salah karena menempatkan Icha ke dalam bahaya. Bayu tahu itu! Bayu juga merasa bersalah.”

__ADS_1


“Apa ini?? Kenapa kakek merasa kamu membantah!!”


“Sudah-sudah, yah. Jangan marah-marah terus. Ingat tekanan darah ayah.” Tiba-tiba suara lembut bunda Kirana terdengar dari sambungan video.


Aku lega sekali karena bunda bergabung, rasanya seolah bunda bisa menetralisir kemarahan kakek Jeremy.


“Bayu, nak. Kamu baik-baik aja ‘kan?” Bunda bertanya pada Bayu yang langsung di angguki lelaki ini.


“Icha, bunda dengar kamu di dorong dengan keras ke tembok. Bagaimana punggungmu? Apa ada gejala sakit?” kali ini bunda bertanya padaku.


Aku tersenyum kecil, “tidak bun, hanya—“


“Kami sedang menunggu tes bun, Icha tadi muntah-muntah. Bayu takut ada gegar otak.” Bayu memotong jawabanku. Hal itu membuat kakek Jeremy yang sudah agak tenang kembali melotot pada Bayu.


“Kamu—Bayu!!” amarah kakek Jeremy segera di hentikan oleh mereka semua, melihat ini, entah mengapa aku jadi tersenyum kecil.


Keluarga.


Untuk ke sekian kalinya aku mengeja kata itu. Selama ini aku tidak pernah mengharapkan sebuah keluarga yang harmonis tapi ternyata aku di berkati dengan keluarga yang luar biasa.


Tanganku meraih tangan Bayu, menggenggamnya.


Dia melirikku dan aku memberinya senyum lebar dan berkata “aku ingin lihat senyummu. Ayo senyum.”


“Apa??” Bayu mengerutkan kening, enggan tersenyum.


“Aku ingin kau tersenyum untukku, untuk bunda, ayah dan kakek juga. Ayo! Aku ingin melihatnya!”


“Aku sedang tidak ingin tersenyum.” Dia mengalihkan pandangannya dariku.


 


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2