EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 329


__ADS_3

...


“A—APA YANG KAU LAKUKAN!!” Wanita itu juga sepertinya kaget melihat Bayu yang masih memakai seragam hijau lumur lengkapnya mengarahkan pistol, karena pria-pria di sekitarnya tidak ada yang memakai seragam selengkap Bayu.


Aku melirik cepat wajah Bayu dari samping, ekspresinya serius dan dingin, siap menyingkirkan siapapun yang menghalanginya. Dia tidak mengatakan apapun tapi melihat jari tangannya bergerak aku refleks menutup telinga sembari menunduk dan memejamkan mata.


DOR!


DOR!


Itu dua tembakan!!


Semua orang menjerit, tapi jeritan kesakitan berasal dari wanita gila di depan kami. Ketika aku ingin mendongak, melihat situasi, tapi Bayu tiba-tiba memelukku, menghalangi pandanganku dari wanita itu.


“Bayu! Bagaimana mungkin kamu menembaknya begitu saja?? Dan dua tembakan??” Aku berseru panik tapi tidak menolak pelukannya.


“Semuanya sudah aman sekarang, melihatnya sekilas itu bukan bom asli.” Jawab Bayu mendesah lega, sebelah tangannya memeluk kerat pinggangku dan sebelah tangannya mengusap belakang kepalaku.


Sebelum aku melanjutkan protes, mataku tidak sengaja melirik layar ponsel yang menyala di samping kaki ku. Ternyata sambungan telponku pada dokter Stefan sudah tersambung sejak tiga puluh detik lalu.


“Ini dokter Stefan.” Aku agak mendorongnya, menyerahkan ponselku padanya.


Bayu menerima itu dan berbicara di telpon dengan masih menghalangi pandanganku. Tapi mendengar suara ribut-ribut orang untuk bekerja sama menangkap wanita gila itu, menandakan situasi sudah terkendali.


“Bayu!! Apa yang—?! Suara tembakan apa tadi??” Aku bisa mendengar teriakan dokter Stefan di sambungan telpon.


“Aku akan menulis laporannya nanti, yang mendesak sekarang adalah harus membawa Icha ke rumah sakit sekarang juga!” Suara tegas Bayu menyadarkan ku kalau dia masih gugup dengan keadaanku.


Aku mendongak, ingin menenangkannya meski sebelah tangannya tidak berniat melepaskan pelukannya namun sesuatu yang menyengat dan menyakitkan terasa di bagian perut bawahku.


Tanpa sadar aku mengerang kecil dan menunduk, membungkus perutku dengan kedua tangan, berharap dengan begitu bisa mengurangi sakitnya tapi justru hal itu membuat ke khawatiran Bayu semakin besar.


Aku sadar kalau lelaki ini menanyakan keadaanku, tapi aku tidak bisa menjawabnya karena selain sakit, keram juga terasa di perut bawahku ini.

__ADS_1


Sakit perut yang belum pernah aku rasakan seumur hidup terasa asing dan membuatku gugup. Mendengarku masih merintih kesakitan, Bayu memutuskan untuk menggendongku di pelukannya.


Tidak tahu sejak kapan pintu utama gedung apartemen terbuka, namun Bayu yang membawaku berjalan cepat menuju mobil yang tadi di parkirnya. Pandanganku yang buram sempat melihat Dika dan Lucy berlari menghampiri kami, hingga aku merasa kesadaranku di tarik paksa, tidak bisa lagi mendengar dan melihat apapun. Semuanya jadi hening dan gelap.


.


..



Begitu aku membuka mata yang terlihat pertama kali adalah gerbang sekolah. Itu gerbang yang sama dengan sekolak SMA ku dulu. Pakaian yang aku pakai pun seragam SMA.


Pohon besar yang tumbuh di samping gerbang masih memiliki aura tenang dan sejuk. Di tempat ini tidak ada siapapun, sepi, bahkan jalan raya di depan gerbang juga sepi, tidak ada satupun kendaraan.


Hei! Tunggu! Aku pernah memimpikan tempat ini sebelumnya.


Teringat dengan kucing emas, aku segera berlari kecil mendekati pohon itu, mendongak, mencari ke ranting pohon, tempat kucing itu di temukan sebelumnya tapi aku tidak menemukan apapun di sana selain daun dan ranting pohon tumbuh lebat.


Namun sebelum aku kecewa, mataku tidak sengaja melihat bulu halus emas yang familiar itu ada di sisi lain pohon besar ini, tampak bersembunyi. Maka aku harus mengeliling bagian lain pohon ini untuk menemukan apa yang aku cari.


Dua kucing itu sedang tidur bersandar satu sama lain, mereka sempat membuka matanya untuk melihatku,  dan kembali menutupnya.


Tiba-tiba suasana di sekitar kami jadi lebih dingin, angin berhembus kencang dan ada kabut menyeramkan. Karena perubahan yang mendadak ini aku memutuskan untuk duduk di samping mereka. Entah mengapa aku jadi teringat Bayu.


Lalu gerakan kecil dari kedua kucing itu mengalihkan pandanganku. Kucing perak itu sedang menatapku dan aku mengeretkan kening heran karena aku bisa mengerti apa yang dia maksud lewat tatapannya.


“Kalian tidak apa-apa? Kalian kuat dengan semua ini? Wah hebat sekali! Aku justru kedinginan di sini.” Kali ini kucing emas yang membuka matanya dan menatapku.


“Kau bilang aku juga akan baik-baik saja? Kalian mengkhawatirkanku? Ya ampun, lucu sekali!!” Aku ingin mengusap mereka berdua tapi terhenti begitu angin kencang menerpa tubuh kami.


Rok seragam SMA ku berkibar kencang yang refleks membuatku menahannya lalu angin itu berhenti cepat seolah ada seseorang yang mematikan saklarnya. Setelah itu aku bisa merasakan bulu halus menyentuh lutut dan betisku di kedua sisi.


Kedua kucing ini sudah berdiri dan sedang mengusapkan pipinya di kedua sisi ku. Aku yang sedang duduk ini segera meraih mereka dan memeluknya dengan gemas.

__ADS_1


Lembut dan wangi.


Lalu mataku dan kucing emas ini tidak sengaja bertemu. Membaca dari tatapannya yang seolah mendesakku, aku mengerutkan kening. “Kenapa? Aku suka di sini.”


Grrr—


Keduanya menggeram kecil, bukan geraman galak tapi geraman mendesak. Tapi melihat dari tatapan mereka aku agak kaget dan mengatakan, “kalian ingin aku mencari ayah kalian? Kenapa? Bukannya kucing pasti mencari ibu nya? Hampir semua anak kucing tidak mengenali ayah mereka.”


Mata dua kucing itu saling berpandangan satu sama lain, ekor mereka mengibas pelan tapi aku bisa tahu kalau mereka sedang berdiskusi. Lalu keduanya menatapku dengan pandangan yang sama, “oh? Ayah kalian sedang marah? Apa dia sangat menyeramkan saat marah? Aku harus membawanya kepada kalian ‘kan? Hanya itu? Baiklah. Kalian tunggu di sini, aku akan mencarinya segera!”


Meski tidak tahu siapa yang mereka maksud dan ke arah mana, tapi anehnya aku sangat bersemangat mencarinya hingga suasana tenang di bawah pohon itu berubah dalam sekejap menjadi gelap.


***


“…SEMUA!!”


“Tenanglah pak, kami masih berusaha—”


“Lalu kenapa dia belum sadar kalau kalian sudah berusaha?! Apa yang kalian lakukan sejak kemaren, hah? Yang ada kalian terus meminta sempel darah!!”


Aku jelas mendengar suara Bayu marah-marah. Tapi tubuhku tidak bisa di ajak kompromi, aku merasa sangat lemah, bahkan untuk mengangkat jariku saja sangat susah. Namun sesuatu yang menyegarkan dan konsisten serta dingin sejak tadi terus terhirup memenuhi paru-paru nya.


Mencium dari bau antiseptik, aku sudah menebak kalau ini adalah rumah sakit.


Tok tok tok


“Pak Bayu, dokter Stefan sudah sampai.” Itu suara Dika.


Telinga ku mendengar suara langkah kaki sepatu yang semakin mendekat.


“Bayu!!” Berbeda dari perkiraanku, suara dokter Stefan bernada kaget.


Aku juga ingin tahu apa yang terjadi!!

__ADS_1


...


__ADS_2