
...
“Bi Tin, tolong cemilan dan minumannya bawa ke sini!” Kakek sedikit berteriak saat kami sudah duduk di sofa. Udara yang sejuk, dan rumah yang nyaman membuatku betah meskipun baru kurang dari satu menit berada di sini.
Dari tempatku duduk, aku bisa jelas melihat dari jendela besar ini seseorang tengah mendorong motor Bayu masuk melewati pintu gerbang.
Di tengah suasana yang sunyi, terdengar bunyi keras nada dering ponsel di kejauhan. Kemudian kakek berdiri dan berkata. “Kakek jawab dulu telpon.”
Bayu dan aku mengangguk sembari memperhatikan punggung kakek menghilang di balik pintu. “Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?”
Aku melirik menatap Bayu yang duduk di samping kiriku. Dia sedang bersandar sembari tangannya merapihkan rambutku yang berantakan di belakang. Matanya sesekali memperhatikan rambutku lalu menatapku menunggu jawaban.
“Kau dan dokter Stefan pagi ini sudah menanyakan kabarku berulang kali. Apa ada sesuatu dari diriku yang aku sendiri enggak tahu?” Aku bertanya serius padanya.
Bayu segera menegakkan posisi duduknya, kepalanya tiba-tiba mendekati telinga kiriku dan berbisik.
“Kau akan baik-baik saja. Fuuhh..”
Aku tersentak kaget dan segera memundurkan kepalaku untuk menjauh darinya. Lelaki ini baru saja meniup leherku yang membuat aku gugup dan merinding setengah mati. Sekarang wajah tertawanya berada sangat dekat di depan wajahku.
“K—kau..”
“Hahaha… Ada apa? Kenapa wajahmu memerah?”
Jantungku berdetak cepat, aku harap dia tidak mendengarnya. “Jangan menjahiliku di saat seperti ini!! Pergi jauh!! Jangan dekat-dekat!”
Dengan cepat aku bergeser menjauhinya hingga ujung sofa, Bayu masih saja tertawa dan dengan sengaja dia ikut bergeser mendekatiku, dia menarikku dan membawaku ke pelukannya sembari tertawa. Tapi dengan tenaga yang sekuat mungkin aku menolak ingin melepaskannya.
Tidak gampang melawan tenaganya yang menahan kepalaku menempel di dadanya.
__ADS_1
“Lepaskan!!”
“Hahaha.. Tidak akan!” Karena aku kalah dengan tenaganya, terlintas sebuah ide. Aku berhenti memberontak lalu kepalaku beringsut lebih naik hingga saat kepalaku berada di bahu kirinya, aku meniup pelan telinga lelaki ini.
Seperti yang aku duga, Bayu tersentak kaget dengan tindakanku dan dua tangannya yang melingkari punggungku tiba-tiba lebih renggang. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku mendorongnya menjauh dariku hingga pelukannya lepas. Melihat ekspresinya yang bengong membuatku tertawa puas.
“Hahaha.. Rasakan!!” Kataku sembari berdiri dan pindah duduk di sofa single di hadapannya. Sekarang dia tidak akan bisa menggodaku seperti tadi.
Kedua lensa matanya yang berwarna hitam terus menatap pergerakkanku. Entah apa yang dia pikirkan yang jelas sekarang aku aman di posisiku saat ini.
Permainan kami buyar saat mendengar suara kakek memanggil nama Bayu dari ruang lain. Untuk sesaat kami saling pandang dan Bayu segera berdiri dan berjalan keluar dari pintu meninggalkan aku sendiri di ruangan ini.
Ngomong-ngomong, kemana Bi Tin yang sempat di panggil kakek untuk membawa minuman dan cemilan? Tidak
bisa berbohong, aku lumayan haus.
Karena bosan akhirnya aku berdiri dan mulai mengitari ruangan ini. Terkesan dengan banyaknya foto.
Kalau di pikir-pikir lagi, aku dan Bayu belum pernah mengambil foto kami bersama. Mungkin aku harus mengajaknya foto studio nanti.
Tepat ketika pria itu membuka pintu gerbang sedikit, aku bisa melihat pria berbadan besar dengan setelan jas yang rapih tengah menyapa pegawai kakek yang membuka pintu. Aku menyadari tamu itu tidak hanya ada satu orang, perangaian mereka terlihat menyeramkan.
“Icha!” Seruan Bayu dari arah belakangku mengalihkan pandanganku sepenuhnya. Bayu sudah menggenggam tanganku sangat erat dan gugup.
“Kita pergi!” Katanya menarik tanganku, mengikuti langkah cepatnya menuju arah dapur dan kami keluar dari pintu belakang rumah.
Bayu membawaku ke halaman belakang rumah kakek yang di penuhi jenis tanaman bunga dan sayur. Motor sport Bayu sudah terparkir di sana dengan mesin yang menyala di samping kakek yang sedang menyalakannya.
“Cepat pergi! Jangan mengkhawatirkan kakek. Di sini banyak orang yang akan membantu.” Kakek memberi perintah ketika aku dan Bayu sedang memakai helm dengan cepat.
__ADS_1
Sekarang aku mengerti, pria di depan sedang mengejar kami berdua. Bayu mengangguk dan segera naik ke atas motornya, di susul denganku.
Tiba-tiba saja jantungku berdetak cepat dan keringat mulai membasahi telapak tanganku. Namun hal yang tak terduga terjadi, aku mendengar suara teriakkan dari belakang dan rasanya terdengar cukup dekat.
Dua orang pria dengan setelah jas yang aku lihat di pintu gerbang sudah berjarak dua meter dari belakang punggungku. Tidak jauh di belakangnya, dua orang lagi sedang menuju ke arah kami setelah membuat pegawai kakek terjatuh.
Tangan salah satu pria itu berhasil menyentuh punggungku tapi motor yang di kendarai Bayu lebih cepat menghindar sehingga dia tidak berhasil menahanku. Jantungku berdetak cepat karena kaget dengan situasi seperti itu.
Aku memeluk erat pinggang lelaki ini dari belakang, berusaha menenangkan adrenalin yang sempat berpacu cepat. berusaha menenangkan napasku yang memburu mendengar suara-suara umpatan di belakang kami perlahan menjauh.
Saat motor kami sudah keluar dari perumahan kakek menuju jalan utama, Bayu semakin mempercepat laju motornya karena jalanan tidak padat. Kemudian aku merasakan punggung tanganku terasa hangat menyadari salah satu tangan Bayu menggenggam tanganku yang melingkar di sekitar perutnya.
Dia sedang mencoba menenangkanku dan itu sangat berhasil. Seketika detak jantungku lebih tenang dan tubuhku tidak lagi tegang.
Sekarang aku yakin satu hal, salah satu rencana Bayu adalah sedang berusaha membawaku menjauh dari orang-orang itu.
.
..
…
“—belum ada penjelasan siapa yang sakit, pihak rumah sakit juga belum mengkonfirmasi terkait para pejabat yang masih ada di dalam. Kami menduga adanya cek kesehatan rutin yang mulai di berlakukan sejak hari ini oleh—“
“Ini kembaliannya.” Perhatianku teralihkan saat suara lembut seorang gadis di depan kasir memberikan struk dan uang kembalian padaku. Aku mengangguk dan segera mengambilnya lalu berjalan keluar dari toserba.
Baru saja aku melihat berita di TV mengenai rumah sakit di pusat kota. Wartawan tertarik dengan para pejabat yang pagi ini masuk ke dalam rumah sakit meskipun belum ada penjelasan tapi reporter yang menunggu di luar sudah banyak. Perasaanku mengatakan ini semua ada kaitannya dengan rencana Bayu.
Begitu aku keluar dari pintu, lelaki dengan rambut yang sedikit berantakkan itu menungguku di atas motornya. Kami berhenti di pom bensin untuk mengisi bensin dan membeli minum.
__ADS_1
...