
...
“Nak, boleh tanya? Sekarang jam berapa?”
Aku yang sedang memperhatikan foto di layar ponselku segara teralihkan begitu suara wanita terdengar di samping kiriku.
Sembari melirik jam tangan digital di pergelangan tangan kiri, aku menjawab, “sekarang jam dua lewat sepuluh menit siang.”
“Begitu. Terima kasih ya.”
“Sama-sama bu.”
“Kereta akan sampai jam tiga ya.” Katanya.
“Menurut jadwal jam tiga.” Jawabku setuju. Setelah melakukan percakapan singkat itu, wanita tadi pamit untuk kembali ke kursinya yang ada di depan kursiku.
Saat ini, kereta yang sedang aku naiki sudah melaju lebih dari delapan jam. Pagi-pagi sekali, ayah Evano, ayah Rasha, bunda Kirana dan paman Kenzo mengantarku ke stasiun. Berkali-kali mereka berpesan agar aku hati-hati saat di jalan.
Hal itu membuatku merasa agak asing, mereka sangat peduli padaku, benar-benar sebuah keluarga yang harmonis dan aku harap semua ini bisa bertahan selamanya.
Tanpa sadar aku tersenyum kecil mengingat kehebohan tadi pagi, aku merasa bahagia, bahkan aku sempat melupakan tentang ibu, Daniel, ayah Davin dan tante Marisa. Mereka semua tidak pernah muncul lagi di hadapanku selama empat bulan terakhir ini.
Dekorasi yang di lakukan ibu pada rumah warisan dari bibi Rose telah di bongkar dan sebisa mungkin di dekor ulang seperti sedia kala, walaupun dengan barang yang agak berbeda karena barang-barang milik bibi Rose telah di jual ibu.
Lalu pemeriksaan yang di lakukan dokter Stefan mengenai aroma rosmarin yang tercium saat itu, dia tidak menemukan ada cairan berbahaya di sekitar ruang makan. Aku lega mendengarnya, tapi tidak bisa di pungkiri, aku juga agak khawatir.
Aku dan Talia menemukan jalan buntu ketika menyelidiki lebih lanjut tentang dokter Cilia dan beberapa orang di sekitarnya. Tidak ada lagi petunjuk tentang mereka, semuanya terhenti pada penemuan heroin oleh Camila, bahkan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang heroin itu, belum ada penemuan yang berkaitan.
__ADS_1
Tapi, di samping itu semua, empat bulan belakangan ini sangat berbeda dari hidupku selama ini. Akhirnya, aku merasakan apa yang namanya berkumpul dengan keluarga, meski Bayu ada jauh di ujung pulau negara ini, namun kami tetap menjadwalkan saling menelpon walau hanya lima menit setiap harinya.
Sekali lagi aku menatap layar ponsel yang sempat aku pandangi tadi, fotoku dan Bayu ada di sana, kami berdiri berhadapan dengan jarak satu meter, tangan kirinya memegang tangan kananku, wajahnya terlihat serius sedangkan aku menatapnya kaget dan malu, tanganku yang lain menutupi hidung dan mulut, beraharap bisa menyembunyikan ekspresiku itu. Kami berdua sama-sama memakai seragam SMA. Meski tidak satu sekolah, tapi aku ingat masa itu, kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu atau dia menjemputku untuk pulang bersama.
Lalu berganti dengan foto yang di ambil sebelum dia berangkat tugas, kami tersenyum ke arah kamera, sebelah tangan kokohnya merangkul bahuku, dia sengaja agak menunduk agar wajahnya bisa sejajar denganku. Sedangkan aku memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan dan sebelah lagi memegang kamera. Foto ini di ambil saat kami pergi menonton dan sedang menunggu pintu bioskop terbuka. Kami terlihat sangat bahagia.
Jika mengingat itu, aku jadi tidak sabar lagi untuk bertemu dengannya. Apalagi aku penasaran dengan reaksinya. Dia tidak tahu kalau pagi ini aku berangkat untuk menemuinya, setelah naik kereta, aku hanya tinggal naik taksi sebentar menuju terminal bus menuju daerah tempatnya bertugas, tapi sayangnya sore ini aku harus berhenti dan menginap di hotel dan melanjutkannya besok pagi. Ayah benar-benar merencanakan akomodasiku, dia tidak membiarkan aku untuk melanjutkan perjalanan sore.
.
..
...
Lalu pagi ini, sarapan yang di sediakan staf hotel sangat mewah, aku hanya mengambil kopi dan lasagna untuk mengganjal perutku dan segera merapikan koper setelah mandi dan berganti pakaian.
Kaos putih lengan pendek dengan celana jins panjang, rambutku sengaja di ikat ekor kuda agar tidak mengganggu pergerakkanku nanti saat di perjalanan.
Suara selop berhak tiga senti yang aku pakai terdengar sangat keras beradu dengan lantai saat aku sudah mengembalikan kartu kamar pada resepsionis hotel dan menarik koperku menuju pintu keluar.
Aku siap!
Hanya naik taksi tiga puluh menit menuju terminal lalu naik bus
selama tiga jam dan aku akan sampai.
__ADS_1
Bayu oh Bayu!
Ya ampun!!! Aku sudah tidak sabar lagi!!!!
Saat aku keluar dari pintu hotel, angin berhembus kencang menerpa tubuhku. Pagi ini langit sangat cerah dengan biru mengelilingi kota ini. Matahari bersinar terang dan rasa hangat langsung terasa menyengat di kulitku meski berangin.
Lalu sebuah taksi menyambutku datang, membaca platnya sekilas, aku masih tidak percaya ini taksi yang di pesankan ayah Evano. Informasi nomor platnya ada di dalam amplop tiket yang diberikannya.
Setengah jam kemudian aku sudah tiba di terminal. Mulai dari sini aku akan naik bus menuju arah di mana daerah Bayu berada.
Melihat banyak sekali orang-orang yang juga akan naik bus, aku jadi tambah semangat. Terlebih lagi aku sering kali melihat pria-pria berbadan tinggi dan besar dengan potongan rambut pendek memakai celana atau baju kamuflase hijau, semakin mengingatkanku pada Bayu.
Setelah menemukan nomor bus yang benar, memastikan tujuannya pada sopir, lalu aku segera menyimpan koper ke dalam bagasi bus seperti penumpang lain.
Aku memutuskan untuk duduk di barisan kedua dari depan, tepat di barisan kursi sopir. Kemudian menunggu lagi lima belas menit hingga kursi bus sudah hampir tiga perempat penuh.
Saat sopir bus memutuskan untuk berangkat karena jadwal keberangkatan sudah terlambat lima menit, tiba-tiba bus berhenti mendadak membuat para penumpang bergumam bingung. Ternyata ada seorang pria yang menghentikan bus, dia meminta maaf pada sopir dan segera masuk mencari tempat duduk.
Mataku terus menatapnya ketika dia berjalan melewati kursiku. Pria ini terlihat lebih muda dariku dengan hodie hitam yang sepertinya kebesaran. Kedua tangannya sedang memeluk tas coklat tua didepan dada lalu aku bisa melihat sisi wajahnya penuh keringat.
Setelah dia mengucapkan terima kasih pada sopir, langkahnya yang ceroboh ketika menaiki undakan tangga membuat tas coklat tua nya jatuh dan sebagian isi di dalamnya keluar. Dompet, tempat minum dan kotak persegi panjang kecil hitam seukuran tempat kacamata keluar. Kotak hitam itu terlempar dekat kaki ku, refleks aku menunduk, menatap kotak hitam beludru bercorak daun yang juga berwarna hitam, pasti kalau di lihat dari jauh, coraknya tidak akan terlihat.
***
__ADS_1