EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 71


__ADS_3

...


 


Sinar matahari pagi yang bagus untuk tubuh menjadi andalanku saat ini agar tubuhku bisa lebih kuat. Hari ini adalah hari ketiga dari keberangkatan Bayu.


Sakit yang aku rasakan pagi itu terjadi kemaren.


Seharian kemaren aku istirahat total tidak beranjak dari atas tempat tidur. Suster jaga yang membantu dokter Stefan mengatakan jika mereka menuju ruanganku setelah seorang pria yang berjaga di depan kamar mendengar suara gelas pecah. Suasana rumah sakit yang awalnya tenang dan sunyi seketika ramai dan heboh.


Katanya, dokter Stefan berusaha mendapat responku. Aku tiba-tiba drop dengan tekanan oksigen yang turun. Terlebih detak jantungku yang juga menurun.


Aku tersadar di sore harinya. Saat itu pertama kalinya aku melihat lima orang dokter sedang memeriksa keadaanku termasuk dokter Stefan yang tampak lebih serius dari biasanya.


Hingga pagi ini, tubuhku terasa jauh lebih baik. Aku memutuskan untuk ke sini setelah sebelumnya meminta ijin terlebih dahulu pada dokter Stefan. Beberapa kali aku melihat wajah-wajah pria memakai pakaian biasa yang familiar terlihat semenjak keberangkatan Bayu.


Kentara sekali mereka sedang memperhatikanku dan berjaga. Sebenarnya memang risih tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini yang terbaik untuk saat ini.


Namun mataku dengan jelas melihat dua orang yang aku kenal berjalan perlahan mendekatiku. Sepertinya tuhan menginginkanku terus maju untuk menyelesaikan masalahku. Anak itu –Daniel- sedang menuntun Ibu yang juga memakai pakaian yang sama denganku berjalan kearahku. Tidak ada infus yang menempel di salah satu tangan ibu.


Keduanya sudah menatapku yang diam dudu di bangku taman. Aku tidak bisa pergi, yang aku lakukan hanya melepas headset yang sejak tadi menutup telingaku.


Tanpa sadar kedua telapak tanganku mencengkram ujung baju pasienku ini. Aku gugup tentu saja, aku ingin kabur. Aku ingin menghilang. Rasanya rongga dadaku kembali sakit hanya dengan melihat ibu.


Keduanya telah berhenti satu meter di depanku, aku segera berdiri menatap mereka berdua. Lidahku seolah kaku tidak bisa bergerak hanya untuk sekedar basa basi.


Ibu menatapku dengan tatapan biasanya, tampak kosong dan selalu kesal padaku. Dia menghela napas kasar sebelum mengatakan. “Benar-benar sulit di percaya! Kita satu rumah sakit tapi kamu tidak menjenguk sama sekali.”


“Aku belum siap menjenguk ibu.” Jawabku sepelan mungkin, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi seperti tempo hari.


“Jadi setelah ibu mati, baru kau siap menjenguk ibu? Astaga! Apa salahku tuhan hingga aku punya putri seperti dia!”


Aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan deru napasku yang cepat karena emosi. “Terserah apapun yang ibu pikirkan. Aku sedang tidak ingin berdebat.”

__ADS_1


“Apa?!”


“Aku mau masuk dulu bu.” Jawabku, cepat-cepat aku kembali menggunakan earphoneku lalu segera berbalik dan mendorong tiang infus yang selalu aku bawa.


Aku mendengar ibu mulai mengomel di belakangku seperti biasa, dia memanggilku dan aku dengan tekad yang sudah bulat menghiraukannya. Menyalakan musik yang tadi sempat tertunda dari ponselku dengan volume sekeras mungkin agar aku tidak lagi mendengar suara ibu yang mulai berteriak kesal.


Maafkan aku bu.


Dalam hati kecilku, aku khawatir padanya. Aku ingin bertanya padanya, bagaimana keadaannya? Apa tidurnya nyenyak? Apa dia makan dengan teratur? Tapi semua itu hanya sebuah mimpi yang aku tahu tidak akan pernah terwujud.


Aku—tidak!


 


Sial!


Sekarang aku merasakan dada kiriku memanas, detak jantungku seolah meningkat dan aku mulai kesulitan bernapas. Aku meremas bajuku ini, berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.


 


 


Tiba-tiba seseorang menarik bahuku dari belakang hingga tubuhku berbalik kasar. Sekarang di depanku sudah ada Jane Alexander. Wanita yang mengklaim kalau Bayu tunangannya. Terlebih ada dua wanita lainnya yang berdiri di sampingnya.


“Jadi begini sikapmu pada ibumu sendiri? Kau ini anak yang kurang ajar ya!”


Meskipun dadaku masih sakit, tapi aku mengerutkan kening heran pada dia. Jelas-jelas seharusnya dia membenci ibu seperti ketika awal dia mencariku. Ibu mendekati ayahnya tapi sekarang dia seolah mendukung ibu dan sama-sama menyerangku.


Ada apa dengan orang-orang ini?!!


“Oh jadi ini wanita yang mencuri tunanganmu itu Jane? Ya ampun dia berpenyakitan ya? Jelas-jelas terlihat beda sekali levelnya denganmu Jane.” Ya, mirip seperti di sinetron di TV, ada saja dayang-dayang dari wanita antagonis tidak memiliki etika seperti dia.


“Itu bukan urusan kamu! Apa untungnya kamu berada di antara masalah aku dan ibuku? Mau jadi pahlawan kesiangan? Iya?!”

__ADS_1


“APA?!” Dia berteriak kencang yang membuat telingaku sakit.


“Berhenti jadi penganggu! Aku sudah sangat sibuk dan tidak punya waktu luang untuk meladeni kamu yang aneh. Tolong dong kita itu wanita berpendidikan, jangan norak kaya gini!” Aku benar-benar sudah muak dengan mereka semua!


“Apa?! ANEH? Hei!! Kamu mengatai aku aneh??” Dia berteriak mendorong bahuku yang membuat keseimbangan tubuhku goyah. Aku yang memang tidak kuat lagi menahan rasa sakit di dada kiriku ini sudah hampir jatuh jika seseorang tidak menahannya dari belakang.


Kepalaku menunduk, memejamkan mata dan berusaha sekuat yang aku bisa untuk tetap bertahan meskipun napasku sudah satu dua. Dari aroma parfum yang aku cium, aku sudah menduga jika seseorang yang menahanku ini adalah dokter Stefan.


“Apa yang kalian lakukan?? Dia ini pasien!!” Bentakkan dokter Stefan terdengar keras di telingaku.


“Pasien apa yang punya tenaga untuk meladeni ucapanku?? Dia ini sebenarnya pura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian dari tunanganku dok!” Ingin rasanya aku menampar mulutnya itu tapi yang aku bisa sekarang hanya meringis menahan sakit di dadaku.


“PERAWAT!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! KENAPA DIAM SAJA?? CEPAT PANGGIL KEAMANAN!” Aku tidak tahu dokter Stefan bisa sangat marah seperti ini. Lalu aku merasakan dua orang pria berdiri di hadapanku dan mulai mengusir  Jane.


“Siapa kalian?! Berani-beraninya kalian mengusirku, hah! Aku akan beritahu pemilik rumah sakit ini agar kalian di pecat! Kalian tidak tahu siapa ayahku?!”


Aku merasa seperti melayang, tubuhku terangkat dan aku yang masih berusaha mencari oksigen ini terpejam. Aku takut.


Aku takut tidak bisa lagi bernapas.


“Kami ini polisi! Siapa ayahmu? Aku ingin berbicara dengannya karena anaknya hanya membuat kekacauan!” Samar-samar aku mendegar suara pria asing berteriak kesal.


Dokter Stefan yang sejak tadi menggendongku menjauh dari area taman seketika meletakkanku di atas brankart. Lalu aku merasakan benda ini mendorong tubuhku dengan cepat. selama perjalan menuju ruang UGD, dokter Stefan memasangkan makser oksigen padaku. perlahan napasku bisa lebih teratur meskipun dadaku masih sangat sakit.


Penderitaanku yang tiada ujungnya di mulai lagi. Aku kembali tidak sadarkan diri dan ternyata masih ada penderitaan lain yang akan aku hadapi selanjutnya.


Sendirian.


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2