
...
Untuk kesekian kalinya, menahan mulutku agar tidak menguap lebar rasanya agak susah, karena tadi pagi setelah ke berangkatan Bayu, aku sama sekali tidak tidur. Lebih tepatnya tidak bisa tidur.
Akibatnya, saat aku dan keluarga Danendra sedang berada di pinggir pantai, menanti matahari terbit, mataku sudah berair dan memerah.
Tepukan pelan di punggungku menghentikan kerjapan mataku, suara lembut tante Kenzie mulai terdengar di telingaku. “Enggak bisa tidur ya?”
Aku mengangguk tanpa berniat menyembunyikannya. Lalu tante Kenzie berdiri di sebelahku, kami sama-sama menatap jauh ke depan, langit indah berwarna jingga, matahari belum muncul di permukaan tapi udara di pinggir pantai sudah mulai agak panas.
“Apa yang kau pikirkan tentang kejadian tadi pagi?” Aku melirik wanita ini, sedikit mengerutkan kening berpikir.
“Sejujurnya, aku tidak memikirkan apapun.”
“Begitu? Apa kau tidak menganggap kami keluarga yang mampu memanipulasi bukti?” Kerutan di keningku semakin dalam. Ekspersi tante Kenzie semakin keras menunggu reaksiku.
“Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini.” Kataku akhirnya.
Perlahan wajah wanita ini di liputi kelegaan. “Orang-orang seperti wanita itu mungkin berpikir kami keluarga yang akan memanipulasi apapun untuk mencapai tujuan. Tapi aku yakinkan kau kalau kami tidak seperti itu.”
“Kenapa tante mengatakan itu padaku?” Aku masih tidak mengerti.
Dia mendesah gemas padaku sembari merangkul bahuku. “Sebenarnya aku—maksudku kami, terutama kak Evano, dia khawatir kau akan menjauhi keluarga karena kejadian itu. Wanita itu mengatakan tentang kami yang memanipulasi bukti kecelakaan. Ayahmu takut kau akan membenci kami.”
“Apa kalian memanipulasi bukti itu?”
“Tentu saja tidak!”
Aku tersenyum kecil dan mengangguk. “Kalau gitu aku tidak punya alasan untuk menjauh ‘kan? Lagi pula, tanpa tante menjelaskan pun, dalam hatiku, aku percaya kalian tidak seperti itu.”
“Kenapa?”
“Meski aku baru mengenal kalian, tapi aku bisa lihat kalau kalian sangat akrab, harmonis sebagai keluarga. Lagi pula, aku sudah beberapa kali mendengar Wildan mengatakan kalau aku mirip ayah Evano. Kalau memang kami mirip, maka aku tidak akan memanipulasi bukti, begitu pun ayah dan kalian ‘kan? Selain itu, keluarga Danendra dan keluarga Jeremy sudah saling mengenal sejak dulu, kalian semua orang baik dan sangat menghargai artinya sebuah keluarga, itu hal yang selama ini sulit aku dapatkan dari keluarga ibu dan ayah.”
“Oh sayang, maaf--”
“Tidak! Tolong jangan minta maaf untuk apapun. Masa lalu biarlah masa lalu. Sekarang, aku punya Bayu juga punya kalian, iya ‘kan?”
“Tentu saja.” Tante Kenzie semakin mengeratkan rangkulan bahunya “kita satu keluarga. Kau keponakanku. Beri tahu aku kalau kau butuh apapun. Mulai sekarang kau juga boleh menggangguku seperti pergi belanja, atau ke salon, atau liburan, atau ketika ingin membicarakan tentang para lelaki. Aku akan senang kalau di ganggu untuk hal-hal seperti itu.”
Aku tertawa, “Baik, akan aku ingat.”
__ADS_1
“Setelah ini, aku akan menunjukkan tempat belanja dengan barang yang up to date, lalu restoran seafood yang enak juga tempat-tempat yang bagus untuk foto.”
“Aku juga butuh tempat untuk membeli oleh-oleh.” Kataku yang mendapat cengiran lebar tante Kenzie.
“Kalau soal itu, tidak akan terlewatkan tentu saja.”
“Tapi ngomong-ngomong.” Aku melirik ke sekeliling, melihat suami tante Kenzie -Giliant dan ayah Evano sedang mengobrol, lalu paman Kenzo, kakek dan nenek berkelompok di sisi lain. “Apa kalian sering menunggu matahari terbit kalau liburan ke pantai?”
“Entah sejak kapan kami terbiasa dengan ini, tapi aku ingat dulu yang pertama mengusulkan untuk melihat matahari terbit adalah Kenzo.”
“Paman Kenzo orangnya romantis?” Tebak ku yang di balas kekehan darinya.
“Tidak menurut standar romantisku, tapi mungkin bagi pacarnya, dia lelaki yang romantis.”
“Oh aku ingat, apa pacar paman Kenzo, wanita yang sudah meninggal itu?” Tanyaku sedikit berbisik takut menyinggung lelaki itu.
Tante Kenzie mengangguk, “Ya, dia tunangannya, meski belum lama dia meninggal, bagiku, Kenzo agak terlalu tenang menghadapinya, aku ingin melihat dia galau atau meraung sedih, mungkin kalau seperti itu dia terlihat normal, tapi melihatnya yang sekarang, tampak tenang, aku jadi sedikit khawatir.”
“Mungkin, paman Kenzo bukan takut untuk sedih, tapi bertindak untuk kesedihan. Dengan dia terus melangkah , itu caranya agar kesedihan itu tidak terlihat. Aku pikir, laki-laki itu tidak menangis bukan karena mereka tidak terluka, tapi karena laki-laki harus kuat. Menekan segala sesuatu di hati mereka, apa pun yang terjadi.”
Wanita cantik ini melirikku dengan alisnya terangkat. “Ya. Itu penjelasan yang tepat.”
“Bukan.” Katanya “itu sedikit kekaguman.”
Cengiranku semakin lebar.
“Rupanya, kalian sudah akrab.” Suara paman Kenzo dari belakang membuat kami sedikit terlonjak.
“Apa kau pikir aku tidak akrab dengan Icha?”
“Sebelumnya tidak seakrab sekarang.” Paman mengangguk, menunjuk rangkulan tante Kenzie padaku dengan dagunya.
“Kau mengatakan itu seolah sebelumnya kami musuh.” Tante mendesah kesal pada kembarannya.
“Saudariku, tolong jangan berlebihan seperti itu. Kau membuat image ku berubah jahat di hadapan Icha.”
__ADS_1
“Berubah jahat? Ya, dari image kepedean berubah jadi jahat.”
“Dari baik berubah jahat tentu saja!” Koreksi paman Kenzo.
“Buktikan kalau baik.”
“Kalau harus di buktikan itu bukan baik, tapi sombong.”
“Traktir kami belanja!” Tante Kenzie menatap kembarannya penuh tantangan, sejak tadi aku yang bolak balik menatap mereka hanya tersenyum kecil.
“Tapi--”
“Berikan kami, para wanita kebebasan untuk belanja. Demi satu-satunya kembaranmu dan satu-satunya keponakan cantikmu ini.”
Paman Kenzo menghela napas panjang tapi tangannya segera merogoh saku celana belakangnya, seketika tante Kenzie kegirangan dan berbisik padaku. “Aku menang! Kata-kata ampuh untuk melawan dia adalah satu-satunya.”
“Jangan keterlaluan memakainya.” Kata lelaki di hadapan kami sedikit lesu. Tanpa sungkan, tante Kenzie menerima kartu ATM dan menunjukkannya padaku.
“Kita akan belanja sepuasnya hari ini!”
“Oh! Kau dapat kartu Kenzo?” Giliant datang menghampiri kami bersama ayah Evano, kakek dan nenek.
“Dia mengancammu dengan ungkapan satu-satunya?” Ayah bertanya pada paman Kenzo yang langsung di angguki pria itu.
“Apa ibumu kebagian?” Tanya kakek pada si kembar.
“Tentu saja bu! Untuk para wanita. Kita akan belanja sepuasnya hari ini.” Tante Kenzie menggoyang-goyangkan benda itu di depan nenek. Ternyata hal itu membuat nenek tersenyum lebar. Ini pertama kalinya aku melihat senyuman lebar nenek tanpa beban seperti itu.
“Oh bagus sekali Kenzie. Kita akan belanja sepuasnya.”
“Bu, tolong tahan diri sedikit ketika belanja.” Kata paman Kenzo cemberut. Semuanya mulai menertawakannya, mengejeknya tapi mengagumi kebaikan pria itu.
Berada di tengah-tengah keluarga seperti ini masih sedikit baru bagiku, tapi tidak bisa di bantah kalau aku suka menjadi bagian dari mereka, bagian yang ikut tertawa atau bagian yang di sebutkan dalam percakapan mereka.
Selanjutnya, sisa hari itu berlalu terasa cepat. Tante Kenzie, aku dan nenek sibuk belanja, seperti yang di janjikan tante Kenzie, dia menunjukkan toko oleh-oleh terbaik, restoran seafood dan tempat foto yang bagus. Nenek juga tidak secuek dulu ketika pertama kami bertemu, meski kami tidak banyak bicara tapi nenek tidak mengacuhkanku. Liburan singkat itu mengalihkan perhatianku tentang perasaan sepi karena harus merelakan keberangkatan Bayu tadi pagi.
...
__ADS_1