
...
“Bodoh! Kau menggodaku?” Bayu tertawa. Aku ikut tertawa karena berhasil menggodanya.
“Kalau serangan itu, aku tidak punya metode pertahanan yang efektif, aku justru akan membiarkan serangan itu menghampiriku bertubi-tubi.”
“Bodoh! Kau menggodaku?” Aku menirunya perkataannya dengan nada yang juga sama. Lalu kami berdua tertawa kencang.
“Bagaimana latihan hari ini?” Bayu bertanya setelah tawa kami mereda.
“Latihan hari ini sangat menyenangkan, aku senang. Terima kasih.” Jawabku berbisik dan tersenyum lembut padanya.
Tangan Bayu terangkat, dia mengelus puncak kepalaku dan berkata. “Aku tahu tadi saat pemanasan kau sangat kesal. Makannya aku meminta Demian untuk bergabung dengan kita di sini.”
“Well, tadi memang aku sempat kesal karena tidak suka dengan tatapan orang-orang di dalam gym. Apa mereka memang selalu seperti itu kalau ada orang baru yang ikut? Kau sering ke sini ya jadi mereka mengenalmu juga.” Tanyaku penasaran.
“Tidak! Aku jarang ke sini, hanya sesekali tapi yaa mungkin apa yang tadi Demian katakana alasannya, tentang rumorku yang sudah punya pacar.”
Aku mengangguk. “Tentu saja! Kau pasti terkenal dan sering di bicarakan.”
“Aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan. Tapi aku sering mendengar mereka mengenalku sebagai Alpha setelah secara resmi aku bergabung di tim Phonex. Sejak saat itu setiap kali aku muncul, mereka akan memperhatikanku dari atas sampai bawah, itu agak mengganggu.”
“Ya! Bukan hanya di tempatmu, tipe orang-orang seperti itu ada di manapun. Setidaknya ambil pemikiran positifnya, dengan mereka memperhatikanmu, maka kau akan termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi menampilkan sisi terbaikmu di hadapan mereka.”
Bayu tersenyum dan mengangguk. “Benar! Aku akan bekerja lebih keras lagi!”
“Aku juga tidak akan kalah dan akan terus berusaha lebih keras lagi.” Kataku semangat.
Kemudian kami tertawa dan Bayu merangkul bahuku, menarikku mendekatinya. Tangannya yang lain bergerak ke kepalaku dan mengusap-usap puncak kepalaku. “Ayo pulang!”
“Badanku pegaaaaalllll!!” Aku merajuk dan pura-pura terlihat lemah.
Bayu bangkit berdiri, menggeleng pelan dan berdecak melihatku yang belum bergerak mengikutinya. “Ayoo cepat!”
“Kakiku pegaaallll. Punggungku sakit.”
“Mau aku gendong?” Dia menyeringai.
“Kau berani menggendongku?” Aku balas menyeringai.
“Kenapa tidak?”
“Nanti kau akan di perhatikan oleh orang-orang itu.”
__ADS_1
“Bukan hanya aku, tapi kita akan di perhatikan. Aku sih tidak masalah.” Katanya acuh.
“Tidak tidak! Aku tidak mau.” Jawabku cepat sembari bergerak dan melompat untuk berdiri tapi karena tubuhku yang sudah lelah, aku akan kembali jatuh di atas matras namun Bayu menahan pinggangku, menariknya hingga kini aku menabrak tubuhnya.
Aku yang dalam mode kaget semakin kaget melihat wajahnya sudah sangat dekat di depan wajahku, hidung kami yang hampir bersentuhan juga deru napasnya yang hangat menerpa wajahku.
“Sayang, kau sedang menggodaku, ya?”
“T—tidak!” Aku merasakan pelukan Bayu di pinggangku semakin erat, matanya beberapa kali melihat ke bawah wajahku.
“Aku ingin menciummu.” Bisiknya seduktif.
Jantungku semakin menggila mendengar suaranya dan tatapan matanya tapi entah mengapa rasanya tubuhku sangat kaku dan tidak ingin melepaskan pelukannya, seolah sorot matanya menyedotku untuk terus menatapnya.
Lensa matanya yang hitam bening terlihat sangat indah, aku bisa melihat bayangan diriku di dalam matanya. Baru pertama kalinya aku memperhatikan matanya sedalam ini. Perlahan aku tersenyum senang. “Matamu—Aku bisa melihat diriku di dalam matamu.”
“Kau cantik.” Tanganya yang lain terangkat menyentuh pipiku, dia tidak melepaskan tatapan matanya yang sangat intens ini.
Kedua tanganku terangkat menyentuh pipinya, jari-jariku bergerak di bawah matanya, lalu bergeser menyentuh hidungnya, lalu alisnya dan terakhir jari tanganku menyentuh bibirnya. Aku tidak pernah membayangkan bisa menyentuh wajahnya sedetil seperti ini. Apa yang aku perhatikan tadi bisa di sentuh.
“Tapi aku juga ingin minuman hangat.”
“Aku akan membelikan apapun untukmu.”
“Apapun?”
“Hmm.. Apapun!”
Kedua tanganku bergerak melingkar di lehernya, tersenyum lebar padanya. “Tapi aku tidak ingin apapun.”
“Kamu sedang main tarik ulur, eh?” Bayu menyeringai menatapku.
Aku terkekeh pelan lalu mendorong badannya hingga pelukan kami terlepas. “Es krim. Ayo kita beli es krim sebelum pulang.”
Bayu tersenyum lembut. “Baiklah, ayo!”
Dia berbalik untuk memimpin jalan tapi aku hanya diam menatap punggungnya yang perlahan mendekati pintu ruangan ini yang tertutup.
Lelaki ini sangat baik. Aku yakin tadi dia ingin mencium bibirku, dia pasti berpikir karena tidak mendapat persetujuan dariku maka dia mengalah seperti ini. Dia menghormatiku dan menghargaiku, memikirkannya saja membuat rongga dadaku menghangat.
“Sayang, kenapa diam?” Bayu berbalik saat hendak menyentuh gagang pintu.
__ADS_1
“Terima kasih untuk semuanya.” Kataku tersenyum lembut.
“Apa? Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau akan pergi?!” Bayu tiba-tiba berubah panik yang justru terlihat lucu.
Aku berjalan menghampirinya, mengikis jarak di antara kami. “Tidak, hanya aku sangat senang. Perasaan sayangmu tersampaikan, aku bisa merasakannya.”
“Aku kadang enggak ngerti apa yang sedang kamu pikirkan, tapi—kalau begitu aku senang perasaan sayangku untukmu bisa tersampaikan.” Jawabnya mengangguk.
Aku juga mengangguk dan dengan cepat menarik bahunya agar sedikit menunduk hingga wajahnya sudah sejajar dengan wajahku.
“Terima kasih untuk hari ini.” Lalu aku mencium bibirnya sebentar, tersenyum lebar saat melihat ekspresi Bayu yang melotot kaget.
“Apa ini semacam hadiah?” Tanyanya setelah ekspresi kagetnya hilang.
“Hmm.. Tidak! Aku memang ingin menciummu.” Wajahku terasa panas sekarang.
Bayu tersenyum kecil dan tangannya menarik pinggangku lagi hingga lebih dekat dengannya, lelaki ini menunduk dengan tangan yang lain menyentuh leher belakangku.
Jantungku semakin menggila saat dia menciumku lagi, mataku terpejam seiring dengan gerakkan bibirnya di atas bibirku, kali ini lidahnya membelai bibirku hingga lidah kami bersentuhan membuat tubuhku merinding terkejut. Dia menciumku sangat lembut dan dalam, aku membalas ciumannya, merasakan gejolak perasaan dalam rongga dadaku seolah membuncah. Usapan tangannya di leher belakangku bergerak menyentuh sisi kepalaku, menyelipkan jari-jarinya ke dalam rambutku yang terikat longgar.
Kami melepaskan ciuman ini sesaat untuk mengambil napas, mataku masih terpejam saat bibirnya kembali menyentuh bibirku, hisapannya di bibir bawahku mengakhiri ciuman kami.
Keningnya menyentuh keningku lalu dia memelukku sangat erat, membawa kepalaku masuk ke dadanya. Detak jantungnya yang cepat juga terdengar jelas di telingaku.
Rasanya canggung dan malu sekali. Jantungku berdetak kencang, kakiku lemas dan wajahku panas. Udara di sekitarku juga terasa menipis. Yang bisa aku lakukan sekarang hanya menyembunyikan kepalaku di bahunya.
Pelukannya erat tapi menenangkan, tangannya mengusap pelan punggung dan kepala belakangku. Aku bisa mendengar dia berusaha menetralkan napasnya yang memburu sesaat.
“Kamu sudah sering mendengar ini, tapi aku tetap ingin mengatakan kalau Bayu mencintai Icha. Jadi, jangan perhatikan pria lain dan terus lihat aku saja.” Katanya mengingatkanku pada kekesalan Bayu tadi saat melihatku bersama Yudha.
Aku terkekeh geli lalu mendorongnya pelan untuk melepaskan pelukan kami. “Kau masih memikirkan yang tadi sore, heh? Dia cuma pegawai baru.”
“Tapi aku bisa melihat pandangan matanya padamu penuh kekaguman.”
“Begitu? Aku tidak memperhatikannya, kau tahu kan kalau aku hanya memperhatikanmu.” Aku tersenyum manis padanya.
Bayu berdecak dengan tawa kecilnya. Dia mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk puncak kepalaku. “Kita harus pulang sekarang. Sudah larut malam.”
Aku mengangguk dan dia menarikku keluar dari ruangan itu.
...
__ADS_1