
...
Hanya lima menit aku menghabiskan makan siang yang di antarkan petugas rumah sakit sesaat setelah aku bangun tadi.
Semangatku untuk sembuh begitu membara, meskipun luka jahitan nya masih berdenyut sakit tapi tidak separah tadi pagi.
Selesai menghabiskan makan siang, aku ke kamar mandi untuk mencuci muka, membersihkan diri dan memakai sedikit make up agar wajahku tidak terlalu pucat dan mengerikan.
Bagaimanapun, setiap wanita ingin tampil cantik di depan pacarnya begitu pun denganku.
Tepat ketika aku keluar dari kamar mandi, seseorang membuka pintu dan melangkah masuk.
“Oh Nona Icha! Kau sudah menghabiskan makan siang mu.” Suster Rini berseru ketika matanya menangkap makan siang yang tadi aku habiskan di meja sofa.
“Tentu saja sus, aku ingin sembuh dengan cepat!” Jawabku semangat.
Suster Rini mengangguk balas tertawa padaku. “Aku akan memberikan obat pereda nyeri.”
Aku segera duduk lagi di sofa sembari membawa tiang infus. Wanita yang ada di hadapanku ini memberikan obat tablet dan air minum untukku.
“Terima kasih.”
“Apa nona membutuhkan sesuatu?” Tawar suster Rini.
“Tidak. aku akan berjalan-jalan di sekitar sini.”
“Baiklah kalau begitu.” Setelah menjawab, suster Rini pamit undur diri dan keluar dari kamar.
Lalu terdengar getaran ponselku yang ada di atas meja kaca di hadapanku, melihat layarnya sekilas aku tersenyum kecil, sudah lama sekali rasanya Bella tidak menelponku.
“Halo Bel!” Sapaku menjawab panggilan dari temanku ini sembari melangkah mendekati pintu, bermaksud untuk mengobrol di luar.
.
..
…
“Oke. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Sampai nanti.” Aku memutuskan sambungan telpon dari Bela setelah kami berbincang dan mengabari kalau Mia dan Kesha ingin kita berempat bertemu.
__ADS_1
Aku tidak sadar kalau langkah kaki ku membawaku ke luar lorong kamar perawatan, sekarang aku ada di dekat lift dan tangga. Siang ini rumah sakit ramai sekali, apa terjadi kecelakaan lalu lintas?
Pandanganku berpencar ke lantai bawah, melihat dari atas seperti ini aku bisa melihat dengan jelas orang-orang yang berlalu lalang di koridor setiap lantai juga lantai dasar yang di padat dengan pasien yang menunggu.
Lalu mataku melihat seorang wanita cantik melewati pintu kaca yang terbuka otomatis di lantai dasar, wanita yang membuat orang-orang yang dia lewati meliriknya.
Professor Bora.
Prof Bora berhenti menahan seorang suster untuk berbicara sebentar lalu melanjutkan berjalan menghampiri lift yang sudah di tunggu banyak orang di depannya. Tapi aku sadar akan sesuatu, wanita yang memakai hak tinggi itu sepertinya tidak sadar ada orang yang juga mengikuti gerakkannya.
Seorang pria berpakaian serba hitam, memakai kacamata dan topi yang menutup sebagian setengah wajahnya. Aku tidak bisa melihat siapa itu tapi setiap kali prof Bora berhenti, pria itu juga berhenti lalu diam-diam mengawasi wanita itu pergi dan kembali mengikutinya.
Apa mungkin hanya perasaanku saja?
Mungkin dia akan menemui dokter Stefan. Setidaknya Prof. Bora akan di jaga oleh tunangannya dan pria yang mengikutinya tidak akan berani lagi dekat dengan wanita itu.
Tapi mataku melihat pintu lift yang terbuka di lantai ku ini terbuka, di sana prof Bora melangkah keluar bersama pria itu dan orang lain.
Dugaanku semakin yakin dia diikuti karena pria itu selalu diam-diam menjaga jarak tapi tetap memperhatikan gerak-gerik prof Bora.
Wanita itu belum melihatku yang bersembunyi di dekat tembok tapi langkahnya semakin mendekat ke arahku.
Atau mungkin pria itu justru orang yang ingin melindungi prof. Bora seperti Bayu yang pernah meminta petugas kepolisian untuk menjagaku tidak jauh dari jarak pandangku?
Sekarang dari pada berpikir macam-macam, aku harus bertanya langsung pada prof Bora.
Aku keluar dari tempat persembunyianku, berpura-pura berjalan pelan tak jauh di depan prof. Bora. Sembari mendorong tiang infus yang aku bawa, aku menunggu sampai wanita itu mengenaliku.
Seperti yang aku duga, aku merasakan tepukan pelan di punggungku, begitu berbalik prof Bora sudah tersenyum lebar padaku.
“Oh benar Icha! Aku hampir tidak mengenalimu karena baju pasiennya.” Katanya senang.
__ADS_1
“Prof Bora? Mau bertemu dokter Stefan ya?”
“Niat awalku ke sini memang ingin menjengukmu, tadinya aku janjian dengan Talia tapi dia sedang makan siang jadi aku duluan untuk menjengukmu. Lalu bagaimana keadaanmu? Kenapa keluar kamar?” Prof. Bora menjelaskan sembari merebut tiang infus yang aku bawa di tangan kananku.
“Aku baik prof dan hanya sedang bosan.” Jawabku seadanya, melirik sekilas ke belakang dan melihat pria itu sedang pura-pura melihat-lihat brosur di dekatnya.
“Ngomong-ngomong prof. Apa seseorang sedang menjagamu? Dokter Stefan menyewa bodyguard untuk mengawasimu?” Aku berbisik pelan, tetap bersikap biasa.
Wanita dengan rambut halus yang jatuh tergerai di punggungnya ini melirikku sembari mengerutkan kening heran. “Tidak, kena—“
“Sstt.. Bersikap biasa prof.” Sela ku karena prof. Bora hendak menunduk dan ingin berbisik sembunyi-sembunyi denganku tapi tidak jadi. Dia kembali menegakkan tubuhnya sembari melangkah di sampingku.
“Tadi aku melihat sejak prof. Bora masuk melewati pintu di lantai dasar, pria bertopi di belakang mengikutimu sejak tadi.” Kataku.
“Untuk memastikannya, ayo kembali ke kamarku, kalau dia memang mengikuti prof Bora, dia pasti akan ada di sekitar kamar dan biarkan Bayu yang mengurusnya saat dia akan kembali nanti.” Kataku lagi yang langsung di angguki Prof. Bora.
Kami berdua melanjutkan langkah memasuki koridor tempat kamarku berada sembari kami berdua mengobrol singkat. Tanganku dengan cepat mengetikan pesan pada Bayu tentang keadaan prof Bora dan orang yang mengikutinya.
Setelah selesai, kami sudah ada di depan pintu kamar, hendak membukanya tapi tanganku terhenti karena pesan masuk.
Bayu membalas pesanku dengan cepat. “Kita lebih baik tunggu di luar.”
Aku mengajaknya duduk di kursi samping pintu kamar inapku setelah membaca isi balasannya. Tanpa banyak bicara, prof Bora menuruti perkataanku dan kami sudah duduk berdampingan.
Aku memandang ke sekeliling, bermaksud ingin melihat lagi si penguntit. Pria itu sempat melihatku tapi cepat-cepat dia berpaling untuk menghadap ke depan meja podium tempat suster-suster berada lalu pura-pura menyibukkan diri dengan kertas-kertas di atas meja itu.
“Kau mengenalnya, prof?” Tanyaku karena prof. Bora juga melihat ke arah yang sama denganku.
“Aku tidak ingat. Mungkin kah dia muridku? Tapi terlihat asing.” Jawabnya kebingungan.
Lalu mataku melihat di kejauhan Bayu dan ketiga temannya di tambah Talia memasuki koridor ini. Mereka cepat sekali datangnya, apa mungkin aku mengganggu makan siang mereka?
Dengan gerakkan yang santai, Bayu dan Ronald sudah berdiri di kedua sisi si penguntit begitu mereka tiba di dekatnya. Untuk sesaat, pria itu sempat panik tapi Ronald merangkul pria itu sembari Bayu membisikkan sesuatu yang seketika membuatnya diam.
Mereka semua berjalan mendekati kami dengan si penguntit yang menunduk ketakutan.
...
__ADS_1