
...
“Coba ingat lagi dalam ketentuanmu itu, apa penyimpangan ini kita yang mengajukan? Jelas-jelas Camila mengatakan pak Ginanjar yang mengajukannya. Jadi, itu urusan bagian pak Ginanjar untuk memikirkan apa gunanya ada ketentuan kalau harus menyimpang. Batasan kita hanya ketentuan yang sudah di setujui. Kalau pun suatu saat kita juga akan mengajukan penyimpangan di bagian manapun, tidak hanya bagian Camila, tapi empat admin lainnya, maka, terkadang ketentuan itu ada untuk di buat menyimpang. Pada akhirnya tetap saja yang memutuskan untuk itu di setujui atau tidak adalah urusan pusat. Dengan adanya penyimpangan, memudahkan kita juga dalam beberapa opsi untuk negosiasi dengan konsumen. Bukan kah mempermudah pekerjaan di cabang? semua senang, semua bahagia.” Jelasku panjang lebar.
Camila tersenyum kecil padaku, dan yang lainnya juga mengangguk, mulai mengacuhkan Hanna untuk kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Hanna menatapku tajam, kalau dia kesal padaku, maka dia akan mati karena kesal setelah aku menyerahkan pekerjaanku padanya.
“Sekarang, kalau kau sudah mengerti, bisa pergi dari kursiku ini? Kita belum pada tahap serah terima dan aku harus memeriksa dokumen-dokumen untuk di serahkan padamu. Kau bisa menarik kursi dari sana, di bawa ke
sini.” Aku menyuruhnya pergi.
Wanita ini berdiri perlahan, dengan enggan dia menuruti perkataanku, menarik kursi kosong lain untuk di dekatkan pada mejaku.
“Nah, aku akan menyerahkan pekerjaanku padamu. Aku harap satu hari ini kau bisa menerimanya karena ini hari terakhirku. Kalau nantinya kau mau protes karena banyak nya pekerjaan yang aku limpahkan padamu, maka salahkan saja pusat. Mereka hanya memberiku satu minggu untuk membereskan semuanya dan memberiku satu hari untuk di serahkan padamu.” Aku berujar puas.
Ekspresi Hanna semakin suram, dia tidak mengatakan apapun lagi, maka itu artinya aku bisa mulai menyerahkan semua padanya.
***
Tidak terasa sudah waktunya makan siang, aku ke asyikan menjelaskan semua pekerjaanku pada Hanna, dan wanita ini berekspresi semakin masam, bahkan aku bisa melihatnya hendak muntah karena banyak nya informasi
yang harus dia terima.
Sedangkan aku, tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, seolah dengan setiap bagian yang aku coba serahkan pada Hanna, perlahan aku juga merasa akan bebas.
__ADS_1
Lalu, keributan terjadi, membuyarkan ke asyikanku. Semua karyawan di gedung perusahaan ini sudah mulai keluar untuk membeli makanan atau sekedar menarik napas dari pekerjaan mereka, tapi suara keributan di lantai bawah sedikit menggangguku.
“Ada apa di luar?” Tanya ku pada ke lima wanita yang sudah siap-siap akan makan siang.
“Pak Ginanjar sedang kelompok Ormas.” Jawab Camila yang membuatku tercengang.
“Hah? Kenapa?”
“Tidak tahu, kami akan melihat ke bawah. Kau tidak mau makan siang?” Aku melirik Hanna, entah mengapa sekarang pandangannya terlihat lebih tenang, seolah dia telah memenangkan sesuatu.
“Kalau gitu, ayo.” Ajak ku padanya juga.
Hanna tidak membantah dan ikut berdiri bersamaku, kami bertujuh sama-sama keluar ruangan menuju lantai bawah.
Sedangkan Pak Ginanjar yang di temani beberapa bawahannya juga sama-sama sedang berbicara penuh penekanan pada mereka. Selain itu, di sisi lain, aku baru menyadari kalau lima orang yang aku kenali karyawan pusat sedang menunggu di sofa lain. Empat pria dan satu wanita itu sedang memperhatikan keributan Pak Ginanjar tanpa berniat ikut campur.
“Oh? Ada apa ini? Apa ini penyebab dari penyimpangan?” Hanna berkata mengejek, dia tersenyum senang melihat keramaian di hadapan kami.
Bukan hanya kami yang menonton, tapi karyawan dari bagian lain juga ikut menonton. Rima meliriknya sebal, dan Tiwi hanya menggelengkan kepala sembari melirikku.
Hancur sudah kesan pertama yang di berikan Hanna pada anak buahnya nanti. Kalau seperti ini, pasti susah jika dia ingin bekerja sama dengan tim avenger. Kebanggaan tentang pelatihannya dengan orang pusat membutakan Hanna pada hal kecil seperti kesan pertama yang baik.
Aku memperhatikan keributan itu dan hanya beberapa saat, aku mengerti dengan permasalahan di antara mereka. Ini tentang karyawan di bawah tim Pak Ginanjar yang dua bulan lalu dia pecat langsung karena ketidakhadiran tanpa keterangan selama satu minggu.
Melihat Pak Ginanjar yang sudah kesal dan pasrah, aku melangkah mendekatinya. Aku tahu histori permasalahan karyawan ini.
“Pak Ginanjar, apa ini tentang Tio Saputra?” Tanyaku langsung berdiri di sampingnya.
__ADS_1
“Oh, Bu Icha. Iya betul, ini tentang Tio.” Pria paruh baya ini menghela napas lega begitu melihatku.
“Apa yang mereka inginkan, Pak?” Tanyaku.
“Kami hanya ingin meminta keadilan pada saudara kami, Tio. Dia di pecat secara tidak hormat oleh dia!” Salah satu dari mereka memekik keras yang sekali lagi mendapat perhatian semua orang di lantai ini.
“Oh saya tahu tentang Tio. Bisa saya jelaskan kronologi nya pada kalian?” Mereka semua saling pandang seperti meminta pendapat masing-masing.
“Silakan duduk, saya akan menjelaskannya.” lanjutku karena mereka tidak menjawab. “Camila, tolong pesankan minuman dingin dari kios depan untuk kami semua. Ayo duduk.”
Camila yang di sebut namanya segera mengangguk dan berlari kecil keluar gerbang.
Langkah pertama untuk meredakan amarah mereka adalah membuat mereka nyaman, dan sejak tadi baik pak Ginanjar atau orang-orang Ormas ini tidak ada yang duduk, padahal mereka ada di depan sofa empuk.
Lima pria di hadapanku ini menuturi perkataanku untuk duduk, lalu aku dan Pak Ginanjar juga ikut duduk di hadapan mereka. “Bapak-bapak bisa mulai menjelaskan apa yang terjadi, agar saya bisa mengerti lebih jelas dan bisa memberikan tanggapan untuk itu.”
“Intinya, kami tidak terima saudara kami mendapat perlakuan seperti ini! Meski kami orang tidak punya tapi pemecatan kalian menghina kami! Dia tidak bisa bekerja karena sakit! Orang yang izin sakit malah mendapat pemecatan.” Pria berbadan lebih kecil dan pendek dari ke empat lainnya mulai bicara.
Lalu minuman bersoda dalam botol dingin sudah datang di hadapan kami dengan cepat. Aku mengangguk-angguk mengerti. “Tapi saya ingat kalau Tio tidak memberi kabar sama sekali pada pihak kami.”
“Omong kosong! Dia bahkan menunjukkan surat dokter pada kami.”
“Kalau boleh tahu, apa kalian punya nomor telpon Tio? Saya hanya ingin memastikan--”
“Kau ingin menelponnya?! Tidak bisa! Dia sudah sakit hati karena pemecatan itu, dan karena itu kami ada di sini untuk meminta keadilan.” Kali ini pria yang badannya paling besar menatapku kesal.
Orang-orang yang menonton kami mulai berbisik-bisik, terutama karyawan dari bagian lain menatapku tidak percaya, mungkin mereka pikir aku terlalu nekat.
...
__ADS_1