EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 340


__ADS_3

...


Untuk mengalihkan perut yang lapar, aku mengubah posisi menjadi berbaring menyamping sembari menatap ke luar jendela. Langit malam yang gelap kali ini sedikit menenangkanku meski telingaku masih mendengar suara-suara dari luar.


Aku mulai membayangkan rencana yang akan dilakukan ketika bisa keluar dari tempat ini. Setelah pulang, aku ingin berkencan dengan Bayu, sudah lama kami tidak jalan-jalan keluar berdua, lalu aku juga ingin bekerja membantu ayah Evano.


Menemani tante Kenzie belanja sepertinya akan menyenangkan. Oh! Aku juga harus mengunjungi Alisya dan memperkenalkannya nanti pada tante Kenzie, sepertinya mereka berdua akan cocok.


Mengingat tentang Alisya, aku jadi penasaran tentang pengawal pribadinya, pria yang menjadi junior Bayu. Tapi mungkin saja ayah Rasha sudah memberhentikannya setelah Wendy di tangkap nanti.


Aku menghela napas pelan, hanya dengan membayangkan semua itu, menambah harapan untukku agar cepat keluar dari tempat ini. Namun lama kelamaan mataku terasa berat hingga aku tidak sanggup lagi untuk mempertahankan mata yang terbuka. Aku seharusnya tidak boleh menurunkan kewaspadaan saat di tahan di markas musuh, tapi aku sangat mengantuk sampai kesadaranku di tarik dengan cepat dan semuanya gelap.


***


Tiba-tiba aku sedang berjalan mendekati pohon besar di samping gerbang SMA ku. Tempat ini sekarang sangat familiar. Aku tahu ini mimpi, tapi aku tidak menghentikan langkah kaki ku yang semakin mendekat pada dua kucing berbulu emas dan perak.


Hari ini, mereka sedang berhadapan, seolah sedang mengobrol, tapi aku tidak mendengar suaranya. Begitu mereka menyadari kehadiranku, keduanya langsung menatapku dengan mata berkaca-kaca.


“Hah? Ada apa dengan kalian?” aku berlutut menatap mereka dan dengan cepat mata mereka tertutup, ada butir air mata jatuh dari sudut mata mereka.


Aku yang melihat ini merasa kaget dan tidak percaya. Aku mengerti keduanya sedang menangis.


“Kalian sakit?” mereka menggeleng.


“Kalian merindukan ayah kalian?” sekarang mata keduanya terbuka untuk menatapku, ada keraguan di sana tapi bukan itu yang menjadi masalah mereka menangis.


“Apa??” aku yang benar-benar tidak mengerti apa yang mereka maksud berubah panik, lalu


BRAAKK!


BRUG!


Kami bertiga tersentak kaget mendengar suara keras dari belakang, refleks aku menoleh dengan cepat, tapi seperti biasa, di tempat ini tidak ada siapapun.


“Suara apa tadi?” tanyaku pada dua kucing ini.


Keduanya menghiraukanku, justru menatapku dengan mendesak dan kembali menangis tanpa suara.


BRAAKK


“Anggur!!” aku tersentak, membuka mata dan berseru kaget mendengar suara ribut-ribut dari luar ruangan.


Mataku bisa dengan jelas melihat langit-langit kamar tempat Wendy menyekapku. Ternyata aku memang ketiduran dan suara perkelahian dari luar membangunkanku.

__ADS_1


Aku segera bangkit duduk dan hendak turun dari ranjang ketika samar-samar mendengar suara-suara itu semakin jelas.


“….kabur! tangkap segera!”


“….periksa!”


“…..hati!...belakang…Gilbert!


Aku menghela napas lega. Jelas sekali itu suara polisi. Pantas saja ribut-ribut di luar tadi terbawa sampai mimpi.


Udara terasa lebih dingin di bandingkan saat tadi sebelum aku bangun. Aku ingin melihat jam berapa sekarang tapi ponselku di ambil oleh Wendy.


Namun, karena aku benar-benar sudah lega sekarang, aku memutuskan untuk diam saja, menunggu sampai ada yang membukakan pintunya.


Sesuai dugaanku, setelah semenit berlalu, tiba-tiba ada langkah kaki mendekati pintu dengan tergesa-gesa, mengharapkan Bayu ada di sana.


BRAAKK


Pintu di banting keras dari luar, justru sosok Wendy berdiri di ambang pintu. Untuk sesaat jantungku seperti naik ke tenggorokkan melihat wajah marah Wendy yang menatapku.


“Bagaimana?? Bagaimana bisa??” dia menatapku tidak percaya, aku yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi bingung.


Namun sekali lagi aku menghela napas lega karena ternyata ada seorang pria berpakaian serba hitam, dengan helm hitam dan rompi anti peluru hitam berdiri di belakang Wendy, seolah sedang mengawasi Wendy agar dia tidak bertindak gegabah.


“P—padahal kami akan pergi setengah jam lagi.” dia melanjutkan dengan nada yang sedih di akhir kalimat.


Kerutanku semakin dalam, apa yang dia bicarakan? Menghubungi mereka? Hah! Jelas-jelas ponselku telah dia ambil.


“….Gilbert kesakitan.” Nada suara Wendy seperti sedang melamun.


Aku yang sedang memperhatikannya terkesiap kaget ketika matanya lagi-lagi mengarah padaku, matanya melotot dengan pandangaN seolah siap untuk membunuhku.


“Sejak pertama seharusnya aku membunuhmu!! HAAAA..” dia berteriak marah, tapi belum selangkah, orang yang berdiri di belakangnya menahan Wendy, memutar kedua tangan wanita itu ke belakang dan membantingnya ke pintu karena Wendy masih melawan, ingin menghampiriku.


Kali ini aku bisa melihat ke luar ruangan. Banyak orang yang memakai seragam serba hitam seperti pria ini dengan pistol di tangan mereka, berlalu lalang di luar, sibuk menangkap dan memeriksa.


Aku sangat bersyukur dalam hati karena masalah ini dengan cepat bisa teratasi.


Pria yang akan membawa Wendy keluar sempat menatapku sekilas sebelum tangannya memberi tanda ke luar.


Aku masih tidak berani untuk turun dari ranjang ini, hanya menatap pria itu yang menyeret Wendy keluar, menghilang dari ambang pintu.


Beberapa orang yang melewati pintu, sempat menatapku, tapi mereka tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja. Melihat semua ini, keningku mengerut karena bingung.

__ADS_1


Apa lebih baik aku keluar saja?


Setelah memutuskan untuk keluar, aku bergerak duduk di sisi tempat tidur, hendak turun dari ranjang namun suara langkah kaki sepatu yang tergesa-gesa dari jauh terdengar semakin dekat.


Tap


Tap


Tap


Itu semakin cepat hingga langkahnya sampai di depan ambang pintu.


Pria dengan pakaian hitam, helm, rompi anti peluru dan masker menutupi sebagian wajahnya sudah ada di depan pintu. Hanya matanya yang terlihat.


Aku bisa tahu mata itu melengkung ketika pemiliknya tersenyum. Postur tubuh dan caranya berjalan untuk menghampiriku sangat aku kenal.


Aku tersentak gembira dan tanpa sadar tersenyum lebar sembari memanggilnya, “Bayu!!”


“Sayang, kamu baik-baik aja?” suaranya tertahan tapi aku bisa dengan jelas mendengar nada khawatir di sana.


Sebelum menjawab, aku memeluknya lebih dulu ketika dia sudah ada di depanku. Bayu yang agak menunduk juga balas memelukku dengan erat.


Aku tidak menyangka penangkapan ini berjalan dengan lancar. Tidak ada drama yang memungkinkah Bayu atau tim nya harus terluka seperti yang terjadi di film-film.


“Aku sangat baik, tapi Bayu—”


“Hm?” Bayu melepaskan pelukan kami. Dia menatapku penuh antisipasi dan perhatian.


“Anggur. Aku ingin makan anggur.”


“Hm??” ada kerutan samar di antara alis matanya.


“Anggur hitam yang manis sepertinya enak. Tapi anggur hijau lebih segar. Iya ‘kan?”


“Hm?? Anggur?”


Aku tertawa kecil melihatnya yang kebingungan, tapi aku mendesaknya, “Bayu!! Angguuurr!!”


Tanganku menarik tangannya, “sekarang juga!”


BUUMMM!!


...

__ADS_1


.


__ADS_2