
...
“Hahaha ini yang namanya gadis nakal!” Ujarku puas melihat wajahnya yang merona merah, terlebih telinganya memerah dengan cepat. Jarang sekali melihat ekspresinya yang seperti ini.
“Kau—apa yang kau lakukan!” Bayu menyentuh lehernya, tempat tadi aku menciumnya.
Aku hanya tertawa puas dan berbalik hendak melangkah menaiki tangga untuk kabur darinya tapi Bayu lebih cepat. Tangannya menarikku dengan kuat sampai aku jatuh ke dalam pelukannya lagi.
Lalu kedua tangannya menangkup pipiku dan tanpa mengatakan sepatah kata aku bisa merasakan sesuatu yang lembut menyentuh leherku. Bibirnya menghisap dan menggigit leherku yang membuat seluruh tubuhku merinding.
Jantungku berdetak cepat dan aku gugup sekali, tidak pernah kami sampai seintim ini bersentuhan. Bahkan kalau di pikir-pikir kami belum pernah berciuman dan sekarang aku sudah memulai hal bodoh dan berani.
“Le—lepaskan!”
Bayu melepaskan ciumannya tapi aku merasakan kecupan lain beberapa kali di leherku, dia sedang menggodaku lagi. Dengan sekuat tenaga aku mendorongnya jauh dan setelah lepas, aku bisa melihat dengan jelas wajah lelaki ini merona tapi sorot mata jahilnya ada di sana.
“Kau yang memulai, aku hanya melanjutkan.”
“Bodoh!!” Aku mencubit pipinya gemas, tapi entah mengapa aku merasa senang sekarang.
Tidak tidak!
Kenapa aku berpikir seperti ini!
Apa sekarang aku berubah menjadi gadis nakal??
Braaak!!!
Tiba-tiba suara benda jatuh dari ruang tamu depan menyadarkan kami kalau masih ada orang lain di rumah ini.
“Astaga, aku lupa masih ada Talia di sini! Apa mereka mendengar kita tadi?” Aku berbisik panik.
Bayu tampak berpikir tapi dia segera meraih tanganku dan menariknya. “Lebih baik kita menghindar dulu—“
“Ekhmmm..” Ucapan Bayu terpotong saat suara deheman seseorang membuat tubuh kami membeku.
Leherku rasanya kaku melirik ke ambang pintu ruang tamu. Di sana sudah berdiri Lifer dengan wajah masam dan Talia yang sedang mencoba menahan tawanya.
__ADS_1
“Sayang, jangan ganggu mereka. Seharusnya kita pura-pura tidak ada di sini.” Talia berkata pada pria di sampingnya.
“Ini lah bahayanya kalau membiarkan pria dan wanita ada di rumah sendirian!”
“Sayang! Jangan seperti itu! Kita harus mengerti! Cinta mereka sedang membara.”
Percakapan mereka membuat pipiku memanas dan rasanya malu sekali, aku ingin menghilang dari hadapan mereka sekarang juga!
“Kalian sudah berapa lama ada di sana?!” Bayu bertanya, berusaha mengalihkan perhatian mereka.
“Dari sejak kalian berpelukan karena saat kalian bertengkar pun kita bisa mendengarnya, suara kalian terdengar sampai dapur.”
Aku benar-benar ingin menghilang!!
Talia tampak menyenggol suaminya, meminta agar pria itu berhenti menunjukkan wajah dingin pada kami.
“Kalian berdua, cepat ke sini! Kalian harus di sidang atau aku akan menikahkan kalian sekarang juga!”
“Kalau begitu aku memilih untuk menikah sekarang juga!” Bayu menjawab tanpa berpikir yang membuat Lifer geram padanya.
Selanjutnya kami di bawa ke ruang tamu dan Lifer memaksa kami untuk duduk berhadapan dengannya. Pria itu menatap kami seolah ingin melahap kami hidup-hidup.
“Dasar anak muda jaman sekarang. Lihat! Leher kalian memerah—“
“Itu namanya kissmark, sayang.” Talia memperjelas yang membuat aku dan Bayu menegang seketika.
“Sayang, berhenti membela mereka. Ini tindakan yang harus di hentikan! Mereka belum menikah tapi udah berani melakukannya! Setelah berpelukan, lalu ciuman dan sekarang kissmark—“
“Tapi kami belum pernah berciuman.”
“Berhenti!” Aku memukul lengan Bayu agar dia berhenti. Aku tidak tahu lagi bagaimana wajahku sekarang. Yang pasti udara di sini terasa memanas.
Lifer dan Talia menatap kami sesaat. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tapi sepertinya mereka tidak mempercayainya.
“Tadi aku hanya menjahilinya dan otakku tertutup untuk sesaat. Kami tidak mungkin melakukan lebih jauh lagi.” Aku mencoba menemukan suaraku.
“Memangnya kenapa aku tidak boleh menciumnya? Toh aku sudah melamar Icha tadi pagi.” Bayu berujar santai.
Mata Talia dan Lifer langsung tertuju pada tanganku. “Kau sudah melamarnya? Tadi pagi? Di sini?”
Bayu mengangguk menjawab pertanyaan Talia, tanpa di duga wanita itu melangkah mendekati kami dan dia langsung menarik telinga Bayu. Aku kaget melihatnya.
__ADS_1
“Bodoh! Kau melamarnya tanpa mengadakan acara yang romantis??”
“Aw aw sakit tante Talia, tolong lepaskan!”
“Tante?! Sekarang kau memanggilku tante??” Talia tampak kesal sekali pada Bayu.
“Aku tidak mempermasalahkan dengan acara—“
“Tidak! Kau menikah sekali seumur hidup! Kau harus mendapatkan lamaran yang romantis! Anak ini masih perlu di beri pelajaran tentang memahami wanita!”
“Iya iya, aduh lepas! Bayu mengaku salah, tante!” Talia akhirnya melepaskan Bayu tapi wanita itu masih menatap kesal padanya.
“Sayang, terkadang itu terjadi saat seorang pria ingin cepat melamar wanitanya tanpa memikirkan acara lamaran romantis. Itu menunjukkan bahwa dia tidak ingin kehilangan wanita itu—“
“Sekarang kau membelanya?!” Talia memekik tidak percaya menatap Lifer.
“Bukan membela, hanya sedikit mengerti jalan pikirannya.” Bayu mengangguk puas menatap Lifer, senang karena ada yang mendukungnya.
Diam-diam aku tersenyum melihat mereka, tidak pernah menyangka aku akan menghadapi situasi seperti ini. “Icha! Seharusnya kau jangan menerimanya kalau tidak dengan lamaran yang romantis.”
Talia menatapku, aku hanya tersenyum canggung padanya mengingat lagi tentang tadi pagi. “Sebenarnya aku tidak menjawab tapi hanya mengangguk—“
“Bagus!” Talia langsung menarikku menjauh dari Bayu. Aku melihat ekspresi itu, Bayu cemberut padaku.
“Tapi aku memang sudah menerima lamarannya.” Kataku cepat sebelum terjadi kesalahpamahan. Sekarang ekspresi Bayu berubah senang, lelaki itu tersenyum lebar padaku.
Dia sedang dalam mode lucu dan menggemaskan.
.
..
…
Lifer dan Talia sudah pulang sejak satu jam yang lalu setelah mereka mengomeli kami selama hampir setengah jam. Bayu juga bersikap seperti seorang adik yang ketahuan nakal menghadapi Lifer saat itu.
Sebelum pulang, mereka berpesan agar kami tidak sampai bertindak jauh. Memikirkan perkataan mereka saja membuat pipiku memanas, malu sekali.
Beberapa menit setelah sepasang suami istri itu pulang, Bayu berpesan agar aku tetap di rumah karena dia ada keperluan di daerah sini. Karena sudah lebih dari satu jam lelaki itu belum pulang, aku yang sendirian di rumah dengan suhu udara dingin di luar akhirnya memilih untuk berendam di bath up air hangat.
Tidak sadar berapa lama berendam karena terlalu nyaman, kulit telapak tanganku mengkerut terlalu lama di dalam air. Kemudian aku segera keluar dari kamar mandi dan berniat akan memakai pakaianku yang tadi tiba-tiba terpikir kalau pakaian yang di pinjamkan prof. Bora ini sudah aku pakai sejak kemarin.
Dan pakaianku yang semula masih di jemur dan dingin, tidak bisa di pakai sekarang. Waktu menunjukkan pukul satu siang tapi awan mendung menutupi matahari.
...
__ADS_1