
Dear para pembaca,
Jadwal novel ini update antara dari hari jumat sd minggu ya.
Author sedang menyiapkan projek cerita lain ketika EMBRACE YOU mencapai *******.
Happy Reading....
***
“Apa yang kau lakukan hari ini?”
Aku yang sedang melamun langsung tersadar ketika mendengar pertanyaan Bayu. Kami baru selesai makan malam, hanya berdua di meja counter dapur.
“Hanya diam di rumah. Setelah Dika dan Lucy sampai di sini tadi siang, mereka mengunjungiku sebentar untuk menyapa, dan aku menyuruh mereka untuk istirahat saja, karena aku tidak akan keluar.” Jawabku.
Memang benar, seharian ini aku nonton tv, atau main game dan berselancar di internet. Sebenarnya untuk mengalihkan pikiranku dari diskusi kami kemarin malam.
Masih ada satu hal yang membuatku belum tenang, “bagaimana dengan penyelidikan Gia lebih lanjut?”
Bayu mengangguk, “kami sedang memeriksa ulang semua orang yang terkait dengan Gia. Aku akan memberitahumu kalau sudah ada hasil.” lelaki ini mengumpulkan piring kotor, meletakkannya di tempat cuci piring dan mulai menyalakan air, berniat untuk mencucinya.
Aku segera bangkit dan menghampirinya, “biar aku saja. Kau duduk sana.”
“Tidak tidak! Ini giliranku, kau sudah memasak untuk makan malam kita.” Bayu menggeleng, enggan memberikan spons cuci piringnya padaku dan mulai membasahinya dengan air.
Aku tersenyum kecil, tidak lagi berdebat dengannya tapi menemaninya di samping, memperhatikan semua yang di lakukannya.
Tidak sadar kalau kami hanya diam, tidak bersuara sama sekali hingga Bayu sedikit menyenggolku, “apa?”
“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa diam aja?” Bayu mengerti raut wajahku.
“Tidak ada.” Jawabku.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan memar kemarin? Coba buka bajumu lagi, aku ingin memeriksanya.” Katanya.
“Kau tidak akan mengambil kesempatan ‘kan?” Tanyaku dengan mata menyipit penuh curiga padanya.
Bayu terkekeh pelan, dia tidak menjawab dan segera mendorongku untuk duduk di sofa ruang tengah.
Untungnya hari ini aku memakai kaos kemeja ungu tua, jadi aku tidak perlu membuka semuanya, hanya cukup beberapa kancing atas untuk menurunkan sedikit lengan bajuku.
__ADS_1
“Memarnya sudah ganti warna jadi ungu, hmm.. serasi dengan warna bajumu.” Ledeknya.
“Terima kasih. Aku merasa tersanjung. Kalau seperti ini luka memarku seperti bisa berkamuflase.”
“Hehehe, kamu ini. Konyol! Tunggu sebentar, aku ambil kompresan air hangat.” Dia bangkit dari duduknya dan berbalik menuju dapur.
Aku tidak banyak bicara dan hanya duduk menunggunya, bersandar ke sandaran sofa dengan dua tangan memeluk lenganku sendiri. Entah mengapa aku merasa sangat lelah. Tidak dengan tubuhku, tapi aku merasa lelah secara mental. Ingin diam dan mendinginkan kepala.
Lalu tangan Bayu menyentuh kepalaku dengan lembut dan bertanya pelan, “Boo, ada apa? Apa kau tidak enak badan?”
“Hmm..” Aku hanya menggeleng tanpa meliriknya di belakang punggungku.
“Apa aku terlalu memaksamu di—“
“Tidak!” Aku langsung memotong ucapannya, wajahku langsung memanas tapi aku tetap berbalik, menghadapnya, “tentu saja tidak! Aku hanya lelah sekali secara mental. Kau tahu ‘kan, bagaimana pun, diskusi kita kemarin masih aku pikirkan seharian ini.”
Bayu mengangguk, dia tiba-tiba merentangkan kedua tangannya, “ayo! Masuk ke dalam dekapanku. Kau akan baik-baik saja.”
“Kalau yang ini, aku tidak sanggup untuk menolaknya.” Jawabku sembari menjatuhkan tubuhku ke pelukannya, menyandarkan kepalaku di dadanya sampai membuat Bayu terhuyung ke belakang dan akan jatuh.
Berikutnya, Bayu membiarkan aku yang dengan manja sibuk memeluknya dengan erat, melingkarkan kedua tanganku di sekitar pinggangnya.
Dia dengan lembut merawat luka memarku, membiarkan kompres air panas yang di bawanya menempel dengan memarnya sembari menggenggam rambut panjangku dan menyampirkannya ke sisi bahu kananku.
Aku tidak ingat berapa lama kami seperti ini, yang jelas, aku hanya merasa tenang ketika telingaku menempel di dadanya, mendengarkan bagaimana detak jantung dan helaan napasnya dari dekat, sampai kesadaranku perlahan mulai menghilang. Mataku semakin berat dan aku tidak bisa lagi melawan untuk tetap membuka mata.
Tubuhku terasa ringan dan hangat ketika dua tangan Bayu masih bisa aku rasakan memelukku dengan erat.
“Icha!! Hei!! Bangun sayang!!” Aku merasakan desakan suara Bayu memancing rohku agar kembali.
Aku mengerjap dan menyadari kalau kini aku sudah berbaring di atas tempat tidur, menemukan wajah Bayu ada di sisi kananku.
“Ada apa?” Tanyaku sembari menguap dan bangkit duduk dengan perlahan.
“Ayo pakai jaketmu dulu. Kita harus keluar dari sini.” Suaranya terdengar panik
“Kenapa?” Lelaki ini membantuku untuk segera berdiri dan memakaikan jaket rajut coklat tua milikku.
“Ada kebocoran gas. Sebelum semuanya aman, kita harus keluar.” Seketika kantuk ku hilang.
“Hah? Kebocoran gas? Di mana? Di apartemen ini?” Bayu tidak langsung menjawabku, dia menarikku dan meraih ponsel kami yang tergeletak bersisian di atas meja nakas.
__ADS_1
“Di lantai atas. Semua orang panik dan sudah mengungsi keluar.” Jawabnya sembari membuka pintu apartemen kami.
Benar saja, ketika pintu terbuka, aku bisa mendengar suara langkah orang-orang yang lari-lari di kejauhan. Koridor lantai apartemenku sudah sepi dan hanya ada aku dan Bayu di lorong ini.
Lelaki ini hendak membawaku ke lift, tapi melihat lift yang sibuk sedang melaju ke atas, maka dia menarikku ke sisi tangga darurat.
Aku tidak banyak bicara, hanya mematuhi Bayu yang terus menuntunku untuk cepat-cepat turun tangga. Kami ada di lantai 10, meski turun tangga tidak melelahkan tapi tetap saja membuat kakiku agak pegal.
Tanganku yang bebas menggenggam ponsel, aku menyalakannya sebentar hingga menampilkan waktu dan tanggal. Ternyata sekarang sudah pukul satu dini hari.
“Jadi, kebocoran gas itu berasal dari kamar siapa?” Tanyaku memecah keheningan di tangga darurat yang remang-remang ini.
“Aku dengar itu berasal dari apartemen pak Baron.”
“Hah? Apa mungkin mereka bertengkar dan terjadi saling ancam?” Tebakku.
“Boo, berhenti menggosipi mereka. Ayo cepat!!”
“Dasar lelaki!!” Ledekku, kali ini aku sengaja mendahuluinya dan gantian aku yang menarik tangannya agar langkah kami lebih cepat.
.
..
...
“Apa yang terjadi?” Bayu langsung bertanya pada Dika dan Lucy. Dua orang itu langsung menghampiri kami begitu kami keluar dari pintu tangga darurat, di samping gedung apartemen, dan kami bisa dengan jelas mendengar ada suara ribut orang-orang di depan gedung.
“Seseorang ada yang naik ke atap gedung. Karena gelap kami tidak bisa melihatnya. Tapi sudah ada beberapa orang yang naik ke atas.” Jawab Dika.
“Apa ada dugaan, siapa yang naik ke atap?” Tanyaku penasaran.
“Aku dengar, orang-orang mengatakan wanita itu bernama Nadya.” Jawaban Lucy membuatku dan Bayu refleks saling pandang.
“Lalu bagaimana dengan mobil pemadam kebakarannya?” Tanya Bayu.
“Sudah akan sampai kurang dari tiga menit lagi.” Kata Dika.
“Kerja bagus.” Bayu menepuk pundah Dika, dan mengangguk juga pada Lucy.
Entah mengapa aku bisa mengerti maksud perkataan Bayu, dia sangat lega karena dua orang ini langsung sigap ketika di panggil, padahal sekarang jam satu pagi, waktunya orang tidur.
__ADS_1
...