
...
“Benarkah?” Ada binar ingin tahu di matanya, aku mengangguk yakin.
“Apa kau pikir aku mudah di intimidasi?”
“Tidak juga--”
“Apa aku akan terima begitu saja setelah dia merebut posisi jabatanku?”
“Tidak… apa yang mau kau lakukan?”
“Diam-diam menginvasi.”
“Hah?”
“Apa dia lebih hebat dari aku? Lebih seksi dan cantik?”
“Tidak!”
“Apa kau percaya padaku?”
“Tidak.”
“Aku juga tidak.”
“Boo!!” Aku tertawa kencang, tidak bisa tahan untuk mencubit pipinya dengan gemas.
“Intinya adalah, untuk masalah ini, aku bisa menanganinya sendiri, tenang saja!” Aku menepuk pundaknya beberapa kali, mencoba untuk menyalurkan energi percaya.
“Tapi ngomong-ngomong, apa yang tadi kau dan Ayah bicarakan? Sepertinya sangat serius.”
Bayu menghela napas panjang, “aku tidak ingin mengatakan ini, tapi kau memang harus tahu.”
“Apa?” Tiba-tiba aku sangat gugup.
“Tentang kasus di vila pantai, wanita yang mengancam keluargamu pakai racun. Ada satu hal yang masih kosong dan tidak sesuai.”
“Ya?”
“Setelah penyelidikan cepat, wanita itu tidak memberitahu dari mana dia mendapatkan racunnya. Riwayat hidupnya tidak menunjukkan pesanan apa-apa yang berhubungan dengan istri Luc, atau Rey.”
“Mungkin dia membuatnya?”
Bayu menggeleng, “profilnya tidak cocok dan dia tidak pintar untuk membuat racun. Sekarang ayahmu telah mendesak polisi untuk mengecek juga hubungan orang-orang dekatnya yang ada kemungkinan punya akses pada Rey atau pembuat racun lainnya.”
“Bagaimana menurutmu?” Tanyaku mulai khawatir.
__ADS_1
“Semoga kita segera dapat hasilnya. Ayahku juga akan membantu.” Jawabnya.
“Seharusnya ada titik terang, iya ‘kan?” Mungkin wajahku terlihat sangat khawatir karena Bayu segera mengusap wajahku denga lembut, secara otomatis mengendurkan saraf tegang di sekitar wajahku.
“Ayahmu sangat khawatir begitu mendengar penjelasanku, itu lah kenapa dia datang ke sini, meninggalkan pekerjaannya di kantor. Selain mengantar barang yang tertinggal, dia ingin memastikan kau aman. Sepertinya, penyesalan karena menitipkanmu pada orang lain sejak kecil masih Ayah ingat. Aku bisa melihat dengan jelas tentang itu. Sekarang dia ingin membuatmu bahagia, aman dan di akui.”
“Ya, aku bisa merasakannya, Ayah berusaha memerankan sosok Ayah yang baik.”
“Apa kau keberatan tentang itu?”
“Tidak.” Jawabku yakin.
Bayu mengangguk puas lalu kedua tangannya segera menarikku ke dalam pelukannya. Aku mendesah sedih dan bergumam, “sepertinya aku tidak membantumu dalam masalah racun ini.” Dia menarik diri, kedua tangannya memegang bahuku, badannya agak menunduk agar dia bisa melihat wajahku dengan jelas. Senyum kecil enghiasi wajahnya yang tampan.
“Siapa bilang kamu tidak membantuku? Selama kamu berada di sisiku itu adalah bantuan terbaik, karena hanya dengan melihatmu, aku tidak akan bingung dan semua yang kulakukan akan lebih berharga. Kapan pun aku berpikir, begitu semua krisis ini berakhir, kita bisa hidup tenang dan hatiku langsung dipenuhi dengan kebahagiaan. Hanya kebahagiaan untuk masa depan ini yang mendorongku terus melangkah maju walau terasa sulit. Ketika aku dalam misi penangkapan kelompok Alfred, Luc atau Rey, yang bisa aku pikirkan hanyalah kamu. Setiap saat aku berkata pada diri sendiri bahwa aku harus melakukan apa pun untuk bertahan hidup, selamat untuk Icha-ku.”
“Oh sayangku.” Hatiku terenyuh mendengar penjelasannya, mataku terasa memanas dan tenggorokkan ku sakit. Aku lupa menanyakan perincian penangkapan Alfred, Luc dan Rey. Pasti berat sekali untuknya. Apalagi semua itu di lakukan dalam satu minggu.
Aku berjinjit, melingkarkan kedua tanganku di lehernya, memeluknya seerat mungkin, menjatuhkan paper bag yang tadi di serahkan Wildan. Aku tidak sadar kalau masih memegangnya.
“Kau tahu, kenapa aku mencintaimu? Sebenarnya aku juga tidak tahu. Tapi aku tahu ketika kamu di dekat ku, aku merasa bahagia dan beruntung. Ketika kamu tidak ada di dekatku, aku akan sangat merindukanmu, seluruh hatiku mengikutimu. Jadi di dunia ini, tidak ada yang bisa menggantikanmu.”
“Bahkan penyanyi kesukaanmu, tidak akan menggantikanku ‘kan?” Tanya Bayu bergurau.
“Jadi, aku tetap yang paling kau cintai.”
“Yang paling aku cintai.” Jawabku, mengulang perkataannya dengan penuh penekanan.
Sekali lagi Bayu menarikku ke dalam pelukannya. Dia membungkus tubuhku sangat erat, telingaku bahkan bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas.
Lalu suara klakson mobil membuat kami segera melepaskan pelukan, melirik ke belakang ketika dua mobil jeep hijau lumut masuk ke lapangan parkir, di ikuti wajah Lifer yang muncul dari kaca mobil yang terbuka. Pria itu menyeringai manatap kami dan dua mobil itu berhenti tepat di depan pintu gedung.
Sekilas aku bisa melihat orang-orang di dalam gedung menatap ke arah 2 mobil jeep. Kemudian sosok Lifer keluar dari mobil, dua pengemudi di masing-masing mobil ternyata adalah Benny dan Ronald.
“Kami tidak tega mengganggu pasangan baru kita, tapi Bayu, kita harus segera pergi.” Katanya.
Bayu menghela napas panjang dan mengangguk, kemudian melirikku lagi dan berkata “sampai jumpa lagi nanti.”
“Hati-hati.” Aku meremas genggaman tangan kami, tidak rela untuk melepaskan kehangatan dari telapak tangannya.
“Sudah mau berangkat ya?” Suara Ayah Evano menginterupsi pandangan kami semua.
__ADS_1
Ronald dan Benny segera keluar dari mobil, membiarkan mesin tetap menyala. Ketiga pria yang baru saja datang ini langsung mendekati Ayah dan Wildan yang menemani di belakang.
“Selamat sore paman.” Sapa mereka kompak. Aku tidak menyangka mereka akan sekompak ini ketika menyapa Ayah untuk pertama kalinya.
Ayah mengangguk senang dan tersenyum, “Ya, paman Jeremy dan Rasha sering menceritakan tentang kalian semua. Hati-hati di sana ya.”
“Pasti paman. Kita sudah jadi tim yang kompak.” Ujar Lifer terdengar sangat yakin.
“Kalau gitu, ayo segera berangkat. Kalian pasti sibuk.” Ayah melirikku dan melanjutkan, “Icha, kemari Nak. Bayu harus berangkat.”
Seketika ekspresiku tambah cemberut. Tapi aku tetap menuruti kata Ayah, melangkah mendekatinya bersama Bayu yang juga berjalan di sisiku.
“Ayah, aku berangkat. Icha, aku titipkan pada Ayah.” Katanya sembari menepuk-nepuk punggung tanganku dan melepaskannya.
“Kau tenang saja di sana. Ingat, keselamatan adalah nomor satu.” Jawab Ayah menatap ke empat pria di hadapan kami satu persatu.
Mereka mengangguk yakin dan segera berbalik untuk masuk ke dalam mobil. Benny dan Bayu satu mobil, Lifer dan Ronald di mobil lain.
Bayu melambai padaku dari dalam mobil. Aku balas melambai padanya, menatap pria itu sampai mobil yang dia tumpangi bergabung dengan mobil-mobil lain di jalan raya.
“Icha, bagaimana dengan proses serah terima pekerjaanmu?” Suara Ayah membuyarkan lamunanku.
Aku berbalik menghadap padanya dan Wildan. “sudah selesai.”
“Jadi bisa pulang cepat?”
“Tidak. Malam ini aku sudah janji pada tim untuk makan malam.”
Tiba-tiba saja Ayah merogoh saku jas dalam nya, mengeluarkan dompet hitam. Aku terperangah melihatnya, tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya akan di berikan uang dari sosok orang tua, mengingat selama ini ketika aku mulai kerja, Ibu dan Daniel yang sering meminta uang untuk kebutuhan mereka.
“Tidak usah Ayah! Bayu sudah memberiku kartu VIP restorannya. Aku pikir di dalamnya juga ada saldo uang untuk makan malam.” Tolak ku karena Ayah menyodorkan kartu ATM berwarna hitam.
“Kalau gitu simpan saja dulu milik Ayah. Nanti kau gunakan untuk keperluanmu. Setelah pulang kerja, kau secara resmi menjadi pengangguran ‘kan?” Aku meringis tidak enak hati tapi Wildan justru tersenyum kecil dan mengangguk di belakang Ayah, walaupun aku masih punya uang untuk masa pengangguranku nanti, tapi tatapan serius ayah membuatku tidak bisa menolak.
“Baik. Akan aku simpan--”
“Dan di gunakan!”
“Kalau terdesak, akan aku gunakan.” Ayah mengangguk tidak membantahku lagi.
“Sekarang lebih baik kau kembali bekerja.” Aku mengangguk dan berbalik tapi perkataan Ayah menghentikan langkahku.
“Natasha, berikan mereka perasaan putus asa karena telah menyia-nyiakanmu.” Aku kembali berbalik dan tersenyum kecil, mengangguk yakin pada Ayah dan Wildan.
...
__ADS_1