
...
“Sudah lama sekali kita tidak kumpul seperti ini ya.” Ujar kakek Jeremy pada temannya, kakek Alvaro. Kedua pria tua itu saling melempar tawa senang.
“Akhirnya kita bisa menjadi satu keluarga seutuhnya. Aku benar-benar tidak menyangka cucu kita bisa berjodoh.” Jawab kakek Alvaro sempat melirikku dan Bayu di ujung meja, sekilas, semua orang ikut melirik kami.
Aku dan Bayu yang tadi sempat berdebat hanya saling pandang dan kembali menatap kakek Jeremy. Aku tahu, suasana di antara kami masih canggung dan bingung harus bagaimana memulai untuk berbicara dengannya.
“Betul. Mungkin dari awal kita sudah di takdirkan untuk menjadi keluarga. Aku tiba-tiba teringat Rose.” Kakek Jeremy tampak murung di akhir kalimat.
“Yaa. Rose. Dia wanita yang sangat baik. Dia sudah tenang di sana.” Jawab kakek Alvaro mengangguk. Mataku menangkap ekspresi sedih ayah Evano, dia sempat menunduk sebelum tante Renata menepuk tangannya pelan.
“Aku dengar cerita dari Kirana tentang Rose yang menanyakan tempat les saat anak-anak itu kecil dulu.” Kali ini nenek Nella bersuara. Semua orang beralih menatap bunda Kirana.
“Betul. Itu lah awal mula mereka bertemu, iya ‘kan, Bayu, Icha?” Bunda melirik kami yang membuatku sedikit kaget karena langsung mendapat semua perhatian.
“Yaa.” Jawab kami berdua kompak.
“Kau dan Rose sangat dekat, Cha?”
“Yaa. Bibi Rose sudah aku anggap ibuku sendiri. Dia sangat baik dan aku sangat menyayanginya.” Aku menjawab pertanyaan kakek Jeremy, tersenyum kecil mengingat lagi sosok bibi Rose. Rasanya senang sekali karena orang-orang di sini mengenal dan mengenangnya.
“Rose adalah wanita yang sangat baik. Dia bahkan mewariskan semua hartanya pada Icha.” Nenek Nella seolah melempar bom yang siap meledak padaku.
“Err—Ya.”
__ADS_1
“Dan kau dengan baik hati meminta semua peninggalan Rose untuk di berikan pada ibu angkatmu itu.” Lanjutnya seolah benar-benar meledekkan bom, aku menatap nenek Nella yang masih menatapku tajam, dia seperti menantangku menjawab di hadapan semua orang.
“Benar. Bagaimana pun, ibu angkatku tetaplah kakak kandung bibi Rose, aku pikir dia lebih berhak mendapatkannya dari pada aku.” Aku menjawab yakin, masih menatap nenek Nella yang langsung memalingkan pandangannya sedikit kesal.
“Bagaimana kalau kita mulai makannya? Aku sudah lapar.” Suara Bayu mengalihkan perhatianku. Semua orang seperti terinterupsi dan mereka mengangguk menyetujui usul Bayu.
Aku tahu, mereka semua pasti sempat diam terpaku karena aura perdebatan yang sempat memancar dariku dan nenek Nella.
Ketika semua orang sudah sibuk dengan makanan dan obrolan mereka masing-masing, aku dan Bayu masih tetap diam, tidak ada yang berusaha memulai.
Alisya yang ada di sisi kiri Bayu sedang sibuk memainkan ponselnya jadi menghiraukan kami, tapi tidak dengan paman Kenzo. Aku tahu, dia seperti mencoba memulai percakapan denganku hingga piring makananku hampir habis, barulah paman Kenzo menatapku sepenuhnya.
“Jadi, kalian sedang bertengkar?” Tanyanya pelan, berbisik padaku.
Aku hanya mengangguk menjawabnya, tidak berniat berbohong ketika sudah ketahuan.
“Well, itu adalah hal biasa untuk setiap pasangan, ‘kan?”
“Ya. Hal biasa yang tidak pernah bisa untuk terbiasa setiap kali terjadi.” Kataku. Rupanya Bayu mendengar percakapan kami, dia sempat melirikku tapi tidak berkomentar.
“Aku ingat dulu setiap kali kami bertengkar, pada akhirnya dia sering mengatakan sesuatu yang membuat pertengkaran kami terasa lebih berharga.” Paman Kenzo berkata sembari pandangannya melamun menatap piringnya yang sudah kosong.
Aku memandang sepenuhnya, menanti perkataan paman Kenzo selanjutnya.
“Katanya, jika kamu ingin menikmati pelangi, bersiaplah untuk menghadapi badai.” Perkataan pria di sampingku ini seolah menarikku dari kebisuan.
Namun pikiranku tiba-tiba teringat dengan pertemuanku dengan paman Kenzo pertama kali di rumah sakit.
“Paman, err—aku ingat tentang di rumah sakit. Ketika kau menangis.” Kataku hati-hati.
Paman Kenzo melirikku dan dia tersenyum kecil menenangkanku.
“Ya. Aku gagal memberikan kesan pertama yang hebat pada keponakanku ini.” Dia tersenyum lembut.
“Aku tidak mengerti.” Aku berkata jujur, kali ini benar-benar mengabaikan makanan di hadapanku, sembari meneguk air minum, dari sudut mataku, aku melihat paman Kenzo mengerutkan kening tidak mengerti juga.
“Apanya?”
“Paman Kenzo dan bibi Kenzie, kalian terlihat sangat baik padaku.”
“Dan kenapa kau harus mempertanyakan ini?” Paman Kenzo masih mengerut, tak mengerti.
__ADS_1
“Maksudku, bukannya, biasanya orang-orang dari keluarga bisnis dan kaya seperti keluarga Danendra, mereka akan bersaing memperebutkan harta? Dengan datangnya aku, mungkin saja posisi kalian terancam.” Aku berbisik penuh penekanan, berharap hanya paman Kenzo yang mendengarnya.
Tuk!
“Aww—Hei!!” Aku berbalik, melirik tajam Bayu yang baru saja mengetuk kepalaku dengan jari tangannya.
“Maaf paman, dia terlalu banyak nonton drama. Dia memang selalu to the point, jadi—”
“Ha ha ha ha. Tidak apa-apa. Sifatnya yang to the point seperti ini memang mirip dengan kakak ku.”
“Setelah kita diam-diam dari tadi, hal pertama yang kau lakukan adalah memukul kepalaku??” Tanyaku berbisik tajam pada Bayu.
“Jadi apa yang kau harapkan dariku, hm?”
“Semacam kejujuran? Tapi aku mengerti, kita punya ruang masing-masing, jadi aku menghargai keputusanmu untuk tidak menceritakannya padaku, mungkin memang lebih baik aku tidak tahu.” Kataku masih kesal dan penasaran, tapi dilema karena aku tidak mau memaksa.
“Kenapa kau pikir seperti itu? Aku malah menduga kau menyerah untuk membuatnya berkata jujur.” Tanya paman Kenzo.
Aku berbalik menatapnya dan menjawab. “Aku tidak menyerah, justru karena cinta bukan tali pengikat atau jaring penjerat, biarkan kisah kita tak terbatas ruang gerak. Kita memiliki dunia sendiri-sendiri. Kita pun memiliki dunia bersama.”
Paman Kenzo tampak terdiam tapi sorot matanya tidak fokus, seperti sedang berpikir keras.
Aku kembali berbalik menatap Bayu tajam yang juga sama-sama diam berpikir, tingkah dua pria ini sama persis, sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Hei, apa yang terjadi?” Suara wanita dari belakangku sedikit mengejutkanku. Ketika aku berbalik, bibi Kenzie sedang membungkuk di samping bahuku, antara aku dan paman Kenzo. Baru sadar kalau para pria di meja makan sudah selesai makan dan sekarang pindah ke ruang depan.
“Aku melihat tadi kalian sedang mengobrol asik sekali, tapi kenapa Kenzo sampai diam seperti ini? Dia jarang kalau sampai harus berpikir keras seperti ini.” Lanjut bibi Kenzie dengan seringaian puas.
Mendapat gelengan kepala dariku sebagai jawaban, kerutan dahi wanita ini semakin dalam. Namun suasana hening itu di pecahkan saat suara ayah Rasha berteriak dari ruang tamu depan, memanggil Bayu untuk datang padanya.
Bayu mengerjap beberapa kali lalu segera berdiri, sebelum dia pergi, lelaki ini sempat melirikku dan menatapku langsung. Tidak ada kata yang keluar dari kami berdua.
__ADS_1
...