EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 170


__ADS_3

...


 


 


 


“Dia orangnya?”


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Ronald.


“Kau tidak mengenalnya?” Tanya Bayu pada prof Bora setelah dia melepaskan topi yang di pakai si penguntit.


Sekarang aku bisa melihat dengan jelas wajahnya, dia terlihat lebih muda dari dugaanku.


“Aku tidak mengenalnya. Dia juga bukan muridku.” Jawab prof Bora berdiri mendekat.


Aku tidak sadar ketika Talia sudah ada di sampingku karena sibuk menatap wajah si penguntit. Wanita ini tanpa aba-aba langsung menyambutku dalam pelukannya.


“Bagaimana kabarmu?” Tanyanya setelah kami melepaskan pelukan singkat.


“Jauh lebih baik sekarang.” Jawabku tersenyum senang.


“Ayo kita masuk, biar mereka mengurusnya.” Ajak Talia membantuku membawa tiang infus dan segera membuka pintu kamar.


Aku hanya mengikuti wanita ini tanpa banyak protes, dia menuntunku menuju tempat tidur.


 


“Terima kasih.” Kataku karena Talia membantuku untuk naik.


Sekarang aku sudah sepenuhnya duduk bersandar di atas ranjang dan Talia duduk di sisi kananku. Hanya ada kami berdua di sini.


“Oh ya, Bianca titip salam untukmu. Dia tidak bisa datang dan menitipkan sesuatu untukmu.” Katanya menunjuk sebuah paper bag besar yang sudah di letakkan di atas nakas.


“Titipkan salam dan terima kasih untuknya.” Talia mengangguk menjawab ucapanku.


“Aku sudah mendengarnya.” Talia tiba-tiba tersenyum menggoda.


“Mendengar apa?” Tanyaku heran.


“Soal rencana pernikahanmu dengan Bayu. Katanya dua minggu lagi?”


“Ahh kalau soal itu, sebenarnya Bayu belum membicarakannya denganku, dia hanya mengatakan itu pada kakeknya.” Jawabku tersenyum malu mengingat lagi kalua lelaki itu belum berbicara serius tentang rencananya.


Namun Talia justru terkekeh dengan sorot mata yang masih menggodaku. “Berpacaran setelah menikah bukan kah akan lebih bebas?”

__ADS_1


Aku tidak bisa menahan tawaku, perkataannya membuat pikiranku memikirkan yang tidak-tidak. “Sepertinya dari pengalaman, ya?”


Aku mencoba membalikkan keadaan. Sekarang Talia yang terlihat tersentak malu. Matanya berusaha menghindari tatapanku tapi dia tetap menjawab. “Hmm.. Sedikit.”


Kami berdua tertawa setelahnya, sama-sama merasa konyol.


“Jadi, kau dan Lifer pacaran setelah menikah?” Tanyaku, kali ini lebih ke penasaran.


Talia menoleh, menatap ke luar jendela dengan pandangan melamun, seperti sedang mengingat semua kenangannya. “Aku tidak yakin apa itu yang di sebut pacaran.”


Ada rona merah yang perlahan muncul di kedua pipinya.


“Jadi, apa yang biasa kau sebut kalau bukan pacaran?” Tanyaku bingung.


Talia menoleh padaku lagi. “Hehehe… Sebenarnya ada lebih banyak rasa sungkan dan kecanggungan di antara kami dari apa yang terlihat.”


Jawaban wanita ini semakin terdengar ambigu, ada makna yang dalam dari ucapannya. Aku ingin bertanya lebih lanjut tapi seseorang membuka pintu kamar yang langsung membuat kami menoleh seketika.


Bayu masuk bersama Lifer. Hanya ada mereka berdua.


“Bagaimana?” Tanya Talia setelah Lifer menutup pintu kamar di belakang punggungnya.


“Ronald dan Benny membawanya pada dokter Stefan. Bora juga ikut.” Jawab pria bermata sipit itu pada istrinya.


“Apa yang terjadi?” Tanyaku penasaran.


“Dia mengikuti professor Bora sejak kemarin karena katanya ingin mengajaknya menjadikan model di perusahaan hiburan. Untuk memastikannya dia akan di intrograsi oleh Ronald dan Benny lalu menyerahkan pada dokter Stefan dan prof Bora untuk hukuman yang akan dia dapatkan nanti.” Jawab Bayu kali ini sudah duduk di tempat Talia tadi.


“Bukannya lebih mudah langsung di serahkan pada polisi saja?” Tanyaku lagi.


“Inginnya sih begitu, tapi prof Bora ingin membawanya dulu pada dokter Stefan.” Aku mengangguk mendengar penjelasan Bayu.


Sudut mataku melihat sekilas Lifer dan Talia yang sudah duduk di sofa, keduanya duduk berdampingan sembari mengobrol pelan. Meski sekilas tapi aku bisa merasakan suasana serius di antara keduanya, tidak seperti biasanya.


“Sepertinya sedang ada masalah, tadi di kantin juga mereka makan terpisah dengan kami.” Kata Bayu menyadari arah pandanganku.


“Tapi ngomong-ngomong aku baru ingat, bukan kah ada rencana kakek Jeremy dan ayahmu datang ke sini? Tidak jadi?” Tanyaku teringat masalah penjahat yang ada di vila.


Ada tatapan serius yang di layangkan Bayu sebelum menjawab. “Mereka sudah ke sini tadi pagi. Saat kau datang mencariku ke bawah itu ketika aku sudah mengantar pulang mereka ke depan.”


“Gitu ya? Lalu bagaimana hasil penyelidikannya? Siapa mereka?” Aku tidak sabar lagi mendengarnya.


Bayu menghela napas pelan dan tangannya meraih tanganku untuk dia genggam. “Aku ingin mengatakannya besok. Hari ini kau harus istirahat total, tidak boleh banyak pikiran!”


Aku mengerutkan kening, merasa kalau penjahat itu ada hubungannya denganku. “Tapi—“


“Aku tidak ingin mendengar bantahan!” Katanya tegas dan serius.

__ADS_1


Bibirku terlipat menjadi garis lurus, hari ini Bayu benar-benar keras kepala dan menyebalkan. “Tapi dengan satu syarat.”


“Apa?”


“Besok, aku ingin keluar dari sini! Aku sudah merasa sangat baik.”


Bayu terdiam sebentar, matanya menatap dalam ke mataku lalu dia menjawab. “Tapi besok kamu harus izin kerja lagi. Istirahat di rumah! Tidak ada bantahan!”


Aku semakin cemberut mendengarnya tapi aku tahu tidak ada gunanya berdebat.


 


***


 


“Oke dok, aku akan datang untuk periksa. Sampai jumpa.” Aku memutuskan sambungan setelah mengucapkannya dan menatap jam digital di layar ponselku yang menunjukkan pukul 18.32 malam.


Setelah tadi mendapat pesan dari dokter Cilia yang menanyakan kabarku, aku memutuskan untuk menghubunginya dan kami mengobrol sebentar.


Di ruangan ini tidak ada siapapun, Talia dan prof Bora yang tadi siang menjagaku sehingga Bayu bisa pulang, istirahat di rumahnya meski aku harus menghadapi dulu wajah Bayu yang cemberut karena aku memintanya untuk pulang.


Kedua wanita itu sudah pulang sejak tiga puluh menit yang lalu dan Bayu juga sudah mengabari sedang menuju ke sini untuk menjagaku malam ini padahal aku melarangnya, aku tidak keberatan kalau harus sendiri tapi lelaki itu keras kepala.


Kemudian tentang seseorang yang mengikuti prof Bora, dia mengaku sebagai salah satu dari agen hiburan, katanya melihat prof Bora yang cantik, dia ingin merekrutnya sebagai artis dengan mengikuti wanita itu agar lebih mengenalnya.


Meski mencurigakan, tapi prof Bora memutuskan untuk melepaskannya dan memperingatinya kalau dia masih mengikutinya dia akan langsung lapor polisi. Tidak heran memang karena tunangan dokter Stefan itu sangat cantik.


Tiba-tiba aku teringat dengan ibu dan Daniel, mereka sudah lama tidak pernah menghubungiku. Tapi memang biasanya juga seperti ini jadi—yaa, pasti mereka menganggapku bukan bagian keluarga mereka.


 


Lalu ayah! Oh benar!


 


Aku ingat tentang ucapan ayah terakhir kali, dia memberitahu ku tentang anaknya yang di rawat di rumah sakit ini juga. Apa aku coba lihat?


Aku ingat mengatakan pada Bayu pagi itu kalau aku tidak ingin pergi melihat tapi tetap saja, haruskah?


 


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2