
...
“Halo Diana. Bayu.” Lelaki ini mengulurkan tangan.
“Diana.” Katanya singkat membalas jabat tangannya. Setelah itu aku bisa merasakan lelaki ini menyentuh tanganku, hendak menggenggam tanganku tapi di urungkan dan hanya menatapku dengan kening berkerut.
“Kenapa kulitmu terasa dingin?” Perkataannya membuat Diana, Lucy dan Dika melirik ku.
Aku balas mengerutkan kening sembari menyentuh tanganku sendiri.
“Karena aku keturunan vampir.”
“Ha ha, lucu sekali.” Jawabnya kaku. “Kalau begitu, aku keturunan srigala.”
“Ha ha, lucu sekali.” Aku meniru perkataannya tadi yang detik berikutnya membuat kami saling menyeringai geli.
Tanpa perlu di beri intruksi, Lucy melangkah lebih dekat dan menyodorkan jaket denim milik ku pada Bayu yang langsung di terima lelaki ini.
“Kau memang ahli nya untuk meniru ku.” Katanya lagi ketika dia membantuku memakaikan jaket
“Akan aku anggap itu sebagai pujian.” Kataku sembari menyeringai padanya, Bayu hanya menggeleng dan berdecak.
“Mungkin pengaruh AC di lift tadi.” Kali ini suara Lucy yang menjawab inti pembicaraan kami tadi. Aku meliriknya dan tersenyum padanya.
“Kalau gitu, ayo.” Ajak ku, segera saja Diana memimpin jalan kami dengan Bayu yang berjalan di sampingku. Lucy dan Dika mengikuti kami dari belakang dengan tenang.
.
..
…
“Urusanmu sudah selesai? Aku kira akan lebih lama.” Aku bertanya pada Bayu yang duduk di samping kiri ku saat kami sudah menempati meja restoran. Mungkin karena waktu makan siang sudah lewat, restoran ini agak sepi sekarang.
Lucy dan Dika duduk di meja lain, sedangkan Diana ikut duduk menemani kami setelah memesan makanan. Ayah Evano menyuruh kami untuk memesan duluan karena dia akan segera sampai.
“Mereka hanya membutuhkan informasi dariku, untuk eksekusinya, mereka sendiri yang akan pergi.” Aku mengangguk mendengar jawaban Bayu.
__ADS_1
“Lalu apa yang kau lakukan hari ini?” Tanya nya terlihat penasaran. Seluruh perhatiannya tertuju padaku.
“Tidak banyak. Aku hanya datang ke rumah Camila, menemaninya selama pemakanan lalu ayah Evano memintaku untuk datang ke kantor.” Dari sudut mataku, aku tahu kalau Diana diam-diam mendengarkan pembicaraan kami di samping dia sibuk dengan ponselnya.
“Bukan kah ini pertama kalinya kau datang ke kantor ayah?”
“Benar. Aku juga tidak tahu kenapa dia memintaku datang. Kami hanya mengobrol beberapa hal.”
“Tapi ngomong-ngomong, bagaimana dengan Dika? Kalian sudah akrab?” Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan, tidak baik jika aku berbicara tentang wali yang di tunjuk ibu kandungku pada Bayu di depan Diana.
“Ahh dia? Masih kaku. Tapi mungkin memang ini hari pertama.” Jawab Bayu sembari melirik Dika yang sedang waspada dengan jalanan luar restoran.
“Apa dia juga akan ikut denganmu selama bertugas?”
“Aku pikir tidak secara terang-terangan, dia tetap akan ada di dekatku, mungkin akan menyewa tempat tinggal dekat camp. Ayah Rasha akan melakukan apapun agar dia selalu ada kalau aku dalam bahaya padahal aku sendiri saja cukup, maksudku, pekerjaanku juga mengharuskan aku pintar bela diri.” Keluh Bayu yang justru membuatku terkekeh pelan melihat wajah lesunya.
“Tidak apa, pencegahan lebih baik dari pengobatan ‘kan?” Jawabku.
“Tapi setidaknya kau hanya di ikuti oleh satu orang, sedangkan aku, ke depannya akan ada dua orang.” Sekarang aku yang gantian lesu mengingat tentang Yudha.
“Soal asisten yang ayahmu tunjuk itu ya.”
“Sebelumnya, ayah Evano meminta pendapatku tentang asisten barumu saat di vila. Aku sudah mengecek identitasnya, dia adalah keponakan asisten ayahmu, Wildan.”
“Yudha??” Tiba-tiba Diana bertanya yang refleks membuatku dan Bayu menatapnya.
Benar, dia sedang menguping pembicaraan kami, dan aku tidak bisa menyalahkan nya mengingat dia bergabung satu meja dengan kami.
“Ya.” Jawabku singkat padanya dan kembali melirik Bayu.
“Aku ingat, di vila ayah pernah menyinggung kalau kau tahu.”
“Dari kecil dia sudah bekerja di rumah ayahmu, membantu Wildan dan sudah bekerja di perusahaan sejak dia keluar SMA. Jika dia di tempatkan sebagai asistenmu, aku rasa itu pilihan yang baik.” Lanjut Bayu yang semakin membuat bibirku berlipat menipis.
“Aku tidak terbiasa dengan ini.” Kataku. “Apa kamu enggak cemburu?”
“Aku cemburu!” Bayu mengangguk. Aku mengerutkan kening, menatapnya heran. Ekspresi wajahnya terlihat biasa saja.
“Apa kurang meyakinkan?” Tanya nya yang seketika membuatku jengkel. Bayu tertawa puas yang membuatku semakin cemberut.
__ADS_1
Dia mengangkat tangannya lalu mengusap puncak kepalaku. Sebelum kami lanjut berdebat, pintu restoran terbuka di ikuti dengan sosok ayah Evano bersama Wildan dan Yudha di sampingnya.
“Sudah pesan belum?” Tanya ayah langsung begitu dia sudah sampai di dekat meja kami.
“Sudah.” Jawabku dan Bayu kompak.
“Kalian juga pesan lah.” Ayah mengatakan pada Wildan, Yudha, Dika dan Lucy yang ada di belakangnya.
Diana berdiri dan mempersilakan ayah Evano duduk di tempatnya tadi, di hadapan kami. Sudut mataku juga melihat empat orang itu duduk satu meja tak jauh dari meja kami. Mereka membiarkan aku dan Bayu memiliki waktu kami bersama ayah.
“Urusanmu sudah selesai?” Tanya nya pada Bayu.
“Sudah, lebih cepat dari yang aku duga.”
“Lalu, apa rencana kalian ke depannya?” Ayah yang tiba-tiba bertanya tentang itu membuatku langsung melirik Bayu, lelaki ini juga sama, melirikku.
“Rencana? Tentu saja besok kami harus kembali bekerja.” Jawabku.
“Aku dapat kabar dari Rasha, kalian menolak safe house?”
“Tapi rumah yang akan kami tempati juga akan ada pengaman, jadi aku pikir mungkin lebih baik kami menempati rumah itu. Lebih baik di lingkungan yang ramai dari pada safe house yang mungkin letak nya jauh dari rumah lain.” Jawab Bayu.
“Betul, tapi tetap saja, safe house memiliki tingkat keamanan yang tinggi.”
“Keseharian kami ada di kantor jadi punya dua orang yang mengikuti kami sudah lebih dari cukup. Ayah tenang saja, lagi pula aku tidak ingin ada di safe house sendirian selama enam bulan.”
“Enam bulan? Kau akan kembali bertugas di perbatasan?” Tanya ayah pada Bayu.
“Ya, ada tugas penting sebelum itu, jadi aku harus cepat-cepat kembali bekerja.” Aku menghela napas panjang, padahal kebersamaan kami belum ada dua bulan, tapi kami harus memiliki hubungan jarak jauh.
“Aiyooo… Kau pasti sangat kesal ya, baru menikah tapi sudah di tinggal pergi kerja oleh suamimu.” Ayah Evano terkekeh pelan menatapku.
Aku mendongak, balas menatapnya dan hanya tersenyum masam mengiyakan, hal itu justru membuat dua pria ini menggeleng dan saling melempar kekehan pelan.
“Sayang sekali, sepertinya untuk mendapatkan cucu akan tertunda.”
“Ayah!!” Aku merengek malu sekali. Wajahku terasa panas tapi ayah Evano justru tertawa dan Bayu, dia hanya tersenyum kecil menatapku dan ayah bergantian.
...
__ADS_1