
...
“Tidak! Melihat kalian yang begitu bahagia seolah apa yang membuat kami tidak nyaman untuk rencana malam ini menguap hilang. Kami di sadarkan lagi kalau rencana ini bukan untuk merasakan ketidaknyamanan, kami tidak seharusnya menjadikan perasaan ini beban, melainkan untuk kebahagian kalian. Tujuan awal kami mengadakan pernikahan secepatnya adalah demi keamanan kalian, agar kalian selalu bahagia.”
“Makasih bun.” Aku memeluknya.
Kami berdua saling melempar tawa. Pikiran negatif ku tadi juga seperti menghilang. Beban yang tadi aku rasakan juga terangkat.
Suara ketukan pintu lain menghentikan tawa kami. Pintu terbuka menampilkan seorang gadis bersama pria tegap di belakangnya.
“Alisya, Zac. Ayo masuk.” Kataku mengajak mereka.
“Ka Icha, ada kiriman dari kak Bayu.” Alisya tersenyum lebar, melangkah senang mendekatiku. Gadis ini cantik sekali dengan gaun putih selutut, menampilkan kakinya yang jenjang di balut sepatu hak tinggi. Rambut panjangnya juga di biarkan terurai dan di buat ikal. Di sudut matanya aku bisa melihat ada kilauan gliter berwarna merah muda di sana.
“Ini, katanya harus langsung di makan. Alisya harus jadi saksi.” Gadis ini menyerahkan botol kecil berisi tiga butir obat.
Aku mengangguk dan menerima obat itu. “Makasih Alisya.”
“Zac, ambilkan minum.” Perintah Alisya namun tidak di bantah pria itu. Dia dengan sigap menuangkan air ke dalam gelas yang ada di meja kecil di samping pintu.
Untuk selanjutnya Alisya mulai berceloteh tentang bagaimana pernikahan ini terwujud dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Aku hanya bisa tertawa melihat bagaimana gadis ini begitu ekspresif di bandingkan dengan tampilannya yang anggun bak putri kerajaan.
Namun lagi-lagi suara ketukan pintu memaksa kami untuk menghentikan tawa. Di ambang pintu sudah ada ayah Evano, kursi rodanya di dorong oleh paman Kenzo masuk ke ruangan.
Bunda Kirana, Alisya dan Zac secara otomatis pamit keluar, tidak ingin mengganggu kami.
“Icha!” Sapa paman Kenzo yang terlihat tampan dan gagah memakai setelannya.
“Paman.” Balasku tersenyum lembut menyambut mereka.
“Bagaimana? Gugup?” Tanyanya.
“Sedikit.”
Paman Kenzo mendorong kursi roda ayah sampai dekat denganku. “Kalau begitu, aku akan meninggalkan kalian berdua. Nanti aku panggil kalau sudah waktunya.”
Aku mengangguk menjawab ucapan paman Kenzo. Kemudian dia segera berjalan menuju pintu, menghilang di balik sana dan menutup pintunya dari luar.
“Bagaimana lukanya?”
“Sudah lebih baik. Baru saja minum obat.” Ayah mengangguk mendengar jawabanku.
“Kamu benar-benar enggak keberatan ayah yang mengantar ke altar, ‘kan?” Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaannya.
“Enggak. Kenapa ayah tanya itu?”
“Ayah merasa tidak pantas mengingat kita baru pertama kali bertemu tadi pagi dan malamnya ayah tiba-tiba mengantarmu ke altar.”
__ADS_1
“Tentu saja tidak! Bagaimana pun fakta kalau aku anak ayah tidak bisa di bantah, ‘kan?”
“Ayah memakai kursi roda—”
“Omongan orang lain enggak usah di pikirin!” Sela ku menduga ayah pasti mendengar orang-orang membicarakannya.
“Tapi Icha, kalau ayah mengantarmu, orang-orang di sini yang ada hubungannya dengan keluarga kita, mereka akan menganggapmu menerima statusmu. Cepat atau lambat mereka akan mulai mendekatimu.” Melihat kekahwatiran ayah Evano mengaingatkanku pada obrolan kami tadi pagi.
Aku bersikeras tidak ingin ada hubungan dengan urusan keluarga Danendra karena memang aku merasa tidak pantas datang tiba-tiba ke keluarga ayah dan menjadi pewaris begitu saja. Di samping itu aku juga ingin hidup seperti wanita normal lainnya, tidak pernah terbayangkan untuk di kelilingi kemewahan dan pusat perhatian.
“Untuk hal itu, kita bisa memikirkannya nanti. Sekarang, ayah tidak usah khawatir. Bunda Kirana mengatakan kalau ayah, kakek dan yang lainnya sangat khawatir tentang acara malam ini.”
“Kirana memang sangat perhatian, seperti dulu.” Kata ayah sembari tersenyum kecil dan menggeleng.
“Baiklah kalau kamu tidak keberatan ayah yang mengatar, maka ayah tidak akan membuatmu malu.” Lanjutnya terdengar misterius.
Lalu suara ketukan pintu terdengar di ikuti suara seorang laki-laki dari luar. “Tuan, nona. Sudah waktunya.”
“Wildan, masuk!” Jawab ayah setengah berteriak. Detik berikutnya pintu terbuka, asisten ayah masuk bersama dua orang pria lain yang membawa kamera.
“Semuanya sudah siap, tuan.”
“Bagaimana menurutmu kalau malam ini aku memutuskan untuk kembali?” Tanya ayah terdengar ambigu di telingaku.
Ekspresi wajah Wildan yang sebelumnya tampak tenang kini berubah kaget sekaligus senang dan berganti menjadi khawatir di akhirnya. Bunyi klik klik kamera terdengar sangat keras saat dua pria di depanku ini saling pandang diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Tidak, aku hanya melihat papan catur, tapi tidak meletakkan bidak caturnya. Aku tidak mengerti.” Jawab Wildan semakin membuatku mengerutkan kening tidak mengerti. Di saat seperti ini mereka justru berbicara tentang catur?
“Aku juga ingin meletakkan bidak catur ini. Tapi aku tidak tahu harus di letakkan di mana.” Lanjut Wildan.
“Kalau begitu, itu tergantung pihak lawan akan meletakkan bidak caturnya di mana.”
“Pihak lawan meletakkan bidak catur yang tidak terlihat.”
“Jika kamu ingin bermain catur dengan seseorang yang kamu maksud, maka jangan menebak di mana bidak caturnya di letakkan. Tapi harus mendahului satu Langkah darinya. Setiap orang punya titik kelemahan. Kamu tidak meletakkan bidak catur, dia juga tidak meletakkan bidak catur. Lalu bagaimana kalian memainkan caturnya? Jadi aku rasa, ada bagusnya jika kamu meletakkan bidak caturnya lebih dulu, pancing dia keluar.” Jelas ayah tenang sembari melirikku.
“Mendahului untuk menangani lawan, ini bisa juga di sebut strategi.” Katanya lagi.
“Aku tidak punya banyak taktik seperti tuan Evano.” Akhirnya Wildan tersenyum kecil seolah mengerti maksud penjelasan ayah.
Aku terdiam, mengerutkan kening, tiba-tiba apa yang ayah katakan barusan memenuhi pikiranku.
Catur? Bidak catur yang tidak terlihat? Apa mungkin ayah sedang merencanakan sesuatu? Tapi caranya menjelaskan terdengar pintar.
“Ayo sayang. Sudah waktunya.” Suara ayah yang lembut membuyarkan lamunanku.
Aku meliriknya dan harus terkejut melihat ayah sudah berdiri di depanku tanpa kursi roda. Tangan kanannya terulur ingin membantuku berdiri.
“A—ayah, kau—”
__ADS_1
“Ayah tidak akan mempermalukanmu di hari penting ini.”
Aku menerima uluran tangan ayah, berdiri di samping ayah membuatku sadar kalau ayah memiliki tinggi yang hampir sama dengan Bayu tapi Bayu sedikit lebih tinggi darinya.
Wildan tersenyum senang, aku baru kali ini melihatnya tersenyum selebar itu sejak bertemu dengannya tadi pagi.
“Selamat datang kembali, tuan Evano.”
***
Detak jantungku terdengar lebih keras dari biasanya saat aku sudah berdiri di depan pintu besar yang tertutup bersama ayah Evano di sampingku. Sebelah tangan kananku melingkar di tangan kiri ayah sedangkan tangan kiriku memegang buket bunga nosegay yang di buat klasik dan sederhana namun tetap elegan, terlebih bunga mawar merah muda dan putih sangat cocok dengan gaun ku. Veil kain lace putih sudah menutupi wajahku.
Aku gugup sekali sampai rasanya perutku sedang di gelitiki tapi ayah Evano menepuk pelan punggung tanganku yang menyentuh tangannya, aku meliriknya dan dia tersenyum kecil seolah sedang menenangkanku.
Aku balas tersenyum padanya lalu kembali menghela napas panjang untuk menenangkan detak jantungku.
...
Dear pembaca setia..
Sebentar lagi akan tamat, jadi mohon temani sebentar lagi,
__ADS_1