EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 104


__ADS_3

...


 


Aku tidak ingat sudah berapa menit perjalanan yang kami tempuh, yang jelas mataku perlahan terpejam mendengar suara Bayu yang awalnya protes dengan apa yang aku katakan tentang pertunangan, berganti menjadi lelaki itu melanjutkan diskusi di telpon dengan anggota timnya, di tambah suara mesin mobil dan udara yang semakin terasa sejuk.


Aku tidak benar-benar terlelap, aku masih bisa mendengar suara Bayu yang samar-samar. Rasanya sudah lama sekali aku tidak setenang ini, hanya mendengar suara tenang lelaki ini membuatku ingin lama terlelap.


Hingga aku merasakan mesin mobil di matikan, udara semakin terasa dingin dan Bayu masih berbicara di telpon tanpa langsung beranjak dari tempatnya, aku tidak berniat untuk bangun. Membiarkan lelaki di sampingku ini sibuk dengan urusannya sampai tak lama suara pintu mobil terbuka terdengar.


Ahh nyaman sekali! Aku tidak ingin beranjak dari posisi ini. Udaranya benar-benar terasa berbeda dan lebih nyaman di sini. Ketika pikiran-pikiran itu terus berputar, tidak lama aku mendengar pintu mobil di sampingku ini terbuka dari luar.


“Kalian pulang dan beristirahatlah setelah menyelesaikannya. Sisanya biar aku yang kerjakan.” Aku mengerjap, perlahan pandangan mataku mulai fokus dan jelas. Hal pertama yang aku lihat adalah Bayu sudah ada di sampingku, membungkuk memperhatikan wajahku dan dia tersenyum begitu aku sudah fokus menatapnya.


Di telinga kanannya masih terpasang airpod hitam, tangannya terangkat menyingkirkan helaian rambut yang menutupi pipiku. “Oke, nanti aku akan langsung melaporkannya.”


Setelah mengatakan itu Bayu melepaskan benda di telinganya dan memasukkannya ke dalam saku celana, kemudian sorot mata dan perhatiannya sepenuhnya tertuju padaku.


“Masih mengantuk?”


“Hmm.. Aku suka mendengar suaramu.” Aku tidak bisa berbohong, sejujurnya aku masih ingin mendengarnya.


“Kau bahkan menyukai suaraku?” Aku mengangguk, tersenyum malu melihatnya yang kemudian tertawa. Baru saja aku hendak bangkit duduk, berniat akan keluar mobil tapi lelaki ini menahan tanganku.


Tiba-tiba wajahnya sudah begitu dekat dengan wajahku, bahkan hidungnya hampir bersentuhan denganku dan hembusan napas hangatnya menyentuh kulit wajahku.


 


“Kau lupa apa yang tadi aku minta?”


Tidak bisa di tahan, aku menahan napas sambil menjawab. “Pe—pelukan?”


Lelaki ini justru tersenyum lebar dan sengaja menyentuh hidungku dengan hidungnya, lalu dia menjauh dariku.

__ADS_1


 


“Kau juga lupa caranya bernapas.”


Aku memberenggut kesal, dia sdang menggodaku ternyata. Kalau begitu. “Kau mendapatkannya, ayo sini peluk!”


Bayu semakin tersenyum puas setelah melihat kedua tanganku yang terangkat menyambut pelukannya. Lelaki ini kemudian mendekat dan aku segera melingkarkan kedua tanganku di sekitar bahunya, menempatkan kepalaku di bahunya.


Wangi parfum khas miliknya langsung tercium. Seperti mengerti apa yang aku pikirkan, Bayu menempatkan tangan kirinya di bawah lututku. Dia menggendongku dan mengeluarkanku dari mobil, menutup pintu mobil dengan kakinya dan mulai berjalan memasuki rumah minimalis di yang ada di hadapan kami.


Aku baru sadar, di sini hanya ada satu rumah dan di sekeliling kami pohon-pohon tinggi tapi jalan mobilnya beraspal masuk ke dalam hutan di belakang.


“Kita di mana?”


“Kita di rumah.”


Aku mengerutkan kening menatap wajah Bayu yang begitu dekat denganku. Tanganku bisa dengan mudah menyentuh wajahnya. Rahangnya terlihat mengeras karena dia mencoba untuk menahan tawa. Tatapan matanya lurus ke depan dan Bayu terlihat sangat tampan dan penuh percaya diri seperti biasanya.


“Aku tahu, aku memang tampan dan mempesona. Sekarang kau bisa sepuasnya menatap wajahku karena hanya ada kita berdua di dalam rumah.” Pipiku memanas dan aku itdak kuasa untuk tidak tersenyum malu.


Astaga!


 


Sepertinya aku sudah gila sampai memikirkan itu!!


Semua perasaan bahagia ini seolah menguap saat tiba-tiba rasa sakit yang menghantam sekujur tubuhku menyentakku. Denyutan menyakitkan itu kembali! Sakit yang sama aku rasakan saat di rumah sakit, tidak tidak! Rasanya sekarang lebih menyakitkan dan rasa panas merambat di sekitar dada kiriku, jantungku berdetak cepat dan sakitnya menusuk sampai punggung.


Aku tidak tahu sejauh apa Bayu membawaku masuk ke dalam rumah, aku menatap wajahnya yang sekarang terlihat samar-samar. Bahkan baru sebentar merasakan sakitnya, pandangan mataku tidak bisa fokus.


Dalam bayangan, sepertinya Bayu menyadari perubahanku. Lelaki ini menunduk dan aku mendengar suaranya.


 

__ADS_1


“Icha—“


Hanya mendengar suaranya memanggil namaku saja hatiku lega sekali. Aku kembali memeluknya erat, memejamkan mata dan menyembunyikan wajahku di antara leher dan bahunya. Mataku terpejam dan aku sudah berusaha untuk tidak mengerang sakit tapi nyatanya suara itu lolos dari mulutku.


Sekarang napasku sudah satu dua dan aku merasakan tubuhku telah di baringkan di atas kasur membuat rasa hangat pelukannya menghilang dalam sekejap.


 


“Sayang, aku akan mengambil obatnya. Aku akan segera kembali.”


Meskipun mataku terpejam aku tidak menyadari telah menahan tangannya. Lalu aku merasakan tangannya melepaskan tanganku yang menahannya dengan lembut lalu sebuah kecupan ringan di keningku terasa.


Lalu setelah sepuluh detik yang terasa panjang, telingaku mendengar suara cepat langkah kaki yang perlahan mendekat, di susul suara alat-alat yang di letakkan di meja sampingku. Sekarang kepalaku sakit sekali. Seluruh tubuhku semakin kesakitan, aku tidak kuasa menahannya.


Aku merintih pelan di susul isakan kecil.


“Ugghh!!” Seperti mengigau, aku mengepalkan kedua tanganku, berharap bisa mengurasi rasa sakitnya.


Sakit ini benar-benar menyiksaku. Rasanya aku tidak sanggup lagi menahannya. Aku—


“Kau akan baik-baik saja. Aku pastikan tidak akan ada lagi yang menyusahkanmu.” Rasanya ada sesuatu yang mencubit di tangan kananku bersamaan dengan suara Bayu.


Aku merasakan sesuatu mengalir di bawah kulitku, masuk ke dalam tubuhku yang secara perlahan membuat rasa sakit di sekujur tubuhku terkendali.


Dalam sekejap napasku sudah normal dan mataku perlahan terbuka. Sekarang pandanganku berangsur-angsur lebih fokus dari pada tadi. Dalam jeda waktu kurang dari lima menit hari ini, sudah dua kali hal pertama yang aku lihat saat membuka mata adalah wajah tampan Bayu, dia tersenyum lembut padaku dan ada kelegaan di sorot


matanya. Dia mengusap kepalaku lalu sekali lagi mencium keningku dalam dan lama.


Rasa sayangnya bisa aku rasakan lebih jelas dan bebas. Dalam hidupku aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mempertemukanku dengannya. Lelaki ini selalu memberikan cinta nya yang luar biasa padaku, aku merasa sangat beruntung.


“Kau akan sembuh! Kau akan berjuang untukku ‘kan? Tolong jangan menyerah. Aku akan ada untuk mendukungmu.” Bisikan halusnya membuai alam bawah sadarku, mataku perlahan terpejam dan kesadaranku di tarik paksa hingga aku tidak meraskan apa-apa lagi.


 

__ADS_1


...


__ADS_2