
...
Aku menggeleng. “Aku tidak tahu, tapi di keluarga ku tidak ada yang memilih karir dalam seni menggambar.”
Lalu tangan Ronald merebut mangkuk dan sendok di tanganku, sebelum aku protes dia berkata. “Biar aku suapi. Kamu mengingatkan ku pada adik ku di luar kota. Dia juga sepolos ini.”
“Polos? Memangnya aku sepolos apa?”
“Mungkin maksudnya karena mendengar ceritamu, adik Ronald juga sedang kuliah S1 di luar kota dan mengambil jurusan manajemen bisnis padahal Leona hebat dalam voli dan sempat di tawari masuk tim nasional. Tapi dia lebih memilih belajar serius untuk mendapat pekerjaan tetap di masa depan.” Penjelasan Lifer membuatku mengangguk, tidak menyangka pria berbadan besar dan berotot di depan ku ini memiliki adik.
“Alasan lain karena Leona sempat cedera, meskipun sudah menjalani rehabilitas dan sudah sembuh tapi tetap tidak ingin melanjutkan karir volinya.” Lanjut Ronald sembari memberikan setengah sendok bubur ke depan mulutku.
Agak canggung tapi aku tidak menolak dan menerima suapannya.
“Aku suka voli. Kalau saja aku menyukai voli saat di sekolah dulu, mungkin aku juga akan serius memilih karir di bidang voli.”
“Kenapa?” Tanya Lifer sekarang kedua tangannya sudah menggenggam apel dan pisau yang sejak kemarin ada sekeranjang kecil buah-buahan di atas nakas sisi lain.
“Aku baru benar-benar mengenal voli setahun belakangan ini karena menonton anime Haikyuu.” Jawabku menerima lagi suapan kedua dari Ronald.
“Anime ya? Hmm.. Memang sih istriku juga bilang kalau acara TV sekarang enggak ada yang rame dan kurang bagus. Dia beralih menonton india sebelumnya dan akhir-akhir ini selalu menonton anime sampai mengabaikanku dan tidak mengurusku.” Lifer cemberut sesaat membuat aku dan Ronald terkekeh pelan.
Pria itu kemudian bangkit berdiri, melangkah menuju kamar mandi.
“Ngomong-ngomong, memangnya kalian tidak bekerja hari ini?” Tanyaku menatap Ronald dan Benny. Aku baru ingat, hanya Bayu yang mendapat skors di sini sedangkan tiga temannya yang memakai pakaian bebas ini juga ada di sini.
“Karena Bayu di skors, kami ambil izin cuti.”
“Kenapa?” Tanya ku mendengar jawaban Benny.
__ADS_1
Pria itu tampak melipat tangannya di depan dadanya sembari ekspresinya berpikir sejenak. Posisinya sekarang sudah duduk di kursi kecil yang biasanya ada di samping ranjang ini.
“Kenapa kita ambil cuti?” Tiba-tiba Benny bertanya pada Ronald, hal itu membuatku menatap mereka curiga.
Ronald yang sejak tadi tangannya tidak berhenti menyuapiku langsung terhenti dan dia juga seperti sedang berpikir keras. “Karena Bayu di skors. Jadi kita ambil cuti.”
“Itu Jawaban Benny tadi.” Kataku, yakin mereka memang menyembunyikan sesuatu di balik alasan cuti mereka ini.
Mataku menangkap Lifer yang sudah kembali dari kamar mandi dan melangkah mendekati kami. Sesaat aku menatap Bayu dan Ana yang masih mengobrol serius berhadapan di sofa. Aku jadi ingat tidak mendengar apapun apa yang mereka bicarakan, padahal niat awal tadi aku mengajaknya masuk karena ingin tahu urusan Ana pada Bayu.
“Lifer, kenapa kalian cuti kerja? Apa ada hubungannya dengan Bayu?” Tanyaku langsung saat pria bermata sipit ini sudah duduk kembali di sisi kasur, tempatnya tadi.
Pisau dan buah yang basah di tangannya hendak ia kupas tapi terhenti sesaat mendengar pertanyaanku. Dia juga bingung menjawab.
“Kalau kau ingin berlibur, bukan kah harusnya bersama Talia?” Tanyaku lagi tidak ingin berhenti.
“Eh tapi ngomong-ngomong, apa yang di bicarakan Bayu dan Ana?” Bisikkan Ronald mengalihkan perhatianku.
Aku tahu, dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami dan itu berhasil. Aku lebih tertarik dengan Bayu sekarang.
“Wanita itu masih tetap mengatakan kalau Bayu adalah pacarnya. Dia meyakinkan banyak hal dengan menunjukkan bukti. Mungkin foto-foto mereka juga. Kalau aku jadi Bayu, aku tidak tahu bagaimana harus mengusirnya, kalian tahu kan keluarganya. Aku yakin kalau kita menyinggung sedikit dia, atasan akan mengomeli kita.” Jawab Benny juga berbisik.
“Apa keluarganya sangat berpengaruh di kemiliteran?” Tanyaku penasaran ikut berbisik juga.
“Setelah kita menyelesaikan tugas itu, untuk ucapan terima kasih mereka pada kami, sekarang keluarganya menjadi penyumbang senjata terbesar di kota.” Jawab Lifer.
__ADS_1
Perasaan cemburu ini semakin besar dalam hatiku. Keluarga Ana bahkan punya pengaruh di kemiliteran, dan keluarga Bayu juga orang-orang hebat dalam militer, kenyataan kalau keluarga Bayu menerimaku dengan terbuka dan Bayu sendiri begitu menyayangiku, aku jadi semakin menciut kecil kalau di bandingkan dengan Ana.
“Sebenarnya sebelum aku bertemu keluarga Bayu kemarin, aku sempat berpikir kalua keluarganya tidak akan menerimaku dengan mudah meski aku sudah kenal dengan Bayu sejak kecil dan kenal dengan bunda Kirana. Tapi aku tidak menyangka bahkan kakek Jeremy pun menyambutku dengan tangan terbuka.” Kataku melamun tanpa
sadar.
“Aku suka dan betah kalau berkunjung ke kediaman kakek Jeremy atau bunda Kirana, mereka memang dari keluarga militer yang kadang orang-orang menganggap mereka keras dan penuh peraturan tapi nyatanya mereka tidak pernah memaksa Bayu tentang urusannya. Kakek Jeremy dan ayahnya ingin Bayu bebas mengeluarkan
kemampuannya di kemiliteran dan bunda percaya pilihan Bayu tentang masa depannya.” Jawab Benny melirik Bayu sekilas.
“Iya dan menurutku karena dukungan keluarganya yang seperti itu. Bayu menjadi pintar dan baik dalam pekerjaannya dan dia juga menjadi sosok yang bahagia di samping orang yang di sukainya.” Ronald menambahkan. Aku mengangguk menyetujui ucapan mereka.
“Tapi jujur saja, aku kaget sekali ketika tahu Bayu dekat denganmu dan bahkan mengaku kamu pacarnya, maksudku dari awal dia tidak pernah menyinggung wanita bernama Icha. Dia memang sempat bercerita tidak menyukai tentang perjodohannya dengan Jane, lalu tentang Ana juga yang berpura-pura jadi pacarnya saat kami bertugas tapi tidak denganmu. Seolah kamu datang begitu saja dan langsung mencuri seluruh perhatiannya dalam sekejap.” Lifer bertanya serius padaku.
Aku tersenyum kecil, menunduk, menghindari tatapan ketiga pria ini.
“Yahh, ceritanya agak rumit. Iya ‘kan?” Tanyaku lalu mendongak melirik Benny, bermaksud menyinggungnya, mengingat pria itu sudah mencari tahu tentangku sampai detail.
“Sangat rumit.” Benny mengiyakan membalas tatapan tajamku.
“Lagi?! Kau mencari tahu detail tentangnya?” Lifer langsung berdecak gemas pada Benny. Mereka berdua pasti sudah tahu sifat pria ini.
“Maaf kan Benny ya Cha. Kalau soal Bayu, aku dan Lifer dia memang over protektif kalau ada orang baru di sekitar kami. Dia pasti akan mencari tahu sedetail mungkin.” Ronald berkata padaku dengan nada bersalah.
Aku menggeleng cepat. “Aku mengerti, itu caranya mengungkapkan sayang pada kalian ‘kan? Lagi pula apa yang Benny cari juga sesuai dengan fakta dan tidak melewati batas.”
“Betul! Aku tidak pernah melewati batas, hanya mencari sedetail mungkin! Seperti sedia paying sebelum hujan.” Bela Benny menatap Lifer dan Ronald bergantian.
Lifer melayangkan tatapan kesalnya dan Ronald hanya menggeleng sembari tertawa kecil.
“Dia lucu ‘kan? Akan lebih lucu kalau dia sudah punya pacar.” Sindir Ronald sembari menatapku dan memberiku sendok terakhir buburnya.
__ADS_1
...