
...
Percuma saja, nyatanya aku tidak bisa konsentrasi lagi untuk mengerjakannya!
Sejak tadi aku sibuk memijat kepalaku yang terus berdenyut di tambah sekarang tangan kananku menggenggam beberapa lembar tisu yang telah kotor oleh darahku sendiri. Sejak tadi pula aku bulak balik ke kamar mandi untuk membasuh mulutku yang memuntahkan darah.
Sekarang aku mencoba memejamkan mata, meletakkan kepalaku di atas meja dan berusaha menenangkan pikiran. Meskipun waktu sudah hampir pukul sebelas malam, tapi suara dari lantai bawah masih terdengar ribut.
Pandanganku menatap keluar jendela, melihat langit hitam tanpa bintang. Tidak bisa di hindari, semua perkataan Benny benar-benar memenuhi pikiranku.
Sekali lagi aku memejamkan mata, tenang dan rileks.
Aku harus tenang.
Tidak sampai lima menit, telingaku mendengar suara-suara langkah kaki menuju ke kamarku. Aku tidak berniat untuk membuka mata dan hanya diam. Kemudian langkah kaki itu sudah ada di depan pintu dan membukanya.
Dari jauh saja aku bisa mencium aroma parfum Bayu, lelaki itu melangkah pelan mendekatiku. “Icha, kau tidur?”
Aku diam tak bergerak, bernapas senormal mungkin dan mataku tetap terpejam. Pikiranku sedang di penuhi dengan ketidak percayaan diriku menghadapinya selain dengan tubuhku yang semakin lemas tak bertenaga..
Lalu aku merasa Bayu berdiri di sampingku, menutup laptop yang masih menyala di atas kepalaku, lalu tangannya menarik bahuku untuk bangun dan ia menyandarkan kepalaku di dadanya dengan pelan dan lembut. Tangan kirinya melingkar di punggungku dan tangan kanannya berada di bawah kedua lututku.
Dia mengeratkan gendongannya saat dia berdiri. Aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya menerpa keningku, detak jantungnya terdengar di telingaku dan hangat tubuhnya.
“Aku benar-benar tidak percaya melihatmu begitu peduli pada seorang wanita.” Itu suara Benny.
“Dan wanita yang kau maksud dalam ucapanmu itu adalah pacarku.” Jawab Bayu yang diam-diam membuatku ingin tersenyum. Lalu aku merasakan lelaki ini membaringkanku di atas kasur dengan lembut.
“Jadi kau sangat mencintainya, eh?” Kali ini suara Benny terdengar dekat denganku.
“Tentu saja! Sudah jelas bukan?”
“Kau tidak mencurigainya?”
“Untuk apa?”
“Bisa saja dia merencanakan sesuatu—“
“Jangan konyol! Kau benar-benar berpikir seperti itu? Apa jangan-jangan kau tadi berbicara dengannya dengan nada seperti ini?”
“Apa maksudmu dengan nada seperti ini?”
“Aku sudah mengenal sifatmu yang curigaan itu!”
Ada jeda yang panjang di antara keduanya, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan tapi tidak ada yang berbicara. Namun yang pasti adalah tiba-tiba saja tenggorokkanku kembali di penuhi cairan yang sejak tadi aku tahan.
__ADS_1
Astaga tidak! Darah sialan!
Jangan di hadapan mereka!
“Ya, aku tadi sempat berbicara dengannya.” Itu suara Benny menjawab.
Ya ampun sekarang kepalaku bertambah sakit.
“Aku jujur padanya kalau aku menyelidiki latar belakangnya.”
“Kau—“
“Dan kenapa dia tidak marah atau kesal padaku ketika aku mengatakan semua yang aku selidiki tentangnya?.” Pertanyaan Benny dengan nada murung di akhir kalimat membuatku berpikir. Memang apa yang dia harapkan dari reaksiku?
“Selama ini setiap wanita yang mendekatimu, aku melakukan hal yang sama dan justru mereka akan marah dan tidak menyukaiku dan pada akhirnya mereka menjauhimu karena tidak tahan kau berteman denganku.”
Kemudian aku merasakan tangan hangat Bayu menyentuh puncak kepalaku, mengusapnya lembut seperti biasa sebelum dia menjawab. “Dia sedang berjuang dengan caranya sendiri.”
“Saat nanti dia bangun, kau harus meminta maaf padanya!” Lanjut Bayu dengan nada lebih tegas dari sebelumnya.
“Apa?!”
“Jika sifatmu selalu seperti ini terhadap wanita, kau akan jomblo seumur hidup!”
Semua pikiran tenangku buyar saat ada sentakkan keras yang membuat seluruh tubuhku berdenyut kesakitan. Aku tidak bisa menyembunyikanya, sekarang udara seolah menipis di sekitarku dan erangan kecil lolos dari mulutku.
Aku tidak bisa untuk tidak bergerak meringkuk dan hal ini sukses membuat Bayu menyentuh pipi dan keningku dengan cepat.
“Kau demam lagi!”
“Cepat panggil dokter Stefan ke sini dan minta prof. Bora untuk menyiapkan sisa penawar racunnya!” Bayu berseru panik. Lalu terdengar suara langkah kaki cepat menjauhi kamar.
Setelah Benny pergi, perlahan aku membuka mataku. Hal pertama yang aku lihat adalah wajah Bayu sedang menatapku khawatir.
“Sayang, mana yang sakit? Katakan!”
Baru aku membuka mataku sedikit, tidak bisa di cegah darah dari dalam mulutku mengalir keluar dari sudut bibirku. Bayu belum menyadarinya karena dia sedang menunduk hendak menggenggam tangan kananku tapi ekspresinya tampak kaget saat menemukan sesuatu dalam genggaman tanganku.
“Bayu—“ Bisikku tidak berharap dia menemukan tisu bernoda darah di sana. ada perasaan bersalah melihatnya terlihat marah sekarang.
“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kau sudah berjanji untuk mengatakan padaku kalau kau kesakitan!” Suaranya bergetar karena marah yang tertahan dan setetes air mata keluar dari pelupuk matanya.
Aku tidak pernah menyangka reaksinya yang seperti ini. Melihatnya yang seperti ini lebih menyakitkan dari pada apapun yang pernah terjadi padaku.
Aku mengusap bibirku dengan punggung tangan untuk menghapus darah yang mengalir dari sana. Bayu mendekat dan menangkup kedua pipiku. Membersihkan darah yang ada di sana.
Dengan begini aku bisa melihat jelas wajah lelahnya.
__ADS_1
Dia sudah bekerja lebih keras hari ini, aku selalu merepotkannya seperti ini. Dan sekarang aku tidak bisa untuk tidak menutup mataku.
Aku juga lelah dengan sakit yang bertubi-tubi ini. Aku ingin istirahat sebentar saja—
“ICHA!!!” Pekikan Bayu sekarang terdengar jauh sekali.
Aku mencoba untuk tetap sadar meskipun susah sekali dengan sakit di tubuhku. Telingaku masih bisa menangkap kata-kata mereka meski kelopak mataku sudah terpejam dengan cepat.
“Apa yang terjadi?” Itu sudara dokter Stefan.
“Keluar darah dari mulutnya.”
Aku merasa seseorang menyentuh denyut nadi di pergelangan tanganku untuk satu menit berikutnya.
“Minggir! Aku sudah menyiapkannya, aku sudah menduga hal ini akan terjadi.” Prof. Bora menyela membuat dokter Stefan melepaskan tangannya pada pergelangan tanganku.
“Inilah yang aku usulkan pada kalian tentang memberikan penawarannya secara bertahap meskipun dalam ukuran kecil. Karena Icha sudah dua kali mendapatkan racun yang sejenis, tubuhnya tidak akan bisa langsung menerima penyembuhan dengan cepat.”
“Denyut nadinya melemah dan tekanan darahnya menurun. Ini terlalu berisiko untuk memberikannya penawar racun.” Dokter Stefan menjawab.
“Setidaknya kita harus mencobanya! Apa kau ingin kehilangannya begitu saja tanpa melakukan apapun?” Prof. Bora menyahut.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Ini yang aku pikirkan. Transfusi darah adalah satu-satunya. Terbukti dengan Icha yang sudah pendarahan seperti ini! Sekarang bantu aku agar darahnya cepat masuk!”
Selanjutnya aku merasakan cubitan kecil di tangan kananku dan aku merasa yakin kalau itu jarum untuk menghubungkan dengan kantung darah.
“Ternyata racun itu lebih berbahaya dari yang aku bayangkan.” Itu suara Ronald yang bergumam.
“Bayu—“
“Aku ingin cari udara segar.” Suara lesu Bayu yang di ikuti langkah kakinya menjauh dari kamar membuatku sedih.
Rongga dadaku sesak dan aku tahu kalau sudut mataku sudah meneteskan air mata. Aku selalu membuatnya khawatir.
“Ada apa dengannya? Bukankah seharusnya dia terlihat khawatir?” Terdengar suara Lifer dengan nada bingung.
“Lifer, kamu ini engga peka ya? Jelas-jelas yang tadi itu ekspresi menyesalnya!”
“Benarkah Ronald? Tapi aku tidak pernah melihat ekspresi Bayu yang seperti itu, jadi aku tidak tahu.”
Beberapa kali jari prof. Bora memeriksa pergelangan tanganku, lalu aku merasakan suntikan lain. Hanya beberapa detik, jarum itu terlepas di gantikan dengan plester kecil yang menempel.
Perlahan tapi pasti aku bisa merasakan perubahannya, sekarang denyutan sakit di sekujur tubuhku sudah lebih bisa terkendali, aku juga bisa bernapas lebih tenang. Namun mengingat lagi ekspresi terakhir Bayu tadi, aku tidak mampu untuk menahan air mata yang terus keluar dari sudut mataku.
“Ada apa Icha? Kau menangis karena kesakitan? Penawarnya sudah di suntikkan, kau akan baik-baik saja. Bayu menunggu mu jadi bertahanlah.” Bisikkan pelan prof. Bora membuai ku, jarinya mengusap pelan sudut mataku dan anehnya perlahan kesadaranku di tarik secara perlahan hingga aku rasanya melayang dan tidak merasakan apapun lagi.
...
__ADS_1