
...
Semua berteriak panik begitupun denganku yang tidak percaya melihat seseorang terluka di dekat pintu. Luka di
kaki pria itu menghentikan pemberontakkan penumpang lain.
Aku mulai merasa gugup dan ketakutan sekarang, mungkinkah saat penjahat itu sudah membawa anak-anak dalam mobil mereka akan pergi? Lalu kami di bebaskan?
Memikirkannya saja melegakan tapi tetap saja anak-anak itu dalam bahaya. Aku melihat gadis terakhir masuk ke dalam mobil namun mereka belum juga pergi. Tiba-tiba dua orang dari penjahat itu kembali masuk ke gerbong dan terdengar sahutan dari ibu-ibu yang kehilangan anaknya.
“Kalian mau bawa anak saya kemana? Tolong jangan sakiti anak saya. Bawa saja saya sebagai gantinya.” Sambil menangis beruraian air mata salah satu ibu itu mengatupkan kedua tangannya memohon pada penjahat yang melewati kursinya.
Setidaknya anak itu sangat beruntung memiliki ibu yang akan menukar nyawanya sendiri dengan keselamatannya. Rongga dadaku terasa menghangat namun menyakitkan melihat wanita itu menangis sesegukan.
Tapi pandanganku terhalangi saat lagi-lagi penjahat yang tadi mengancamku berdiri di hadapanku dengan wajah
tersenyum miring.
“Kamu ikut denganku.”
“Aku tidak mau!!” Itu bukan suaraku, jawaban itu terlontar dari seorang pria yang juga sedang berusaha di seret
paksa oleh penjahat lainnya.
Aku mengerti sekarang, sepertinya mereka akan mencari orang dewasa untuk menemani anak-anak itu.
“Ikut aku atau kau mati.”
Aku menelan salivaku susah payah, antara takut dan kesal menatap wajah penjahat ini. Aku tahu, dari tatapannya
dia sedang meledekku. Tapi melihat wanita-wanita yang kehilangan anaknya ini menangis tersedu satu sama lain membuat keberanianku untuk balas menatap penjahat ini semakin besar.
Entah keberanian dari mana, aku berdiri cepat, sedikit mencondongkan badanku untuk menarik tas kecil milik
dokter Cilia yang ada di kursi di hadapanku dan menyampirkannya di bahuku. Sesaat aku meringis menyadari ternyata bahu kiriku terasa sakit akibat pukulan penjahat ini tadi.
__ADS_1
Kemudian aku keluar dari kursiku dan berjalan melewati penjahat ini, sengaja sedikit menabrakkan bahu kananku pada lengannya. Aku bisa menduga bukannya marah, justru penjahat ini terkekeh pelan di belakangku dan berjalan santai mengikutiku.
Aku bisa melihat dengan jelas penumpang lain tengah menunduk ketakutan saat aku melewati mereka. Lalu aku di
tuntun oleh penjahat-penjahat ini untuk segera masuk ke dalam mobil. Aku bias merasakan orang-orang dari dalam kereta berebut mengabadikan mement ini memakai ponsel mereka.
“Buat anak-anak ini tenang! Jika tidak kamu akan tahu akibatnya.” Ujar salah satu penjahat yang sejak tadi diam di dekat pintu mobil.
Aku tidak menjawab tapi hanya menatapnya tajam. Begitu masuk ternyata lima anak-anak ini masih menangis sesegukan. Mereka bertambah menangis melihatku masuk.
Aku segera menempelkan jari di depan mulut, meminta mereka berhenti menangis tapi usahaku sia-sia justru mereka semakin menangis sambil mendekatiku.
Aku lupa, jika suaraku tidak bias terdengar.
“BERHENTI MENANGIS!!” Teriakkan kencang penjahat yang duduk di kursi samping pengemudi membuat anak-anak ini tersentak kaget dan kembali menangis.
Aku merasakan mobil mulai melaju menjauh meninggalkan stasiun. Lelaki jahat ini menatapku tajam karena tidak
berhasil menghentikan tangis mereka.
Benar dugaanku, ada sebuah buku gambar dan kotak pensil. Setelah mengeluarkan buku gambar dan pensil, aku mulai menggambar. Hal ini berhasil karena anak-anak ini mulai terdiam berminat memperhatikan gambarku.
Tidak lebih dari satu menit mereka semua sudah diam dan berkonstrasi memperhatikan gambarku.
.
..
…
Aku menduga sudah lebih dari satu jam kami berkendara. Satu-satunya hal yang bisa aku lihat di luar mobil adalah
mereka membawa kami ke dalam hutan. Ada jalanan yang biasa di lewati mobil di tengah hutan ini.
Sejauh mata memandang aku hanya melihat pohon lebat. Sesekali dua penjahat yang ada di kursi depan mengobrolkan sesuatu mengenai pertukaran kami. Aku tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti adalah mereka menculik anak-anak untuk di tukarkan dengan seseorang.
Aku melirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul tiga sore, sinar matahari sore yang terik keluar dari sela-sela dedaunan. Suara burung dari kejauhan jelas terdengar.
__ADS_1
Lima orang anak-anak yang ada di sekitarku diam cemberut, mereka masih ketakutan dan tidak berani berbicara.
Lalu sepuluh menit berikutnya mobil berhenti dan kami di paksa untuk segera turun.
Begitu aku turun, di hadapanku ada beberapa rumah panggung sederhana, beberapa wanita tampak ada yang mengintip takut-takut dari celah pintu rapuh mereka. Sedangkan pria-pria berbadan besar mulai muncul di hadapanku.
Sekarang jumlah pria yang memakai pakaian yang sama dengan penjahat ini semakin banyak. Aku tidak menyangka penjahat ini ternyata lebih banyak dari dugaan. Mereka seolah sudah menguasai tempat ini.
“MAJUU!!” Teriakkan beberapa pria yang tadi menculik kami mengagetkanku yang sedang berpikir.
Ada sepuluh anak-anak mulai merengek ketakutan sedangkan orang dewasa hanya aku dan seorang gadis yang lebih muda dariku berusaha menenangkan kelima anak kecil di sekitarnya. Gadis itu terlihat kentara sangat ketakutan. Untuk sesaat kami bertatap pandangan dan tanpa mengucapkan sepatah kata kami berdua berusaha menenangkan anak-anak ini sembari membawa mereka untuk mengikuti penjahat tadi.
Kami di bawa masuk lebih dalam desa ini dan menemukan rumah lebih besar dari yang di sekelilingnya. Saat di buka, di dalamnya banyak sekali barang bekas seperti dua mobil yang sudah berdebu tidak terpakai, kayu dan barang-barang lainnya.
Gudang luas ini menjadi pemberhentian kami yang terakhir. Meskipun ada penerangan tapi satu buah lampu
tidaklah cukup. Lalu pintu di tutup dan di kunci dari luar. Semua anak-anak ini mulai menangis kencang.
“Jangan takut ya. Kita akan segera keluar dari sini. Kalau kalian terus menangis, kita tidak bisa keluar.” Ucapan
gadis itu justru semakin menakuti anak-anak ini.
Aku mencoba mengucapkan kata, tapi aku tidak mendengar suaraku. “Ka, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” Gadis ini tiba-tiba mengiba padaku, matanya yang sudah berkaca-kaca dan ikut terisak bersama anak-anak ini semakin membuatku putus asa.
Ponselku tadi di ambil oleh penjahat yang menodongkan pistolnya padaku. Aku yakin gadis ini pun tidak memiliki
ponselnya. Kemudian aku segera merogoh tas milik dokter Cilia, menemukan buku note di sana dan bolpoin, lalu aku mulai menuliskan sesuatu.
“Aku sedang tidak bisa bersuara saat ini, apa kamu tahu apa yang mereka inginkan? Kenapa mereka menculik kita?”
Untuk sesaat gadis ini tampak mengerutkan kening menatapku bingung, tapi selanjutnya dia tetap menjawab. “Yang
aku dengar mereka akan membebaskan kita kalau pertukaran dengan seseorang yang ada di penjara terlaksana. Karena pemerintah tidak merespon cepat saat di kereta, mereka memutuskan untuk menculik anak-anak ini.”
...
__ADS_1