EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 83


__ADS_3

...


 


 


Ketika kakiku sudah hampir sampai di belokan koridor menuju ruangan dokter Stefan, aku melihat lelaki bermata coklat madu itu berbelok dari sana hendak menuju ke arahku. Dia menatapku kaget dan berjalan cepat menghampiriku yang sudah diam mematung di tempat.


“Ya ampun ada apa denganmu?”


“Apa ada kabar dari Bayu?” Aku menatap dokter Stefan penuh harap. Pria ini seolah tahu apa yang aku pikirkan, dia menghela napas panjang dan menggeleng.


Berarti dugaanku salah.


 


Tidak ada Bayu di sini.


“Kamu pasti kedinginan. Wajahmu pucat sekali.”


Pikiranku tiba-tiba melayang mengingat perkataan Rey tadi, soal Bayu yang belum dapat obat penawar itu. Seharusnya dia sudah kembali ‘kan? Akhir-akhir ini aku terlalu merindukannya. Sepertinya aku harus tenang dan—


“Kenapa? Apa kamu mendapat serangan?”


Kesadaranku kembali di tarik mendengar suara dokter Stefan di hadapanku. Ternyata tanpa sadar tangan kananku meremas baju yang terbalut jaket ini, denyutan sakit yang sejak tadi aku tahan menyadarkanku kalau aku harus meminta resep obat yang lainnya pada dokter Stefan.


.


..



Sore ini aku di antar pulang oleh dua orang polisi yang sempat di ancam oleh anak buah Rey tadi siang. Mereka datang ke rumah sakit untuk menemui dokter Stefan dan mengabarinya tentang aku yang di bawa oleh Rey, tapi melihatku yang justru ada sedang bersama dokter Stefan membuat mereka lega dan memutuskan untuk mengantarku.


Aku juga sudah mendapatkan obat untuk pasien sakit jantung. Dokter Stefan yang membantuku mengambilnya ke apotek dan memaksaku untuk beristirahat sebentar sambil menunggu. Aku juga sudah di pinjamkan baju ganti khusus pasien ini.

__ADS_1


Meskipun tubuhku sudah lebih baik dan bisa di kendalikan namun sakit dadaku masih terasa. Dokter Stefan sudah memberiku obat tapi tidak sepenuhnya menghilangkan sakit.


 


 


 


 


Suasana rumah ini yang selalu sepi dan terasa lebih dingin semakin membuat moodku lebih buruk. Aku duduk di sofa ruang tamu, menghadap layar TV yang hitam. Menatap pantulan bayanganku sendiri di sana yang selalu duduk sendirian seperti ini.


Tangan kananku terangkat menyentuh dada kiriku, mengusapnya pelan untuk menenangkan denyutan sakti yang menembus punggung. Meskipun tidak sesakit seperti tadi, tapi aku tetap takut saat tiba waktuku tidak bisa lagi bernapas.


Rumah ini, warisan yang aku dapatkan, juga tentang ibu, ayah dan Daniel. Lalu sekarang tentang bibi Rose yang menyembunyikan sesuatu tentang siapa aku sebenarnya.


Aku kira ketika tubuhku sibuk dengan kegiatan kerja dan kuliah, aku bisa melupakan masalah-masalah ini. Tapi ternyata aku hanyalah seorang pengecut yang selalu melarikan diri selama ini. Aku tidak mau menghadapi kenyataan yang tersembunyi di hadapanku.


Dan pada akhirnya, meskipun aku berusaha tersenyum dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Meskipun aku berdiri tegak, nyatanya aku ketakutan dan aku tidak bahagia.


Lalu sebuah rencana yang sudah lama aku pikir kembai terlintas, sepertinya dengan cara ini hati dan pikiranku akan tenang. Kali ini aku benar-benar sudah pasrah dan menyerah. Aku harap apa yang akan aku lakukan ini berjalan lancar dan tidak ada hambatan sama sekali.


***


Tanpa beranjak dari posisi telentang di tempat tidur, aku mengangkat sebelah tangan ke dada. Sudah tidak terlalu sakit, tetapi napas ku belum terlalu lancar. Tanganku terangkat menutupi kening dan aku memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dan mengatur napas.


Pagi-pagi sekali aku terbangun, rasanya tubuku sangat lemas dan dadaku kesakitan. Aku seharusnya jangan terlalu cape tapi aku melupakannya saat membereskan barang-barangku kemarin hingga larut malam.


Sudah satu jam aku masih dalam posisi berbaring, dada kiriku terasa sakit sekali hingga rasanya menembus hingga punggung. Rencananya hari ini aku akan keluar untuk mencari apartemen dengan sewa bulanan yang pas dengan isi dompet


Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan semua warisan dari bibi Rose pada ibu, semuanya bahkan uang yang di tinggalkan bibi Rose di akun bank yang belum pernah aku sentuh sama sekali akan aku berikan. Aku akan pindah hari ini jika sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru.


Hanya dengan cara ini mungkin ibu akan memandangku dengan cara berbeda yang lebih baik tentunya. Lalu sekali lagi aku akan meminta bantuan pengacara pak Seno untuk menjadi saksi juga untuk membantuku mempercepat proses pergantian nama seluruh warisan.


Rencananya hari ini aku akan mencari tempat tinggal baru, pasti akan mudah mengingat hari ini adalah hari minggu. Tapi justru aku tidak yakin bisa berkeliling mencari dengan keadaanku yang seperti ini.

__ADS_1


Pilihan lain adalah aku akan meminta bantuan tante Yuan atau bibi Nuri jika kondisiku tidak juga membaik. Tidak bisa di pungkiri, aku sedikit lega menyadari setidaknya aku bisa meminta bantuan orang lain dengan keadaanku yang seperti ini.


.


..



“Apa kamu sedang sakit?”


“Aku hanya kurang tidur.” Aku melirik pengacara Seno yang sudah duduk di sampingku. Siang ini kami berdua telah sepakat untuk bertemu di restoran ini. Sengaja memesan ruangan pribadi untuk penyerahan semua sertifikat tanah dan warisan kepada ibu sudah di putuskan.


Seperti yang aku duga, pak Seno sempat memaksaku untuk mengatakan hal yang sebenarnya kenapa aku harus menyerahkan semuanya pada ibu sedangkan dia sudah di titip pesan dari almarhum bibi Rose mengenai semua warisannya agar aku pakai sendiri karena semuanya untukku tapi sekali lagi aku hanya meyakinkannya jika


keputusanku sudah di pikirkan baik-baik.


“Apa kamu sudah membaca amplop yang aku serahkan waktu itu?” Aku menelan salivaku susah payah, berharap pak Seno tidak akan membahas tentang ini.


“Apa ini ada hubungannya dengan saham di perusahaan itu? Grup Eternity?”


“Cepat atau lambat perwakilan dari grup Eternity akan menemuimu untuk membahas itu.”


Tanganku terangkat, mengusap dada kiriku yang masih saja terasa sakit padahal aku sudah memakan obat dua kali hari ini. Setiap kali aku menarik napas rasanya perih dan semua kesakitan ini sedikit menghilangkan fokusku tadi.


“Aku tidak berniat sama sekali untuk berurusan dengan semua itu. Aku hanya ingin menjadi manusia biasa yang bekerja, menikah dan hidup sampai tua.”


“Tapi—“


“Apa semua ini ada hubungannya dengan asal usulku?” Aku menyela bantahan pak Seno yang langsung membuat pria paruh baya ini terdiam seketika, seolah aku sudah menebaknya dengan benar.


Tanganku terangkat untuk meraih dua lembar tisu di atas meja, menghapus titik keringat yang membasahi sisi wajahku. Bukan karena suhu ruangan yang panas, tapi menahan sakit di dadaku ini sangat menyiksa.


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2