
...
Sambil menunggu, aku berbalik hendak menuju ruang tim administrasi, ingin melihat keadaan anak-anak karena biasanya di jam seperti ini mereka sedang mempersiapkan untuk closing harian.
Keadaan koridor lantai ini sangat gelap, samar-samar hanya mendengar suara karyawan lain di ruangan mereka
masing-masing. Aku berhenti sebentar hanya untuk menyalakan senter dari ponsel untuk menerangi langkah kakiku.
Benar dugaanku, baru saja aku membuka pintu ruangan, keempat wanita yang membantuku dalam urusan administrasi langsung menggerutu karena mereka tidak bisa menyelesaikan laporan harian.
“Ya udah gantian aja di laptop. Kiki, keluarkan modemnya di laci mejamu.” Setelah mengatakan itu, mereka semua
menyerbu laptop yang ada di atas meja kerjaku karena hanya aku yang memakai laptop kantor.
Aku tersenyum kecil dan menggeleng pelan melihat tingkah mereka. Meskipun aku sedang bad mood, namun aku tidak bisa pulang cepat hari ini.
.
..
…
Sudah berulang kali aku menguap karena sangat mengantuk. Akibat listrik yang mati selama satu jam, aku bersama
anak-anak yang lain terlambat melaporkan closing harian. Sudah hampir jam delapan malam kami baru menyelesaikannya dan mereka satu per satu mulai pamit pulang.
Aku yang terakhir berada di ruangan ini harus mematikan semua saklar lampu sebelum keluar. Karena aku sempat
menangis tadi dan mataku sembab akhirnya aku memilih untuk segera pulang meskipun orang-orang pusat terus menanyakan atau mendiskusikan tentang pekerjaan di obrolan grup chat.
Saat aku sudah melangkah keluar pintu dan berada di lapang parkir, aku sempat mengatakan pada satpam yang
berjaga untuk berpatroli ke dalam gedung karena aku merasa ada lampu yang masih menyala, biasanya di jam malam seperti ini yang terakhir keluar adalah aku. Tapi aku merasa sempat melihat seseorang berada di bagian lain.
Mengingat tentang pesan Bayu tadi, aku segera memeriksa ponsel, tapi tidak ada pesan darinya. Apa mungkin dia
tidak jadi datang?
Tidak mungkin kan dia tiba-tiba hilang lagi, tidak mengabariku sama sekali?
Membuatku kebingungan seperti ini?
Padahal kemarin dia sudah janji tidak akan seperti ini lagi.
Dasar lelaki!!
__ADS_1
Aku mencoba untuk tetap tenang dan memutuskan untuk menelponnya. Mungkin saja dia ada urusan mendadak.
Setelah menunggu dan hanya mendengar nada dering, Bayu tetap tidak menjawabnya. Aku kembali mendial nomor telponnya berharap dia akan menjawab panggilan kedua namun tetap sama, tidak ada jawaban hingga suara operator yang terdengar.
Apa aku harus menunggu di sini?
mungkin dia sedang ada di jalan menuju ke sini.
Yaa.. Mungkin saja. Aku akan menunggunya sebentar.
Akhirnya aku mencari tempat untuk duduk. Sembari menunggu, aku menatap ke jalan raya berharap ada mobil jeep
hitam milik Bayu di antaranya. Berharap dia akan datang dan tersenyum bersalah padaku karena membuatku harus menunggu.
Pak Ronald, satpam yang tadi aku suruh untuk memeriksa ke dalam gedung akhirnya keluar. Pria paruh baya itu
berjalan menghampiriku.
“Bu Icha, saya sudah memeriksa ke atas, ternyata ada tamu yang sudah menunggu ibu di ruang utama.” Aku
mengerutkan kening bingung. Ruang utama adalah tempat biasa kepala cabang membawa tamu pentingnya untuk membicarakan kerjasama perusahaan dan itu ada di lantai dua sedangkan ruang kerjaku ada di lantai tiga. Terlebih, tamu di jam malam seperti ini?
“Dia menungguku? Siapa?”’
Pak Ronald menggeleng. “Saya tidak mengenalnya. Seorang pria.”
Karena sangat penasaran, cepat-cepat aku membuka pintu ruang itu dan menemukan seorang pria berpakaian rapih sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya. Rambutnya yang rapih dan berkilau juga wangi parfum yang langsung tercium begitu aku membuka pintu.
Hanya melihat sisi wajahnya, aku tidak mengenal pria ini. “Maaf, kamu mencariku?”
Lelaki itu melirik padaku dan langsung tersenyum. Dia menyimpan ponselnya ke dalam saku dalam jasnya lalu
berdiri.
“Yaa. Aku ke sini ingin mengajakmu pergi bersamaku.”
Aku di buat bingung. Tidak mengenalnya dan dia dengan santainya ingin mengajakku pergi?
“Apa ini modus penculikan baru?” Aku bertanya sakartis sembari berjalan mendekatinya. Pria ini tertawa pelan namun tatapannya tidak lepas menatapku.
Ada apa dengannya?
“Seperti yang orang-orang bilang, Wanita bernama Icha ini memang tidak suka basa basi. Maaf karena telah
menakutimu, aku hanya bercanda.” Dia justru tertawa puas.
Aku yang tidak merasa ada yang lucu tetap diam menatapnya.
“Aku Gilang, aku kesini karena ingin menyerahkan ini.” Pria ini berjalan perlahan mendekatiku sembari tangan kanannya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.
__ADS_1
“Temanku, Rey. Dia menitipkan ini untuk di berikan padamu langsung. Dia sedang tidak bisa menemuimu jadi—“
“Aku tidak bisa menerimanya. Kami tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak mengenalnya.” Cepat-cepat aku memotong ucapannya, setelah mendengar nama Rey, semuanya terjawab.
Aku sungguh tidak ingin terlibat dengan lelaki itu.
Gilang memaksaku menerima hadiah itu. Tubuhnya yang tinggi sudah berada begitu dekat denganku. Sorot matanya yang tajam masih menatapku dan hal itu membuatku tidak nyaman dan canggung.
“Mungkin bagimu tidak mengenalnya, tapi kamu adalah wanita pertama yang dia berikan hadiah. Aku yang telah
mengenal Rey sejak kecil tidak pernah melihatnya cerewet seperti ini. Dia menggangguku terus untuk segera menyerahkan ini padamu dan aku baru bisa datang larut malam seperti ini karena pekerjaan.”
“Jangan bercanda! Aku hanya bertemu dengannya beberapa kali! Maaf, Aku tidak bisa menerimanya.” Aku kembali menyerahkan kotak kecil ini padanya. Lalu berbalik hendak meninggalkannya tapi pergelangan tanganku sudah ia cengkram sangat erat.
“Apa?!”
“Bayu? Apa semuanya karena Bayu?”
Ya ampun kenapa susah sekali keluar dari zona pertengkaran mereka?
“Tidak!”
“Kau tidak akan pernah mengerti masalah mereka—“
“Dan aku tidak ingin mengerti atau ikut campur! Sekarang kamu boleh pergi dari sini.” Aku memotong ucapannya
cepat, pria ini terlihat lebih serius sekarang.
“Ternyata kau lebih menyebalkan dari yang aku bayangkan!” Suaranya yang dingin dan menusuk tak mampu membuatku takut. Aku sudah lebih dari cukup berhadapan dengan banyak sifat orang-orang. Terima kasih untuk pekerjaanku yang membuatku melakukannya.
“Aku tidak butuh pendapatmu. Aku tidak mengenalmu dan sifat seperti ini yang tidak sopan.”
“Kamu yang tidak sopan—“
“Coba pikirkan lagi, apa kau pantas mengatakan itu? Kita baru saja bertemu kurang dari lima menit. Kau datang padaku dan aku sudah dengan tegas mengatakan aku tidak ingin ikut campur.” Aku tidak peduli lagi, setelah mengatakan semua itu, aku segera berbalik dan menghiraukanya. Tidak tertarik menunggu jawabannya.
Malam ini membuatku lelah. Entah pekerjaan, atau Bayu, atau Rey dan bahkan Gilang. Seberapa kuatnya aku tidak
mempedulikan masalah mereka tapi mereka selalu datang padaku.
Sembari menyentakkan langkah kaki, aku sudah keluar dari gedung. Sempat melirik ke belakang dan tidak mendapati Gilang mengikutiku. Karena khawatir dia melakukan yang macam-macam di dalam gedung, aku meminta Pak Ronald untuk meminta tamu tadi keluar.
...
__ADS_1