
...
“Jujur padaku, apa misi ini sangat berbahaya?”
“Sangat. Ada banyak orang-orang terlibat di sana, kami harus menemukan dalangnya dan bukti-bukti.” aku tidak tahu lagi harus beraksi seperti apa mendengar penjelasan Bayu.
Kami berdua sama-sama terdiam untuk satu menit berikutnya, berbaring menatap langit-langit kamar karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Tapi belum ada keputusan yang pasti. Kau jangan terlalu banyak memikirkannya.” Bayu mengusap puncak kepalaku, wajahnya menghalangi cahaya lampu kamar.
Kini dua tangannya sudah mengunciku di sisi bahu, lalu tubuh atasnya yang telanjang dengan sengaja menindih tubuhku, memelukku sangat erat sampai rasanya aku sesak napas. Tapi sebelum aku protes, dia membawa tubuhku berguling hingga kini aku yang ada di atas tubuhnya.
Wajahku memanas merasakan kalau kulit kami bersentuhan dan menempel. Otot tubuhnya keras dan aku bisa merasakan detak jantungku di telapak tanganku.
“A—apa yang kau lakukan?!” Tanyaku antara malu dan jengkel.
Lelaki ini justru menyeringai, ekspresinya tenang, mengatakan, “cantik, bagaimana kalau kita teruskan yang tadi?”
“Haruskah?” Tanyaku balik, pura-pura berpikir keras.
“Jam 3 pagi. Kita masih punya banyak waktu.”
“Apa kau tidak lelah?”
“Apanya? Melakukannya setiap hari?”
“Kau harus bekerja setiap hari, dari pagi sampai sore.”
“Boo, kita masih muda. Apa justru kau yang lelah?” Dia menyipitkan matanya curiga.
“Tidak!” aku menjawabnya terlalu cepat, hal itu membuat Bayu menyeringai jahil, “maksudku, apapun yang ada hubungannya denganmu, aku tidak akan lelah. Contohnya, kalau kau mengajakku naik gunung dengan mengikuti kecepatan langkahmu, aku tidak akan lelah!!”
Lelaki yang berbaring di bawah tubuhku ini tertawa puas, tangan kanannya menekan belakang kepalaku agar pipiku menempel di dadanya, sedangkan tangannya yang lain memeluk erat punggungku yang telanjang.
Jantungku berdetak sangat cepat, aku tidak pernah membayangkan akan tiba saatnya kedekatan kami seperti ini. Entah Bayu memang berusaha mengabaikannya atau lupa ketika dia membawaku ke dekapannya, tapi aku masih belum terbiasa ketika tubuh kami yang tanpa busana di balik selimut, harus bersentuhan dan bertahan seperti itu selama beberapa saat.
“Bayu! Lepaskan!! T—tubuhku berkeringat. Aku ingin mandi.”
“Kamu mau melanjutkannya di kamar mandi?? Oh, itu ide bagus!”
“B—bukan seperti itu!!!!” Aku menjerit malu, memukul dadanya agar aku bisa lepas dari pelukannya, tapi dia semakin mengertkan pelukannya, menggodaku.
“Lepas!!”
“Coba saja! Kalau kau melepaskannya, aku tidak akan memberi ampun.” Dia mengancam dengan seringaian kecil penuh kemenangan.
Tentu saja aku tidak bisa bersaing dengan tenaganya, yang dengan kokoh memelukku erat, tidak membiarkan aku bergeser sedikitpun.
“Coba saja! Kalau kau tidak melepaskanku, aku tidak akan memberi ampun!” Aku meniru nada ucapannya tadi.
“Aku ingin lihat, apa yang akan kau lakukan.”
__ADS_1
Dasar!
Dia justru menantangku.
Seringaian di bibir Bayu aku tutupi dengan bibirku, menciumnya dalam, lembut dan penuh perasaan cinta.
Sembari membalas ciumanku, tangannya yang menekan dan mengusap punggungku terlepas ketika aku membawa dua telapak tangan lelaki ini ke sisi tubuhnya, menggenggam dan menahannya agar tidak menyentuhku.
“K—kau....” Ketika harus menarik napas di sela-sela ciuman kami, aku melihat keningnya mengkerut dan ada sorot protes di matanya.
“Aku kan sudah bilang, kalau kau tidak melepaskanku, aku tidak akan memberi ampun.” bisikku seduktif di depan wajahnya, menatap matanya dengan seringaian kecil.
“Jadi—“ Aku kembali menciumnya, memotong ucapannya, dan tetap menahan kedua tangan di sisi kepalanya.
“Jadi?” Godaku, melepaskan ciuman kami ketika tanpa sadar kepalanya sedikit terangkat akan membalas ciumanku lebih panas.
“Jadi kau tidak akan membiarkan aku menyentuhmu?” Dia berbisik dengan napas terengah.
“Aku yang akan menyentuhmu.” Gumamku di depan telinganya.
Bayu hendak memaksakan dirinya untuk bangkit duduk, tapi aku mulai menggigit kecil telinga lelaki ini, terus turun mengigit lehernya, yang secara refleks membuatnya tidak berdaya di bawah tindihan tubuhku.
“Tidak usah terburu-buru.” Kataku di depan wajahnya.
Lelaki ini menatapku dengan tajam dan tak sabar, dia menjawab dengan berani, “kita melakukannya hampir setiap hari. Tubuhku sudah lama mengenal tubuhmu.”
Seketika suhu tubuhku naik, wajahku semakin memanas, mendengar pernyataannya aku tidak berani membantah atau mengiyakan. Ada sengatan kecil di rongga dadaku yang membuatku sangat malu.
Kemudian dia berbisik di depan wajahku, “kau tahu, hampir seolah-olah aku dilahirkan hanya untuk menyentuhmu.”
“Kamu.... Natasha.... kamu berani menyentuhku?”
“Jangan bergerak. Sudah kubilang, aku akan melakukannya.”
Lelaki ini menyadari apa yang akan aku lakukan, dengan ekspresi sedikit gelisah, dia merendahkan suaranya, “tidak!!”
“Iya!”
.
..
...
Tidak ada siapapun.
Suhu di dalam lift terasa sangat dingin pagi ini saat aku dan Bayu melangkah masuk ke dalamnya. Seperti biasa, pagi ini aku mengantarnya berangkat kerja sampai luar gedung apartemen.
Sembari melipat tangan di atas perut, aku mulai memikirkan apa yang harus di lakukan hari ini, tentu saja bersama Lucy dan Dika. Biasanya kami jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat makan di kota ini atau membeli barang.
__ADS_1
Tapi kemarin aku sempat mendengar tentang toko buku yang sudah tua, menjual buku-buku lama. Haruskah kesana?
Namun sebelum aku memikirkan terlalu jauh, aku bisa melihat dari sudut mata, Bayu yang berdiri di samping kanan sedang menatapku sangat intens, seolah dia menemukan sesuatu yang aneh di wajahku.
“Apa??” Tanyaku, mendongak menatapnya.
Ekspresi wajah Bayu sedang berpikir, keningnya berkerut dan bibirnya terkatup rapat, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi dia coba tahan.
“Katakan saja.” Aku ikut mengerutkan kening, heran.
Dua tangan lelaki ini masuk ke saku celananya, dia berdiri tenang di sampingku.
“Apa ada sesuatu di wajahku?”
“Kau....”
“Ya??”
“Apa kau sadar....”
“Ya ya??”
Bayu kemudian menghela napas kecil, dia menggeleng dan mengalihkan pandangannya dariku, “tidak.”
Sekarang aku yang kesal.
“Bayu, berhenti di tengah kalimat bukanlah gayamu.”
Dia justru menyeringai dan menjawab, “aku hanya masih tidak percaya kalau wanita yang mempermainkanku di atas kasur tadi pagi adalah kamu.”
Wajahku memanas, tapi dengan berani aku meliriknya dengan senyum kecil, “tentu saja aku belajar darimu.”
“Kalau begitu, kau belum menguasai semua yang aku ajarkan.” Katanya bangga.
“Haruskah malam ini aku mengikatmu saja?” Aku mengancamnya.
Bayu terkekeh kecil tepat ketika pintu lift terbuka.
Kami pikir sudah sampai di lantai bawah, tapi nyatanya ini baru lantai lima dan ada dua orang yang menunggu di depan lift.
“Oh! Selamat pagi kap.”
“Selamat pagi, Justin.” Bayu balas menyapanya.
Justin dan pria lain yang tidak aku kenal segera bergabung bersama kami.
“Selamat pagi pak.”
“Pagi.” Bayu tersenyum menyapa pria itu, sedangkan aku hanya tersenyum kecil mengangguk pada dua pria ini.
...
__ADS_1