EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 79


__ADS_3

...


 


 


Lalu bibi Nuri dan tante Yuan berjanji akan mengunjungiku lagi dan kemarin tidak bisa menginap karena mereka ada pekerjaan. Aku sudah meminta kedua wanita itu untuk tidak memberitahukan siapapun tentang kondisiku.


Selain itu ibu dan Henry belum menghubungiku sejak kejadian aku memukul Henry. Sedangkan kondisiku lebih normal sekarang. Aku tidak mimisan ataupun seluruh badanku berdenyut sakit seperti pagi kemarin.


Sangat bersyukur dengan keadaanku sendiri karena hari ini rencananya aku ingin keliling kota, sendirian. Saat kemarin diam di halte bus, aku tahu sekarang aku butuh berpikir sendirian. Tapi sebelum itu aku ingat akan menghubungi pengacara yang mengurusi warisan bibi Rose untuk menyampaikan maksudku agar nama kepemilikan semua warisan dari bibi Rose segera di proses menjadi milik ibu.


“Ya! Apapun nanti kekurangan dan persyaratannya tolong kabari saja.” Ucapku sudah tidak bisa di ganggu gugat saat suara pak Seno kembali bertanya untuk meyakinkanku.


“Nona Icha sudah membaca isi amplop putih yang pernah saya berikan saat pertama kali nona meminta saya untuk


mengganti nama kepemilikan tanah?”


Seperti di ingatkan dengan hal yang sangat penting, aku menahan napas tanpa sadar, benar-benar melupakan amplop yang pernah pak Seno berikan. Bahkan setelah pria paruh baya itu memberikannya padaku, aku tidak ingat sudah di masukan ke dalam tas atau belum.


“Oh?. Aku lupa tentang amplop itu.” Jawabku apa adanya.


“Baiklah. Saya akan kembali menunggu kabar nona. Untuk nama kepemilikan tanah akan coba saya proses hari senin.”


“Terima kasih sekali lagi, pak Seno.”


Aku memutuskan cepat sambungan telpon dan bergegas menuju kamar. Mencari tas yang di gunakan saat menemui pak Seno siang itu. Tas yang belum di pakai lagi sejak hari itu.


Begitu menemukan tas kecil hitam itu, aku merogoh isinya tidak sabar. Entah mengapa jantungku berdetak cepat dan keringat dingin mulai keluar. Tapi aku tidak menemukannya.


Mungkin saja ingatanku salah, aku mulai membuka satu persatu tas-tas yang biasa di pakai keluar, mulai yang ukurannya kecil sampai yang besar. Semuanya berantakkan di atas kasur dan aku tetap tidak menemukannya.


Apa mungkin terjatuh di suatu tempat?


 


Oh god!

__ADS_1


 


 


Jika benar jatuh dan tertinggal aku harus bagaimana?


Lalu suara deringan ponselku mengalihkan semua perhatianku, saat melihat di layer ponsel ada nomor yang tidak di kenal, aku segera mengangkatnya. Diam-diam berharap Bayu yang menghubungiku.


“Halo.”


“Halo Icha! Ini ayah.”


“Ayah??”


.


..



“Aku tidak mengerti maksud ayah.”


Ayah melakukan hal yang sama, dia meletakkan garpuh dan pisaunya di kedua sisi piring kemudian menatapku lebih intens. “Ayah sudah memastikannya, saham di perusahaan saingan ayah itu atas namamu. Grup Eternity! Maka dari itu—“ Ayah mengeluarkan sebuah map coklat dari tas di samping kaki kursinya.


“Selama kau masih kuliah, akan ayah urus sahammu itu. Kau nanti hanya tinggal menerima keutungannya saja.” Aku yang penasaran dengan isi map itu lalu segera membukanya dan menemukan beberapa kertas disana.


Setelah di selidiki, ada namaku di sana. Natasha Icha .D. Terlebih ada informasi pemilik saham dan ada fotoku di sana.


Astaga! Aku tidak menyangka dan benar-benar kaget.


“Mungkin ini nama lain. Aku tidak tahu tentang ini.” Kataku menyerahkan lagi berkas-berkas itu pada ayah. Tidak ingin terlibat dengan semua itu mengingat bagaimana tersiksanya aku dengan sertifikat-sertifikat tanah itu.


Lagi pula aku tidak ingin percaya begitu saja. “Ini benar kau. Ayah tidak berbohong! Kau hanya tinggal menandatangani surat kuasa untuk memberi wewenang pada ayah—“


“Ayah tahu dari mana informasi ini??” Tiba-tiba ingatanku tentang amplop putih yang tadi sempat aku cari terlintas dalam ingatanku. Mungkinkah isi amplop itu tentang semua ini, dan ayah mengambilnya saat dia ketahuan ada di rumahku saat itu?


Semua hipotesisku terdengan masuk akal. “Tentu saja ayah tahu. Mana mungkin perusahaan saingan ayah tidak ayah ketahui.”

__ADS_1


“Apa ayah mengambil amplop di rumahku saat itu?”


“Apa?? Apa yang kau bicarakan!” Melihat dari gerak gerik ayah yang langsung kembali berkonstrasi memakan steak di atas piringnya itu membuatku semakin curiga. Tatapannya berusaha menghindariku.


“Bukankah timingnya terlalu pas untuk semua ini? Jika ayah benar-benar tahu pemilik perusahaan saingan ayah itu seharusnya ayah datang padaku saat bibi Rose meninggal. Kenapa harus sekarang?”


“K—karena ayah dengar perusahaanmu sedang banyak masalah dan pegawainya banyak yang mogok kerja. Ayah hanya prihatin dan ingin membantumu.”


“Lalu bagaimana perusahaan ayah? Aku dengar perusahaan ayah akan bangkrut?”


“Itu hanya gosip. Perusahaan ayah baik-baik saja. Justru itu ayah menawarkan jasa ayah agar perusahaanmu semakin sukses!” Aku berdecak kesal mendengar ayah terus berkilah.


Perasaan sayang yang seharusnya aku rasakan entah mengapa tidak terasa sama sekali. Aku hanya melihat ayah sebagai orang asing yang aku kenal. Aku tidak mengenal ayah sama sekali, seolah niatnya untuk menemuiku tertulis jelas di wajahnya.


“Aku tidak tahu apapun dan aku tidak ingin menandatangi apapun. Perusahaan itu bukan milikku. Dan tentang amplop itu, aku tanya sekali lagi. Apa ayah mengambilnya??”


Ayah kini menatapku marah, dia meletakkan garpuh dan pisaunya dengan keras hingga orang-orang yang ada di restoran ini melihat kami. “Sekarang kau menuduh ayah mengambil amplop putih itu?? Ya ampun kau semakin mirip dengan ibumu!”


Aku tersentak kaget, malu karena di marahi di tempat umum seperti ini sekaligus aku semakin yakin jika ayah mengambilnya. Cepat-cepat aku meraih tas kecilku ini dan memasukkan ponsel yang ada di atas meja.


“Ayah yang sangat mirip dengan ibu! Aku sudah mengatakan hipotesisku dan semuanya dalam timing yang pas! Sama seperti ibu, ayah tidak mau mendengarkan! Lagi pula aku tidak membutuhkan amplop itu lagi karena sekarang aku tahu apa isi di dalamnya. Jika ayah benar-benar pria yang menjunjung tinggi kesopanan dalam


hidup ini, kembalikan amplop itu padaku!”


“Apa? Ayah sudah bilang kalau tidak—“


“Tidak tahu? Ya ampun, seharusnya ayah dengar sendiri perkataan ayah barusan. Ayah sendiri yang mengaku mengambil amplop putih itu! aku tidak menyebutkan warna amplopnya sampai ayah yang menyebutkan!” Setelah mengucapkan itu, aku berjalan pergi menjauhi ayah. Meskipun orang-orang di sini memperhatikan semua gerak


gerikku tapi aku tidak peduli.


Aku yang sudah emosi membuka pintu restoran dengan kasar dan berjalan di sepanjang trotoar jalan dengan di hentak-hentak. Tidak tahu akan menuju kemana, yang penting sekarang aku ingin menjauh dari ayah dan menghirup udara agar emosiku menurun.


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2