
...
Perlahan-lahan aku bisa merasakan udara yang sejuk menerpa kulit wajah dan tanganku, lalu aku bisa mencium tanah basah akibat hujan. Namun aku tidak bisa mendengar apapun, di sini sepi sekali dan hanya terdengar suara detik jam dinding.
Tubuhku lemas sekali untuk di buat bergerak tapi aku tahu aku bisa melakukannya perlahan. Lalu kelopak mataku terbuka dan hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit kamar.
Sekarang tubuhku terasa baik-baik saja, rasa sakit yang sebelumnya terasa sudah tidak ada. Tapi rasanya ada yang kurang. Kehadirannya yang tidak aku temukan seketika membuatku ingin segera bangkit duduk dan turun dari tempat tidur untuk mencarinya.
Meskipun sedikit susah payah tapi aku berhasil hanya untuk bangun dan duduk di kepala ranjang. Aku baru menyadari tangan kananku telah tersambung dengan jarum infus.
Kemudian aku mencari jam dinding dan menemukan sekarng pukul empat sore. Salah satu sisi kamar ini terdapat jendela besar dengan sepasang sofa single dan meja di tengahnya. Walaupun kamarnya luas dan rapi tapi aku menduga di sini jarang di tempati.
Sekarang aku mencoba untuk turun dari tempat tidur, telapak kakiku menyentuh lantai yang dingin dan menarik tiang infus bersamaku untuk mendekat ke jendel karena pemandangan yang aku lihat hanya daun dan ranting pohon, aku sangat penasaran dengan tempat ini.
Benar dugaanku, sekarang aku ada di kamar lantai dua, seluruh tempat ini di penuhi pohon-pohon tinggi dan sepertinya baru turun hujan karena di luar tanahnya basah. Lalu aku juga bisa melihat di bawah samping kiriku halaman depan yang tadi Bayu memarkirkan mobilnya tapi sekarang aku tidak melihat satu mobil pun disana.
“Syukurlah kau sudah bangun.” Aku menoleh ke belakang mendengar suara prof. Bora.
Wanita cantik itu membawa mangkuk dan segelas air minum dan berjalan mendekatiku, meletakkannya di meja depan sofa yang ada di sampingku.
“Bagaimana keadaanmu? Duduklah, aku ingin memeriksamu.” Katanya menarik pelan tanganku untuk duduk di sofa single berwarna hijau lumut ini. Kemudian prof. Bora memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kananku dan memeriksa tetesan infus yang tersisa sedikit lagi.
__ADS_1
“Yaa, kau sudah jauh lebih baik. Tunggu sampai cairan infusnya habis, aku akan melepaskan jarumnya. Sekarang makan buburnya, ini khusus aku buatkan untukmu.” Kata prof. Bora sembari duduk di sofa hadapanku.
Sekilas aku melirik bubur yang ada di dalam mangkuk, uapnya masih mengepul dari sana. “Terima kasih, tapi—ini di mana?”
Wanita ini tersenyum kecil padaku lalu menjawab. “Ini rumah dinas Bayu. Tempatnya memang agak tersembunyi, tidak sembarangan orang bisa masuk ke kawasan ini karena keamanan dan yang mendapatkan rumah dinas di sini hanya orang-orang tertentu. Beberapa meter di atas rumah ini kau bisa melihat rumah-rumah lainnya juga. Bayu memang jarang datang ke sini meskipun setiap seminggu tiga kali di bersihkan.”
“Aku baru pertama kali mendengar yang seperti ini, mungkin ini seperti rumah rahasia?” Tanyaku yang di sambut anggukan prof. Bora.
“Semacam itu. Orang yang tinggal di kawasan ini memang banyak menyimpan sesuatu yang penting di rumah dinas mereka, untuk masuk ke dalam rumah ini juga tidak bias langsung masuk, harus ada izin dan verifikasi yang rumit.”
Aku mengangguk lalu mulai menyentuh gelas dan meneguknya sedikit. Pikiranku langsung teringat di mana lelaki itu.
“Eumm.. Prof, apa yang terjadi denganku? Penawar racun itu?”
“Dan prof, apa yang terjadi tentang penculik itu? Dan sepertinya Bayu tidak ada di sini?”
Prof. Bora melirik keluar jendela untuk menatap jauh ke dalam hutan. “Semuanya sudah di tangkap. Bayu dan Stefan di panggil ke markas untuk melaporkan apa yang terjadi.”
Aku susah payah menelan salivaku mengingat sesuatu. “Apa akan terjadi masalah pada mereka prof? Tentang menangkap pejabat dan pengusaha yang datang ke rumah sakit pagi ini?”
Wanita ini melirikku dan berpikir sejenak, seperti sedang memikirkan kata yang tepat.
__ADS_1
“Dugaanku mereka harus ke markas selain untuk melapor juga sepertinya akan di beri peringatan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Bayu tapi yang jelas hari ini media banyak memberitakan masalah skandal para pejabat dan pengusaha yang terlibat di rumah sakit itu. Penangkapan mereka yang serentak meresahkan beberapa pihak.”
Perasaan khawatir mulai menyelimutiku. “Kalau sampai heboh seperti ini bukankah Bayu akan menjadi target? Bisa saja pejabat dan pengusaha lain yang takut skandal mereka tersebar akan menyerang Bayu dulu.”
Prof. Bora justru tertawa kecil mendengar ucapanku. Posisi duduknya sekarang lebih santai dan ia sedikit memajukan tubuhnya padaku dengan senyum jahilnya dan bertanya. “Aku ingin tanya lebih dulu, menurut Icha, ayu dalam pekerjaannya itu seperti apa?”
Aku mengerutkan kening, meskipun bingung kenapa wanita ini menanyakan pertanyaan semacam ini tapi aku memutar otak berpikir.
“Yaaa… Yang aku lihat selama ini dia seperti tentara normal pada umumnya, sesuai dengan jabatannya sekarang. Meski terkadang sifat jahil dan kekanak-kanakannya agak menyebalkan. Tapi aku tahu, kalau soal pekerjaan dia bisa di percaya dan tahu apa yang harus di lakukan. Entahlah, aku tidak melihatnya secara langsung.”
“Wah wah sulit di percaya anak itu tidak mengatakannya. Hahaha. Tapi aku bias melihat tatapan kalian yang penuh cinta.”
Aku tidak bisa menahan senyuman ini mendengar godaan prof. Bora. Untuk mengalihkannya aku segera menyendokkan bubur ke dalam mulutku. Lalu prof. Bora menghela napas panjang untuk melanjutkan.
“Di kemiliteran, Bayu terkenal karena kemampuan dan dedikasinya dalam bekerja sejak dia masuk, meskipun ayah dan kakek-kakeknya dari kemiliteran juga tapi dia tidak memanfaatkan identitasnya untuk mempermudahnya dalam pekerjaan. Selain itu sifanya yang dingin dan tidak kenal ampun menarik banyak orang dan dalam sekejap dia di kenal dengan sebutan alpha. Bayu juga menjadi anggota termuda tim phonex, aku pernah mendengar alasan dia masuk ke tim itu bukan hanya karena kemampuannya di masa depan yang menjanjikan bagi militer tapi Bayu itu sejenis anggota yang memiliki semacam kepercayaan diri yang unik.”
“Aku mengerti maksudnya, bukan tipe kepercayaan diri yang seperti ‘aku yang paling kuat dari kalian semua’, tapi kepercayaan diri seseorang yang tahu bahwa dia takkan pernah mengacau.”
__ADS_1
...