EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 135


__ADS_3

Jangan lupa dukung karya ini! Vote, like, favorite, dan komen ya!!


 


 


...


 


 


“Sebentar tan, Icha mau bayar dulu.” Kataku pamit sembari berdiri. Tante Yuan mengangguk dan membiarkan aku berjalan menuju pintu. Keluar dari ruangan ini yang langsung di sambut salah satu pramusaji tadi. Mengetahui aku akan membayar, dia menemaniku menuju kasir.


Aku menyerahkan kartu ATM setelah mendengar total yang di sebutkan, sembari menunggu transaksi selesai mataku melihat jam dinding besar di dekat tangga melingkar restoran. Waktu menunjukkan pukul lima sore, mengingat tadi kami datang ke sini jam tiga berarti tidak terasa dua jam untuk berkumpul.


 


 


Rasanya seperti waktu yang panjang tapi sebenarnya hanya menghabiskan waktu dua jam. Aku tidak tahu apa yang akan Ibu dan Daniel akan lakukan nanti tapi sepertinya rencanaku untuk bisa membawa tetua keluarga datang berhasil. Dengan begini aku sudah menegaskan pada ibu tentang hubunganku dan Bayu juga agar ibu tidak


selalu menuduhku tidak memberinya uang.


“Ini di kembalikan. Terima kasih.” Kasir wanita ini menyerahkan kartuku bersama kertas tanda bukti. Aku mengangguk dan balas tersenyum padanya.


Ketika aku berbalik, mataku sudah melihat Bayu bersama paman, bibi dan tante berjalan menghampiriku. Kami semua berjalan beriringan menuju parkiran. Sekali lagi aku bisa melihat paman Ben merangkul Bayu, keduanya masih saja asik mengobrol.


 


 


 


Saat kami berpisah di parkiran, paman Ben seolah tidak rela berpisah dengan Bayu, beberapa kali paman meminta agar kami berkunjung ke rumahnya.


Lalu bibi Nuri, bibi Pia dan tante Yuan memelukku bergantian. Mereka menatapku dan beberapa kali mengatakan semoga aku tetap bahagia seperti ini. Ketiga wanita ini juga meminta agar aku selalu mengabari mereka kalau aku dan ibu bertengkar lagi. Hanya dengan perhatian seperti ini aku merasa sangat senang.


 


Aku dan Bayu melambai pada dua mobil yang melaju meninggalkan kami di parkiran. Bayu merangkul bahuku sembari kami masih memandang dua mobil itu menghilang di belokan menuju pos pemeriksaan tiket parkir.


 


Lelaki ini membawaku mendekati mobil jeepnya sembari beberapa kali dia menciumi puncak kepalaku. Dia membuka pintu mobil penumpang untuk menyimpan hadiah pemberian Darius yang di bawanya.


 


Lalu Bayu membuka pintu depan untukku, aku menahan langkahku saat hendak masuk dan kembali berbalik padanya. Ada sesuatu yang sejak tadi membuatku bersalah pada Bayu.


 


“Apa ada yang ketinggalan?”


 


“Tidak! Aku hanya merasa bersalah padamu.”


Bayu mengerutkan kening bingung. “Kenapa? Aku tidak ingat tadi kau menyinggungku.”


Pertemuan tadi lah yang membuaku sedih. Aku tidak memberikan yang terbaik untuknya, aku hanya melibatkan Bayu dengan drama antara aku dan ibu.


 

__ADS_1


“Maaf soal ibu dan nenek tadi. Aku selalu merasa belum memberikanmu yang terbaik. Maksudku tentang keluargaku—“


“Aku mengerti. Kau tidak perlu merasa bersalah. Keluarga ku juga bukan keluarga yang ideal dan sempurna. Lagipula aku menyukai paman Ben.” Bayu berucap lembut.


Aku mendongak menatapnya, jari-jari tangannya mengelus pelan pipiku. Seperti biasanya, tatapan mata Bayu selalu membuatku ingin terus menatapnya seperti ini, dari tatapannya seperti dia memberiku dunia baru.


Lalu jarinya berpindah mengusap sudut mataku sampai ekspresinya berubah lebih bingung menatapku, seolah ada sesuatu di sana. “Apa kau merasa sedang tidak enak badan?”


Aku mengerjap, tertegun karena Bayu selalu bisa membaca apa yang terjadi padaku bahkan untuk hal seperti ini. Begitu dia mengatakannya, aku jadi tersadar kalua memang sekarang perut, pinggang dan punggungku terasa lebih sakit di bandingkan tadi siang.


“Ya ampun aku bahkan tidak bisa menyembunyikannya darimu, untuk hal seperti ini.”


“Baiklah. Ayo ke rumah sakit.”


Aku menahan tangan Bayu saat lelaki ini mendorongku lagi agar masuk ke dalam mobil. Aku menggeleng lalu sedikit berjinjit agar bisa memeluk bahunya meskipun aku memakai heels tapi dia masih lebih tinggi.


Tangan kanan ku mengusap belakang kepala dan lehernya, hanya ingin memberinya pelukan karena hari ini dia menemaniku.


Kedua tangan Bayu mulai merespon pelukanku, dia memeluk pinggangku, menarikku lebih dekat lagi sehingga tidak ada jarak lagi di antara kami. Bayu meletakkan kepalanya di bahuku dan dia sengaja membuat wajahnya mencari celah di leherku, lalu aku bisa merasakan hidungnya menyentuh leherku yang sesaat membuatku


merinding.


Lelaki ini menghirup dalam-dalam napasnya di sana seolah dia menyukai wangi parfumku. Kalau di pikirkan lagi, kedekatan aku dan Bayu lebih intim dari sebelumnya. Satu minggu terakhir ini aku yang selalu lebih dulu ingin memeluknya seerat ini.


 


“Ayo kita pergi. Pinggang, punggung dan perutku memang sakit, tapi itu sudah biasa.”


“Kenapa sudah biasa??” Bayu bertanya, napasnya yang hangat menyentuh kulit leherku. Lelaki ini tidak berniat melepaskanku.


“Hari pertama menstruasi memang selalu seperti ini.” Aku berbisik menggodanya yang seharusnya tidak aku lakukan karena Bayu semakin mengeratkan pelukannya, wajahnya tidak segan-segan untuk masuk ke ceruk leherku lebih dalam. Tingkahnya membuat aku lebih gugup.


“Aku menyukai wangi parfummu, juga wangi rambutmu.” Setelah mengatakannya, Bayu melonggarkan pelukannya dan mengecup pipiku sebelum dia melepaskanku.


 


.


..



 


Seperti yang di janjikan Bayu, mobil jeepnya berhenti di depan mini market pinggir jalan. Aku segera melangkah turun dari mobilnya dan masuk ke dalam tanpa menunggu Bayu yang juga ikut masuk. Aku bertanya pada pegawai dimana toilet berada sebelum memilih apa yang harus aku beli.


Sebelum keluar dari toilet, aku menyempatkan diri melihat penampilanku di cermin dan harus berdecak kagum dengan kepekaan lelaki itu. Dia benar, wajahku terlihat lelah dan mataku sayu meskipun hari ini aku memakai make up dari biasanya.


Perutku yang masih sakit juga tidak bisa di abaikan sekarang, ini terasa sangat sakit dari bulan sebelumnya. Aku harus membeli jamu dan minuman hangat di sini. Acara keluarga Bayu di vila pasti tidak akan selesai hari ini. Kemungkinan kami akan menginap di sana.


 


 


“Kau baik-baik saja?” Bayu bertanya saat melihatku melangkah mendekatinya yang sedang di depan rak minuman.


Aku mengusap perutku dan menggeleng. “Haruskah kita batalkan saja perjalanan ini?”


“Tidak tidak! Aku akan membeli sesuatu agar sakitnya berkurang.” Jawabku cepat.


Bayu menunduk dan memperhatikan aku masih memakai sepatu heels dan dress merah maroon dengan blazer panjang coklat. Apa dia sedang berpikir tentang pakaian yang nyaman sekarang?


 

__ADS_1


“Mau ganti baju sekalian? Kakimu tidak pegal?”


Aku terkekeh pelan, benar apa yang aku pikirkan. Dia lelaki yang sangat perhatian. “Nanti aku akan ganti sepatu. Sekarang ayo cepat pilih yang mau di beli.”


Bayu mengangguk dan aku berbalik melangkah menuju baris minuman khusus untuk dating bulan. Kami berdua memilih beberapa cemilan dan minuman untuk bekal perjalanan juga dua minuman coklat hangat.


 


 


 


 


Setelah Bayu membayar semuanya, dia yang membawa kresek dan aku yang membawa dua gelas kertas minuman hangat kami. Aku melihatnya membuka pintu penumpang untuk memasukkan belanjaan kami dan keluar dengan sepatu putih milikku.


Hari ini entah sudah berapa kali aku kagum dengan perhatiannya. Dia mendorongku pelan untuk bersandar di pintu mobil dan tanpa di suruh dia sudah berjongkok di hadapanku.


 


“B—biarkan aku sendiri yang memakainya.” Suaraku terdengar bergetar gugup. Karena dua minuman di tanganku ini, aku jadi tidak bisa melakukan apapun.


“Selagi kita bersama, aku akan memanjakanmu.” Katanya sembari melepas sebelah sepatu heels ku dengan lembut dan memakaikan kaos kaki pendek yang sengaja terlipat di dalam sepatu.


Aku mengerutkan kening mendengarnya. “Selagi kita bersama?? Kau akan pergi?”


Tiba-tiba perasaan sedih muncul seketika. Apa ada maksud dalam perkataannya itu? Anehnya Bayu tidak menjawab, dia masih diam sampai selesai membantuku mengganti sepatu.


Rasa sesak langsung memenuhi rongga dadaku, sekarang tenggorokkan ku sakit memikirkan dia akan pergi jauh. Kemana dia akan pergi? Dengan siapa? Apa yang membuatnya harus pergi? Apa mungkin itu firasatnya??


 


Aku diam memperhatikan Bayu yang sudah menyimpan heels ku di jok belakang mobil lalu dia menutup pintunya dan menatapku. Pandanganku menjadi buram karena menahan air mata.


 


“Apa? Kenapa menangis? Apa perutmu sakit sekali?” Bayu justru bertanya panik.


“Kau akan pergi kemana? Selagai kita bersama? A—apa itu semacam firasat buruk?” Suaraku terdengar bergetar tapi Bayu menanggapinya dengan tertawa.


 


Aku mengerutkan kening heran, apanya yang lucu??


 


“Ya ampun maaf maaf! Sepertinya aku salah mengambil kata. Maksudku selagi aku tidak bekerja, kau tahu kan kalau aku sudah mulai kerja kita akan jarang bertemu. Skors ku berakhir tiga hari lagi.” Aku menghela napas lega mendengarnya.


Bayu masih tertawa dengan ke konyolanku. Aku sangat sensitif karena efek menstruasi.


Bayu mengusap ujung matanya dan dia mengambil satu minuman di tangan kananku. “Baru kali ini aku menginginkan hukumanku di perpanjang. Bagaimana mungkin aku mau berpisah dengan kesayanganku ini walau sebentar, hm?”


 


“Jangan konyol!”


Aku berbalik membuka pintu mobil, ingin cepat menghindarinya karena pipiku sudah terasa panas menahan malu. Telingaku masih mendengar suara tawa riang Bayu yang membuat hatiku lega.


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2