
...
Mau tak mau aku tersenyum kecil melihat foto itu, tiba-tiba saja merindukan Bayu. Meski bisa di tebak kalau tiga foto ini di ambil dari menggunakan ponsel, itu berarti bukan salah satu keluargaku, tapi dari tamu undangan yang hadir malam itu.
“Ini fotoku dan Bayu. Ada apa dengan ini? Apa mereka iri karena aku menikah?” Tanyaku mendongak pada Rima. Ponsel di genggamanku sudah di tarik oleh Tiwi dan di gilir pada mereka untuk melihatnya.
“Masalahnya adalah, dengan siapa kau menikah! Mereka iri pada itu.”
Aku menyipitkan mata berpikir, foto tadi tidak menunjukkan Bayu adalah seorang tentara. Aku masih tidak mengerti.
“Apa jangan-jangan ada yang membocorkan identitas Bayu?” Tebak ku tidak yakin, namun Rima mengangguk. Aku mengepalkan tangan kesal, benar-benar marah karena identitas Bayu sampai menjadi bahan gosip orang-orang di sini.
“Apa kau tahu siapa yang membocorkannya? Bisa kau bantu aku mencari tahu?”
Rima sedang menatapku, seolah sedang memikirkan sesuatu. “Aku mungkin bisa menelusuri jejaknya, tapi aku tidak mengerti satu hal.”
“Apa?” Tanyaku tidak sabar.
“Pernikahan kalian hanya mengundang keluarga terdekat ‘kan? Jika orang itu ada di pernikahanmu, berarti kamu kenal dia?”
“Ya. Aku punya asumsi siapa orang ini. Tapi tetap saja aku ingin yakin seratus persen sebelum berbicara dengannya.” Rima mengangguk lalu dia segera mengubah posisi duduknya menghadap ke layar komputer, tangannya sudah sibuk di atas mouse dan keyboard.
“Manis sekali! Kalian terlihat serasi.” Tiwi berkata lembut yang membuatku langsung meliriknya. Mereka semua masih ada di belakangku dengan senyum lebar menatap ponsel Rima.
Seketika aku juga tersenyum lebar. “Sebenarnya Bayu ingin memperkenalkan diri secara langsung pada kalian, tapi dia ada pekerjaan mendesak jadi tidak sempat.”
Sebelum mereka menjawab, pintu ruangan kami terbuka, salah satu sales masuk ingin menemui Camila, itu artinya kami harus kembali bekerja.
__ADS_1
.
..
…
Selama sisa enam hari berikutnya, aku sibuk mempersiapkan bahan-bahan pekerjaan untuk serah terima pada karyawan baru, untungnya semua teman-teman di ruanganku tidak menganggapku orang yang akan meninggalkan perusahaan sebentar lagi, mereka bekerja seperti biasa, berdiskusi denganku seperti biasa, meski terkadang masalah yang kami bahas untuk penyelesaian dua minggu atau satu bulan berikutnya, semua itu menjadi tambahan catatan pekerjaan untuk orang yang akan menggantikanku.
Sampai sekarang pun Pak Ginanjar dan Rima masih berusaha membantuku menelusuri orang yang menyebarkan gosip, tidak mudah karena gosip itu berasal bukan dari cabang tempatku, tapi dari orang-orang pusat.
Sedangkan karyawan lain di cabang ini selain dari ruanganku, selalu berkumpul, bisik-bisik ketika istirahat, aku tahu mereka sedang membicarakanku karena setiap kali aku lewat, mereka langsung mematung di tempat atau pura-pura sibuk sendiri. Tak jarang sikap beberapa orang dari mereka padaku lebih tidak ramah.
“Bagaimana?” Tanya nya ketika pintu sudah di tutup dari belakang.
Camila, Bela, Tiwi dan Kiki menghentikan kegiatan mereka di depan meja dan langsung menatapku yang masih berdiri di depan pintu bersama Rima.
“Tidak banyak, dia menyampaikan tentang kondisi di pusat, katanya bagian personalia mendapat keluhan dari karyawan lain karena terlalu ‘lunak’ padaku. Dia juga mengingatkanku tentang kunjungan orang penting dari grup Eternity, perusahaan yang beberapa hari lalu membeli 50% saham grup perusahaan ini. Pusat sedang sibuk untuk menyelesaikan masalah-masalah internal seperti aku ini.” Aku berjalan menuju mejaku bersama Rima yang mengekori dari belakang.
“Hanya itu? Bukan kah orang itu manajer yang secara langsung atasan kita menurut struktur organisasi? Seharusnya dia menahanmu.” Kata Rima.
“Seharusnya mereka sibuk dengan laporan-laporan yang masih berantakan, atau sibuk dengan utang piutang, bukan justru terfokus pada cuti seorang karyawan!” Kiki berkomentar.
“Itu berarti, mereka memang menginginkan aku untuk segera keluar dari sini.” Jawabku agak kesal juga di ingatkan Rima kalau orang yang baru saja aku temui adalah atasanku sendiri secara langsung.
__ADS_1
“Tapi kenapa gosip tadi malam mengatakan sebaliknya?”
“Gosip lain apa?” Aku menatap Rima penasaran ketika sudah duduk di kursiku sendiri.
“Sekarang orang-orang pusat mengatakan kau adalah karyawan kesayangan Pak Lim karena dia datang langsung ke sini hanya untuk membicarakan surat pengunduran diri, di pusat sedang sibuk jadi membutuhkan semua para petinggi perusahaan di sana untuk selalu siap siaga jika dibutuhkan.” Jelas Rima.
Aku justru mengerutkan kening, ketika berhadapan dengan Pak Lim, dia bersikap biasa saja padaku. “Entahlah, tapi tadi Pak Lim biasa saja padaku. Dia terlihat sudah sangat pasrah dengan surat pengunduran diriku, tidak berusaha membujuk ku untuk tinggal.”
“Tapi sebenarnya kenapa orang-orang pusat sangat sibuk untuk menyambut orang dari grup Eternity? Memangnya mereka mau meng-audit?” Tanyaku pada Rima.
Wanita itu menggeleng. “Mungkin mereka gugup karena kau tahu kan, grup Eternity adalah perusahaan terkenal di bidang entertainment, farmasi, properti bahkan sekarang mereka masuk ke bidang manufaktur.”
Sepertinya aku bisa menanyakan hal ini pada ayah Evano atau paling tidak bertanya pada Yudha, yang akhir-akhir ini kami semua sama-sama sibuk. Ayah Evano sering menanyakan kabarku setiap hari -aku merasa bersyukur mendapat perhatian kecil itu- dan Yudha juga sering menghubungiku untuk bertanya kapan dia bisa menemaniku masuk ke perusahaan karena ayah Evano memintanya untuk mendesak ku juga.
Aku belum bertemu lagi dengan keluarga Danendra satu minggu ini, walau begitu mereka tetap menghubungiku, bahkan paman Kenzo dan tante Kenzie bertanya kapan aku bisa main ke tempat mereka atau kapan mereka bisa datang mengunjungiku, sepertinya mereka semua tahu kalau malam hari pun setelah pulang kerja aku meneruskan kelas kuliah, jadi mereka tidak mendesak ku.
Lalu ketukan pintu ruangan membuyarkan lamunanku, Tiwi yang meja nya dekat dengan pintu segera berdiri dan membuka pintu. Ada seorang kurir di sana membawa sesuatu berwarna merah muda.
“Rima, bagaimana penyelidikanmu? Ada rumor siapa yang akan menggantikan Icha?” Tanya Bela pada Rima.
“Orang ini sangat… apa ya kata yang tepat? Bersembunyi? Bukan, misterius. Tidak ada yang benar-benar tau siapa namanya karena langsung mendapat training dari kepala HRD. Orang-orang mengatakan dia seperti kartu AS? Entahlah, rasanya agak berlebihan kan? Maksudku, pekerjaan kita ini terbilang merepotkan, apalagi di cabang ini. Bahkan karyawan yang berpengalaman pun dari cabang lain jika di pindahkan ke sini mereka menolak.”
Aku mengangguk, benar, itu fakta menarik lainnya tentang cabang ini, ketika dulu di rapat tahunan, salah satu atasan mengusulkan rotasi antar kepala bagian, tapi banyak yang tidak mau, terlebih alasannya karena mereka menolak untuk di tempatkan di sini. Cabang ini memiliki profit tertinggi di antara semua cabang lain juga memiliki segunung tanggung jawab karena luasnya kerja sama dengan mitra perusahaan lain jika harus membandingkan. Intinya, resiko menjadi kepala bagian di cabang ini lebih tinggi.
...
__ADS_1