
...
Tanganku ragu-ragu ingin membuka pintunya, meski di luar ruangan ramai karena masih dalam jam besuk, tapi di dalam kamar ini tampak sepi, aku tidak mendengar suara ribut-ribut orang berkunjung dari dalam.
Aku menghembuskan napas panjang sebelum memutuskan untuk menarik pintu ini untuk di buka.
Seperti dugaanku, ruangan besar ini sepi, ada 4 tirai yang semuanya tertutup, menyembunyikan pasien yang sakit di kanan dan kiriku.
Apa yang harus aku lakukan? Apa aku buka satu-satu? Atau aku panggil namanya?
Namun tirai yang ada di ujung sisi kiriku terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dari sana dengan membawa gelas kosong di tangannya.
Untuk sesaat kami saling pandang, dia seorang wanita paruh baya yang cantik dan rapih, pakaian santainya terlihat trendi kalau di bandingkan dengan wanita paruh baya lain pada umumnya.
“Cari siapa?” Tanyanya sembari melangkah mendekatiku.
Aku berdehem pelan sebelum menjawab. “Aku mencari Hanna Davindra.”
“Apa kamu teman anakku? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”
Entah aku harus merasa lega telah menemukan Hanna atau justru gugup menghadapi wanita ini. Dia adalah istri ayah, wanita yang membuat ayah selingkuh dulu.
Tidak bisa di pungkiri kalau sekarang aku gugup. “Bukan, aku di sini karena ayah mengatakan tentang putrinya yang sedang sakit.”
__ADS_1
Seketika raut wajah wanita ini berubah tegang dan kaku. “K—kau Natasha?”
“Panggil saja aku Icha.”
Wanita ini terdiam memperhatikan wajahku, ada jeda kecanggunangan di antara kami sebelum wanita ini berbalik dan melangkah mendekati tirai tadi yang dia buka.
Aku mengikuti langkahnya sampai aku bisa melihat seorang wanita sedang terpejam di atas brangkar di balik tirai. Ada informasi nama Hanna Davindra dan umur 26 tahun di papan yang tergantung di tempat tidurnya.
Wanita ini lebih tua dua tahun dariku, kalau seperti itu berarti ayah sudah memiliki mereka bahkan sebelum aku lahir??
“Sejak lima tahun lalu, Hanna di vonis mengidap kanker hati, kami sudah banyak melakukan pengobatan bahkan sampai operasi pengangkatan hati karena masih di stadium awal, tapi sejak empat bulan terakhir ini kondisinya semakin menurun. Dokter mengatakan Hanna perlu mendapat transplantasi hati.” Aku mendengar penuturan wanita ini dengan seksama sembari mataku tidak lepas menatap wanita di atas tempat tidur ini.
Dia memiliki rambut hitam sebahu, kalau di perhatikan garis wajahnya ketika tidur mengingatkanku pada ayah yang juga pernah aku lihat ketika dia tidur di rumah.
Jadi ini alasannya ayah tiba-tiba muncul di hadapan ku lagi karena kondisi Hanna semakin memburuk?
“Lalu bagaimana dengan donornya?” Tanyaku tanpa mengalihkan tatapanku pada wajah Hanna.
Lalu setelah itu kami sama-sama diam, sibuk dan pikiran masing-masing.
Aku masih tidak percaya kalau Hanna berumur 26 tahun, ada perasaan lega yang tidak bisa di jelaskan dalam rongga dadaku.
“Aku tidak pernah membayangkan kalau ternyata sosok seorang Icha yang sering mas Davin bicarakan adalah seorang wanita cantik dan manis seperti ini.” Aku mengerutkan kening lalu menoleh menatapnya bingung.
Ada senyum lembut dan tatapan ke ibuan yang kentara di wajahnya.
“Memangnya apa yang ayah ceritakan?” Tanyaku.
Namun pandangan kami teralihkan dengan cepat pada Hanna yang bergerak-gerak dalam tidurnya. “Ayo kita bicara di luar.”
Aku mengangguk menyentujui.
__ADS_1
Kami segera melangkah keluar kamar ini, lalu aku segera duduk di kursi samping pintu kamarnya. Ada 3 kursi kosong yang menempel, bersandar di dinding.
“Mas Davin bilang kalau putri angkatnya yang bernama Icha sudah memiliki kehidupan yang baik. Dia sudah memiliki pekerjaan dan mampu melanjutkan sekolahnya.” Ucapan wanita ini yang tiba-tiba membuat aku tanpa sadar menahan napasku.
Jadi memang benar sejak awal ayah mengakui ku sebagai anak angkatnya. Bahkan wanita ini mengenalku bukan sebagai anak kandung suaminya dari istri lain, tapi benar-benar anak angkat.
“Mas Davin menceritakan kalau Icha adalah sosok yang serius dan galak. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi akhir-akhir ini mas Davin tampaknya sedang kesal padamu. Apa kalian bertengkar?”
“Memang biasanya ayah selalu senang ketika bercerita tentang ku?” Aku balik bertanya.
Wanita ini terdiam sebentar, seolah sedang merangkai kata-kata yang tepat. “Selama ini, ketika aku bertanya tentang putranya yang bernama Daniel, dia selalu menunjukkan foto Daniel bersamamu, jadi setidaknya kami tahu perkembanganmu dari waktu ke waktu bersama putranya. Aku juga mendengar kau sudah menjaga dan membiayai sekolah Daniel selama ini. Untuk itu aku merasa berterima kasih padamu.”
Apa aku harus senang atau sedih mendengar penjelasannya? Aku senang karena ternyata ayah tahu bagaimana aku tumbuh tapi aku juga sedih ternyata alasan dia memperhatikanku karena Daniel bukan sungguh-sungguh peduli padaku.
Wanita ini pasti tidak tahu kalau sebenarnya ayah tidak pernah muncul selama dua puluh tahun ini sampai beberapa waktu lalu, itu pun dia datang karena alasan putrinya, Hanna yang sakitnya semakin parah.
“Tapi aku tidak mengerti.”
“Apanya?” Tanya wanita ini lembut.
“Umur Hanna. Maksudku, ayah dan ibuku bercerai sekitar dua puluh tahun lalu, itu ketika aku berumur lima tahun, kalaupun ayah memiliki anak lain, bukankah seharusnya dia lebih muda dari ku?”
Raut wajah wanita ini berubah lesu dan sedih. Dia menunduk memandangi lantai putih di bawah kakinya. Aku hanya diam menunggunya berbicara, berharap dia mau menceritakannya.
“Sebenarnya, aku dan mas Davin sudah saling jatuh cinta lama sebelum dia bertemu dengan ibumu. Ketika aku tahu dia di jodohkan dan akan segera menikah, aku pergi meninggalkannya ke luar negeri karena kecewa sembari menangani perusahaan ayah di hongkong yang juga tanpa rencana ternyata aku telah mengandung Hanna. Lalu aku kembali ke sini saat umur Hanna akan tujuh tahun, mas Davin menemukanku dan dia bilang ingin bertanggung jawab dan dia ingin kita kembali bersama. Awalnya aku tidak mau karena dia juga sudah memiliki tanggung jawab lain terlebih Daniel yang ketika itu sudah lahir. Tapi aku tahu bagaimana sikap kasar istrinya jadi aku menerima nya kembali. Maaf, Icha pasti sangat menderita selama ini karena ke egoisanku.”
Aku semakin mengerti permasalahan ibu dan ayah selama ini. Mereka di jodohkan, ayah yang memiliki wanita lain sebelum bertemu ibu dan ternyata yang pasti adalah sebab perceraian mereka bukan karena ku, selama ini aku selalu menganggapnya seperti itu tapi nyatanya justru ayah lah yang memang ingin kembali bersama dengan cinta nya.
“Kalau Icha ingin marah, tolong marah lah padaku atau ayahmu, tapi jangan membenci Hanna, dia juga sudah melalui banyak hal. Di tambah dengan kondisinya yang sekarang, dia harus menghadapi perusahaan ayahnya yang di ambang ke bangkrutan. Aku tidak tahu lagi bagaimana kesembuhannya nanti kalau perusahaan kami tidak terselamatkan.” Katanya tiba-tiba menarik tangan kiriku untuk dia gengam.
__ADS_1
...