
...
Aku menunduk, memejamkan mata lebih erat ketika denyutan di bahu dan kepalaku terasa menyakitkan. Padahal baru beberapa menit lalu aku baik-baik saja, tapi sekarang aku tidak berdaya lagi. Semuanya karena metode yang sama yaitu racun.
Telingaku mendengar suara langkah kaki mendekat, tanpa melihat pun aku sudah bisa tahu dari wangi parfum nya yang menguar.
“Bayu, bisakah kau mendekat.” Kataku pelan.
“Hm?” Bayu sudah berdiri di hadapanku, aku merasakan tangannya memegangi kaki kananku dan memasangkan sepatu heels yang tadi hilang.
Aku yang membuka mataku dan tersenyum kecil mendapati tingkahnya yang berhati-hati ketika memakaikan sepatu untukku. Setelah selesai memasangnya, tanganku menarik tangan Bayu lebih dekat hingga saat aku mendongak, wajah Bayu sudah sangat dekat ada di depan wajahku.
Hidung kami hampir bersentuhan dan aku bisa melihat matanya yang berkilau sedang menatapku. Bulu matanya yang panjang mengerjap beberapa kali karena bingung melihat aku yang hanya diam menatapnya.
Aku tersenyum kecil sembari memeluk bahunya lagi, meletakkan kepalaku di bahunya dengan nyaman. “Aku hanya ingin menyentuhmu.”
“Kamu sedang menggodaku di saat seperti ini?”
“Aku juga ingin terus memelukmu. Terasa nyaman sekali.” Bisikku.
Kepalaku bergerak mencari celah antara rahang dan bahunya sampai kening dan hidung ku bisa menyentuh kulit lehernya. Aku suka ketika perasaan manja ini terpuaskan.
Bayu mulai bergerak dan balas memelukku, dagunya di letakkan di puncak kepalaku dan kedua tangannya mengusap punggungku, seperti sedang menenangkanku.
Kami bertahan dalam posisi ini untuk satu menit berikutnya sampai aku merasakan tangan kananya berada di bawah lututku dan tangan kirinya menahan punggungku.
Lelaki ini mengangkatku, menggendongku, refleks aku mengeratkan tangan kananku ke lehernya, semakin memperdalam wajahku di lehernya.
Lalu aku merasakan Bayu berjalan membawaku keluar dari dapur dengan tenang, dia berbelok hingga sampai aku di baringkan di atas tempat tidur.
Pelukanku kepadanya lepas, mataku terbuka sayu mendapati wajah lelaki ini ada di depanku. Sekarang aku merasa sangat lelah.
“Istirahat dulu sebentar, sampai hujannya agak reda, aku akan menggendongmu lagi ke mobil dan kita ke rumah sakit.” Bisiknya di depan wajahku, kemudian Bayu mengecup lembut keningku, membuatku merasa sangat nyaman hingga aku memejamkan mata.
Sudah banyak orang yang bilang aku harus istirahat dulu.
Selama ini aku jarang sakit, tapi saat ini tidak buruk. Setidaknya ada seseorang yang benar memperhatikanku ketika aku jatuh sakit.
Jika memang hal ini yang harus aku lewati untuk tetap bersamanya, aku tidak keberatan.
Kita berdua akan kuat bersama ‘kan? Seperti yang tadi kau katakan, Bayu.
***
__ADS_1
Kelopak mataku bergetar, terbuka seiring dengan kesadaranku yang kembali. Pandanganku yang buram perlahan mulai jelas setelah aku beberapa kali mengerjap.
Setelah sepenuhnya terlihat langit-langit kamar berwarna oren kecoklatan, pendengaranku pun sudah lebih jelas mendengar detik jarum jam yang terdengar berisik di ruang yang sepi ini.
Aku mencium bau alkohol dan obat-obatan, lampu yang redup menyadarkanku kalau di luar matahari sudah di gantikan oleh bulan.
Hampir seluruh tubuhku terasa kaku tapi tubuh bagian kiriku sedikit berdenyut perih. Aku ingat kalau bahu kiriku sudah di jahit tadi siang.
Lalu sudut mataku menyadari seorang sedang berdiri di sisi kiri, dia sedang berdiri membelakangiku, menatap jauh ke luar jendela.
Bayu masih belum menyadari aku yang sudah sadar, kedua tangannya yang di masukkan ke dalam saku jaket hoodie abunya. Dia sudah berganti pakaian dengan yang terakhir aku ingat.
Aku baru kali ini melihat tatapannya yang menerawang jauh ke luar dari bayangan kaca, seolah ada yang mengganggu pikirannya. Lelaki itu benar-benar melamun karena tidak sadar aku yang kini sudah ganti posisi menjadi duduk di atas ranjang ini meski harus sedikit kesusahan.
Untuk satu menit berikutnya, aku masih diam memperhatikan punggungnya. Jam sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan malam berarti aku sudah tertidur cukup lama.
“Bayu.”
Dia tersentak dan berbalik kaget melihatku sudah sadar.
“Oh, kau sudah sadar? Apa perlu aku memanggil dokter Stefan?” Katanya panik melangkah mendekatiku.
Aku menggeleng dan segera meraih tangannya untuk membuatnya duduk di pinggir kasur.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
Ada jeda yang cukup panjang dan lelaki ini menghindari tatapanku. Sebelum menjawab, Bayu mengusap wajahnya dan menghela napas panjang.
“Tidak! Yang lebih penting sekarang adalah kesembuhanmu.”
“Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang? Kau sudah tahu apa yang terjadi?”
“Ayah dan kakek sudah mencari tahu, mereka belum mengatakannya padaku tapi katanya mereka akan memberitahu kita besok agar malam ini kita bisa beristirahat dengan tenang.”
Dari tatapannya aku bisa melihat ada hal lain yang sejak tadi dia pikirkan. “Ada hal lain yang kamu pikirkan ya? Apa itu ada hubungannya denganku?”
Bayu menatapku sekilas dan kembali memalingkan wajahnya, bibirnya yang terlipat ke dalam menjadi garis lurus menandakan dia sedang gugup dan tidak ingin mengatakannya.
Aku menghela napas pelan sembari menepuk pelan punggung tangannya. “Benar, ini ada hubungannya denganku dan kau tidak ingin membicarakannya.”
“Aku—“
“Tidak apa-apa. Kalau sudah tenang, kau bisa membicarakannya denganku.”
“Tidak apa-apa adalah kata menyeramkan yang di katakan wanita pada pria.” Sekarang Bayu meledekku. Sorot mata dan ekspresinya perlahan berubah lebih rileks dan dia sudah mau menatapku lagi.
__ADS_1
Namun detik berikutnya sorot mata jahil itu sudah menghilang di gantikan dengan tatapan melamun tertuju pada wajahku. Lelaki ini terdiam lagi.
“Katakan saja.” Ucapku tersenyum kecil.
Bayu menunduk, mengusap wajahnya sembari menghembuskan napas lelah. Aku jadi gelisah melihatnya yang seperti ini.
Masih menatapnya, aku diam menunggunya. Memperhatikan gerak-geriknya yang semakin gelisah sembari sesekali melirikku.
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya karena kamu akan memandangku berbeda setelah mendengar ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin kamu mendengarnya dari orang lain.”
Aku mengerutkan kening menebak-nebak. Ungkapannya berhasil membuatku gugup. Ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba muncul.
“Maafkan aku.” Bisiknya terdengar menyedihkan, wajahnya menampilkan ekspresi bersalah yang sangat dalam. Bibirnya mengkerut kebawah, pipinya juga.
“A—ada apa??”
“Aku mohon, setelah kamu mendengar ini jangan meninggalkanku. Aku benar-benar mencintaimu dan aku ingin egois untuk kali ini saja. Aku ingin kamu!” Bayu menggenggam tanganku sesaat sebelum dia melepaskannya.
Belum sempat aku berpikir menduga, Bayu sudah berdiri dan perlahan dia berlutut di samping kasur, kepalanya menunduk sebentar lalu mendongak menatapku.
“Jangan seperti ini—“
“Tidak! Aku akan tetap seperti ini sampai mengatakan semuanya.” Aku bingung, apa yang harus aku lakukan? Bayu tidak pernah seperti ini.
Lelaki yang penuh dengan kepercayaan diri ketika dia bersama anggota timnya, lelaki yang penuh rencana menghadapi orang-orang jahat, lelaki tampan yang akan tersenyum kalau aku tersenyum padanya dan lelaki yang aku cintai sekarang tampak rapuh dan sedih.
Aku ingin memukul apapun yang membuatnya seperti ini!
Ada jeda yang panjang sebelum sebuah pikiran terlihas di benakku dan mengatakan. “Kamu selingkuh?”
Bayu tidak merespon, dia diam.
Jantungku berdetak cepat.
...
__ADS_1