
...
Benny menjitak kepalaku dengan jari tangannya dan segera mendorongku agar aku berdiri tegak. “Sekarang, apa kau coba merayuku? Di saat seperti ini?”
Aku mengusap kepalaku sembari menatapnya kesal. “Tidak! Aku hanya menyadari apa yang aku lihat, di balik sikap curigaanmu itu ternyata kamu memiliki warna mata yang bagus.”
“Jadi nona, kau terpesona padaku? Berniat selingkuh dengan ku? Baiklah ayo kita lakukan.” Benny tiba-tiba menarik tanganku lagi yang dengan cepat aku tahan dan segera melepaskannya.
“Nona?! Berhenti bermain-main! Sekarang bantu Bayu!”
“Jangan lewat sana, kamu mau mereka tiba-tiba menyerangmu?” Benny lagi-lagi menghentikan langkahku, aku melihat kalau keempat pria itu memang masih sadar dan sedang merengek kesakitan.
“Kenapa enggak sekalian kamu buat mereka pingsan?!” Tanyaku sedikit kesal.
“Aku enggak kepikiran tadi. Kalau begitu aku akan membuat mereka—“
“Tidak! Lebih baik sekarang bantu Bayu dulu! Itu lebih penting.” Aku segera menariknya untuk menuruni tangga.
Mau tidak mau aku kembali lagi dan mungkin lift adalah pilihan bagus untukku naik ke lantai atas rumah sakit ini.
Begitu aku sampai di tempat perkelahian tadi, sebagian besar penjahat itu jatuh tak sadarkan diri atau mengerang kesakitan tergeletak di mana-mana.
Tersisa dua orang di depan Bayu, dua orang di depan Kenzo dan satu orang di depan Peter.
Benny segera maju mendekati Kenzo untuk membantu pria itu yang tampak sudah kewalahan. Aku berjalan cepat menghampiri lift tadi yang sekarang pintunya tertutup, menekan-nekan tombol panah atas dan diam menunggu.
Selagi menunggu, aku menatap punggung Bayu yang sekarang sedang berusaha memukul mundur penjahat itu yang hanya tersisa satu orang.
Tapi telingaku mendengar suara gerakkan samar-samar dari samping kiriku, aku cepat-cepat menoleh lalu mendapati salah satu penjahat di sana sudah berdiri terhuyung-huyung mendekatiku dengan pisau lipat di tangannya.
Caranya berjalan mengingatkanku pada zombie yang pernah aku tonton. Aku segera berlari menghampiri Bayu saat lelaki ini sudah berhasil mengalahkan penjahat itu dengan pukul terakhir di perutnya.
“Bayu Bayu Bayu!” Aku menjerit antara gugup dan geli sendiri karena sempat-sempatnya memikirkan tentang zombie di saat seperti ini.
“Dia mengejarku!” Aku sudah bersembunyi di belakang punggung Bayu sembari menunjuk penjahat yang sudah sangat dekat dengan kami.
Aku tahu, Bayu sempat terkejut dengan kehadiranku tapi sebelum lelaki ini melawannya lagi, Benny memukul dengan keras pria yang jalannya mirip zombie ini hingga jatuh tergeletak tak sadarkan diri.
“Kurang dari dua menit, aku sudah mendengar jeritan wanita ini dua kali hari ini.” Benny menatapku tajam sembari melipat kedua tangannya di atas perut.
“Hehehe, tiba-tiba saja aku memikirkan tentang zombie saat dia mengejarku tadi. Gaya berjalannya mirip.”
Tak!
“Awww……. Kenapa kalian berdua senang sekali menjitak kepalaku!!” Aku memekik kesal. Kali ini Bayu yang menjitak kepalaku dengan jari tangannya.
__ADS_1
“Ini tanda sayang, Boo.”
“Boo?! Panggilan apa lagi itu?! Tadi Benny juga memanggilku nona, tidak seperti biasanya. Sekarang kau juga ikutan memanggilku dengan nama lain??” Aku bertanya tidak percaya menatap kedua pria ini.
“Karena tadi di lift aku sempat memanggil namamu sehingga orang-orang ini tahu, jadi aku berpikir untuk memanggilmu panggilan lain.” Bayu tersenyum kecil, menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan seringaian puas.
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?” Aku mendengar Benny bertanya pada Bayu.
“Tidak tentu saja, yang tadi itu seperti olahraga bagiku.” Jawab Bayu tersenyum.
“Aku sudah minta dokter Stefan untuk memanggil bantuan tapi pukulanmu lebih cepat dari mereka.”
“Yeah, tapi ngomong-ngomong terima kasih sudah memperingati sebelumnya dan sudah datang ke sini.”
Diam-diam aku tersenyum kecil menatap dua orang pria ini, keduanya masih asik mengobrol sembari mengedarkan pandangan pada orang-orang yang tergeletak di mana-mana.
Aku juga ikut mengedarkan pandangan, tiba-tiba menyadari berapa banyak orang yang mengejarku, pisau lipat dan tongkat pemukul terjatuh di masing-masing tubuh mereka.
Perasaan takut mengerjapku seketika, membayangkan bagaimana jika Bayu justru tidak bisa mempertahankan dirinya dan dia terluka oleh mereka, jantungku berdetak cepat.
Aku mulai merasakan tanganku bergetar pelan, keringat dingin juga aku rasakan di leher dan punggungku. Aku mengerjap beberapa kali sembari mengatupkan rahang keras, berharap kecemasan ini berkurang.
Bayu dan Benny masih mengobrol sembari mereka menyingkirkan benda-benda tajam itu. Kemudian pandanganku teralihkan melihat pria bernama Kenzo tampak jatuh terduduk di dekat pintu tangga darurat bersama Petter yang berdiri sambal menelpon tak jauh darinya.
Kaki ku melangkah tanpa aku sadari mendekati Kenzo yang sedang menunduk, melihatnya yang seperti itu mengingatkanku padanya saat tadi dia menangis karena seseorang telah tiada.
Dari ujung mataku, Peter terdengar sedang marah-marah di telpon sedangkan aku sudah berdiri di hadapan Kenzo.
Penampilannya berantakkan, saat melihat di lift tadi dia memiliki tatapan tajam dan garis wajah yang tegas. Matanya juga bulat dengan hidung mancung.
Pria ini mendongak, dan saat itu pula aku melihat raut kesedihan di wajahnya. Ada sisa keringat membasahi sisi wajahnya juga mata dan hidungnya memerah.
Untuk sesaat pria ini menatapku, aku mengerjap tidak menduga pria ini memperlihatkan wajah kesedihannya di depan orang asing seperti ku.
“Ka—kami sudah meminta bantuan dan sebentar lagi dokter Stefan akan datang. Jadi bertahanlah kalau anda—“
“Apa dokter itu bisa mengobati luka hatiku?” Suaranya terdengar datar dan dinging bertanya padaku.
“Eh? M—maksud luka hati……. Apa anda sedang menunggu donor hati?”
Bodoh! Jelas aku tahu maksud pria ini tapi tetap saja aku berusaha untuk berpikir rasional.
“Tolong jangan di pikirkan apa yang dia katakan. Dia hanya sedang demam.” Peter tiba-tiba berujar di sampingku dengan ponsel masih menempel di telinga kirinya.
__ADS_1
“Demam? Aku juga sedang demam……” Refleks aku meletakkan tangan kananku di kening pria ini dengan tangan kiriku di keningku sendiri, bermaksud membandingkan seberapa panas demam yang dia rasakan sekarang.
Tapi justru yang terasa keningku lebih panas darinya.
“B—bukan demam seperti itu.”
Aku segera melepaskannya sembari mendongak tersenyum canggung pada Peter. “Aku mengerti.”
“Siapa namamu?” Pertanyaan Kenzo mengalihkan perhatian kami berdua.
Pria ini sedang menatapku serius sejak tadi sembari keningnya berkerut.
“Maaf, perkenalkan nama saya Icha.”
“Nama lengkap?”
“Natasha Icha.” Jawabku tersenyum kecil.
“Natasha Icha adalah nama yang tidak lengkap ‘kan?” Pertanyaan pria ini membuatku mengerutkan kening heran.
Apa dia peramal? Aku memang bingung harus menyebut nama belakangku apa. Entah Davindra atau Danendra.
“Sejak tadi aku terus memikirkan ini, ketika melihat wajahmu pertama di lift tadi mengingatkanku pada seseorang. Sekarang melihat mu dari dekat seperti ini aku semakin yakin pernah melihat wajahmu di suatu tempat.”
“Errr—maaf tapi aku tidak ingat, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Tidak. tapi, aku tidak tahu apa kamu sudah mendengar tentang kenyataan ini sebelumnya.” Dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya, mengotak-atiknya sebentar lalu kembali menatapku.
“Aku tidak pernah membayangkan akan mengatakannya dalam kondisi seperti ini tapi kau memang benar dia.” Kenzo menunjukkan sebuah foto padaku.
Itu fotoku yang sedang tertawa di trotoar jalan bersama rekan-rekan kerjaku, ini jalan yang biasa aku lalui kalau makan siang di luar kantor. Di ambil diam-diam dari kejauhan.
“Natasha Icha Danendra, satu-satunya putri kakak ku.”
...
Terima kasih yang sudah mendukung karya ini..
Berharap para pembaca tidak bosan dengan ceritanya.
__ADS_1