EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 21


__ADS_3

...


 


“Ingat saat kita bertemu lagi untuk pertama kali? Ketika kamu hampir di tabrak. Saat aku bertemu dan menatap matamu lagi, rasa nyaman dan tenang yang selama lima tahun hilang, aku merasakannya lagi, lalu aku berpikir, ‘Aahh ternyata benar, aku masih sangat menyayangi gadis ini. Aku masih ingin bersamanya. Rasa sayang ini tidak hilang sedikitpun meski sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu dan aku sangat merindukannya’.”


Mataku tidak lepas menatap wajahnya dari samping. Mendengar lebih lanjut ceritanya.


“Bohong jika mengatakan aku percaya diri dengan rasa sayang ini akan hilang. Aku sangat ragu dan gugup untuk


bertemu lagi denganmu. Aku takut jika ternyata rasa sayang ini sudah tidak ada lagi. Tapi Cha—seseorang pernah mengatakan sesuatu pada ku.“ Bayu melirik menatapku.


Aku di buat semakin gugup. Tanpa sadar aku berusaha keras menelan salivaku. Udara dingin malam tidak aku rasakan. Wajahku benar-benar panas karena malu.


 "Someday, someone will walk into your life and make you realise why it never worked out with anyone else."


Sekarang jantungku benar-benar berdetak sangat kencang.


“Kamu tahu rasanya saat makanan terasa lebih enak. Saat langit terlihat lebih indah. Atau saat tidur lebih nyenyak?” Aku mendengar nada itu, nada jahil itu kembali lagi.


Tidak bisa disembunyikan, aku tertawa kecil menanggapinya. Bayu ikut tertawa, tangannya menggaruk belakang


kepala, pertanda lelaki ini sedang gugup.


“Aku tidak pernah mengatakan hal-hal romantis seperti ini, tapi apa yang aku katakan benar apa adanya. Jujur, awalnya aku memang tidak ingin bertemu denganmu, aku sempat diam-diam memperhatikanmu, tapi saat malam itu kau hampir tertabrak, aku tidak tahan lagi, aku sadar, aku ingin melompat menghampirimu, aku tidak ingin melihatmu terluka. Terlebih aku tidak ingin kehilangamu, aku ingin melihatmu lebih lama, aku ingin berdiri di


sampingmu. " Ada jeda sebelum dia melanjutkan.


"Dan aku melihatnya, sorot matamu yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Senyummu yang dengan perlahan muncul saat aku menatapmu.” Bayu membenarkan posisi duduknya agar menyamping menghadapku dan menatapku sembari tersenyum kecil.


Aku yang tidak tahu harus bereaksi apa, aku merasa salah tingkah dan masih diam balas menatapnya. Tapi senyumannya menular padaku, kedua sudut bibirku otomatis terangkat perlahan, tersenyum padanya.


“Aku jatuh cinta lagi, untuk kesekian kalinya padamu.”


Mendengar pernyataannya, mendengar bagaimana nada suaranya membuat rongga dadaku terasa hangat. Lelaki ini begitu mempesona.


Rasa bahagia membuncah dalam hatiku. Sekarang, perasaan rindu ini terasa membahagiakan.


Rindu yang terbalaskan.


Rindu yang bisa dengan bebas di ekspresikan.


“Terima kasih telah mengatakan semuanya.” Tak tahan, aku tersenyum lebar menatapnya. Bayu berdehem, matanya tidak menatapku tapi aku tahu dia masih sangat gugup sekarang.


Ya ampun lucu sekali!


“Kau yang terbaik yang pernah aku dapatkan. Kau sosok yang tak mungkin aku temukan lagi.”


Wajahku memanas, aku tanpa rencana mengatakan semua itu. Apa terdengar berlebihan?

__ADS_1


“Aku tahu mungkin ini terlambat setelah pertemuan pertama kita beberapa minggu lalu. Tapi, aku ingin mengenal Natasha Icha Davindra lebih baik. Aku ingin mengerti dan mengenal sosok Icha yang sekarang. Meskipun aku tidak menghitung kata putus lima tahun lalu!" Tanpa sadar aku menahan napas beberapa detik mendengar betapa Bayu kekeuh dengan perkataan terakhinya itu.


"Kamu mau mengenal sosok Bayu lagi? Sosok yang mungkin lebih dewasa.”


“Tentu! Senang berkenalan denganmu, Bayu Christ Jeremy!” Aku mengulurkan tangan dengan senyum lebar menatapnya.


“Senang berkenalan denganmu juga, Natasha Icha Davindra.” Tangan besarnya membalas uluran tanganku. Kami


sama-sama tertawa tapi tidak bisa di pungkiri kami sangat bahagia sekarang.


Ada suatu kelegaan yang tersirat di hati ku.


Wanita butuh kepastian.


Setelah dia mengatakan semuanya dengan jelas, sekarang aku bisa menentukan bagaimana aku harus bertindak. Kami sama-sama terdiam untuk menit-menit selanjutnya, hanya suara hembusan angin malam dan suara kendaraan dari kejauhan yang terdengar jelas di telingaku.


Rasanya suasana canggung seperti ini seperti de javu, saat pertama kali kami bertemu ketika masih anak-anak. Namun tiba-tiba aku teringat sesuatu.


 


“Oh iya, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Rey? Dia selalu mencariku.”


Ekspresi Bayu berubah jadi serius. Lelaki ini berdiri dari posisi duduknya, terlihat tidak tenang. “Kau harus menjauh darinya. Dia adalah salah satu anggota mafia yang sedang di kejar Dia sangat professional.”


“Dia sangat pro ya? Sepertinya sulit, bahkan dari kemiliteran belum bisa menangkapnya.”


 


bingung.


Maksudku, apa Bayu tidak berpikir untuk menempatkan salah satu anggotanya untuk mengawasiku? Seharusnya mereka terpikir untuk mengawasiku karena Rey selalu datang bertemu denganku.


“Hari ini dia datang ke sini.”


Bayu menatapku khawatir. Aku cepat-cepat menggeleng. “Aku mengabaikannya. Dia tidak melakukan apapun.”


“Aku akan menyewa pengawal untuk mengawasimu.”


“Jadi selama ini kau tidak berpikir untuk mengawasiku? Bukankah kau tahu dia pernah bertemu denganku?”


“Permintaanku untuk menempatkan anggota tentara mengawasimu tidak di ijinkan oleh komisaris karena pergerakkan Rey masih belum jelas. Pihak kepolisian yang ikut membantu juga belum mendapatkan apa-apa.” Aku mengangguk mengerti. Terjawab sudah pertanyaan yang sejak tadi sudah ada di ujung lidah.


“Jadi, apa yang di lakukan Rey? Apa yang dia ingin tahu?”


“Awalnya Rey ingin tahu tugas yang sedang kau kerjakan. Dia terus memaksa aku untuk menjawab tapi tadi dia—“


“Dia apa? Apa yang si Rey tanyakan?” Bayu terlihat tidak sabar mendengar jawabanku.


Aku menyipitkan mata menatapnya, sepertinya ada sesuatu yang Bayu harap Rey tidak memberitahukannya padaku.

__ADS_1


Aku berdiri, balas menatapnya penasaran.


“Apa ada sesuatu yang--”


“Tidak.” Bayu terlihat gugup. Benar-benar terlihat jelas.


“Kenapa jawabanmu cepat sekali? Benar ‘kan ada yang kau sembunyikan? Sesuatu yang kamu harapkan aku tidak tahu.”


Aku yang sudah berjalan pelan mendekatinya mendapat sikap defensif dari Bayu, dia melangkah mundur ingin menghindariku.


“Tunggu sebentar, sebelum membahas Rey. Sebenarnya kau kenapa kesal padaku tempo hari? Kau bahkan tidak ingin melihatku.” Aku menghentikan pergerakkanku lalu berpikir sejenak.


“Karena kau menyebalkan!”


“Aku? Menyebalkan? Apa yang aku lakukan?”


“Kenapa setelah pertemuan kita di rumah sakit, saat kita masih mengobrol di telpon, saat aku berangkat untuk


rapat di luar kota, setelahnya kau tidak ada kabar sama sekali. Lalu tiba-tiba kau muncul!”


Bayu mengerutkan keningnya berpikir, sorot matanya tidak lepas menatapku. Tubuhnya yang tinggi membuatku harus terus mendongak. Lima tahun lalu, aku setinggi alis matanya. Tapi sekarang, aku


hanya setinggi bahunya.


“Saat itu aku ada tugas.”


“Kenapa kau tidak membalas pesanku? Setidaknya kau bisa membalasnya di waktu santai di tengah tugas!” Aku jadi menuntut penjelasannya.


“Aku tidak ingin fokusku terbagi.”


“Waah kau jahat sekali.” Aku menggeleng, melipat tangan di atas perut.


“Apa kau mengharapkan balasanku?” Dia bertanya dengan nada jahil.


“Tentu saja! Sudah lama kita tidak bertemu dan tidak mengobrol. Tentu saja aku menunggu balasanmu.”


“Sangat menunggu?”


Aku mengangguk lalu menjawab. “Obrolan kita di rumah sakit belum selesai. Lagi pula kita sudah lama tidak bertemu, dan wanita itu butuh kepastian!”


“Kau sangat merindukanku, ya?”


“Tent—HEI!!” Aku memekik sebal, Bayu justru tertawa kecil menatapku. Sorot matanya berubah jahil. Tangannya sudah berada di puncak kepalaku, menepuk-nepuknya pelan.


 


 


...

__ADS_1


__ADS_2