EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 149


__ADS_3


 


 


 


“Kau adalah orang pertama yang akan aku perhatikan untuk selalu baik-baik saja dan bahagia.” Pipiku memanas, kata-kata manisnya yang bernada serius membuatku jatuh cinta lagi padanya.


“Dan aku juga orang pertama yang akan memastikan kalau kau di cintai sepenuhnya sampai aku menghembuskan napas terakhir.” Aku berbisik pelan menjawabnya kemudian segera melepaskan pelukannya, sadar dengan kami yang ada di tengah acara.


“Itu balasan yang setimpal.” Jawabnya tersenyum puas.


Obrolan kami terhenti saat telingaku mendengar suara sorak kehebohan orang-orang di sekitar kami. Karena tidak mendengar apa yang MC katakan di depan, aku jadi bingung sendiri.


“Ada apa?” Bayu bertanya pada Benny yang sedang bertepuk tangan senang.


“Kau tidak mendengarnya? Ya ampun!”


“Kita harus memisahkan mereka berdua! Jika Talia ada di sini, dia pasti sudah melakukannya.” Itu Lifer yang menanggapi juga. Aku dan Bayu jadi tertawa canggung.


“Katanya, kakek Jeremy akan memberikan kita semua masing-masing uang satu juta untuk mengganti hadiah utama dan meminta maaf karena acaranya tidak sesuai rencana.” Dokter Stefan menjawab pertanyaan Bayu.


“Oh benarkah? Waah aku senang sekali!!” Aku jadi refleks tertawa heboh. Reaksi yang terlambat.


“Apa yang akan kau lakukan dengan uang itu, Cha?” Lifer bertanya.


“Tentu saja aku akan berbelanja sepuasnya!” Jawabku semangat, sudah tidak sabar ingin pergi ke mall.


“Wanita kalau sudah mendengar uang pasti cepat tanggapnya!” Benny meledekku.


“Tentu saja! Akan munafik kalau wanita tidak suka uang.” Aku membalas tidak ingin kalah.


“Benar! Talia juga sangat merinci uang bulanan kami.” Tiba-tiba Lifer berkata suram.


“Tapi Bora tidak pernah menyinggung soal uang denganku.” Dokter Stefan yang sekarang bertanya heran.

__ADS_1


“Tentu saja karena kalian belum menikah! Coba kalau kalian sudah menikah, kalian akan menemuka sifat yang tidak pernah kalian temui saat masa pacaran.” Lifer berkata penuh percaya diri karena dia satu-satunya yang sudah menikah di sini.


“Oh ya? Sifat sejenis apa?” Aku melirik Bayu karena dia juga jadi penasaran.


“Setiap pasangan berbeda, jadi kau akan tahu kalau sudah menikah.” Lifer melirikku dan Bayu juga ikut melirikku.


Lalu kelima lelaki ini semua melirikku. “Apa?! Kalian jangan berpikir yang macam-macam!”


“Oh lihat! MC nya mau mengumumkan hadiah lagi!” Aku berseru semangat dan berhasil mengalihkan tatapan mereka berlima ke arah panggung.


Aku terkekeh lalu segera berdiri dan keluar dari kursi sebelum mereka protes karena nyatanya di panggung tidak ada MC, sekarang sedang ada sebuah band dengan vokalis pria dan wanita bernyanyi. Banyak orang juga sudah berdiri dari tempat duduk mereka untuk mendekati meja parasmanan karena sudah waktunya makan siang.


Aku tahu dan sangat menyadari bagaimana orang-orang yang penasaran selalu curi-curi pandang melihatku, menatapku dari atas sampai bawah atau bahkan menilaiku, membanding-bandingkan kecantikan dan selera fashion dengan orang lain ketika aku masuk ke dalam barisan untuk mengambil sendiri makan siang.


Jujur saja, sekarang aku sangat lapar dan tidak akan mempedulikan mereka. Aku akan fokus dengan berbagai makanan lezat di hadapanku.


“Selamat, kamu berhasil membuatku menjadi wanita bodoh dan kasihan karena lelaki idamannya milik orang lain.” Suara wanita yang penuh penekanan berbisik di samping kiriku.


Sandra bersama dua temannya berbaris di belakangku. Aku hanya melirik mereka sekilas dan tetap bungkam tidak ingin menanggapi.


“Kenapa diam? Sekarang kau pasti sangat puas karena melihatku menderita!”


“Kau sengaja bermesraan dengannya di hadapanku untuk membuatku melakukan tindakan ini kan? Marah-marah dan mempermalukan diriku sendiri?”


“Aku akan menyicipi semuanya!” Aku masih berbicara dengan diriku sendiri, mengabaikan apa yang Sandra katakan dan memutuskan untuk menyendok 3 olahan ayam itu, setelah memindahkannya ke piringku masing-masing sedikit kemudian aku bergeser untuk mengambil hidangan sayuran.


Aku tidak ingat apa lagi yang Sandra katakan sepanjang aku mengambil makan siang hingga aku sampai di meja parasmanan terakhir, aku segera membawa piring di tanganku dan berjalan menuju meja.


Ternyata Sandra masih mengikuti di belakang sembari dia mengatakan hal-hal konyol. Suaranya berhenti saat aku melihat di kejauhan Bayu dan yang lain sudah membawa piring masing-masing dan mereka sedang menuju meja.


Sandra kembali ke mejanya tapi dia sama sekali tidak melepaskanku.


 


 


 

__ADS_1


Acara penutupan siang ini berjalan lancar, setelah waktu makan siang, MC memimpin susunan acara, mulai dari hiburan music, sambutan-sambutan dari orang-orang kemiliteran, pembahasan tentang tugas pertama yang kami selesaikan kemarin malam juga tentang hadiah yang di berikan tetua Jeremy pada semua orang di


sini.


Aku sedikit lega karena kakek Jeremy tidak membahas tentangku atau Bayu saat dia memberi sambutan meskipun ada orang yang secara terang-terangan bertanya pada tetua mengenai Bayu yang melaporkan para pengusaha dan pejabat karena ikut campur mengenai penawar racun tempo hari saat tetua mempersilakan orang-orang


untuk bertanya padanya.


Lifer bahkan berkomentar kalau akan ada orang-orang tak terduga berusaha mendekati Bayu setelah tahu Bayu bisa melakukan semua itu. Di dunia kerja selalu ada orang seperti itu, yang tiba-tiba mendekat karena mereka ingin memanfaatkanmu.


Setelah acaranya selesai jam 2 siang, kami di perbolehkan untuk bubar dan pulang. Tidak lupa aku berpamitan pada Putri karena bagaimanapun dia adalah wanita yang aku kenal di sini.


Ketika gedung aula ini sudah sepi, aku dan Bayu masih belum beranjak karena kami sempat mengobrol dengan bunda. Selain itu, Lifer, Ronald, Benny dan dokter Stefan juga masih belum pergi, mereka sedang asik mengobrol dengan orang lain.


Lalu aku memutuskan untuk pamit kembali ke vila untuk mengambil barang setelah Bayu mengatakan pada bunda akan mengantarku pulang. Awalnya lelaki ini ingin menemaniku kembali ke vila tapi aku menolaknya, ingin membiarkan dia berbicara dengan bunda lebih lama.


 


 


Saat kakiku melangkah keluar dari gedung, perhatianku langsung tertuju pada langit mendung. Pantas saja udaranya lebih dingin dan berangin. Matahari terhalang oleh awan dan sebentar lagi pasti akan turun hujan.


Setengah berlari aku segera menuju vila dengan harus melewati vila lelaki yang sudah agak sepi. Begitu juga dengan vila perempuan yang kebanyakan pelayan sedang sibuk membersihkan vila.


Hanya ada beberapa orang yang masih belum pergi, dari orang yang sedikit itu jelas sekali Sandra sedang berdiri di depan pintu sembari matanya menatapku tajam.


 


Ya ampun, kenapa dari sedikit orang di sini, wanita itu masih ada!


 


Mengabaikan lagi, aku berjalan cepat melewatinya tanpa meliriknya dan hal yang aku duga terjadi lagi. Dia menahan tanganku dan menarikku untuk mundur agar aku bias berhadapan dengannya.


“Aku tidak terima karena kamu telah merusak reputasiku! Orang-orang di sini membicarakan aku sebagai wanita penggoda atau orang ke tiga!”


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2