
...
“Apa?? B—bukan seperti itu, karena dia adalah saudaraku maka—“
“Harus membantu? Menjadi baik dan bodoh itu hal yang berbeda.” Sela Bayu dengan wajah yang serius.
“Kau berani menghina putriku?!” Tante Marisa bertanya marah pada Bayu.
“Aku hanya bertanya padanya, kalau pertanyaan ini justru menjadi standar tante dalam penghinaan, maka tante tidak bisa membiarkan putri tante bekerja, bahkan untuk melakukan wawancara kerja pun sepertinya tidak!”
“Apa maksudmu?!” Tuntut tante Marisa.
Aku segera memegang tangan Bayu, menghentikannya menjawab lebih lanjut. Kami saling bertatapan sebentar, lelaki ini kembali menyandarkan punggungnya di sofa untuk membiarkanku yang menjawab. “Apa yang Bayu tanyakan itu manfaat untukku kalau Hanna ikut bekerja denganku karena bagaimanapun dia sedang sakit. Aku lebih baik tidak mengizinkan karyawan yang sakit bekerja tapi kalau aku tetap mengizinkannya masuk bekerja karena kepentingan membantu saudara, berarti aku yang bodoh.”
“Sekarang kamu juga menghina Hanna yang sedang sakit?!” Ayah menatapku marah.
“Coba ayah pikir, apa ayah mau menerima karyawan yang sedang sakit di perusahaan ayah? Lebih baik dia berobat supaya sembuh, kalau tetap menerima karyawan sakit justru akan menghambat pekerjaan ‘kan?” Tanyaku pada pria paruh baya ini.
“Dan lagi Hanna, kenapa kamu minta aku membantumu bekerja? Ayah juga pemilik perusahaan, kenapa tidak membantunya bekerja saja di sana? Kau mungkin memang saudara tiriku, tapi aku tidak mengenalmu. Kita baru benar-benar berbicara dua kali, saat di pesta pernikahan dan sekarang. Selebihnya, kamu hanya orang asing bagiku jadi jangan terlalu mengharapkan sesuatu dariku.” Jelasku pada Hanna yang kemudian dia menangis.
“Hanna sayang, jangan menangis.” Tante Marisa berusaha menghentikan isak tangis anak nya sembari melirikku kesal.
“K—kamu beruntung Cha, punya keluarga yang lengkap seperti keluarga Danendra, p—punya pekerjaan yang bagus, kau juga meneruskan pendidikanmu, terlebih kau punya tubuh sehat. Sedangkan aku? Aku sakit-sakitan, aku lemah! Apa kamu tahu rasanya di posisiku, Cha? Ketika semua orang menjalani hidup normal di luar sana, aku justru harus ada di rumah sakit.” Aku melipat kedua tangan di atas perut, kesal sekali mendengar perkataan Hanna.
__ADS_1
“Apa kamu pikir aku mendapatkan semua ini dengan mudah? Tentu saja kamu hanya melihatku yang sudah mendapatkan pekerjaan, meneruskan pendidikan, mendapat keluarga lengkap dan tubuh yang sehat. Tapi sebelum ini aku mendapatkannya dengan perjuangan. Aku harus bekerja keras untuk mendapatkan posisi jabatanku sekarang, aku harus merelakan waktu istirahatku untuk melanjutkan kuliah, tubuhku juga sakit karena aktifitas itu. Kau juga tahu kan, ayah dan ibu bercerai saat aku berumur tujuh tahun dan ayah datang kepadamu, kau yang memiliki keluarga yang lengkap sejak dulu sampai sekarang. Lalu apa kamu pikir, mudah masuk ke dalam keluarga Danendra meski ternyata mereka keluarga kandungku? Aku belum sepenuhnya menganggap keluarga itu sebagai rumah.” Jelasku panjang lebar, tapi Hanna semakin terisak kencang.
“Tapi kau mendapatkan semua keberuntungan itu! Di tambah, kau mendapatkan suami seorang tentara. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan masa depanmu. Hiks.... Sedangkan aku? Tidak ada laki-laki yang mau dengan wanita sakit sepertiku!!”
“Itu bukan keberuntungan! Itu namanya kerja keras!!” Jawabku penuh penekanan “Aku dan Bayu harus melewatkan banyak hal untuk bersama. Ya, dia memang punya pekerjaan yang hebat, tapi tetap saja, kami tidak bisa sering bertemu seperti pasangan normal lainnya karena tugas dinasnya. Semua itu tidak semudah apa yang kamu pikirkan.”
“Jadi sekarang kamu membanding-bandingkan hidupmu dan Hanna? Kamu pikir hanya kamu saja yang menderita?” Ayah menggertakku yang berhasil membuat Bayu bangkit duduk tegak, lelaki ini hendak mengatakan sesuatu tapi aku menahan tangannya dan menggeleng pelan.
Bayu menatapku dengan pandangan frustasinya tapi aku hanya tersenyum menenangkannya.
“Kamu tidak tahu bagaimana di posisi Hanna! Jadi jangan so mengajarinya! Hidup kalian berbeda!” Gertak ayah.
“Semua itu keberuntungan dan kerja keras, Hanna membutuhkan keberuntungan juga, maka dari itu dia harus sembuh agar bisa menjadi anak hebat seperti kamu. Benar ‘kan sayang?” Ujar tante Marisa sembari melirik anak perempuannya.
“Hanna! Kamu tidak perlu memohon seperti itu! Sudah sepantasnya Icha juga membantumu, dia saudaramu!” Tegur ayah marah.
“Tentu saja dia harus memohon, mana ada perusahaan yang mau mempekerjakan anak sakit seperti dia.” Ibu berkata meremehkan yang mendapat tatapan marah dari tante Marisa.
“Pokoknya Cha, ibu enggak mau membagi harta warisan itu pada mereka. Kamu jangan mau di bodohi!”
“Ayah juga berhak mendapatkannya! Kamu menganggap aku ayahmu ‘kan?!”
Tanganku mengepal, marah. Semua ini sudah keterlaluan! Mereka terus saja memanfaatkanku! Apapun yang aku katakan tidak pernah membuat mereka sedikit saja berpikir.
__ADS_1
“Aku hanya mengatakan ini sekali, dengarkan!” Suaraku terdengar berat dan bergetar menahan kekecewaan. Rahangku menggertak berusaha menahan agar aku tidak meledak marah-marah.
“Pertama, aku sudah meminta keluarga Danendra memverifikasi harta warisan itu agar bisa di ubah nama ibu mengingat wasiat bibi Rose melarangku mengubah nama. tidak—dengarkan! Aku hanya melakukan sebatas itu, tidak akan memohon jika pada akhirnya tidak di izinkan oleh mereka. Keputusan akhir ada pada mereka. Kedua, seperti tawaranku pada ayah di rumah sakit, aku akan membantu biaya pengobatan Hanna dengan cara jika ayah sudah siap menjual saham perusahaan padaku. Apapun yang ayah inginkan sekarang, aku tidak bisa memberikannya. Ayah memang yang selama ini aku kenal sebagai sosok ayah tapi ingatan itu hanya sampai aku berumur tujuh tahun, ketika ayah angkat tangan pada ibu, aku dan Daniel lalu memilih bersama tante Marisa dan Hanna, maka sejak itu lah ayah tidak berhak lagi menuntutku memahami kondisi ayah.” Jelasku penuh penekanan bernada dingin meski beberapa kali ayah dan ibu hendak menginterupsiku.
“Kamu tidak bisa—“
“Dan!!” Aku memotong protesan ayah dengan tajam. “Kalau kalian tidak ada hal penting lagi padaku, maka jangan datang menemuiku! Mulai sekarang, aku tidak akan menemui kalian!”
“Icha, kamu anak som—“
BRAKK!!
Aku memukul meja, kali ini berhasil memotong ucapan ibu dan membuat kaget mereka semua, termasuk Bayu yang langsung menatap tangan kiriku di atas meja.
“Apa kalian sadar, kalian selalu egois?! Kalian banyak menuntutku untuk menuruti semua permintaan kalian! Di samping itu kalian juga menghinaku! Apa pernah, ibu menanyakan aku sudah makan atau belum? Apa pernah, ayah menanyakan kabarku selama dua puluh tahun ini? Tidak! Kalian tidak pernah sadar hal kecil seperti itu. Mulai
sekarang, aku tidak mau berurusan dengan kalian. Terserah kalian mau menganggapku apa. Kesabaranku sudah habis!” Napasku memburu karena emosi.
...
__ADS_1