EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 284


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Bohong??”


 


 


“Maaf ya.”


 


 


Aku mengerutkan kening, mendengar penjelasan Fiona tadi, tampaknya sangat lambat untuk otak ku proses. “Tidak usah minta maaf, lagi pula tidak membuatku rugi.”


 


 


“Di pertemuan kita pertama, aku sudah memanfaatkanmu. Sekali lagi aku minta maaf.” Wanita dengan pakaian serba hitam ini menunduk sekali lagi.


 


 


Rambut panjangnya di gulung dan di masukkan ke dalam topi hitam yang menghalangi setengah wajahnya. Sejak kedatangannya lima menit lalu, aku ingin bertanya, kenapa dia sudah berpakaian siap seperti ini di jam pagi, seolah dia akan segera berangkat. Terlebih sepatunya, yang ikatan talinya sangat kencang.


 


 


“Aku harus pura-pura bisa meramal dan melihat dengan mata batin agar nenek mengirimku ke Rusia. Tapi sejujurnya, aku belajar mendalami metode-metode tertentu seperti Feng Shui, numerologi, oneiromancy, wajah, bahkan kartu tarot. Kau mau coba aku baca?”


 


 


“Ah? Apa? Tidak tidak!”


 


 


“Eiyy... Bahkan tanpa kau minta pun, sejak tadi aku bisa menebak dari wajahmu. Kau terlihat gelisah, sedang banyak pikiran ya? Oh? Mungkin karena bertengkar dengan suamimu? Atau masalah dalam keluarga?”


 


 


Aku mengerutkan kening, sejujurnya tidak terkesan sama sekali dengan tebakkannya, “tentu saja itu adalah jawaban yang sangat umum. Semua orang pasti punya masalah keluarga.”


 


 


Fiona tertawa tapi mengangguk juga, dia melanjutkan, “baiklah, kali ini aku serius. Aku bisa membaca karakter seseorang, karena sepertinya kau sedang bertengkar dengan suamimu, aku akan coba membaca karakter kalian dalam hubungan asmara, bagaimana? Mau coba?”


 


 


Itu tawaran menggoda, aku berpikir sebentar, menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk kecil dan cepat-cepat menambahkan, “aku ingin jawaban yang rasional. Jangan di tambahkan dengan hal-hal mistis!”


 


 


“Tentu saja! Sekarang, tunjukkan foto suamimu.”


 


 


Aku meraih ponsel yang di letakkan di atas meja, membuka galeri untuk mencari foto wajah Bayu dan menunjukkannya pada Fiona.


 


 


Dia menatap sebentar foto di layar ponselku, lalu mendongak melirikku sebentar. Melakukan seperti itu dua kali sampai Fiona mengangguk dan menyerahkan kembali ponselku.


 


 


“Aku bisa menyimpulkan satu hal dari membaca wajah kalian.” Katanya misterius. Sekarang aku tidak bisa menyembunyikan sikap penasaran.


 


 


“Apa?”


 


 


“Alpa. Kalian adalah pasangan yang berkepribadian alpha.”

__ADS_1


 


 


“Begitu?” Aku mengerutkan kening, mulai berpikir.


 


 


“Hmm... Bagaimana menunjukkannya ya?” Fiona bergumam pelan, dia tampak berpikir keras, sepertinya sedang menyusun kalimat yang mudah di mengerti olehku.


 


 


“Ciri pasangan berkepribadian alpha, biasanya terbiasa mandiri dan sama sekali tidak bergantung pada orang lain, andal dalam membuat keputusan bijak, tahu apa tujuan dan target hidup sendiri, percaya diri dengan kelebihan dan kemampuan kalian dan memiliki naluri alami sebagai pemimpin. Semacam itu.”


 


 


Kerutan di dahiku semakin dalam, membandingkan ucapan Fiona dengan hubunganku dan Bayu selama ini.


 


 


“Jadi, aku minta bertemu denganmu bukan untuk itu.” Katanya mengingatkanku pada topik utama dia mengajakku bertemu pagi.


 


 


Refleks aku melirik ke pintu keluar cafe, Dika dan Lucy sedang duduk di kursi luar dengan minuman mereka masing-masing di atas meja, sesekali keduanya melirik ke dalam cafe untuk mengawasiku.


 


 


“Ya? Ada apa?” Tanyaku


 


 


“Sebelum aku pergi, aku ingin membicarakan tentang ibu Marisa. Dia yang membuatmu penasaran di hari pertama kita bertemu ‘kan?”


 


 


“Ya!” Aku mengangguk penuh semangat.


 


 


 


 


“Hal menarik apa?”


 


 


“Dia salah satu pelanggan yang paling lama. Pertama kali dia konsultasi ternyata lebih dari dua puluh tahun lalu.”


 


 


“Dua puluh tahun?” Aku cukup kaget mendengarnya.


 


 


Fiona mengangguk lalu melanjutkan, “konsultasi pertamanya adalah dengan seorang peramal baru bernama Nindy, tapi orang-orang memanggilnya madam Carol. Nenek merekrutnya dulu karena dia terkenal di kampung halamannya, banyak yang percaya pada wanita ini. Aku dengar dari orang dalam, sejak saran peramal Nindy berhasil mengubah hidup ibu Marisa, dia jadi ketergantungan untuk meminta saran pada Nindy.”


 


 


“Apa kau tahu dia meminta saran apa?”


 


 


“Kata asisten yang dulu menemani peramal Nindy, mengatakan kalau ibu Marisa minta di ramalkan tentang masalah percintaan dan keuangan, hal yang umum, tapi dia menyarankan untuk kembali pada mantannya, yang kebetulan pada saat itu sudah memimpin di sebuah perusahaan independent, dan agar ibu Marisa mendukung usaha pria itu sehingga masalah keuangannya pun bisa teratasi. Aku baru tahu sekarang kalau sebenarnya peramal Nindy ini tidak punya kemampuan meramal, dia menjawab konsultasi ibu Marisa karena telah melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tahu kalau ternyata mantan ibu Marisa sudah sukses sehingga dia bisa menjawab masalah cinta dan keuangannya.”


 


 


Aku semakin kaget mendengar penjelasan Fiona. Tentu saja mantan yang di maksud adalah ayah Davin, yang dulu aku kenal sebagai ayah kandungku.


 


 


“Dia tidak bisa meramal?”


 


 

__ADS_1


“Ya. Kami pun kesal sekali karena telah di bohongi selama ini! Nenek sudah lama curiga, tapi karena dia selalu punya pelanggan yang berkonsultasi setiap hari, jadi nenek membiarkannya.” Fiona mengepalkan tangannya penuh emosi.


 


 


“Asisten yang menemaninya dulu yang mengatakan semua ini. Terlebih lagi, dia membeberkan beberapa fakta tentang anak ibu Marisa.” Tambah Fiona.


 


 


“Hanna?”


 


 


“Kau tahu?”


 


 


“Teruskan. Aku akan menjelaskannya setelah kau selesai.”


 


 


Fiona melirik ke sekeliling kami, karena di dalam cafe hanya ada kami, dia memastikan agar tidak ada yang bersembunyi untuk menguping.


 


 


“Dulu, dia mendekati mantannya agar mau kembali dan menikahinya karena Hanna. Dia mengatakan kalau Hanna adalah anak pria itu. Tapi nyatanya Hanna bukan anak kandung pria itu.”


 


 


“APA?!” Aku berteriak kaget.


 


 


“Ssstt.. kau jangan bilang siapa-siapa kalau mendengar semua ini dariku.”


 


 


“Lalu Hanna anak kandung siapa?”


 


 


“Sebelum mereka menikah, asisten Nindy yang mengikuti ibu Marisa, tidak sengaja melihatnya bersama seorang pria sedang berdebat. Pria itu mengancamnya untuk mendapatkan uang, kalau tidak di berikan, pria itu akan mengatakan pada calon suaminya kalau sebenarnya Hanna anak kandung pria asing itu.”


 


 


“Siapa pria itu?”


 


 


Fiona menggeleng, “tidak tahu, setelah perdebatan itu, dia tidak lagi datang mengamcam ibu Marisa. Tapi, dia punya bekas luka di wajahnya, di dagu tepatnya. Seperti bekas jahitan.”


 


 


“Ternyata begitu, lalu kenapa tante Marisa ingin bertemu nenekmu kalau sebenarnya dia dari dulu konsultasi dengan peramal Nindy?”


 


 


“Tidak lama sebelum kita bertemu di toilet mall, Nindy di tangkap oleh polisi, bahkan tempat kami sampai di kepung oleh pasukan khusus tentara.”


 


 


“Tentara? Kapan? Bagaimana situasinya? Kenapa dia sampai di tangkap?”


 


 


“Aku tidak ada di tempat saat itu, tapi menurut cerita, ada seorang pria yang menyamar untuk pura-pura di ramal, padahal dia sedang mencari Nindy dan teman prianya, katanya pria itu buronan, namanya Dem? Bukan... Lex? Ssshh... Sepertinya namanya Wey.”


 


 


“REY!”


 


 


 

__ADS_1


 


...


__ADS_2