
...
“Aku sudah mendapat rekomendasi EO yang bagus. Mereka juga bekerja cepat, mungkin kita hanya perlu menyusun undangan dan memilih tema. Aku sih tidak masalah apapun pilihanmu.”
“Kau tidak akan ikut memilih?” Tanyaku heran.
Bayu mengerutkan kening tampak berpikir. “Aku mendapat rekomendasi EO baru pagi ini, besok mereka akan menemuimu untuk membicarakan semuanya sedangkan aku besok sudah mulai kerja, ingat?”
“Jadi kau sepenuhnya mmepercayai pilihanku?”
“Tentu saja! Aku yakin kamu akan memilih yang terbaik.” Jawabnya dengan nada lembut sembari mengusap puncak kepalaku.
Aku tersenyum lebar menatapnya. Jika dia sudah bersikap seperti ini aku tidak bisa lagi untuk berdebat. “Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik.”
“Bunda akan ikut menemani juga.” Tambahnya semakin menenangkanku.
“Tapi sebelum itu, aku juga harus membicarakan perihal keluarga kandungku pada keluargamu. Kita harus mengadakan pertemuan keluarga lainnya dengan mereka.”
“Benar! Tapi sayang sekali, aku pikir selama lebih dari seminggu kedepan nanti aku akan sibuk dan tidak sempat pulang.” Katanya cemberut.
Aku ikut cemberut dan berkata. “Begitu? Jadi alasanmu membawaku hari ini ke sini karena kita tidak akan bertemu lebih dari seminggu?”
Bayu mengangguk tanpa mengubah ekpresi wajahnya yang hal itu justru membuatku tertawa. Dia terlihat lucu sekali dengan bibir yang melengkung ke bawah, pipi yang juga mengerut ke bawah, juga kening mengkerut.
Refleks aku menyentuh keningnya, mengusap pelan dengan jari jempolku untuk menghilangkan kerut itu. “Hanya dengan mendengar kau akan sibuk, aku sudah mulai merindukanmu.”
“Kau sedang menggodaku, eh?” Bayu tersenyum senang, kali ini dengan kedua tangannya memeluk punggungku hingga aku di tarik lebih dekat dengannya.
Tanganku yang semula menyentuh keningnya mulai turun untuk menyentuh sisi wajahnya. Menatap langsung ke matanya, sebelum aku menjawab, dia sudah lebih dulu berkata. “Bahkan satu hari tanpa mu pun tidak boleh!”
Aku tidak bisa menahan sudut bibirku yang terangkat membentuk senyuman lebar untuknya. Tapi ekspresi lembut penuh cintanya surut di gantikan dengan ekspresi heran dan penuh selidik, tangannya menangkap tanganku yang menyentuh sisi wajahnya untuk dia genggam erat.
“Tanganmu panas. Aku sudah menduga kamu masih demam karena luka itu.” Refleks aku menarik tanganku darinya dan menyentuh pipi serta keningku.
Belum sempat aku mengatakan apa yang aku pikirkan, Bayu sudah menarikku untuk duduk di sisi tempat tidurnya. Bedcover berwarna abu-abu yang terasa lembut menyentuh telapak tanganku.
“Sekarang kamu istirahat dulu di sini.”
“Tapi aku belum menyapa bunda.”
__ADS_1
“Bunda sedang sibuk, nanti saja!” Bayu memaksaku untuk berbaring.
“Tapi—“
“Bunda pasti mengerti kamu baru keluar dari rumah sakit. Aku akan menemanimu di sini sampai kamu tertidur.”
“Bee, istirahat itu enggak selalu harus berbaring tidur.” Kataku mengingatkan, tidak bisa lagi mengelak saat aku sudah berbaring dan Bayu yang akan menyelimutiku.
“Tapi definisi istirahat bagiku adalah tidur.” Dia masih keukeuh.
“Ini masih pagi!”
“Ya! Pagi yang panjang untukmu!”
“Aku tidak ngantuk!”
“Kau akan langsung tertidur setelah memejamkan mata.” Bayu masih berdebat denganku saat aku sudah sepenuhnya berada di bawah selimut. Lelaki ini menahan pergerakkanku setelah menyelimutiku hingga dada, kedua tangannya menahan selimut dari kedua sisi tubuhku.
“Aku tidak kedinginan! Engga usah sampai seperti ini.” Aku berusaha melepaskan diri tapi yang aku dapat justru sebuah kecupan singkat di keningku.
Seketika aku terdiam dan menatapnya tajam. “Mencari kesempatan dalam kesempitan, hah?!”
“Aku suka kalau harus mendapatkan kesempatan seperti ini untuk menciummu.” Bayu tersenyum jahil yang membuatku semakin ingin berteriak kesal. Antara malu dan merasa di kalahkan.
“Ya ampun menyeramkan sekali tatapan pacarku ini!” Bayu masih menggodaku, menghiraukan tatapan tajam yang tajamnya sudah ekstra maksimal.
Dari sudut mataku, aku melihat Bunda sudah berdiri di ambang pintu, berdecak menatap Bayu yang memunggunginya, aku tersenyum lebar sangat senang. “Bunda!! Bayu mengganggu ku terus.”
“Boo, kau mau menjahiliku agar aku berbalik dan kau bisa kabur saat aku lengah.” Ada apa dengan lelaki ini? Bayu justru masih tersenyum konyol padaku, tidak percaya kalau memang Bunda sekarang sudah bergerak tepat di belakangnya.
“Anak nakal!”
“Aw aw aw… Eh Bunda.”
__ADS_1
Bunda menarik telinga Bayu hingga lelaki ini melepaskanku, awalnya dia akan protes tapi setelah berdiri menghadap dengan Bunda, ekspresinya berubah meminta pengampunan untuk di lepaskan. Aku segera bangkit dan ikut berdiri di samping Bayu dengan senyum puas menatapnya.
“Bunda, tolong lepaskan. Telinga Bayu bisa lepas nih!”
“Di cari-cari ternyata ada di sini mencoba untuk membully Icha, hah?”
“B—bukan bun, Bayu cuma mau Icha untuk tidur di sini karena badannya demam lagi.” Setelah mendengar penjelasan Bayu, bunda melepaskan telinga lelaki ini dan melirikku cepat.
“Demam?”
“Engga separah yang di pikirkan bun, cuma sedikit panas.” Jawabku menggeleng cepat agar wanita ini tidak panik.
Bunda mendekatiku dan menyentuh keningku. “Hmm.. Iya ini agak demam, sebaiknya kamu istirahat dulu di sini.”
“Tapi bun, Icha ke sini belum menyapa bunda malah di suruh istirahat.” Kataku merangkul tangan Bunda dan berdiri di sampingnya, bermaksud ingin menghindari Bayu jika nantinya ada penangkapan ke 2 darinya.
Bunda tersenyum lebar lalu merangkul bahuku hati-hati. “Bunda lagi ada arisan, enggak apa-apa, kamu istirahat dulu aja. Nanti kita ngobrol-ngobrol.”
“Biar Icha bantu—“
“Tidak tidak! Ada bibi di bawah. Kamu diem dulu aja di sini, bunda mau bawa anak nakal ini ke bawah dulu untuk bantu angkat galon air.”
“Gak apa-apa bun, ayo Icha bantu di bawah.” Aku menarik tangan bunda, memang saat ini aku tidak merasa ingin istirahat. Bunda dan Bayu tidak lagi membantah saat aku menarik mereka untuk turun ke bawah.
.
..
…
Hari menjelang sore saat aku baru melihat lagi Bayu hari ini setelah Bunda menyuruhnya mengangkat galon air tadi pagi. Sejak tadi lelaki itu sibuk bulak balik mengurusi beberapa anak kecil yang datang ke rumah.
Di antaranya mereka kalau bukan sepupu, beberapa anak tetangga yang datang untuk main. Aku juga sibuk membantu bunda memasak dan beres-beres setelah acara arisannya.
Mataku melirik jam dinding yang tergantung di tembok ruang tamu, menunjukkan jam setangah tiga. Sembari menunggu bunda yang katanya sedang membawakan cemilan dan minuman, sejak tadi mataku menatap ke luar jendela, di halaman depan rumah aku bisa melihat sosok lelaki itu sedang di kerumuni lima orang anak kecil. Sesuatu di tangan Bayu menarik perhatian mereka semua.
“Maaf ya cha, Bunda baru bisa nemenin Kamu juga jadi harus bantu Bunda tadi..” Tiba-tiba Bunda datang dengan nampan berisi dua gelas air jeruk dingin dan beberapa makanan manis.
Aku menggeleng dan tersenyum sembari membantu Bunda mengangkat gelas dari nampan. “Engga apa-apa bun, Icha juga seneng ko, di sini rame.”
__ADS_1
...