
...
“Bagaimana menurutmu? Siapa yang dia maksud?” Aku bertanya pada Bayu saat kami sudah turun dari mobil dengan Zac yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan aku dan Bayu di luar.
“Jangan khawatir. Aku akan memeriksanya.” Aku mengangguk mendengar jawaban suamiku ini. Tangannya terangkat mengusap puncak kepalaku, dan senyum kecilnya membuatku lebih tenang.
“Ayo masuk. Udah tengah malam dan soal rencanaku tadi sebelum kita pergi, lebih baik besok saja.” Lanjutnya merangkul bahuku sembari mengecup keningku, refleks aku memeluk pinggangnya dan masuk ke dalam dekapannya.
Pelukannya benar-benar hangat dan nyaman.
Kami berdua melangkah memasuki rumah orang tua Bayu yang sekarang sebagian besar semua lampu di dalam sudah di matikan. Zac membuka kan pintu rumah untuk kami dan Bayu membawaku langsung menuju lantai dua,
menuju kamarnya.
.
..
…
Kelopak mataku perlahan terbuka saat aku mendengar suara detak jantung yang begitu keras di telingaku. Aku mengerjap untuk memfokuskan pandangan ketika yang pertama aku lihat adalah langit-langit kamar.
Hembusan napas yang teratur menerpa puncak kepalaku, aku mendongak menyadari kalau suara jantung dan napas yang aku dengar berasal dari Bayu.
Untuk sesaat tadi aku lupa kalau sekarang aku sudah punya suami. Kamar ini adalah kamar miliknya dan sekarang kepalaku tertidur di atas dadanya.
Sebelah tangan Bayu membungkus punggungku dan tangannya yang lain tergeletak tak berdaya di sisi tubuhnya.
Perlahan tapi pasti aku segera bangkit duduk, tidak ingin membangunkannya. Lalu mataku melirik jam di meja kecil samping tempat tidur, waktu menunjukkan pukul lima pagi, berarti kami baru tidur kurang dari lima jam.
Karena udara juga terasa sangat dingin dan jujur saja aku masih ngantuk, aku kembali berbaring di samping lelaki ini dan semakin merapat padanya, hal itu membuatnya sedikit terusik dan suara serak nya terdengar seksi di telingaku.
“Sayang, Boo, jam berapa sekarang?”
“Jam lima pagi.”
Aku mendongak dan melihatnya sudah membuka matanya, sedang menatap melamun ke langit-langit kamar.
“Kita harus bangun.” Aku mengerutkan kening mendengar pernyataannya yang terdengar tidak ingin di bantah.
“Kenapa? Aku masih ngantuk.” Jawabku sembari menyembunyikan wajahku di dadanya, berharap dengan begini dia tidak akan memaksaku.
__ADS_1
“Olahraga pagi.”
“Hah?”
Tiba-tiba saja Bayu bangkit duduk yang dengan kekuatan baru bangun tidurnya sembari mengankatku juga bersamanya.
“Agar tubuh kita sehat, olahraga itu harus.” Lanjutnya sembari menatapku serius.
“Tapi aku masih ngantuk!” Aku kembali bersandar di bahunya, udara yang masih dingin membuatku tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Kemudian aku merasakan Bayu mengecup bahu kiriku yang masih terbalut pakaian.
Mengingat tentang janjinya tentang akan mencium luka jahitan itu setelah kami menikah, membuat jantungku berdetak cepat, tiba-tiba saja aku jadi gugup.
Tapi sebelum aku melancarkan aksi protesku, aku kaget karena salah satu tangannya ia lingkarkan di pinggangku dan dengan mudahnya mengangkatku untuk turun dari tempat tidur. Aku menjerit tertahan antara kaget dan protes tapi Bayu justru terkekeh pelan.
Akhirnya pagi ini, aku tidak punya pilihan selain mengikutinya untuk olahraga di luar.
“Enggak!! Akuhh—aku udah cape!”
“Baru tiga putaran.”
“Aku tunggu di sini.” Napasku tersenggal saat aku baru menyelesaikan lari tiga putaran komplek ini sedangkan Bayu, dia terlihat masih sangat bersemangat dan bertenaga.
Lelaki ini berdecak dan tidak memaksaku, dia berbalik, kembali berlari dengan kecepatan penuh sembari berteriak. “Tunggu di sana. Aku akan segera kembali.”
“Gunakan waktumu!” Aku balas berteriak dan mendapat lirikan dari Bayu sebelum dia menghilang di belokan depan.
Tanpa menunggu lagi aku yang sudah di depan bangku taman segera duduk di sana, meletakkan air minum di samping kananku lalu mengeluarkan handuk kecil dari saku jaket untuk mengeringkan wajah dan leherku yang penuh keringat.
Ternyata, tidak hanya aku dan Bayu saja yang sudah olahraga pagi, banyak dari orang-orang daerah komplek rumah Bayu juga sedang olahraga, ada yang berlari, ada juga yang lompat tali. Tentu saja, lingkungan yang seperti ini asik sekali untuk olahraga pagi.
Aku melirik arloji hitam di pergelangan tangan kiri, waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas, mengingat hari ini aku akan izin tidak masuk kerja, maka aku langsung di sibukkan dengan ponselku untuk mengabari rekan-rekan lain di kantor.
Mengingat tentang Camila, aku harus datang ke rumahnya, untuk menjenguknya. Kejadian tadi malam sangat mengejutkan. Tidak pernah menyangka kalau suami Camila bisa pergi secepat itu.
Dan seperti yang aku duga, grup chat kami langsung di penuhi ucapan do’a untuk suami Camila.
Aku tidak sadar sudah berapa menit asik membalas pesan-pesan di ponselku saat suara langkah kaki mendekatiku.
__ADS_1
“Ini.” Aku menyerahkan minuman botol pada Bayu yang sudah berdiri di hadapanku saat aku mendongak menatapnya.
Bayu menerima botol dariku, membuka tutupnya, meminum isinya dan kembali asik peregangan sebelum duduk di sampingku.
“Rasanya sudah lama sekali tidak lari di sini.” Katanya sibuk mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan handuk di lehernya.
“Memang biasanya di mana?” Tanyaku, menyimpan ponselku kembali ke dalam saku jaket lalu menatap sepenuhnya pada Bayu.
“Biasanya kami olahraga setiap pagi di perbatasan kalau sedang jaga.” Jawabnya.
“Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang? Ayo! Aku akan mengantarmu berangkat kerja.” Bayu langsung berdiri sembari menatapku.
Oh ya! Aku belum memberitahunya kalau aku setuju menemaninya hari ini. Namun sebelum aku menjawab, getaran ponsel di saku jaket memutuskan pandanganku darinya.
‘Ayah Evano’ tertera di layar ponsel,
“Halo.”
“Halo Cha. Selamat pagi.”
“Pagi.”
“Hari ini kamu tidak usah kerja dulu. Aku dengar Bayu hari ini di ijinkan libur sebelum kembali tugas. Aku akan bantu memberi alasan pada bagian personalia pusat, tapi nanti bisakah datang menemuiku?”
“Oh? Oke. Tapi yah, bisakah jangan menyebutkan kalau aku—eumm seseorang yang ayah kenal?” Tanyaku hati-hati takut menyinggungnya.
Ada jeda yang panjang sebelum ayah menjawab. “Baik. Kita bicarakan nanti saat bertemu.”
“Ya. Sampai nanti.” Setelah mendengar jawaban dari ayah Evano, sambungan telpon kami terputus.
Aku sudah sadar kalau Bayu sedang menatapku, dari wajahnya saja aku tahu kalau lelaki ini ingin tahu alasanku tentang aku yang tidak ingin orang kantor tahu kalau aku sebenarnya adalah anak dari ayah Evano. Seorang pembisnis yang sukses.
“Selama ini perusahaan itu sudah di kembangkan oleh keluarga Danendra, mereka menjadi pembisnis yang sukses karena usaha mereka. Aku merasa itu bukan hak ku. Lagi pula, aku ingin menghindari jadi bahan gosip di kantor.”
“Tentu saja!” Bayu mengangguk kelewat cepat.
Aku menatapnya curiga. “Apa?”
“Tidak! Itu sangat—bijaksana.”
“Aku anggap itu sebagai pujian.” Kami berdua saling melempar tawa konyol.
__ADS_1
...