
...
“Benar! Kepercayaan diri yang seperti itu!”
“Perlahan aku mengerti dan menyadari kharisma yang di pancarkan Bayu adalah kepercayaan diri yang seperti itu.”
“Kau sangat mengerti anak itu. Pantas saja Bayu sangat memikirkanmu.” Aku tertawa kecil, pipiku memanas karena malu.
“Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, aku dengar bahkan wanita paling hebat di angkatannya pun sempat mencoba mendekati Bayu tapi dia selalu menghindar dan mengabaikan, orang-orang sempat berpikir dia sakit dan tidak normal.” Entah mengapa perkataan prof. Bora yang ini membuatku merasa bersalah dan sedih.
Mungkin aku yang membuatnya seperti itu.
“Bagaimana kalian bertemu? Aku dan Stefan belum pernah mendengar dia sedang dekat dengan seseorang.”
“Sebenarnya aku dan Bayu teman dari kecil prof, lalu dia pindah dan hilang kontak beberapa tahun hingga dia kembali lagi saat kami SMA dan sempat pacaran sampai lulus. Kami juga menargetkan ingin masuk militer bersama tapi karena suatu hal aku tidak bisa memilih pekerjaan itu dan memutuskan hubungan dengannya saat dia ada di
camp pelatian. Mungkin itu yang membuatnya mengabaikan wanita, saat-saat itu mungkin dia membenciku.” Aku menunduk, tidak ingin menatap prof. Bora yang sekarang diam mendengarkan.
“Tapi kalian kembali bersama.”
Aku meliriknya dan tersenyum mengangguk. “Benar! Salah satu hal yang sangat aku syukuri dalam hidup ini adalah karena Tuhan mengenalkannya padaku dan aku tidak berniat untuk melepaskannya lagi.”
Prof. Bora menyentuh tanganku yang ada di atas meja, membuatku menatapnya.
__ADS_1
“Bayu juga pasti tidak akan mau melepaskanmu lagi, terbukti dengan kasus hari ini dia sangat marah dan tidak mempedulikan siapa orang-orang yang di tangkapnya. Meskipun pejabat atau pengusaha itu memakai segala macam koneksi yang mereka punya tapi Bayu tidak akan melepaskannya.”
Perkataan wanita ini menghangatkan hatiku, aku merasa beruntung karena orang sekelas prof. Bora bisa melihat betapa Bayu mempunyai cinta yang luar biasa untuk ku.
“Kita baru bertemu pertama kali hari ini tapi aku merasakan kau memiliki semacam inner beauty dan kharisma yang berbeda di bandingkan dengan wanita lain yang pernah aku temui. Pantas saja musuh Bayu sekalipun seperti Rey, Mike dan bahkan Gilang yang bertemu denganmu menaruh perhatiannya.”
Entah aku harus senang atau sedih mendengarnya. “Tidak! Mereka hanya menggunakanku untuk mengancam Bayu.”
“Akhir-akhir ini Bayu sering berbicara dengan Stefan mengenai hal-hal itu. Dia kesal karena katanya musuh-musuhnya justru tertarik dengan pacarnya. Mereka menaruh perhatian lebih padamu meski baru pertama kali bertemu. Dan oh ya, saat aku dan Stefan baru datang hari ini, Bayu juga sedang kesal tentang sesuatu, katanya
sepulang dia dari markas dia akan mencari tahu tentang pria bernama Henry.” Aku hampir tersedak mendengarnya.
Tiba-tiba aku teringat tante Yuan yang akan mengabariku tentang pinjaman ibu pada Henry. Dan juga tentang warisan yang tidak bisa di ganti nama kecuali sudah mendapat verifikasi dari grup Eternity. Padahal hari ini aku lupa tentang masalah yang menungguku, sekarang aku ingat lagi.
“Jadi—siapa Henry?” Sorot mata prof. Bora berbinar penasaran menatapku. Namun aku teringat akan Jane Alexander yang mengaku sebagai tunangan Bayu.
“Dia lelaki yang ibuku ingin aku bertunangan dengannya secepat mungkin.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. “Apa akan seburuk itu? Tapi ngomong-ngomong bagaimana tentang Jane Alexander? Professor tahu wanita itu?”
“Yaa aku tahu dia, mendengar nama dan asal usulnya sekilas saja aku sudah bisa menebak bagaimana dia. Beberapa tahun lalu Jane dan Bayu sempat bertunangan karena mereka di jodohkan, mereka memutuskan pertunangan karena katanya Jane tidak ingin memiliki kekasih seorang tentara yang tentu akan membuat mereka
berdua jarang bertemu dan pekerjaan yang beresiko, di dukung dengan Bayu yang memang sejak awal tidak mau bertunangan dengan wanita yang tidak dia kenal.”
“Tapi, tentara adalah pekerjaan yang hebat menurutku.”
“Yaaa, Jane mengatakan itu karena saat mereka memutuskan pertunangan, Bayu belum jadi kapten dan belum masuk ke tim phonex, beberapa hari setelah pertunangan mereka putus Bayu di angkat menjadi kapten lalu aku dengar Jane sempat beberapa kali ingin menemui Bayu di markas.”
Aku mengangguk mengerti tipe seperti apa Jane Alexander di samping dia adalah putri pengusaha kaya.
__ADS_1
Merasa wanita di hadapanku ini sedang menatapku heran, aku balas menatapnya. “Kenapa prof?”
“Apa Bayu benar-benar tidak mengatakan apapun padamu tentang pekerjaannya?”
Aku mengangguk dan memutar ingatan saat pertemuan pertama kami hampir dua bulan lalu.
“Sebenarnya saat pertama kali bertemu aku tidak ingin tahu pekerjaan atau jabatannya karena Rey sering menggangguku yang aku pikir dia menargetkanku karena aku tahu segala tentang pekerjaan Bayu jadi aku menolak saat Bayu ingin menjelaskannya. Setelah beberapa minggu kemudian aku baru tahu kalau dia kapten, itupun aku tahu saat ada kejadian di mall. Lalu tentang dia yang masuk tim phonex, aku baru tahu pagi ini.”
“Kau sangat mempercayainya ya?”
Aku tersenyum kecil mendengarnya. “Dari pada menyebut mempercayainya, aku lebih mendeskripsikannya ke berusaha percaya agar kami selalu di ingatkan kalau saling percaya adalah pondasi utama suatu hubungan. Tapi entahlah, terkadang aku bisa tahu apa yang dia ingin katakan dan dia rasakan hanya dengan menatap matanya.”
“Sampai seperti itu? Apa kau tidak takut dia ternyata sudah berubah dari yang sebelumnya?”
“Yaa orang memang berubah, Bayu juga berubah dari sebelumnya. Tapi sampai hari ini aku hanya bisa melihat perubahan positif darinya. Lagipula aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentangku, mungkin dia juga merasa aku berubah dari sebelumnya entah di hal negatif atau positif selama kami bisa saling memahami.” Kataku menerawang menatap keluar jendela.
“Aku belajar dari pengalamanku dulu tentang aku pernah memutuskannya, Aku bukannya sombong tapi aku baru mengerti akhir-akhir ini kalau menjalin hubungan adalah kerjasama dan kepercayaan antara dua orang, bukan hanya satu orang, bagaimana pun keadaannya.” Aku melanjutkan tiba-tiba terbayang wajah menyesal Bayu tadi di mobil, dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah meninggalkanku.
Untuk menit selanjutnya kami diam tidak ada yang bersuara, sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
“Lalu bagaimana dengan prof. Bora dan dokter Stefan? Bayu tidak pernah bercerita tentang dokter Stefan yang punya tunangan.” Pertanyaanku membuyarkan kesunyian di antara kami, aku kembali melanjutkan memakan bubur yang rasanya sedikit hambar.
Prof. Bora mengibaskan tangannya. “Aku dan Stefan adalah teman satu kampus, dia lanjut masuk ke akademi militer aku lanjut mengajar di kampus sekalian meneruskan sekolahku. kisah kami biasa saja.”
Aku tersenyum kecil mendengarnya. “Setidaknya prof. Bora dan dokter Stefan adalah pemeran utama di cerita kalian. Jika tidak keberatan aku juga ingin mendengarnya.”
Wanita ini terkekeh pelan menatapku, matanya menatap ke luar jendela seolah sedang mengingat lagi masa lalunya bersama dokter Stefan.
__ADS_1
...