
...
Ada jeda di antara kami sebelum lelaki ini menginjak rem di lampu merah dan sekarang sepenuhnya dia balas menatapku. “Apa ini yang di namakan tulang rusuk yang hilang??”
Aku tertawa lagi, berarti tabak kan ku benar!
Setelah aku bisa mengendalikan tawaku, aku melirik Bayu yang sejak tadi diam memperhatikanku. Biasanya kalau aku tertawa, dia setidaknya ikut tersenyum tapi sekarang yang aku lihat dia tampak serius menatapku.
“Apa?” Tanyaku sembari menghapus sisa air mata di sudut mataku.
“Kau semalam tidak menghubungiku, aku juga tidak ingin mengganggu. Aku pikir kau sedang menangis tapi melihat wajahmu, sepertinya tidak terjadi apa-apa.” Katanya lembut.
Ke khawatirannya benar-benar membuat hatiku menghangat dan nyaman sekali. Aku tersenyum lebar, menggenggam tangan kirinya dengan kedua tanganku. Telapak tangannya yang besar terasa hangat.
“Bohong kalau aku tidak merasa sedih. Namun yang lebih dominan adalah perasaan bingung dan penasaran. Tapi lebih dari itu, aku tidak ingin memikirkannya terlalu dalam. Sekarang aku hanya ingin menghadapi apa yang ada di depan mata. Menyelesaikan urusan kantor dan kuliahku. Maksudku, aku sekarang sudah dewasa dan aku harus
berpikir apa yang menjadi prioritasku ‘kan?”
Bayu sekarang tersenyum lebar padaku, dia melepaskan genggaman tanganku untuk mengusap kepalaku penuh kasih sayang. “Ini dia, wanita keren yang sangat aku kagumi!”
Pipiku memanas mendengar pujiannya, baru pertama kali aku mendengarnya memujiku seperti ini.
“Lalu soal kakek, minggu ini dia meminta berkumpul keluarga di vila puncak. Aku belum memastikan apa rencana kakek, tapi aku sedikit khawatir.” Katanya sembari menginjak pedal gas saat lampu lalu lintas berubah hijau.
Aku mengerutkan kening, tidak mengerti. “Kenapa?”
“Rencananya acara keluarga nanti aku sekalian ingin menganalkanmu pada keluargaku. Tapi aku tidak yakin dengan timingnya. Kemarin bunda mengatakan kalau kakek mengubah lokasinya mendadak dan juga dia mengundang orang-orang di kemiliteran juga. Aku benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikirannya.”
Aku mengangguk, mengerti maksudnya. Bayu khawatir acara keluarga minggu ini tidak seperti yang dia pikirkan, maka untuk mengenalkanku pada keluarganya pada saat itu merupakan timing yang tidak pas.
“Tapi aku juga ingin membawamu ke sana.” Katanya lagi.
“Aku tidak keberatan dengan situasinya kalau kau memang ingin mengajakku ke sana. Bagaimanapun kau pasti punya rencana lain kalau kakek merencanakan sesuatu ‘kan?” Tebakku yang mendapat anggukan kecil darinya.
__ADS_1
“Kau memang paling mengerti aku.” Sahutnya ringan tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan di hadapan kami.
Aku tersenyum lebar mendengarnya. Aku menyadari, pelan-pelan kami sudah saling mengerti dan terbuka dengan cara yang natural.
Hubungan kami yang di penuhi dengan sikap toleransi, saling percaya, respek dan mau mendengarkan adalah pondasi yang bagus.
Aku bersyukur karena di dunia ini, tuhan memilih lelaki ini untuk aku cintai.
***
Aku menghela napas lega setelah menutup pintu kantor di belakangku. Orang-orang yang berlalu lalang lewat di depanku menyapaku atau mereka sekedar tersenyum. Aku tahu tatapan penasaran mereka karena nyatanya setelah lebih sekian lama aku izin tidak masuk, sekarang aku benar-benar sudah kembali dan harus menghadapi yang secara khusus datang dari pusat.
Setelah mengobrol di ruangannya lebih dari tiga puluh menit, entah harus lega atau khawatir mengingat lagi kalau inti pembicaran kami adalah mengenai kesiapanku tentang pekerjaan yang di tanggung jawabkan perusahaan padaku.
Pihak perusahaan sudah siap dengan pemecatanku kalau aku harus absen lagi nanti.
Pak Galih juga sempat bertanya mengenai urusanku karena katanya yang mengirimkan surat izin langsung ke pusat adalah orang berpakaian militer.
Aku tidak bisa mengatakan kalau absennya diriku karena aku terluka, karena aku jadi sandera, atau karena aku dalam masa pengobatan akibat racun.
“ICHA!!! KAMI MERINDUKANMU!!” Tiba-tiba teriakkan Rima, Kiki, Camila, Bela, dan Tiwi yang keluar dari pintu ruangan ketika aku hendak membukanya cukup mengagetkanku.
“Kalian mengagetkanku.” Aku mengusap dadaku.
“Kenapa kau baru datang?!”
“Apa yang kau lakukan?”
__ADS_1
“Apa ini semacam bolos berkepanjangan?” Camila meledekku yang langsung membuatku ingat masa lalu.
Yaa, antara kami semua, pernah saat aku benar-benar malas datang ke kantor dengan segudang pekerjaan, aku sengaja bolos dan berkata jujur pada mereka.
Mereka tidak marah atau kesal, tapi sebagai gantinya mereka ingin melakukan hal yang sama. Jadinya selama satu bulan kami gantian absen dan tentunya memberitahu kan sebelumnya. Meskipun sehari tapi rasanya itu jadi hiburan kami sendiri. Sampai sebelum aku di pindahkan ke luar kota, tradisi kenakalan absen kami masih berjalan.
Aku tidak keberatan, yang penting mereka berkata jujur dengan kondisi mereka dan tetap semangat saat kembali bekerja.
“Aku hibernasi.” Jawabku asal.
“Ehh!! Pekerjaan menumpuk! Kita juga kerepotan!” Rima berkata protes.
“Dan tidak ada yang bisa menghadapi tim marketing segalak dirimu ketika mereka lama memberikan persyaratan pada administrasi.” Bela melaporkan.
Aku terkekeh menghadapi kelima wanita ini. “Jadi tim mana yang berani-beraninya menghambat pekerjaan admin?”
“Tim Leo! Mereka berulah lagi.” Jawab Camila yang memang dia lah orang yang langsung berhadapan dengan tim marketing kalau soal persyaratan.
“Juga ada konsumen yang datang untuk bertanya tentang biaya perbaikan.” Bela mengatakannya sembari menyodorkan kertas padaku yang berisi informasi konsumen.
Aku melangkah memasuki ruangan ini sembari membaca isi kertasnya di ikuti ke lima wanita yang mengikutiku dari belakang dan mereka segera menyebar di meja masing-masing seolah sedang berlomba-lomba mengambil sesuatu dari meja mereka dan berlari kepadaku lagi.
“Kenapa harus bertanya pada kita? Bukan kah biayanya bisa di pastikan di bagian sparepart langsung?” Aku bertanya pada Bela yang berjalan di samping kiriku.
“Sudah. Tapi mereka tetap meminta periksa pada mu, katanya dia menghindari revisi saat pengajuan.” Aku menghela napas pelan. Di cabang ini memang ada tiga divisi berbeda yang masing-masing mempunyai kepala bagian.
“Katakan pada pak Riko, cek harganya di ketentuan yang setiap sore di email dari akunting pusat. Sesuaikan dengan tanggal pemesanan dan ketentuannya. Kalau sudah, serahkan lagi padaku, aku akan cek ulang dan menandatanganinya sebelum dia mengirimkankan nya.” Aku menyerahkan lagi kertasnya pada Bela dan wanita itu
mengangguk, langsung kembali ke meja nya.
Pak Riko adalah kepala bagian di divisi sparepart, divisi itu karyawannya laki-laki semua, jadi aku memang tidak heran kalau mereka sering meminta pengecekan pada tim ku kalau urusan pengajuan ke pusat.
Aku menghentikan langkahku saat baru menyadari ada seorang laki-laki di mejaku. Dia pasti adalah karyawan yang sedang belajar mengenai semua pekerjaanku.
__ADS_1
...