
...
“Aku belum membicarakannya denganmu karena kau dan Wildan minggu lalu masih ada perjalanan bisnis. Lagipula aku baru mengatakan pada Caesar minggu lalu, aku tidak menyangka kalau Icha duluan tahu dari pada kamu.”
“Aku kan pulang kemarin lusa, kenapa ayah tidak mengatakannya?!”
“Ayah tidak ingin mengganggu istirahatmu jadi menundanya.”
“Tapi—“
“Kalau tuan Alvaro tahu mengenai Bayu selama ini, kenapa masih mau menjodohkanku dengan Caesar? Apa anda memang sengaja atau berniat tidak menyetujui hubunganku dengan Bayu?” Aku memotong perdebatan mereka.
Bayu menyentuh tanganku, aku meliriknya dan dia tampak mengerutkan keningnya sembari menggeleng pelan, dari gesture nya aku mengerti kalau Bayu ingin aku lebih mengontrol emosiku dan memilih kata yang bagus untuk di sampaikan.
“Kakek belum menjanjikan apa-apa padanya, kakek hanya bilang ingin menjodohkanmu dengan anak itu dan menggelar pesta pertunangan yang megah setelah kau kembali, itu hanya sebatas obrolan singkat. Lalu, panggil aku kakek.”
“Jadi, kakek bisa batalkan sekarang. Aku tidak ingin dia mengganggu lagi.”
“Kakek akan berbicara pada nya nanti.”
“Nona Natasha, apa yang di maksud dengan mengganggu lagi?” Pertanyaan Wildan mengalihkan pandanganku padanya.
“Dia mengganggumu? Apa yang dia lakukan? Aku sudah tahu! Dia memang bukan anak baik-baik!” Ayah bertanya. Aku melipat bibir ke dalam mulutku, ragu-ragu untuk mengatakannya.
“Kamu tidak ingin mengatakannya??” Ayah menatapku.
Aku menarik pelan Bayu hingga dia agak menunduk dengan kepala lebih dekat padaku, aku berbisik padanya. “Apa tidak apa-apa mengatakan tentang tentara bayaran itu pada mereka? Bagaimanapun kita baru pertama kali bertemu, di samping mereka adalah keluarga kandungku juga aku tidak mengenal mereka.”
“Katakan saja karena penyerangan itu berawal dari sini. Biar mereka yang coba menyelesaikannya. Aku tidak bisa apa-apa karena tentara-tentara itu terbunuh.” Jawab Bayu berbisik.
“Kalian tidak mau mengatakannya? Kalau begitu, Wildan, kau cepat cari tahu apa yang anak itu lakukan!” Perintah tegas ayah menghentikan obrolan kami.
“Baik tuan.”
“Dia…” Wildan yang sudah berdiri dan hendak berbalik segera berhenti mendengar suaraku.
Aku menghela napas panjang sebelum menjawab. “Dia menyewa tentara bayaran untuk mencelakai Bayu tempo hari.”
__ADS_1
“Apa??!” Ketiga pria ini memekik kaget.
“Kejadiannya kemarin lusa, mereka menggunakan racun untuk mencelakaiku tapi yang terluka justru Icha.” Bayu menambahkan membuat ketiganya beralih padaku.
“Kau terluka? Lalu bagaimana dengan racunnya? Apa sudah hilang?” Ayah menatapku khawatir, dia hendak berdiri tapi kembali duduk karena tidak berdaya.
Aku yang melihatnya jadi tidak tega. “Aku baik, Bayu membantuku membuang racunnya.”
“Benarkah? Syukurlah! Terima kasih, nak Bayu.” Ayah bernapas lega sembari menatap Bayu.
“Tapi aku tidak bisa menangkap Caesar karena tentara-tentara itu bunuh diri saat aku tangkap. Bukti yang aku kumpulkan juga tidak cukup kuat untuk menangkapnya.”
“Kau bisa membagi buktinya padaku? Aku akan coba menangkap anak itu dengan bukti-bukti lain. Aku juga akan mengecek ulang semua tentangnya.” Bayu mengangguk menjawab pertanyaan ayah.
“Lalu, apa mungkin penyerangan terhadap tuan Kenzo kemarin—“
“Yaa! Orang-orang yang menyerang paman Kenzo kemarin juga datang mencariku juga.” Aku menyela ucapan Wildan.
“Kenzo? Apa yang terjadi padanya?” Kakek bertanya pada Wildan.
“Maaf tuan, kemarin Peter mengabariku tentang kekasih tuan Kenzo yang meninggal masih dalam proses penyelidikan, malamnya aku sempat ke rumah sakit tapi tidak bertemu dengan mereka. Di rumah sakit orang-orang mengatakan ada penyerangan yang melibatkan pasien dokter Stefan yang sakit karena racun dan tuan Kenzo.”
“Lalu, dimana anak itu sekarang??”
“Dia masih mengurus pemakanan.”
“Katakan padanya untuk datang menemuiku setelah selesai!”
“Tentang penyerangan kemarin di basement rumah sakit, aku sudah mendapat laporan kalau seseorang menyuruh mereka, namanya Nicolas Gilant.” Aku melirik Bayu karena tentang penyerangan kemarin memang aku belum
mendengar apapun.
Sekarang muncul lagi nama baru! Aku bahkan tidak tahu siapa dia.
“Haisshh!! Dia adalah pesaing kita dari hongkong! Setelah gagal mendapatkan proyek dua minggu lalu, dia menyerang anak dan cucu ku!” Kakek mengeluh sembari memijat keningnya dengan jari tangan kanan.
“Lalu, yang kedua tentang warisan yang di berikan oleh bibi Rose, aku berencana ingin memindahkannya pada ibu semuanya, tapi ternyata harus ada verifikasi dari kalian untuk pemindahan namanya.”
“Tidak bisa! Itu untukmu! Ibu angkatmu sudah kami beri uang setiap bulan, sudah memenuhi semua permintaaannya! Dia juga menginginkan warisanmu yang tidak seberapa itu???” Kakek tiba-tiba memekik marah sembari berdiri.
“Seperti yang kakek bilang, karena tidak seberapa, jadi aku ingin memindahkannya! Jadi tidak ada salahnya untuk menyetujuinya. ‘kan?” Kakek tampak mendengus dan kembali duduk dengan wajah masam.
“Dan yang terakhir, kami akan menikah. Bagaimanapun karena aku sudah tahu ternyata kalian adalah keluarga kandungku, maka pertemuan keluarga harus di lakukan. Tapi aku tidak memaksa—“
“Tentu saja! Ini pernikahanmu, kami akan sangat senang.” Ayah berkata dengan nada senang. Ada setitik perasaan senang dalam rongga dadaku mendengarnya.
“Aku akan mengabari setelah mendiskusikan kapan pertemuan keluarga selanjutnya.” Tambah Bayu.
__ADS_1
“Kalau begitu—“
“Natasha, bisa kita mengobrol dulu?” Ayah menghentikan ucapanku yang hendak pamit pada mereka. Suara tenangnya membuatku meliriknya dan perasaan tidak tega untuk menolak seketika bergejolak.
Niatnya memang aku tidak ingin berurusan dengan keluarga ini meski aku adalah anak kandungnya, aku berani bersikap seperti ini karena memang selama ini aku tidak pernah berhubungan langsung dengan mereka atau bahkan bertemu, tapi dalam hati kecilku juga aku ingin tahu alasannya.
Alasan aku menjadi anak angkat ibu, alasan mereka mempercayakan bibi Rose yang mengurus dan mengawasiku. Alasan mereka tidak pernah menemuiku.
“Kau bisa mengobrol dulu dengan ayahmu. Aku akan menunggu.” Ucap pelan Bayu sembari menyentuh tanganku. Aku meliriknya dan mengangguk pelan kemudian berdiri.
“Wildan, kamu bisa menemani ayah dan Bayu di sini.” Ayah menghentikan pergerakkan Wildan yang hendak membantu ayah mendorong kursi rodanya.
“Baik tuan.”
Ayah mengayuh roda kursi rodanya dengan tangannya menuju pintu, aku segera berdiri di belakangnya dan membantu mendorongnya.
.
..
…
Ayah menuntunku menuju halaman belakang rumah besar ini. Aku tidak tahu ada berapa pelayan di rumah ini tapi setidaknya tadi aku berpapasan dengan 3 orang yang berbeda.
Ada gazebo taman dengan di depannya kolam ikan mini berisi ikan koi juga pohon besar di dekat kolam yang membuat suasana sejuk dan teduh. Beberapa tanaman bunga juga ada di halaman belakang. Indah sekali.
Setelah menghentikan kursi roda ayah di depan gazebo, aku memutuskan untuk duduk di sana sembari ikut menatap ikan koi besar yang isinya kira-kira ada 10 ekor. Kami berdua sama-sama diam untuk beberapa saat, memperhatikan hal yang sama. Yang terdengar hanya suara hembusan angin dan suara air yang mengalir dari
kolam
Aku yakin ayah pasti bingung ingin mengawali pembicaraan kami seperti apa, aku juga yang tidak tahu harus berkata apa memilih untuk diam.
“Natasha, kamu tidak ingin bertanya?”
__ADS_1
...