
...
“Halo tate Yuan!” Sapaku senang mendapat telpon dari wanita cantik itu.
“Halo Icha. Tante baru saja dapat pesan dari Nuri kalau ibumu sedang mempersiapkan acara pertunanganmu—“
“Apa??!” Aku refleks berdiri, kaget mendengar kabar dari tante Yuan.
“Ibu mu benar-benar serius tentang perjodohanmu. Bibi mu sudah mencoba menjelaskan kalau kau tidak akan menerima pertunangan ini tapi dia tetap memaksa.”
“Tante, bisa bantu aku selidiki ibu meminjam uang berapa pada Henry? Aku dengar Ibu menginginkan perjodohan ini karena uang. Aku harus mengembalikan uang itu agar perjodohan ini batal tanpa alasan.”
“Tentu! Tante akan mengabarimu secepatnya.”
“Terima kasih tan, aku tidak tahu harus melakukan apa tanpa bantuan kalian.”
“Sabar ya sayang. Tante dan Nuri pasti membantumu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kami.”
Aku merasa terharus mendengar suara lembut tante Yuan di sebrang telpon. Tenggorokkanku seperti ada yang menahan hingga membuat mataku berair.
Sambungan telpon terputus, aku menatap layar ponselku yang perlahan meredup. Sekarang langkah pertama adalah tentang uang itu. Untuk benar-benar bisa membatalkannya aku harus mengembaikan uang pinjaman ibu pada Henry dan—
Rencana dalam pikiranku terhenti saat aku melihat setetes darah mengotori layar ponselku. Refleks aku menyentuh hidungku dan seketika jantungku berdetak cepat menyadari aku mimisan.
“Cha, bagaimana kalau—SUDAH AKU DUGA!!” Suara Dokter Stefan yang semula terdengar tenang seketika memekik tertahan, lelaki itu berlari kecil menghampiriku yang sibuk menutup hidungku dan menarik tisu di atas meja.
“Apa yang kau rasakan? Mana yang sakit?” Dokter Stefan bertanya padaku tapi tangannya sibuk membuka kotak kecil yang tidak aku sadari sejak tadi ada di samping meja.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa dok, ini hanya mimisan—“
“Tubuhmu sakit lagi? Jantungmu? Kepala?” Melihat pria berambut coklat madu ini sibuk memakai sarung tangan karet sembari memperhatikan wajahku terlihat lucu.
Karena suara ribut-ribut dokter Stefan, semua anggota tim Bayu berlari dari ruang makan menuju ke ruang tamu depan.
Ke lima pria ini menatapku khawatir. “Aku baik. Tidak ada yang sakit.”
Aku mengatakan yang sejujurnya, tidak seperti beberapa hari lalu saat di rumah sakit aku pendarahan dengan sekujur tubuh berdenyut sakit tapi sekarang anehnya aku tidak merasakan sakit apapun.
“Kita harus membawamu ke rumah sakit sekarang. Dimana Bayu?!” Dokter Stefan berbalik menatap ke lima pria itu. Di tangannya sudah ada suntikan baru dengan botol kaca kecil isinya ada cairan berwarna bening.
“Dia sedang mengunjngi rumah ketua RT—“
“Itu kapten!” Jack berseru, memotong ucapan Vincent.
Jack membuka pintu sebelum Bayu sampai di depan pintu. “Kapten!”
“Ada apa?” Bayu muncul di ambang pintu dan matanya langsung menemukan aku yang masih menutup hidungku. Cepat-cepat aku menggeleng saat tatapannya bertemu denganku.
“Tidak. Ini hanya mimisan. Aku benar baik-baik saja!”
Dokter Stefan meraih tangan kanan ku yang bebas untuk menemukan titik yang tepat, dengan cekatan pria ini membersihkan permukaan kulit dengan kapas yang sudah di beri alkohol. “Ini hanya suntikan vitamin. Kita harus membawanya ke rumah sakit. Semuanya sudah siap.”
Bayu yang masih berdiri di ambang pintu menatapku cukup lama.
Aku tahu tatapan ini, ada sesuatu yang sedang dia pikirkan dan sorot mata khawatirnya tersembunyi di sana. Aku selalu familiar dengan caranya menatap, dia sedang menyembunyikan ke khawatirannya karena ada yang mengganggu pikirannya.
“Kenapa?” Dokter Stefan yang sudah selesai menyuntikkan cairan itu padaku mendongak menatap Bayu karena kami tidak mendengar suara lelaki itu menjawab.
__ADS_1
“Jack ikut denganku ke rumah sakit. Rama dan Noval tunggu di sini ada yang harus kalian kerjakan. Vincent dan Mika aku ingin kalian melakukan sesuatu. Ikut aku.” Semua anggota Bayu mengangguk mendengar suara serius lelaki itu.
“Dok, aku akan menyiapkan mobil.” Jack berseru pada dokter Stefan yang langsung di angguki pria ini. Kali ini di tangan doker Stefan tergenggam suntikan lain.
Jack sudah berlari ke luar sedangkan ke empat anggota lainnya dan Bayu sedang ada di teras merencanakan sesuatu yang aku tidak bisa dengar. Aku tidak tahu sejak kapan tapi sekarang aku bisa meraskan dengan jelas perasaan ini.
Bayu Christ Jeremy yang aku kenal sekarang adalah lelaki yang misterius. Aku tidak tahu apa rencananya, aku juga tidak tahu bagaimana jalan pikirannya. Meskipun aku tahu kalau ini adalah salah satu keahliannya dalam bekerja, tapi pantaskah aku menuntut penjelasannya saat semua kejadian ini ada hubungannya denganku?
“Meskipun kami sudah lama kenal, meskipun kami sering bertemu membicarakan pekerjaan tapi sampai sekarang aku pun tidak bisa paham dengan jalan pikirannya.” Suara Dokter Stefan membuyarkan lamunanku yang tanpa sadar aku terus menatap Bayu di luar jendela.
Pria berambut coklat madu yang duduk di sampingku ini kembali menarik tangan kananku. “Ini obat untuk memperkuat sistem kekebalan tubuhmu untuk perjalanan kita menuju rumah sakit.”
“Terima kasih dok, tapi aku sungguh tidak merasakan sakit apapun. Aku hanya tiba-tiba mimisan.”
“Ya dan kau masih demam.” Katanya mengingatkan untuk kesekian kalinya sembari membereskan kotak obatnya. Kini aku merasakan darah itu sudah berhenti keluar dari hidungku.
“Aku memang tidak bisa menebak apa yang di rencanakan Bayu, tapi selama aku mengenalnya di dunia kemiliteran aku yakin satu hal. Dia selalu merencanakan semuanya dengan matang sebelum bertindak, terlepas dari pilihan resiko yang harus di ambil. Bayu sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan situasi yang akan di hadapinya. Jadi—“ Dokter Stefan melirikku dan tersenyum kecil saat aku tidak mengalihkan tatapanku padanya, menunggu kalimat selanjutnya.
“Tidak usah ragu dan tanyakan saja apa yang ingin kamu tahu. Anak itu tetap lah orang biasa yang pasti sempat ada keraguan dengan rencananya sendiri.” Entah mengapa aku jadi gugup karena dokter Stefan seolah menangkap basah aku melakukan sesuatu.
“Apa terlihat jelas, dok?” Tanyaku menggaruk tengkuk leherku yang tidak gatal.
“Sangat jelas!” Dokter Stefan tersenyum lebar meledekku.
“Dia di kenal sebagai anggota yang lapar dengan tugas. Dia memiliki pengamatan dan insting yang baik. Dan karena kerja keras itu lah membuatnya menjadi anggota yang lebih unggul dari yang lain. Bayu menjadi anggota termuda yang masuk di tim phonex sejak tim itu di buat beberapa puluh tahun lalu.” Dokter Stefan yang sudah selesai menutup kota obatnya kemudian berdiri.
“Aku tidak pernah melihatnya begitu perhatian pada seorang wanita sebelumnya, hanya dari caranya melihatmu saja aku tahu kalau kamu sangat istimewa untuknya. Jadi—sekarang lebih baik kita segera pergi! Ayo! Dan pakai jaketmu!” Dokter Stefan berseru di akhir kalimat menghentikan topik obrolan kami. Aku segera berdiri dan terkekeh menanggapinya.
“Aku akan pakai jaket dulu.” Kataku pamit menuju kamar untuk mengambil itu.
…
__ADS_1