EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 220


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


 


 


“Urusan pribadiku—”


 


 


“Apa yang ada dalam saku jaketmu??” Sela Alisya tidak sabar, menatap saku jaket yang mengembung itu. Zac dan pria yang bersamanya segera berdiri di hadapan kami.


 


 


Meski sudah malam tapi jalanan masih lumayan ramai, jadi aku pikir pria ini tidak akan berbuat macam-macam, atau mungkin memang kebetulan dia orang asing yang lewat? Tapi suaranya pernah aku dengar di suatu tempat.


 


 


 


 


“Tidak ada! Sekarang aku benar-benar marah karena orang asing menganggapku seorang penguntit!” Katanya dengan suara marah dan tegas.


 


 


Alisya melirikku yang di jawab gelengan kepala olehku.


 


 


 


“Maaf. Aku terlalu gegabah. Silakan duluan.” Gadis ini menggaruk kepalanya salah tingkah, menyingkirkan dua pria yang ada di hadapan kami agar memberi jalan pada pria itu.


 


 


Kemudian dia tidak mengatakan apapun lagi dan berjalan di hentak-hentak ketika melewati kami semua.


 


 


 


 


“Tapi aku beneran tahu kalau dia menguntit kita sejak di toserba. Pengalamanku dengan orang yang sering mengikutiku beberapa minggu terakhir ini membuatku lebih peka dengan keadaan sekitar.” Jelas Alisya padaku.


 


 


Kami semua masih menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh dan mulai hilang di antara orang-orang di sekitar kami.


 


 


 


 


“Tapi sepertinya aku pernah mendengar suaranya di suatu tempat. Tapi aku lupa.” Aku bergumam pelan, berusaha mencari suara itu di ingatanku.


 


 


Pria itu lebih pendek dari Bayu, badannya kurus dan—tunggu sebentar!


 


 


Aku ingat sekarang!


 


 


 


 


“Dia! Aku tahu siapa dia!” Aku memekik bersemangat yang mengundang tatapan ketiga orang di sekitarku.


 


 


 


 


“Suara itu! Itu suara anak kepala desa di tempat dulu aku—apa yang dia lakukan di sini?” Nada semangatku di awal berubah heran di akhir kalimat. Seingatku, anak itu seharusnya di periksa karena menjadi pengawai kelompok Alfred, kelompok yang membuat senjata illegal.


 


 


Namun tiba-tiba ingatan lain di vila seolah menyadarkanku sesuatu, apa mungkin senjata yang kami temukan di vila adalah salah satu senjata buatan Alfred?


 


 


 


 


“Lebih baik kita segera pulang.” Zac mengusulkan. Tanpa banyak bicara, kami semua kembali melanjutkan langkah untuk pulang.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


Sepanjang perjalanan aku tidak banyak bicara dan hanya mendengar perdebatan antara Alisya dan Zac. Orang bawahan ayah Evano pun sama, dia pendiam tapi sering melirik kebelakang, waspada kalau ada yang mengikuti


kami.


 


 


Pikiranku di penuhi oleh dugaan-dugaan tentang semua kejadian yang aku hadapi akhir-akhir ini. Hidupku yang biasa penuh drama seolah berubah genre menjadi aksi. Aku ingin sekali membahas ini dengan Bayu, menanyakan


hal-hal yang membuatku penasaran, tapi mengingat lagi kami sedang perang dingin, aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk baikan dengannya.


 


 


Perasaan kesal dan khawatir yang bercampur membuatku jadi salah tingkah di hadapannya. Aku harus belajar membuang kebiasaan ini, kami sudah menikah, seharusnya di bicarakan baik-baik.


 


 


 


 


“Loh? Kak Bayu di sini??” Suara Alisya membuyarkan lamunanku, aku mendongak dan bertemu pandang dengan Bayu yang sudah berdiri dua meter di depan kami.


 


 


“Tentu aja nungguin istri kakak.” Jawabnya melirik Alisya sekilas tapi dia berjalan mendekatiku.


 


 


 


Aku tahu, Alisya dan Zac saling melempar pandang dan tersenyum kecil satu sama lain.


 


 


 


 


“Kalau begitu, kita duluan.” Pamit gadis itu.


 


 


 


 


Kini Bayu sudah ada di hadapanku, dia menatapku penuh selidik dan aku baru sadar saat menatap kepergian empat orang di belakang Bayu bahwa kami belum sampai ke depan rumah, tapi ada di tengah jalan, antara dua


jalan yang berbeda.


 


 


“Ada apa?” Tanyaku mendongak, balas menatapnya.


 


 


“Kau masih marah padaku?” Aku mengerutkan kening, berpikir sebentar lalu menggeleng.


 


 


“Lalu apa kamu merindukanku?” Sekali lagi aku mengerutkan kening heran, tiba-tiba Bayu menanyakan hal itu.


 


 


 


 


“Kenapa jawabnya lama?”


 


 


“Karena aku bingung kau tiba-tiba menanyakan itu—atau jangan-jangan? Kau mau menggodaku?” Aku bertanya penuh curiga yang di balas Bayu dengan kekehan pelan. Rasanya sudah lama sekali tidak melihatnya tertawa seperti ini.


 


 


“Aku ke sini karena aku makin menyukaimu saat kau tidak ada dan ternyata nyawamu masih terancam.” Katanya seperti dugaanku.


 


 


Aku akhirnya tersenyum lebar padanya sembari mulai bergelayut manja di sisi kanannya. “Apa Zac yang melaporkan padamu soal pria yang Alisya duga mengikuti kami?”


 


 


Lelaki ini mengangguk, kemudian dia merangkul bahuku dengan tangan kanannya dan membawaku berjalan bersamanya di jalan yang berbeda dengan Alisya tadi.


 


 


 


 


 


“Ngomong-ngomong kita akan kemana?”


 


 


“Jalan ini bisa menembus ke rumah kita.”


 


 


“Benarkah? Tapi bukannya kita akan menginap di rumah orang tuanmu?”


 


 


“Ya. Kita hanya akan melihat ke dalam sebentar, ada banyak barang milikmu di sana. Oh ya dan bagaimana keadaanmu? Apa yang di lakukan pria tadi?”


 


 


“Tidak ada. Tapi aku mengenali suaranya. Dia anak laki-laki dari kepala desa saat kejadian Alfred. Kau ingat?”


 


 


“Kau yakin itu dia?” Bayu menunduk, mengerutkan tidak yakin.


 


 


“Ya. Suara mereka mirip, juga postur tubuhnya. Tapi seharusnya dia di tahan ‘kan?”


 


 

__ADS_1


“Ya! Lifer dan Ronald sendiri yang menangkapnya, ingat?” Namun sebelum aku bisa bereaksi, tiba-tiba getaran ponsel milikku membuyarkan konsentrasi kami. Tanpa melihat dulu layarnya, aku langsung mendekatkan ponsel ke telinga dan otomatis menjawab panggilan tanpa harus di sentuh tombol hijau.


 


 


 


 


 


“Halo.”


 


 


 


“Hiks Icha...”


 


 


 


 


“Camila?” Aku mengerutkan kening mengenal suara di sebrang telpon


 


 


“Ada apa?” Tanyaku mulai khawatir mendengar suara isak tangisnya.


 


 


 


 


“Dia—dia terluka. Dimas terluka.”


 


 


“Sekarang kamu ada di mana? Aku akan ke sana.” Kataku memutuskan untuk pergi menemuinya mendengar tangisannya semakin kencang.


 


 


Meski menjawab dengan suara serak dan kurang jelas, tapi aku bisa mendengar jelas sebelum menutup sambungan telponnya.


 


 


 


 


“Ada apa?” Tanya Bayu menatapku heran.


 


 


“Temanku ada di rumah sakit, aku harus ke sana sekarang.”


 


 


“Kalau gitu, lebih baik kita pakai motor.” Jawabnya tanpa banyak bertanya. Aku mengangguk dan mengikutinya berbalik menuju rumah.


 


 


 


 


 


 


 


 


.


..



 


 


 


 


Aku setengah berlari saat memasuki rumah sakit di timur kota saat Bayu sudah memarkirkan motornya. Lelaki ini juga berlari mengikutiku menuju bagian UGD.


 


 


Tidak sulit menemukan Camila karena wanita itu terlihat mencolok sedang berdiri mondar mandir di depan pintu di tengah tiga orang yang sedang duduk menunggu. Namun ketika aku berjalan cepat hendak menghampirinya, pintu UGD terbuka di ikuti sebuah kasur bangkar yang di dorong dari dalam oleh dua orang suster.


 


 


Aku menghentikan langkahku dan hanya melihat situasi di sana, Camila yang menjerit saat dua suster itu mendorong bangkar mendekatinya, tiga orang yang tadi sedang duduk menunggu segera bangkit dan mereka semua ikut terisak di sekeliling bangkar.


 


 


Mataku melihat sekilas wajah seseorang yang terbaring kaku di sana, wajah pucatnya tampak tenang meski tubuhnya di guncang oleh Camila. Dokter keluar dari pintu UGD dan dengan raut wajah prihatin dia berbicara


pada orang-orang itu.


 


 


 


 


“Hiks Dimas! Kenapa kamu ninggalin aku secepat ini?? Kenapa kamu pergi mendadak? Kamu harus bangun dan pamit padaku!! AYO BANGUN!!!” Melihat wanita itu menangis histeris membuat tenggorokkanku tiba-tiba sakit.


 


 


Aku tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan menyakitkan ini, jeritan dan isak tangis Camila seolah menjadi pisau tajam yang perlahan melukai rongga dadaku, membuatku juga ingin menangis.


 


 


 


 


 


 


 


...


 

__ADS_1


 


__ADS_2